Tuesday, March 27, 2018

Langkah Langkah Penyusunan Materi Pembelajaran

Pada pembahasan sebelumnya, telah dibahas mengenai Konsep dan Prinsip Penyusunan Materi Pembelajaran, maka sekarang dilanjutkan dengan Langkah Langkah yang harus digunakan oleh pendidikan didalam menyusun sebuah materi pembelajaran. Adapun  langkah langkah yang harus dilakukan oleh seorang pendidik dalam menyusun sebuah materi ajar adalah sebagai berikut: 

Langkah-Langkah Penyususunan Materi Pembelajaran
Langkah-Langkah Penyususunan Materi Pembelajaran 

a) Identifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar 
Menentukan materi pembelajaran merupakan acuan/tahapan awal dari langkah langkah dalam penentuan materi ajar dan harus dilakukan terlebih dahulu yang mengacu pada aspek-aspek kebutuhan kompetensi yang harus dipelajari atau dikuasai oleh peserta didik. Aspek aspek lebutuhan tersebut perlu di jadikan acuan karena setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar memiliki materi ajar yang berbeda-beda baik dari segi materi ataupun dalam penggunaan methode ataupun model syang dilakukan dalam aktifikatas belajar mengajar di dalam kelas. Dari segi penyiapan materi ajar, kita harus mengelompokkan terlebih dahulu apakah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik tergolong dalam ranah kognitif, psikomotor ataukah afektif. Adapun konsep dari Ranah Kognitif adalah konsep kompetensi yang mencajupi aspek pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan penilaian. Ranah sedangkan konsep psikomotorik (Psikomotor) adalah ranah kompetensi yang mencakupi, kegiatan/aktivitas, gerak awal, semirutin, dan rutin. Selain itu konsep Ranah Afektif adalah ranah yang mencakupi konsep pemberian respons, apresiasi, penilaian, dan internalisasi dan hubungan interpersonal. 

b) Identifikasi Jenis-Jenis Materi Pembelajaran 
langkah kedua dalam langkah langkah dalam penentuan materi ajar, Identifikasi jenis jenis materi ajar dilakukan berkaitan dengan kesesuaian materi pembelajaran dengan tingkatan aktivitas/ranah pembelajaran tersebut. Adapun materi yang digunakan untuk ranah kognitif adalah meteri pembelajaran yang menekankan aspek perilaku intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan dalam berpikir. 


Maka atas dasar acuan tersebut adapun jenis materi yang harus digunakan pada ranah kognitif adalah berupa fakta, konsep, prinsip, dan prosedur. Jenis materi fakta adalah jenis materi yang mengambarakan nama-nama objek, nama tempat, nama orang, lambang, peristiwa sejarah, nama bagian atau komponen suatu benda, informasi tertentu dan lain sebagainya yang masih bersifat nyata dan informatif. Jenis materi konsep adalah jenis materi seperti pengertian, definisi, hakekat, inti dan komposis. Sedangkan jenis materi jenis prinsip adalah jenis materi ajar yang berupa konsep, dalil, rumus, postulat adagium, paradigma, teorema. Materi ajar dari prosedur meliputi tahapan tahapan/langkah-langkah dalam melakukan sesuatu, misalnya cara mengolah pupuk organik

Adapun jenis materi ajar yang digunakan untuk ranah psikomotor adalah berdasarkan materi ajar yang menakankan pada pembentukan perilaku yang meliputi aspek keterampilan motorik. Dengan demikian, jenis materi yang sesuai untuk ranah psikomotor terdiri dari gerakan awal, semirutin, dan rutin, pengunaan media peraga dan lain sebagainya selama konsep terbut membentuk aspek skill ataupun keahlian peserta didik. Terakhir adalah penentuan jenis meteri ajar untuk ranah afektif. Adapun jenis materi untuk ranah afektif mencakupi perilaku yang menekankan pada aspek perilaku, perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Atas dasar konsep tersebut, maka jenis materi yang cocok digunakan pada ranah afektif meliputi rasa dan penghayatan, seperti pemberian respon, penerimaan, internalisasi, dan penilaian sikap. 

Untuk itu, maka seorang pendidik dituntut untuk dapat menjabarkan materi ajar yang akan di ajarkan di dalam kelas dengan melakukan identifikasi secara tepat agar sesuai dengan kompetensi pencapaian yang telah ditentukan. Dengan mengunakan materi ajar yang tepat dan sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi, maka  pendidik dapat mengapilikasi meteri ajar tersebut dengan menggunakan methode ajar, pendekatan dan staregi yang sesuai ketika melaksananakn proses kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Kita tahu bahwasanya setiap materi ajar yang direncakana memliki strategi, metode, media, dan sistem evaluasi yang berbeda-beda ketika di applikasikan didalam proses pembelajaran. Sebagai contoh untuk materi pembelajaran procedural text dalam pembelajaran bahas inggris pendidik dapat menggunakan model demontrasi dalam penyampaian meteri ajar tersebut. 

c)  Menetukan jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar 
Adapun cara yang sangat praktis yang dapat kita gunakan sebagai acuan dalam menentukan jenis materi pembelajaran yaitu dengan dengan cara membuat pertanyaan pertanyaan yang berkaitan dengan kompetensi dasar yang ditentukan dalam kerangka kurikulum. Maka dengan mengacu pada pertanyaan pertanyaan yang berkaiatan kompetensi dasar tersebut, pendidik dapat menyimpulkan sendiri jenis materi yang akan digunakan dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Disamping itu pendidik dapat juga menentukan jenis materi tersebut apakah bersifat fakta, konsep, prinsip, prosedur, aspek spikomotor (Spikomotorik) ataupun jenis affekti (sikap)  

Berikut adalah urutan pertanyaan panduan yang memudahkan pendidik dalam mengidentifikasi jenis materi pembelajaran: 

i) Apakah jenis capaian standar kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik tersebut berupa mengingat nama suatu objek, simbol atau suatu peristiwa? Kalau saja jawabannya ya, maka materi ajar yang digunakan berlkaitan erat dengan informasi fakta/factual. Contoh: Nama nama nama ibukota yang ada di Indonesia.

ii) Apakah jenis capaian standar kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik tersebut berupa kemampuan mereka untuk menyatakan suatu definisi, menuliskan ciri khas sesuatu, mengklasifikasikan atau mengelompokkan beberapa contoh objek sesuai dengan suatu definisi? Jika saja jawabannya ya berarti materi yang harus diajarkan adalah “konsep”. Contoh : Seorang guru Bahasa inggris menerangkan materi tentang generic structure of recount text, kemudian peserta didik diminta untuk menentukan urutan urutan struktur genre dari sebuah decriptive teks, dan lain sebagainya. 

iii)  Apakah jenis capaian kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik tersebut berupa menjelaskan atau melakukan langkah-langkah atau prosedur secara urut atau membuat sesuatu? jika saja jawabannya ya, maka materi yang harus diajarkan adalah “prosedur”. Contoh : guru bahasa inggris menjelaskan procedural tetx menyajikan mie instant. 

iV) Akankah jenis capaian kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik tersebut berupa menentukan hubungan antara beberapa konsep, atau menerapkan hubungan antara berbagai macam konsep? jika saja jawabannya ya”, berarti materi pembelajaran yang harus diajarkan termasuk dalam kategori “prinsip”. Contoh: Guru kata Benda dengan kata sifat (noun dengan adjective(, hubungan antara kata kerja dengan kata keterangan dalam sebuah kalimat (verb dengan Adverb). 

(v) Apakah jenis capaian kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik tersebut berupa memilih berbuat atau tidak berbuat berdasar pertimbangan indah tidak indah, baik buruk, suka tidak suka ? Jika jawabannya “ya”, maka materi pembelajaran yang harus diajarkan berupa aspek perlaku (sikap) atau nilai nilai tertentu. Contoh: Budi selalu melaksanakan shalat fadhu limat waktu sehari semalam karena dia itu itu adalah kewajiban bagi setiap muslim, walaupun kebanyakan teman temannya tidak melakukan shalat sama sekali

(vi)  Apakah jenis capaian kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik tergolong dalam melakukan perbuatan/activitas secara fisik? jika saja jawabannya ya maka materi pembelajaran yang harus diajarkan adalah aspek motorik. Contoh: Dalam membahas materi menyususun kalimat dalam bahasa inggris dari kertas potingan kata kata yang dibagikan oleh guru pada setiap kelompok belajar di kelas. 

d) Memilih Sumber Bahan Ajar 
jika seorang pendidik telah meranncang sebuah materi pembelajaran, maka adapaun tahapan berikutnya adalah menentukan sumber ajar yang akan digunakan sebagai penunjang dalam melakukan proses kagiatan belajar mengajar di dalam kelas. Secar umum, pendidika dapat menentukan sumber materi ajar dengan menggunakan berbagai referensi yang ada selama sesuai dengan konsep meteri ajar yang telah dijabarkan. Adapun sumber belajar yang umum dugunakan oleh pendidik adalah buku pelajaran, majalah, jurnal, koran, internet, media audiovisual, dan sebagainya. Namun tidak tertutup kemungkinanan jika ada sebagaian dari pendidik membuat sendiri materi ajar tersebut akan tetapi itu masih jarang dilakukan mengingat terbatasnya waktu dan dtambah lagi karena dikebut oleh jam tanyang alias jam ngajar yang telalu banyak, dimana seorang pendidik harus mengajar paling kurang sebanyak 24 jam seminggu. 

Thursday, March 22, 2018

Konsep, dan Prinsip Penyusunan Materi Ajar

1. Konsep Penyusunan Materi Ajar
Kemampuan dan keberhasilan guru merancang materi pembelajaran  merupakan salah satu faktor pentingdan memiliki dampak yang cukup besar terhadap keberhasilan dari sebuah pembelajaran secara keseluruhan di sekolah. Perancangan yang dimaksudkan di sini adalah perancangan ataupun penyususnan materi ajar yang akan di trasnfer kepada para peserta didik di dalam kelas. Penyusunan ataupun perancangan suatu Materi Pembelajaran pada hakekatnya merupakan bagian tidak terpisahkan dari Silabus sebagai tempat merencanakan/penuangan dari materi ajar yang dirancang tersebut yang meliputi perencanaan, tahapan prediksi dan proyeksi tentang apa yang akan  dilakukan pada saat Kegiatan Pembelajaran dan termasuk apa yang didiharapkan dari hasil proses pembelajaran tersebut.  

Konsep, dan Prinsip Penyusunan Materi Ajar
Konsep, dan Prinsip Penyusunan Materi Ajar

Secara umum/garis besar dapat dikemukakan bahwa Materi pembelajaran (instructional materials) adalah meliputi ranah pengetahuan(knowledge/kognitif), ranah keterampilan(skill/spikomotor), dan rahan sikap (afektif) yang harus dikuasai peserta didik dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan/direncanakan. Adapun rancangan Materi pembelajaran menduduki posisi central dari keseluruhan elemen kurikulum, karenamateri ajar merupakan sasaran utama yang harus dipersiapkan oleh seorang pendidik agar pada proses penerapannya proses kegiatan pembelajaran dapat mencapai sasaran yang diinginkan. Adapaun perencanaan meteri ajar tersebut harus merujuk ataupun harus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang telah ditetapkan dalam kurikulum nasional. Ini berarti bahwa materi yang  materi ajar tang direncanakan harus benar benar sesuai dengan materi yang sesuai dengan kebutuhan ketuntasan dari standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam suatu pembelajaran.  
Sebaiknya dalam merancang materi ajar, materi tersebut harus direncanakan secara seoptimal mungkin terlebih dahulu yang sesuai dengan kebutuhan anak, lingkungan, fasilitas pembelajaran namun tetap harus sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar sehingga tetap sesuai dengan kompetensi capaian/ketuntasan. Adapun prinsip harus dicermati yang berkaitan erat dengan proses perencanaan materi ajar meliputi, janis,cakupan, urutan, dan perlakuan (treatment) terhadap materi ajar. 

Supaya seorang pendidik mampu merancang materi ajar yang berkwalitas, maka mereka dituntut untuk dapat memahami berbagai aspek yang berhubungan dengan proses perencanaan dan  pengembangan materi pembelajaran, baik berkaitan dengan hakikat, fungsi, prinsip, maupun prosedur pengembangan materi disamping juga melakukan kelayakan/efektivitas sebagai persiapan dalam perencanaa materi tersebut. 

Dibawah ini merupakan Jenis-jenis materi pembelajaran yang digunakan sebagai bahan ajar di kelas: 

1. Fakta; merupakan materi ajar yang bersifat kenyataan dan kebenaran, contohnya informasi informasi, nama-nama objek, pelaku/peristiwa sejarah, lambang, nama orang, nama bagian atau komponen suatu benda nama tempat, dan sebagainya.

2. Konsep; merupakan materi ajar yang bersifat  pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai hasil dari sebuah proses pemikiran, meliputi pengertian, definisi, ciri khusus, hakikat, inti /isi dan sebagainya. 

3. Prinsip; materi ajar yang bersifat  pokok berupa ilmu pasti  dan memiliki posisi terpenting, yang meliputi rumus, dalil, teorema, adagium, postulat, paradigma, serta hubungan antarkonsep yang menggambarkan implikasi sebab dan akibat. 

4. Prosedur; merupakan materi ajar yang berupa tahapan tahapan/langkah-langkah sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu aktivitas tertentu dan kronologi sistem tertentu. 

5. Afektif (Sikap atau Nilai); merupakan materi ajar yang berkaitan erat dengan proses penumbuhan sikap ataupun perilaku peserta didik, contohnya sikap kejujuran, sikap kasih sayang, rasa tolong-menolong, semangat dan minat belajar, dan bekerja dan lain lain.

2 .Dasar Prinsip-Prinsip Pengembangan Materi ajar
Secara umum, banyak sekali prinsip yang telah dijabarkan oleh para parak pendidika dalam merancang/merencanakan suatu materi ajaran dinataranya adalah kesesuaian (relevansi), keajegan (konsistensi), dan kecukupan (adequacy). 

i) Prinsip Relevansi atau kesesuaian. 
Sesuai dengan namnya relanansi ayaitu kesesuaiaan maka prinsip ini menekankan bahhwa Materi pembelajaran hendaknya direncang relevan dengan indokator pencapaian standar kompetensi dan pencapaian kompetensi dasar. Jadi jika dalam sebuah kompetesi dasar menuntut peserta didik untuk menghafal maka pendidik harus menyajikan  materi pembelajaran berupa fakta, bukan konsep atau prinsip ataupun jenis materi yang lainnya. Contoh: kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah ”Menganalisis faktor penyebab tetjadinya hujan”  maka materi ajar yang direncanakan dalam proses pembelajaran tersebut harus  berupa konsep tentang pengertian Hujan, penguapan dan faktor penyebab terjadinya proses penguapan tersebut  dan lain sebagainya” (materi konsep), bukan langkah-langkah mengantisipasi dan pada saat banjir yang disebabkan oleh air hujan tersebut. 

ii) prinsip  Konsistensi atau keajegan. 
Konseitensi bermakna konsiten, yaitu berupa kesesuaian materi yang digunakan dengan kompetensi yang diharapkan. Contohnya dalam rancangan suatu materi ajar terdapat dua jenis kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik, sebaiknya materi yang direncanakan harus meliputi dua macam juga. Sebagai contoh: kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik descriptive teks dalam pelajaran Bahasa Inggris, (B. Inggris Kelas VII semester 2), maka materi yang diajarkan juga harus meliputi tahapan tahapan ataupun struktur teks dari tesk deskripsi, dan objek yang dideskripsikan juga benda benda yang ada dilingkungan siswa. 

c) Adequacy atau kecukupan. 
Pola kesukupan ini sebenarnya menekankan pada kebutuhan materi saja , dimanan materi yang direncanakan dalam proses pembeljaran harus memadai/cukup dalam membantu peserta didik untuk menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Harus dipahami jika materi yang dirancang tersebut tidak terlau berlebihanan alias berlebihan dan juga tidak boleh terlalu sedikit akan tetapi sesuaikan saja dengan kebutuhan pencapaian terget kurikulum (SK/KI dan KD) 

Disamping itu, sebaiknya dalam mengembangkan materi ajar pendidik juga harus harus mengidentifikasi dan mempertimbangkan hal-hal berikut ini: tersebut

1) Potensi peserta didik; potensi ini mencakupi potensi intelektual, emosional, spiritual, sosial, dan potensi vokasional (kejuruan). 

2)Relevansi dengan karakteristik lingkungan; relavansi ini bermakna jika materi yang di rencanakan harus disesuaikan dengan keadaan yang ada dilingkungan sisiwa. Bagi peserta didik dan sekolah terletak di daerah pengunungan, maka sebaiknya rancangan pengembangan materi pembelajaran diupayakan agar selaras dengan kondisi masyarakat yang tinggal di pegunungan . 

3) Perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik; materi yang direncanakan harus mempertimbangakn aspek aspek tersebut sehingga mempermudah peserta didik dalam mengkuti proses pembelajaran di kelas.  

4) Kebermanfaatan bagi peserta didik; prinsip ini sangat menekakankan jika pengembangan materi pembelajaran harus dilihat dari azas manfaatnya sehingga proses pembelajarannya dapat terlibat langsung dengan sisiwa dan faktor ini sangat penting didalam membangun konsep pengetahuan melalui pendekatan konstextual.  

5) Memiliki Struktur keilmuan; mengembangkan materi pembelajaran sosiologi harus didasarkan pada struktur keilmuan sosiologi. Contohnya : mengembangkan konsep Imigrasi kepada peserta didik, jangan dimaknai secara geografis (imigrasi artinya perpindahan penduduk dari suatu negera ke negara lain); tetapi sebaiknya imigrasi adalah memperkenalkan perubahan pola berpikir, bersikap, dan bertindak dari pola kehidupan masyarakat luar negara yang modern, disertai pemahaman tentang budaya luar negara (cross culture understanding) 

6) prinsip Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran; mengembangkan materi pembelajaran hendaknya selalu mempertimbangkan potensi peserta didik, tingkat perkembangan peserta didik, kebermanfaatan bagi peserta didik, alokasi waktu,dan perkembangan peradaban dunia 

7) pronsip Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan mereka; 

8) Alokasi waktu.

Thursday, March 15, 2018

Penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning

Penerapan otonomi daerah membawa pengaruh bagi manajemen pendidikan di Indonesia. Salah satu pengaruh tersebut adalah diberlakukannya otonomi sekolah, di mana tiap-tiap sekolah memiliki wewenang untuk mengelola dan meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. Dalam lingkup kelas, maka guru mempunyai peran yang strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru merupakan personil sekolah yang memiliki kesempatan bertatap muka lebih banyak dengan siswanya. Dengan demikian, peran dan tanggung jawab guru sesuai dengan kebijakan otonomi sekolah antara lain adalah menguasai dan mengembangkan materi pembelajaran, merencanakan dan mempersiapkan pembelajaran, serta mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa.

Penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning
Penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning

Kemampuan guru dalam menciptakan pembelajaran yang berkualitas sangat menentukan keberhasilan pendidikan secara keseluruhan. Kualitas pembelajaran sangat bergantung pada kemampuan guru, terutama dalam memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik secara efektif dan efisien. Berdasarkan hasil dari pengamatan para pegiat dunia pendidikan, mereka menemukan fakta bahwasanya sejauh ini pendidikan kita masih terlalau banyak di dominasi oleh pandangan, jika pengetahuan adalah sebagi perangkat fakta-fakta yang harus dihapal oleh peserta didik.

(Baca Contextual Teaching and learning CTL)
(Baca Konsep Penilaian Berbasis Kelas )

Kegiatan pembelajaran di dalam kelas masih terfokus/berpusat pada guru sebagai sumber utama dalam mengakases pengetahuan, model ceramah masih merupakan pilihan yang paliang bagus untuk digunakan dalam strategi pemebelajaran di dalam kelas. Disamping itu mereka juga menemukan jika dijumpai pendidik masih terbiasa melaksanakan kegiatan pembelajarannnya dengan metode konvensional dimana siswa kurang dilibatkan secara aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar. Kejadian ini menyebabkan jik peserta didik/siswa lebih cenderung besikap pasif dan hanya sebagai pendengar saja tanpa diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapat mereka sama sekalai. Semua permasalahan di atas merupakan pemicu timbulnya Proses belajar mengajar yang terkesan kaku, kurang fleksibel dan guru cenderung kurang demokratis. Siswa ibarat kertas putih bersih yang siap diisi dengan ilmu pengetahuan. Pencapaian dan keberhasilan pendidikan berdasarkan hasil akhir pembelajaran dengan mengabaikan proses.

Adanya kenyataan seperti di atas, maka diperlukan suatu inovasi strategi belajar yang diharapkan lebih efektif dan efisien sebagai alternatif yaitu pembelajaran kontekstual. Sebagaimana yang telah kita pahami jika pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) sering disingkat dengan CTL merupakan model  pembelajaran digunakan untuk membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa (real) disamping untuk meransang siswa untuk dapat dapat mengaitkan hubungan antara pengetahuan yang diperoleh /milikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai bagian anggota keluarga dan masyarakat ditempat mereka. Dengan penggunaan konsep tersebut, maka hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi peserta didik sendiri, dismaping juga proses pelaksanaan kegiatan pembelajaran didalam kelas berlangsung secara alami dalam bentuk kegiatan dimanan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke peserta didik sebagaimana model sebelumnya yang masih juga sering digunakan oleh pendidik. Konsep CTL lebeh menekakan pentingnya Strategi pembelajaran dibandingkan dengan hasil pembelajaran tersebut. Dalam konteks tersebut, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mancapainya. Disamping itu peserta didik juga menyadari bahwa yang mereka pelajari berguna bagi kehidupannya suatu saat kelak. Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Maka dengan sendirinya peserta diidk akan mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya, dengan dengan dipandu oleh pendidik/guru yang berperan sebagai pengarah dan pembimbing mereka.

Salah satu strategi pembelajaran yang merupakan perangkat pembelajaran berasosiasi dengan KTSP dan K13 adalah strategi pembelajaran berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning) dengan tujuh komponen pembelajaran yang meliputi constructivism (konstruktivisme); inquiry (menemukan); uestioning (bertanya ); learning community (masyarakat belajar); modelling (pemodelan); reflection (refleksi); dan authentic assessment (penilaian yang sebenarnya). Strategi pembelajaran menuntut pendidik agar dapat menjadikan siswa untuk mampu menghubungkan isi materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan tersebut dengan aplikasinya dalam kehidupan nyata.

Jika kita tinjau dari konsepnya, Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep pembelajaran yang digunakan membantu pendidik/guru dalam mengaitkan antara materi yang diajarkannya didalam kelas dengan situasi dunia nyata siswa disamping juga mendorong siswa untuk dapat mengaitkan pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: kontruktivisme (Contrucivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assesment)(Depdiknas, 2003: 3).

Karakteristik Pembelajaran Kontekstual Menurut Nurhadi (2002: 20) ada beberapa karakter pembelajaran berbasis kontekstual, yaitu:
a. Terciptanya kerjasama (cooperation), sharing dengan teman dan saling menunjang;
b. Peserta didik aktif,  inovatif dan kritis, belajar dengan bergairah, menyenangkan dan
tidak membosankan, serta pendidik juga lebih kreatif;
c. Konsep/Pola pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber;
d. Terdapatnya berbagai macam kreativitas peserta didik baik kelas dan lorong-lorong sekolah, dan
e. pelaporan yang diberikan kepada orang tua tua bukan sekedar rapor kenaikan kelas melainkan meliputi hasil karya siswa tersebut,
laporan praktikum, dan karangan siswa.

Perbedaan CTL dengan Pembelajaran Konvensional
Ada perbedaan pokok antara pembelajaran CTL dan pembelajaran konvensional. Dibawah ini dijelaskan perbedaan kedua model tersebut dilihat dari Konteks tertentu.

a. Dalam pembelajaran CTL, peserta didik memiliki peranan sebagai subjek belajar, artinya siswa berperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara menemukan dan menggali sendiri materi pelajaran. Pola ini sangat berbanding terbalik dengan proses pembelajaran konvensional, dimanan siswa ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif.

b. Dalam pembelajaran CTL, siswa belajar melalui kegiatan kelompok seperti kerja kelompok, berdiskusi, saling menerima dan memberi. ini sangat berbanding terbalik dengan proses pembelajaran konvensional dimanan siswa lebih banyak belajar secara individual dengan menerima, mencatat, dan menghafal materi pelajaran.

c. Dalam pembelajaran CTL, peserta didik diharapkan memiliki kemampuan yang dasari pada pengalaman; sedangkan dalam pembelajaran konvensional kemampuan diperoleh melaluilatihan-latihan.

d. Tujuan akhir dari proses pembelajaran melalui CTL adalah kepuasan diri, misalnya individu tidak melakukan perilaku tertentu karena ia menyadari bahwa perilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat; sedangkan dalam pembelajaran konvensional, sikap ataupun perilaku peserta didik didasarkan oleh faktor dari luar dirinya, sebagai contoh, peserta didik yang cendrung rasa takut pada didir siswa disebabkan karena takut hukuman atau sekedar untuk memperoleh angka atau nilai dari guru.

e. Proses pembelajaran dalam konsep CTL, pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya, oleh sebab itu setiap siswa bisa terjadi perbedaan dalam memaknai hakikat pengetahuan yang dimilikinya. Adapun proses pembelajaran konvensional, Kebenaran yang dimiliki bersifat absolut dan final, sehingga lebih terkesan jika oleh pengetahuan hanya bersifat menerima saja dan tidak perlu untuk di buktikan kebenaran tersebut.

f. Proses kegiatan pembelajaran CTL menekakan siswa bertanggung jawab dalam memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing; sedangkan dalam pembelajaran konvensional guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran.

g. Proses pembelajaran dalam konsep CTL, kegitan pembelajaran dapat dilukan di mana saja dalam konteks dan setting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan yang direncanakan; sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas saja.

h. Keberhasilan pembelajaran dalam konsep CTL dilakuakn dengan berbagai tahapan/cara, contohnya dengan tahapan evaluasi proses, hasil karya siswa, penampilan, rekaman, observasi, wawancara, dan lain sebagainya. Ini disebakan karena karena tujuan yang ingin dicapai adalah seluruh aspek perkembangan siswa; sedangkan dalam pembelajaran konvensional keberhasilan pembelajaran biasanya hanya diukur dari tes.

Dari gambaran penjabaran pokok perbedaan antara Model pembelajaran bebabasis CTL dan Konvensianal, maka dapat kita simpulkan jika konsep pembelajaran berbasis CTL memang memiliki karakteristik tersendiri baik dilihat dari asumsi maupun proses pelaksanaan dan pengelolaannya (Sanjaya, 2006: 260).

Tuesday, March 13, 2018

Cara Menggantikan Lambang Icon Favicon Pada Blog

Tags
Favicon icon yang ada pada blog seseorang memang kelihatan memiliki nilai tambah sendiri bagi blog tersebut. untuk itu gunakanlah favicon buatan sendiri supaya blog yang kita kelola kelihatan sedikita profesional dimata pengujung. Jadi untuk membuat kelihatan blog kita profesional rasa nya tidak salah jika sebaiknya kita yang mengelola blog tersebut menyemakan lambang ataupun favicon icon buatan sendiri pada blog kita. Dimana icon lambang favicon yang dugunakan ikut memberikan ataupun mencirikan identitas blog yang kita kelola. Secar umum umum, kita bisa mengamati berbagai situs yang sudah terkenal menggunakan /menyematkan lambang buatan mereka sendiri pada situs mereka sebagai salah kiat untuk mengabarkan ciri khas blog mereka bagi visitors. Seprti Google Adsense, Facebook yang dengan icon f, Alexa dengan icon a, termasuk blog saya yang saya beri lambang PB he he he.

Cara Menggantikan lambang Icon  Favicon Pada Blog
Cara Menggantikan lambang Icon  Favicon Pada Blog


Sunday, March 11, 2018

Mesothelioma Penyakit Kanker Paru Yang Mematikan

Mesothelioma adalah jenis kanker ganas yang langka dan terjadi pada lapisan tipis jaringan yang menutupi sebagian besar organ-organ internal (Mesothelium). Dewasa ini penyakit kanker memang telah menjadi salah satu penyakit yang sangat menakutkan, karena semakin banyakny saja penderita yang mengalami penyakit kanker. Jadi untuk mengantipasi penyakit kanker ini sebiknya kita harus mengetahui berbagai jenis kanker yang mungkin mengancam kesehatan kita semua salah satunya adalah Mesotheiomia

Mesothelioma Penyakit Kanker Paru Yang Mematikan
Mesothelioma Penyakit Kanker Paru Yang Mematikan


Saturday, March 3, 2018

Membersihkan Ginjal Secara Alami

Umumnya sering kita jumpai daun seledri dijual di berbagai tempat penjualan sayur sayuran baik di pasar tradisonal dan pasar moderen. Sebenaranya Seledri adalah jenis tanaman yang tergolong dalam jenis sayur sayuran, biasanya kalangan ibu rumah tanggan mengunakan daun seledri ini sebagai bumbu masakan yang dapat memberikan keharuman dan cita rasa tersendiri pada masakan tersebut. 


Membersihkan Ginjal dengan Daun Seledri Secara Alami
Membersihkan Ginjal Dengan Daun Seledri Secara Alami


Thursday, March 1, 2018

Mengatasi Eror Data Terstruktur Hilang Author Update Halaman Statis Simplify 2

Tags
Sering sekali kita dapati berbagai permasalahan yang kita dapatkan tentang kwalitas blog kita di Google Search Console. Ada yang mengalami permasalahan dengan duplicate content di HTML Improvement, sampai kepermasalahan kesalahan data terstruktur di terutama pada kesalahan missing author update baik pada halaman statis ataupun halaman postingan blog. Pada tulisan kali ini saya mencoba memaparkan kiat mengatasi kesalahan data terstruktur mising author update pada halaman Statis dan ini umum juga di alami oleh para blogger lainnya.

Mengatasi Eror Data Terstruktur Hilang Author Update Halaman Statis Simplify 2
Mengatasi Eror Data Terstruktur Hilang Author Update Halaman Statis Simplify 2

Berdsaarkan pengalaman, disini saya akan mencoba memaparkan cara mengatasi eror author update structure data pada search console yang hanya pada statistic page atau halaman statis. Jujur saja jika pembahasan ini mungkin sudah sangat banyak dibahas oleh para blogger lain baik dengan materi yang sama ataupun materi yang berbeda. Dan pada postingan ini khusus membahas perbaikan data terstruktur halaman statis khusus untuk template simplfy yang di buat oleh mbak arlina. 
Adapun cara mengatasi eror author update structure data pada search console yang hanya pada statistic page atau halaman statis tempalte simplify 2 adalah sebagai berikut:

Pertama masuk ke dasbor blogger->pilih tema->dan edit html.
Kemudian cara kode dibawah ini 

<div class='post-header-line-1'>

Sesudah menemukan kode diatas maka cari kode ini, yang pastinya terletak tepat dibawah kode di atas.

<b:if cond='data:blog.pageType != &quot;static_page&quot;'>

Sesudah mendapatkan kode tersebut langsung saja anda menghapus kode tersebut dan gantikan dengan kode script dibawah ini

<b:if cond='data:blog.pageType == &quot;static_page&quot;'>
<div class='post-info'>
<b:if cond='data:post.authorProfileUrl'>
<span class='author-info'>
<span class='vcard' itemprop='author' itemscope='itemscope' itemtype='https://schema.org/Person'>
<span class='fn'> OLEH <a class='g-profile' expr:href='data:post.authorProfileUrl' rel='author' title='author profile'><span itemprop='name'><data:post.author/></span>
</a>
</span>
</span>
</span>
<b:else/>
<span class='author-info'>
&#10004;
<span class='fn'>
<i class='fa fa-user'/> <span itemprop='name'><data:post.author/></span>
</span>
</span>
</b:if>
<span class='post-timestamp'>
<b:if cond='data:post.url'>
<meta expr:content='data:post.canonicalUrl' itemprop='url'/>
PADA <a class='timestamp-link' expr:href='data:post.url' rel='bookmark' title='permanent link'><abbr class='published updated' expr:title='data:post.timestampISO8601' itemprop='datePublished'><data:post.timestamp/></abbr></a>
</b:if>
</span>
</div>
<b:else/>
<!-- jika selain statis page, maka tampilkan di bawah ini -->

Sesudah anda pastekan kode di atas kemudian anda save. Untuk mengetahui permasalahan eror author update structure data pada search console yang hanya pada statistic page atau halaman tersebut sudah teratsi maka coba anda view kan halaman statis pada blog anda maka akan muncul tulisan di postkan oleh berserta dengan waktunya. 

Jika tulisan di poskan dan waktu sudah muncul, maka itu jelas dengan sendirinya permasalahan anda di eror author update structure data pada search console yang hanya pada statistic page atau halaman statis akan teratasi sendiri walaupun kesahana tersebut masih muncul di Google Webmaster Console. Untuk melihat perbaikan di Google Webmaster Console anda harus menunggu dua tiga hari ataupun sampai dengan satu minggu.  maka tulisan kesalahan ataupun eror tersebut akan hilang dan terhapus dengan sendirinya. Cukup sekian saja paparan cara memperbaiki eror author update structure data pada search console yang hanya pada statistic page atau halaman statis khusu untuk tempalte arlina design, dan siapa tahu juga ini bisa saja work untuk tamplate lainnya.