Pondok Belajar

Thursday, November 14, 2019

Model Model Pembelajaran Kurikulum 2013 Revisi 2017

 A.   Konsep

1. Pembelajaran 
Pembelajaran adalah proses interaksi antar peserta didik, antara peserta didik dan pendidik, dan antara peserta dan sumber belajar lainnya pada suatu lingkungan belajar yang berlangsung secara edukatif, agar peserta didik dapat membangun sikap, pengetahuan dan keterampilan-nya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Selaras dengan itu pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga penilaian untuk mencapai perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman.
Beberapa konsep pembelajaran yang dapat digunakan sebagai sandaran dalam mengembangkan belajar di SMK yang diantaranya;


Model Model Pembelajaran Kurikulum 2013 Revisi 2017
Model Model Pembelajaran Kurikulum 2013

  • Mengembangkan seluruh potensi peserta didik agar memiliki wawasan kerja, keterampilan teknis bekerja, employability skills, dan melakukan transformasi diri terhadap perubahan tuntutan dunia kerja (Putu Sudira; 2016).
  • Pendidikan kejuruan akan menjadi efisien bila pembelajarannya (peserta didik dilatih) dengan cara mengimitasi/mereplikasi lingkungan kerja semirip mungkin dengan yang terjadi di tempat pekerjaan yang sebenarnya” Charles A. Prosser (1950: 217). “Pembelajaran pada pendidikan kejuruan dapat efektif jika pelatihan dilakukan dengan cara yang sama seperti di dunia kerja termasuk penggunaan peralatan dan mesin” Konsep ke dua dari Charles A.Prosser (1950: 218). “Pembelajaran pada pendidikan kejuruan akan efektif sesuai proporsinya jika pembelajaran dilatihkan secara langsung dan secara individu pada peserta didik dalam kebiasaan berfikir dan diperlukan habit memanipulasinya dalam kompetensi keahlian itu sendiri” Konsep ke tiga dari Charles A.Prosser (1950: 220).

Pembelajaran dengan pereplikaan seperti konsep di atas hampir mirip dengan teaching factory atau production based trainning/Production Based Education Trainning dan ini memungkinkan akan terbangun pembiasaan pada peserta didik sesuai tuntutan dunia kerja dan akhirnya mereka memiliki kesiapan untuk mendapatkan peluang dalam memasuki lapangan kerja yang sebenarnya.

Konsep pembelajaran abad 21 yakni model relasi sain dan rekayasa yang dikembangkan oleh Bernie Trilling dan Charles Fadel (2009; disadur dari Putu Sudira). Pada konsep ini sain lebih menekankan pada metoda penyelidikan dan penemuan untuk menjelaskan gejala-gejala alam, sedangkan rekayasa dan teknologi menggunakan strategi perancangan dan penemuan solusi atas problematika kehidupan.

2.   Konsep Saintifik
Pendekatan saintifik dalam pembelajaran adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengkonstruk konsep, prosedur, hukum atau prinsip, melalui tahapan-tahapan mengamati, merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data, menarik kesimpulan, dan mengkomunikasikan.

3.   Model pembelajaran 
Model Pembelajaran adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran yang disusun secara sistematis untuk mencapai tujuan belajar yang menyangkut sintaksis, sistem sosial, prinsip reaksi dan sistem pendukung (Joice&Wells). Sedangkan menurut “Arends dalam Trianto”, mengatakan “model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas”.

Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yaitu:
a. Rasional teoretis logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya. Model pembelajaran mempunyai teori berfikir yang masuk akal. Maksudnya para pencipta atau pengembang membuat teori dengan mempertimbangkan teorinya dengan kenyataan sebenarnya serta tidak secara fiktif dalam menciptakan dan mengembangkannya.

b. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai). Model pembelajaran mempunyai tujuan yang jelas tentang apa yang akan dicapai, termasuk di dalamnya apa dan bagaimana siswa belajar dengan baik serta cara memecahkan suatu masalah pembelajaran.

c. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil. Model pembelajaran mempunyai tingkah laku mengajar yang diperlukan sehingga apa yang menjadi cita-cita mengajar selama ini dapat berhasil dalam pelaksanaannya.
d. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai. Model pembelajaran mempunyai lingkungan belajar yang kondusif serta nyaman, sehingga suasana belajar dapat menjadi salah satu aspek penunjang apa yang selama ini menjadi tujuan pembelajaran.  (Trianto, 2010).

B.   Deskripsi

1. Prinsi-prinsip pembelajaran 
adapun prinsip prinsip pembelajaran sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi SMK meliputi: Prinsip umum(1) Pembelajaran sepanjang hayat;(2) Menerapkan pendekatan ilmiah; (3) Menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarsa sung tuladha), membangun kemauan (ing madya mangun karsa), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani); (4) Menerapkan pembelajaran secara terpadu dan tuntas (mastery learning); (5) Memperhatikan keseimbangan antara hard skills dan soft skills; (6) Menggunakan berbagai sumber belajar; (7) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi; (8) Menerapkan metode pembelajaran yang mendorong peserta didik lebih aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan serta mempertimbangkan karakteristik peserta didik; dan (9) Menerapkan strategi pembelajaran berbasis kompetensi, dan model-model belajar inkuiri, discovery learning, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis produk dan pembelajaran berbasis proyek.

Prinsip khusus (1)Menekankan pada keterampilan aplikatif; (2) Berlangsung di rumah, sekolah/madrasah dan masyarakat/Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI); (3) Iklim belajar merupakan simulasi dari lingkungan kerja di DUDI; (4) Berdasarkan pada pekerjaan nyata, otentik dan sarat nilai melalui teaching factory untuk mendapatkan pembiasaan berpikir dan bekerja dengan kualitas seperti di tempat kerja; (5) Berdasarkan permintaan pasar kerja; (6) Melibatkan praktisi ahli yang berpengalaman di bidangnya untuk memperkuat pembelajaran dengan cara pembimbingan saat praktik kerja lapangan dan PSG; dan (7) Menerapkan sistem penyelenggaraan pendidikan terbuka (Multi Entry-Multi Exit System/MEMES) dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL);

2. Karakteristik pembelajaran 
Adapun karakteristik pembelajaran pada Pendidikan kejuruan di adopsi dari Crunkilton (1984) sejalan dengan pernyataan Charles A. Prosser (1950:215) bahwa karakteristik pembelajaran pada pendidikan kejuruan secara proporsi hanya menyiapkan peserta didik secara nyata untuk melakukan pekerjaan dengan menetapkan (establish) habit berfikir yang benar dan bekerja dengan tepat melalui pembelajaran atau pelatihan yang berulang-ulang pada lingkup kompetensi keahlian yang dipelajarinya.

3. Perancangan pembelajaran 
Perancangan pembelajaran SMK dengan memperhatikan karakteristik Pembelajaran pada Pendidikan kejuruan sebagai berikut:
• Diarahkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki lapangan kerja
• Didasarkan atas kebutuhan dunia kerja
• Ditekankan pada penguasaan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dibutuhkan oleh dunia kerja.
• Penilaian yang sesungguhnya terhadap kesuksesan peserta didik harus pada “mind-on, heart-on, hands-on” atau cara cara pikir, sikap dan keterampilan kerja di dunia usaha atau produksi
• Melibatkan dunia kerja sebagai  kunci keberhasilan pendidikan kejuruan
• Responsif dan antisipatif terhadap kemajuan teknologi
• Lebih ditekankan pada “learning by doing”
• Memerlukan fasilitas praktek sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan industri

4. Tujuan pembelajaran 
Tujuan pembelajaran merupakan pernyataan kemampuan dari suatu keadaan yang ingin dicapai sebagai hasil perubahan dari yang peserta didik pelajari atau pernyataan sebagai hasil dari pendidikan dan pelatihan. Agar tujuan pembelajaran di SMK efektif, maka perumusannya dapat menggunakan beberapa pertanyaan dasar yang berkaitan dengan pembelajaran yakni: “kemana kita akan pergi; bagaimana kita akan mencapainya; dan bagaimana kita mengetahui bahwa telah mencapai tujuan yang telah ditetapkan” (Mager; 1984:24). Secara umum tujuan pembelajaran pada SMK adalah: (1) Memahami persyaratan kompetensi kerja, (2) melakukan pekerjaan rutin, (3) menguasai prosedur kerja sehari-hari, (4) menerapkan standar keamanan kerja, (5) meningkatkan produktifitas, (6) mampu bekerja dalam tim kolaboratif, (7) melek digital dan simbol-simbol dalam pekerjaan, (8) memperhatikan kualitas, efisiensi, (9) menerapkan etika, moralitas kerja, (10) memahami perubahan nasional dan (11) memiliki jiwa kewirausahaan (Putu Sudira; 2016).

5. Proses pembelajaran pendekatan saintifik
Proses pembelajaran pendekatan saintifik mengacu pada pendekatan langkah berpikir saintifik, mengandung 5 (lima) langkah yang tidak selalu harus berurut dan seluruhnya ada dalam satu kali pertemuan pembelajaran, yaitu sebagai berikut:

a. Mengamati, yaitu kegiatan siswa mengidentifikasi melalui indera penglihat (membaca, menyimak), pembau, pendengar, pengecap dan peraba pada waktu mengamati suatu objek dengan ataupun tanpa alat bantu. Alternatif kegiatan mengamati antara lain observasi lingkungan, mengamati gambar, video, tabel dan grafik data, menganalisis peta, membaca berbagai informasi yang tersedia di media masa dan internet maupun sumber lain. Bentuk hasil belajar dari kegiatan mengamati adalah siswa dapat mengidentifikasi masalah.

b. Menanya, yaitu kegiatan siswa mengungkapkan apa yang ingin diketahuinya baik yang berkenaan dengan suatu objek, peristiwa, suatu proses tertentu. Dalam kegiatan menanya, siswa membuat pertanyaan secara individu atau kelompok tentang apa yang belum diketahuinya. Siswa dapat mengajukan pertanyaan kepada guru, narasumber, siswa lainnya dan atau kepada diri sendiri dengan bimbingan guru hingga siswa dapat mandiri dan menjadi kebiasaan. Pertanyaan dapat diajukan secara lisan dan tulisan serta harus dapat membangkitkan motivasi siswa untuk tetap aktif dan gembira. Bentuknya dapat berupa kalimat pertanyaan dan kalimat hipotesis. Hasil belajar dari kegiatan menanya adalah siswa dapat merumuskan masalah dan merumuskan hipotesis.

c. Mengumpulkan data, yaitu kegiatan siswa mencari informasi sebagai bahan untuk dianalisis dan disimpulkan. Kegiatan mengumpulkan data dapat dilakukan dengan cara membaca buku, mengumpulkan data sekunder, observasi lapangan, uji coba (eksperimen), wawancara, menyebarkan kuesioner, dan lain-lain. Hasil belajar dari kegiatan mengumpulkan data adalah siswa dapat menguji hipotesis.

d. Mengasosiasi, yaitu kegiatan siswa mengolah data dalam bentuk serangkaian aktivitas fisik dan pikiran dengan bantuan peralatan tertentu. Bentuk kegiatan mengolah data antara lain melakukan klasifikasi, pengurutan (sorting), menghitung, membagi, dan menyusun data dalam bentuk yang lebih informatif, serta menentukan sumber data sehingga lebih bermakna. Kegiatan siswa dalam mengolah data misalnya membuat tabel, grafik, bagan, peta konsep, menghitung, dan pemodelan. Selanjutnya siswa menganalisis data untuk membandingkan ataupun menentukan hubungan antara data yang telah diolahnya dengan teori yang ada sehingga dapat ditarik simpulan dan atau ditemukannya prinsip dan konsep penting yang bermakna dalam menambah skema kognitif, meluaskan pengalaman, dan wawasan pengetahuannya. Hasil belajar dari kegiatan menalar/mengasosiasi adalah siswa dapat menyimpulkan hasil kajian dari hipotesis.

e. Mengomunikasikan, yaitu kegiatan siswa mendeskripsikan dan menyampaikan hasil temuannya dari kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan dan mengolah data, serta mengasosiasi yang ditujukan kepada orang lain baik secara lisan maupun tulisan dalam bentuk diagram, bagan, gambar, dan sejenisnya dengan bantuan perangkat teknologi sederhana dan atau teknologi informasi dan komunikasi. Hasil belajar dari kegiatan mengomunikasikan adalah siswa dapat memformulasikan dan mempertanggungjawabkan pembuktian hipotesis.

6. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Guna memperkuat pendekatan saintifik serta pendekatan rekayasa dan teknologi serta mendorong kemampuan peserta didik menghasilkan karya nyata, baik individual maupun kelompok, maka diterapkan strategi pembelajaran menggunakan model model pembelajaran penyingkapan (inquiry learning), pembelajaran penemuan (discovery learning) dan pendekatan pembelajaran berbasis hasil karya yang meliputi pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) serta pelatihan berbasis produk (production based training) dan pembelajaran berbasis proyek (project based learning) serta teaching factorysesuai dengan karakteristik pendidikan menengah kejuruan.

7. Jenis dan sintaksis model pembelajaran kurikulum 2013 revisi 2017

a. Model Pembelajaran Penemuan(Discovery Learning))
Model pembelajaran penemuan (Discovery Learning) adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005:43). Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa hukum, konsep dan prinsip, melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi (pengambilan keputusan/kesimpulan). Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilating concepts and principles in the mind (Robert B. Sund dalam Malik, 2001:219). Sebagai Contoh penerapan model ini melalui strategi deduktif dimana peserta didik diberikan tugas untuk menentukan rumus luas lingkaran melalui permainan kertas berbentuk lingkaran yang dibagi dalam n sektor yang sama besar, kemudian menyusunnya sedemikian rupa sehingga berbentuk seperti persegi panjang dan rumus keliling sudah diketahui sebelumnya. Dari permainan kertas tersebut peserta didik dapat menemukan bahwa luas lingkaran adalah ..............;
Tujuan pembelajaran model Discovery Learning

• Meningkatkan Kesempatan peserta didik terlibat aktif dalam pembelajaran
• Peserta didik belajar menemukan pola dalam situasi konkret maupun abstrak
• Peserta didik belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu dan memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan
• Membantu peserta didik membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling membagi informasi serta mendengarkan dan menggunakan ide-ide orang lain
• Meningkatkan Keterampilan konsep dan prinsip peserta didik yang lebih bermakna
• Dapat mentransfer keterampilan yang dibentuk dalam situasi belajar penemuan ke dalam aktivitas situasi belajar yang baru

Sintak model Discovery Learning
• Pemberian rangsangan (Stimulation);
• Pernyataan/Identifikasi masalah (Problem Statement);
• Pengumpulan data (Data Collection);
• Pembuktian (Verification), dan
• Menarik simpulan/generalisasi (Generalization).

b. Model Inquiry Learning  Terbimbing dan Sains
Model pembelajaran yang dirancang membawa peserta didik dalam proses penelitian melalui penyelidikan dan penjelasan dalam setting waktu yang singkat (Joice &Wells, 2003).
Model pembelajaran Inkuiri terbimbing merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu secara sistematis kritis dan logis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri temuannya dari sesuatu yang dipertanyakan. Sedangkan Inkuiri Sains esensinya adalah melibatkan siswa pada kasus yang nyata di dalam penyelidikan dengan cara mengkonfontasi dengan area yang diselidiki, dengan cara membantu mereka mengidentifikasi konsep atau metodologi pada area investigasi serta mendorong dalam cara-cara mengatasi masalah.
Tujuan Pembelajaran Inquiry untuk mengembangkan kemampuan berfikir secara sistimatis, logis dan kritis sebagai bagian dari proses mental.

Sintak/tahap model inkuiri terbimbing meliputi:
• Orientasi masalah;
• Pengumpulan data dan verifikasi;
• Pengumpulan data melalui eksperimen;
• Pengorganisasian dan formulasi eksplanasi, dan
• Analisis proses inkuiri.
Sintak/tahap model inkuiri Sains (Biology)
• Menentukan area investigasi termasuk metodologi yang akan digunakan
• Menstrukturkan problem/masalah
• Mengidentifikasi problem-problem yang kemungkinan terjadi  dalam proses investigasi
• Menyelesaikan kesulitan/masalah dengan melakukan desain ulang, mengumpulkan dan mengorganisir data dengan cara lain dan sebagainya.

c. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Kurikulum 2013 Revisi 2017
Merupakan pembelajaran yang menggunakan berbagai kemampuan berpikir dari peserta didik secara individu maupun kelompok serta lingkungan nyata (autentik) untuk mengatasi permasalahan sehingga bermakna, relevan, dan kontekstual (Tan Onn Seng, 2000).Problem Based Learning untuk pemecahan masalah yang komplek, problem-problem nyata dengan menggunakan pendekataan studi kasus.Peserta didik melakukan penelitian dan menetapan solusi untuk pemecahan masalah. (Bernie Trilling & Charles Fadel, 2009: 111).

TujuanPembelajaran PBL untuk meningkatkan kemampuan dalam menerapkan konsep-konsep pada permasalahan baru/nyata, pengintegrasian konsep High Order Thinking Skills (HOT’s) yakni pengembangan kemampuan berfikir kritis, kemampuan pemecahan masalah dan  secara aktif mengembangkan  keinginan dalam belajar dengan mengarahkan belajar diri sendiri dan keterampilan (Norman and Schmidt).Pengembangan kemandirian belajar dapat terbentuk ketika peserta didik berkolaborasi untuk mengidentifikasi informasi, strategi, dan sumber-sumber belajar yang relevan untuk menyelesaikan masalah.

Sintak model Problem Based Learning dari Bransford and Stein (dalam Jamie Kirkley, 2003:3) terdiri atas:
• Mengidentifikasi masalah;
• Menetapkan masalah melalui berpikir tentang masalah dan menyeleksi informasi-informasi yang relevan;
• Mengembangkan solusi melalui pengidentifikasian alternatif-alternatif, tukar-pikiran dan mengecek perbedaan pandang;
• Melakukan tindakan strategis, dan
• Melihat ulang dan mengevaluasi pengaruh-pengaruh dari solusi yang dilakukan.
Sintak model Problem Solving Learning Jenis Trouble Shooting (David H. Jonassen, 2011:93) terdiri atas:
• Merumuskan uraian masalah;
• Mengembangkan kemungkinan penyebab;
• Mengetes penyebab atau proses diagnosis, dan
• Mengevaluasi.

d. Model pembelajaran Project Based Learning (PjBL).
Model pembelajaran PjBL merupakan pembelajaran dengan menggunakan proyek nyata dalam kehidupan yang didasarkan pada motivasi tinggi, pertanyaan menantang, tugas-tugas atau permasalahan untuk membentuk penguasaan kompetensi yang dilakukan secara kerja sama dalam upaya memecahkan masalah (Barel, 2000 and Baron 2011).

Tujuan Project Based Learning adalah meningkatkan motivasi belajar, team work, keterampilan kolaborasi dalam pencapaian kemampuan akademik level tinggi/ taksonomi tingkat kreativitas yang dibutuhkan pada abad 21 (Cole & Wasburn Moses, 2010).

Sintak/tahapan model pembelajaran Project Based Learning, meliputi:
• Penentuan pertanyaan mendasar (Start with the Essential Question);
• Mendesain perencanaan proyek;
• Menyusun jadwal (Create a Schedule);
• Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project);
• Menguji hasil (Assess the Outcome), dan
•  Mengevaluasi pengalaman (Evaluate the Experience).

e.    Model Pembelajaran Production Based Training/ Production Based Education Training
Model inimerupakan proses pendidikan dan pelatihan yang menyatu pada proses produksi, dimana peserta didik diberikan pengalaman belajar pada situasi yang kontekstual mengikuti aliran kerja industri mulai dari perencanaan berdasarkan pesanan, pelaksanaan dan evaluasi produk/kendali mutu produk, hingga langkah pelayanan pasca produksi.
Tujuan penggunaan model pembelajaran PBT/PBET adalah untuk menyiapkan peserta didik agar memiliki kompetensi kerja yang berkaitan dengan kompetensi teknis serta kemampuan kerjasama (berkolaborasi) sesuai tuntutan organisasi kerja.

Sintaks/tahapan model pembelajaran Production Based Trainning meliputi:
• Merencanakan produk;
• Melaksanakan proses produksi;
• Mengevaluasi produk (melakukan kendali mutu), dan
• Mengembangkan rencana pemasaran.
(Diadaptasi dari Ganefri; 2013; G. Y. Jenkins, Hospitality 2005).

f. Model Pembelajaran Teaching Factory
Pembelajaran teaching factory adalah model pembelajaran di SMK berbasis produksi/jasa yang mengacu pada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri.Pelaksanaan teaching factory menuntut keterlibatan mutlak pihak industri sebagai pihak yang relevan menilai kualitas hasil pendidikan di SMK. Pelaksanaan teaching factory (TEFA) juga harus melibatkan pemerintah, pemerintah daerah dan stakeholders dalam pembuatan regulasi, perencanaan, implementasi maupun evaluasinya.
Pelaksanaanteaching factory sesuai Panduan TEFA Direktorat PMK terbagi atas 4 model, dan dapat digunakan sebagai alat pemetaan SMK yang telah melaksanakan TEFA. Adapun model tersebut adalah sebagai berikut:

1) Model pertama, Dual Sistem dalam bentuk praktek kerja industri yaitu pola pembelajaran kejuruan di tempat kerja yang dikenal sebagai experience based training atau enterprise based training.

2) Model Kedua, Competency Based Training (CBT) atau pelatihan berbasis kompetensi merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada pengembangan dan peningkatan keterampilan dan pengetahuan peserta didik sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Pada metode ini, penilaian peserta didik dirancang sehingga dapat memastikan bahwa setiap peserta didik telah mencapai keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan pada setiap unit kompetensi yang ditempuh.

3) Model ketiga Production Based Education and Training (PBET) merupakan pendekatan pembelajaran berbasis produksi. Kompetensi yang telah dimliki oleh peserta didik perlu diperkuat dan dipastikan keterampilannya dengan memberikan pengetahuan pembuatan produk nyata yang dibutuhkan dunia kerja (industri dan masyarakat).

4) Model keempat, Teaching Factory adalah konsep pembelajaran berbasis industri (produk dan jasa) melalui sinergi sekolah dan industri untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dengan kebutuhan pasar.

Tujuan Pembelajaran Teaching Factory
1) Mempersiapkan lulusan SMK menjadi pekerja, dan wirausaha;
2) Membantu siswa memilih bidang kerja yang sesuai dengan kompetensinya.
3) Menumbuhkan kreatifitas siswa melalui learning by doing.
4) Memberikan keterampilan yang dibutuhkan dalam dunia kerja.
5) Memperluas cakupan kesempatan rekruitmen bagi lulusan SMK
6) Membantu siswa SMK dalam mempersiapkan diri menjadi tenaga kerja, serta membantu menjalin kerjasama dengan dunia kerja yang aktual, dll
7) Memberi kesempatan kepada siswa SMK untuk melatih keterampilannya sehingga dapat membuat keputusan tentang karier yang akan dipilih.

Tujuan yang selaras tentang pembelajaran teaching factory (Sema E. Alptekin, Reza Pouraghabagher, atPatricia McQuaid, and Dan Waldorf; 2001) adalah:
1) Menyiapkan lulusan yang lebih profesional melalui pemberian konsep manufaktur moderen sehingga secara efektif dapat berkompetitif di industri.
2) Meningkatkan pelaksanaan kurikulum SMK yang berfokus pada konsep manufaktur moderen.
3) Menunjukan solusi yang layak pada dinamika teknologi dari usaha yang terpadu
4) Menerima transfer teknologi dan informasi dari industri pasangan terutama pada aktivitas peserta didik dan guru saat pembelajaran.

Sintaksis Teaching Factory
Pembelajaran teaching factory dapat menggunakan sintaksis PBET/PBT atau dapat juga menggunakan sintaksis yang diterapkan di Cal Poly-San Luis Obispo USA (Sema E. Alptekin: 2001) dengan langkah-langkah:
• Merancang produk
• Membuat prototype
• Memvalidasi dan memverifikasi prototype
• Membuat produk masal

Berdasarkan hasil penelitian, Dadang Hidayat (2011) mengembangkan langkah-langkah pembelajaran Teaching Factory sebagai berikut:
• Menerima Order
• Menganalisis order
• Menyatakan Kesiapan mengerjakan order
• Mengerjakan order
• Mengevaluasi produk
• Menyerahkan order

Thursday, August 22, 2019

Manfaat Buah Ciplukan Untuk Kesehatan

Rasanya jenis tanaman yang satu ini sangat tidak asing bagi orang indonesia. Tanaman ini banyak tumbuh liar di negara tropis, termasuk di Indonesia. Tanaman yang memiliki bentuk buah yang unik ini ternyata memiliki banyak sekali manfaat untuk kesehatan. Penasaran apa saja manfaat ciplukan? Simak ulasannya berikut:

Tanaman Ciplukan

Ciplukan adalah tanaman liar yang biasa ditemukan di kebun, persawahan yang mengering, hingga pinggiran hutan yang banyak disinari matahari. Tanaman Ciplukan ini bisa tumbuh hampir merata di seluruh wilayah di Indonesia dengan sebutan yang berbeda-beda pula seperti cecendet dalam Bahasa Sunda, kopok-kopokan dalam Bahasa Bali, nyurnyuran dalam Bahasa Madura, hingga leletokan dalam Bahasa Minahasa. Ciplukan memiliki bentuk buah yang unik karena bunganya diselubungi oleh kelopak yang menggembung. Warna buah Ciplukan ini hijau ketika baru tumbuh dan berubah menjadi kuning ketika sudah masak. Ketika belum matang, buah ciplukan ini memiliki rasa yang getir, tetapi jika sudah berwarna kuning-oranye maka rasanya menjadi agak manis-asam.

11 Manfaat Buah Ciplukan Untuk Kesehatan
Manfaat Buah Ciplukan Untuk Kesehatan
Buah yang memiliki nama latin Physalis angulata ini biasa disebut dengan morel berry atau physalis saja dalam Bahasa Inggris. Dewasa ini, Buah ciplukan sudah semakin langka dan jarang ditemui di lahan liar, dan sekarang buah ini sudah tersedia untuk dijual di pasar. Namun harganya bisa dikatakan fantantis karena bisa mencapai 500 ribu rupiah per kilogramnya. Disamping itu adna juga dapat melakukan pemesanan secara online karenaciplukan sudah banyak diperjualbelikan secara online.
Jenis tanaman ini juga sudah mulai di budidaya di berbagai negara seperti Amerika Selatan, Selandia Baru, dan Australia. Akan tetapi jenis Ciplukan yang banyak dibudidayakan adalah jenis ciplukan badak atau Physalis peruviana yang memiliki ukuran lebih besar.

Kandungan Ciplukan
Sebelumnya ciplukan diketahui manfaaatn yang terkadung pada tanamn Ciplukan, tanaman ini hanya dianggap sebagai tanaman liar yang tidak memiliki manfaat, tentunya bukan tanpa alasan ciplukan kini banyak diperjualbelikan. Makanya tak mengherankan jika di beberapa Negara, ciplukan dijadikan sebagai garnish untuk berbagai hidangan. 

Jenis kandungan yang sangat bermanfaat untuk kesehatan pada ciplukan antara lain seperti seperti saponin, flavonoid, polifenol (dalam bantuk tanin), alkaloid, kriptoxantin, vitamin C, asam stearat, asam sitrat, asam palmitat, asam malat, dan fisalin. Jadi secara keseluruhan semua bagian tanaman ciplukan dapat dimanfaatkan mulai dari buah, daun, akar, hingga batangnya.
Manfaat Ciplukan
Berikut ini adalah manfaat bagi kesehatan yang terdapat pada tanaman ciplukan, adapun manfaatnya adalah sebagi berikut:

1. Mengatasi gejala penyakit Parkinson
Penyakit parkinson merupakan penyakit yang disebabkankan oleh adanya gangguan pada sistem saraf pusat yang memberikan pengaruh pada gerak tubuh. Salah satu gejala parkinson adalah tremor pada salah satu tangan. Dengan mengkonsumsi jus ciplukan secara rutin setiap hari dipercaya dapat menurunkan gejala tremor tersebut.

2. Menurunkan kolesterol
Jika Anda merasakan gejala seperti sering kesemutan, nyeri leher dan punggung, mudah lelah, hilang keseimbangan, ketidakstabilan emosi, hingga pembengkakan, Anda perlu waspada karena gejala tersebut mungkin mengindikasikan tingginya kolesterol dalam tubuh. Masalah kolesterol memang merupakan salah satu masalah yang paling banyak ditemui di masyarakat.
Tingginya kolesterol jahat di dalam tubuh perlu diwaspadai karena dapat memicu berbagai penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung koroner hingga stroke. Salah satu cara sederhana untuk terhindar dari penyakit berbahaya tersebut, Anda bisa mengonsumsi ciplukan untuk membantu menetralkan kadar kolesterol dalam tubuh.

3. Penyakit kuning

Penyakit kuning adalah penyakit yang menyebabkan perubahan warna kulit menjadi kuning akiibat tingginya kadar zat bilirubin dalam darah. Penyakit ini umumnya dialami bayi, terutama yang baru lahir, tetepi dalam beberapa kondisi juga bisa menyerang orang dewasa. Kandungan senyawa antioksidan seperti fisalin, saponin, flavonoid, dan polifenol yang ada di dalam ciplukan dipercaya dapat membantu mengatasi penyakit kuning ini.

4. Mengatasi epilepsi
Salah satu penyebab penyakit epilepsi adalah karena disebabkan oleh terganggunnya aktivitas sel saraf di otak sehingga menyebabkan penderita mengalami kejang. Penyebab epilepsi bermacam-macam bisa akibat faktor genetika atau cedera otak akibat trauma. Gejala epilepsi akibat genetik bisa terlihat sejak usia dini. Adapun cara mengobati epilepsi adalah dengan menggunakan obat-obatan maupun dengan cara diet tertentu. Sebagai pendamping terapi untuk epilepsi, Anda bisa mengkonsumsi buah ciplukan sebanyak 8-10 buah per hari untuk menurunkan gejala.

(Baca Cara Mengobati Stroke dengan Berjalan Jinjit)
(Baca Mengurangi Kadar kalestrol Secara Alami)

5. Menurunkan kadar gula darah
Tingginya kadar gula darah atau biasa diesbut Hiperglikemia adalah kondisi yang umumnya dialami oleh penderita diabetes. Salah satu penelitian baru baru ini menunjukkan bahwa daun ciplukan memiliki aktivitas anithiperglikemia sehingga dapat menurunkan kadar gula darah. Tanaman ciplukan bekerja langsung memengaruhi kerja insulin.

6. Menjaga kerja saluran kemih
Adapun jenis Manfaat lain ciplukan selanjutnya adalah untuk menjaga kerja saluran kemih. Tanaman Ciplukan ini bias menjadi salah satu obat diuretik yang dapat memperlancar buang air kecil, mencegah infeksi saluran kemih, dan juga mencegah batu kandung kemih. Selain itu, berdasarkan sumber datri pihak lain, mereka menyatakan jika daun ciplukan memiliki manfaat untuk menyembuhkan kencing nanah atau gonore.

7. Mengatasi infeksi kulit
Infeksi kulit yang menyebabkan luka terbuka di kulit biasa disebut dengan borok. Penyebabnya bermacam-macam mulai dari infeksi bakteri hingga kondisi tertentu seperti diabetes. Dengan menggunakan Daun ciplukan, bias menjadi pilihan alternatif bagi anda untuk mengatasi borok, karena beberapa kandungan tanaman ciplukan memiliki sifat antiinflamasi. Adapun cara untuk menggunakannya adalah hanya dengan membalurkan luka dengan daun ciplukan yang sudah ditumbuk hingga halus. Tunggu daun hingga menyerap ke kulit, lalu kemudian bilas dengan air bersih. Selain mengobati infeksi kulit terbuka, Anda juga bisa mencoba mengobati bisul dengan resep yang sama.

8. Obat nyeri untuk penyakit lupus
Manfaat ciplukan selanjutnya adalah sebagai obat pereda nyeri. Disamping memiliki sifat antihiperglikemik dan juga antiinflamasi, ternyata ciplukan juga memiliki efek analgesik atau antinyeri. Dari hasil sebuah studi, mereka menyimpulkan bahwa ekstrak ciplukan bahkan bisa mengatasi nyeri yang dirasakan oleh penderita penyakit lupus.
9. Mengatasi nyeri sendi dan rematik
Manfaat lain dari Ciplukan juga dapat mengatasi nyeri sendi dan rematik. Cara mengatasi nyeri sendi dan rematik dengan ciplukan adalah dengan menggunakan daun ciplukan untuk mengompres bagian yang terasa nyeri. Adapun cara penggunaannya adalah Tumbuk daun ciplukan dengan halus dan campurkan dengan sedikit kapur sirih, baru kemudian balurkan ke tubuh yang mengalami nyeri.

10. Mengatasi beberapa masalah saluran pernapasan   
Terdapat beberapa manfaat ciplukan untuk saluran pernapasan. Jika kita dapat mengkonsumsi air rebusan daun ciplukan secara rutin setiap hari, maka khasiatnya mampu untuk mencegah asma kambuh. Disamping itu tanaman ciplukan juga dipercaya dapat mencegah perkembangan bakteri penyebab tuberkulosis atau TBC karena kandungan antibakteri yang terkandung dalam ciplukan. Adapun Manfaat lain dari ciplukan pada saluran pernapasan adalah dapat mencegah penyakit paru-paru basah.

11. Sebagai obat penambah darah

Jika Anda mengalami gejala seperti lelah, pusing, limbung, sesak nafas, dan detak jantung cepat, kemungkinan Anda terserang Anemia. Meminum rebusan daun ciplukan, karena ciplukan ini dipercaya dapat meningkatkan produksi sel darah merah sehingga gejala tersebut dapat teratasi.
Itu dia beberapa manfaat ciplukan yang paling populer. Penggunaan tanaman herbal untuk mengobati berbagai penyakit memang dianggap lebih ekonomis dan juga lebih minim risiko. Sampai dengan saat sekarang, belum ditemukankannya efek samping dari penggunaan tanaman ciplukan untuk obat alternatif.
Walaupun demikian, sebaiknya anda juga konsultasikan dengan dokter Anda tentang penggunaan ciplukan sebagai pengobatan pendamping/alternatif. Ini bertujuan untuk mencegah terjadinya interaksi obat yang bisa menurunkan efektivitas obat. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat!

Monday, August 19, 2019

Kemdikbud Siapkan Program PKP untuk Tingkatkan Mutu Pendidikan

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud, Supriano, menyatakan bahwa kunci proses pembelajaran yang baik dan benar di sektor pendidikan adalah peran para guru. Itulah sebabnya pemerintah saat ini memperketat seleksi penerimaan guru.“Selain itu untuk memperbaiki model pelatihan dan pembelajaran bagi guru, ke depannya akan diberlakukan sistem zonasi,” ungkap Supriano dalam acara Pertemuan Ilmiah Matematika di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika, pada Rabu 20 Februari 2019.
Kemdikbud Siapkan Program PKP untuk Guru
Kemdikbud Siapkan Program PKP untuk Guru
Selama ini program pengembangan kompetensi guru berdasarkan hasil uji kompetensi, yang lebih memfokuskan pada peningkatan kompetensi guru terutama dalam kompetensi pedagogi dan profesional. Namun seiring meningkatnya tantangan peningkatan mutu pendidikan, perlu dilakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan guru yang bermuara pada hasil peserta didik. Menurut Supriano, salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang bermuara pada peningkatan kualitas siswa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Ditjen GTK menyelenggarakan Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP). “Program ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa melalui pembinaan guru dalam merencanakan, melaksanakan, sampai dengan mengevaluasi pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher OrderThinking Skills/HOTS),” ujar Supriano.
(Baca Model Pembelajaran Humanistik)
(Baca Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Window Shopping)

Untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, serta pemerataan mutu pendidikan, pelaksanaan Program PKP mempertimbangkan pendekatan kewilayahan, atau dikenal dengan istilah zonasi. Melalui langkah ini, pengelolaan Pusat Kegiatan Guru (PKG) TK, kelompok kerja guru (KKG) SD, atau musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) SMP/SMA/SMK, dan musyawarah guru bimbingan dan konseling (MGBK), yang selama ini dilakukan melalui Gugus atau Rayon, dapat terintegrasi melalui zonasi pengembangan dan pemberdayaan guru. Zonasi memperhatikan keseimbangan dan keragaman mutu pendidikan di lingkungan terdekat, seperti status akreditasi sekolah, nilai kompetensi guru, capaian nilairata-rata UN/USBN sekolah, atau pertimbangan mutu lainnya. Komunitas guru dan tenaga kependidikan (PKG/KKG/MGMP/MGBK) memegang peranan penting dalam keberhasilan program ini. Di antara peran tersebut adalah melakukan pendataan terhadap anggota komunitasnya. Pendataan ini penting karena komunitas juga berperan dalam mengkoordinasikan dan melaksanakan program PKP Berbasis Zonasi di kelompok kerja masing-masing.

“Koordinasi mungkin melibatkan dinas pendidikan setempat, PPPPTK/ LPPPTK-KPTK/ LP2KS, LPMP, balai, maupun UPT. Komunitas juga diharapkan melakukan evaluasi secara internal berkenaan dengan pelaksanaan program PKB Berbasis zonasi di kelompok kerjanya. Komunitas yang mendapat bantuan pemerintah untuk pelaksanaan program PKP berbasis zonasi wajib menyampaikan laporan hasil pelaksanaan program kepada UPT pemberi bantuan pemerintah,” urai Supriano.

Supriano melanjutkan, begitu dominannya peran komunitas guru dan tenaga kependidikan pada program PKP Berbasis Zonasi ini, menuntut seluruh guru terdaftar dan terlibat aktif di komunitas sesuai jenjang masing-masing. “Komunitas merupakan ujung tombak wadah untuk berbagi dan mencari solusi mengenai masalah-masalah pendidikan yang dihadapi guru di daerah masing-masing. Program PKP Berbasis Zonasi ini diharapkan dapat menghidupkan dan menggairahkan kegiatan-kegiatan komunitas dengan lebih bersemangat. Melalui PKG/KKG/MGMP/MGBK, pemerataan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia diharapkan dapat segera tercapai,” pungkas Supriano.
Sumber okenews.com

Tuesday, August 06, 2019

10 Smartphone Triple Camera Terbaik pada tahun 2019.

Pembelian Smartphone yang memiliki kamera yang canggih, berkwalitas dan memiliki spesifikasi yang mumpuni sudah menjadi kebutuhan sebagian konsumen handphone di tanah air, disamping juga karena faktor merek supaya kelihatan branded di pada orang lain. Apa lagi dengan terjadi  perkembangan yang begitu pesat diantara produsen Smartphone maka perlahan tapi pasti jika peranan Smartphone saat ini sudah mulai menggantikan posisi kamera khusus seperti DSLR. Disamping segala kelebihan yang disajikan, banyak Smartphone pada era ini yang telah dibekali dengan kamera berkualitas setara DSLR yang berfungsi untuk memenuhi dan membidik para konsumen di berbagai Negara.

Dibawah ini akan disajikan daftar jenis jenis Smartphone yang sangat canggih untuk saat ini, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Samsung Galaxy S10 Plus

10 Smartphone Triple Camera Terbaik pada tahun 2019.
Samsung Galaxy S10 Plus


Monday, July 29, 2019

Cara Mudah Menulis Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Menulis merupakan aktivitas rutin yang harus dilakukan oleh seorang pendidik. Alasannya karena setiap aktivitas yang dilakukan oleh seorang pendidik mesti harus menggunakan pulpen, pensil dan spidol. Menulis yang dimaksudkan diatas tentu saja menulis dalam katagori umum baik menulis di buku catatan siswa di white board kelas, menulis perangkat pembelajaran ataupun menulis Penelitian Tindakan Kelas untuk meningkatkan proses pembelajaran ataupun sebagai salah satu persyaratan ketika mengusulkan proses kenaikan pangkat. 

Salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang pendidik disamping mengajar adalah melakukan/menulis penelitian tindakan kelas. PTK ini sebenarnya merupakan sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang pendidik dengan tujuan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan. Adapun fungsi dari penelitian Tindakan Kelas adalah sebagai instrumen yang digunakan dalam peningkatan proses pembelajaran yang dilakukan oleh seorang pendidik.   

PTK adalah sebuah penelitian yang digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas. Jenis penelitian ini merupakan salah satu upaya pendidik untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses pembelajaran di dalam kelas. Disamping itu, PTK boleh dimaknakan sebagai proses pengkajian masalah pembelajaran di dalam kelas yang didasarkan refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah pembelajaran tersebut dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut. PTK merupakan salah satu publikasi ilmiah dalam konteks pengembangan profesi guru secara berkelanjutan yang ditujukan untuk perbaikan dan peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran atau mutu pendidikan pada umumnya. PTK ini cocok dilakukan oleh guru karena prosesnya praktis”.

Cara Mudah Menulis Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Cara Mudah Menulis Penelitian Tindakan Kelas

Dari penjabaran diatas, maka dapat disederhanakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas merupakan penelitian yang didasarkan atas pemahaman dan pengalaman yang dialami oleh seorang pendidik dalam melakukan proses pembelajaran sehari-hari di sekolah. Sebagai seorang pendidik, jelaslah dalam melakukan proses pembelajaran mereka pasti telah menggunakan berbagai macam teknik dan metode dan model pembelajaran dimana semua pengalaman tersebut sebenarnya biasa dijadikan sebagai sebuah tulisan laporan penelitian tindakan kelas.
Maka dari itu, tidak ada alasan bagi seorang pendidik beranggapan jika Penelitian Tindakan Kelas merupakan penelitian yang sangat menyulitkan para guru, dimana kesibukan guru yang terlalu padat dengan berbagai aktivitas penyiapan proses pembelajaran dimulai dari persiapan Perangkat pembelajaran sampai dengan penyiapan media pembelajaran  yang akan mereka gunakan dalam proses pembelajaran tersebut. Mengapa saya berasumsi jika Penelitian Tindakan Kelas tidak begitu memberatkan para guru karena proses pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik di kelas dapat digunakan sebagai laporan Penelitian Tindakan Kelas. Sedangkan proses pelaksanaannya dapat dilakukan secara  bersamaan dengan proses kegiatan pembelajaran yang dilakukan sehingga tidak arus menyita waktu yang khusus untuk mengadakan penelitian tersebut. Faktor inilah yang boleh dikatakan sebagai salah satu kemudahan Penelitian Tindakan Kelas. Namun untuk lebih memberikan kemudahan bagi pendidik dalam menyusun laporan pendidikan ada baiknya untuk melihat beberapa kiat yang dapat digunakan untuk lebih mempermudah penulisan PTK, diataranya adalah sebagai berikut:

1. Konsep/Ide
Dalam penentuan ide, penulis harus dapat menentukan ide yang kreatif dan inovatif sehingga akan menarik untuk di kaji, apalagi jika ide yang dikemukakan belum pernah di tulis ataupun disinggung pada penelitian penelitian lain. Penentuan ide sebenarnya sangat penting karena ide merupakan konsep dasar yang akan memberikan arah tujuan dari sebuah penelitian yang akan diteliti. Jika kita melihat dari berbagai penulisan penelitian tindakan kelas selama ini, penelitiannya hanya berkutat pada metode model dan tipe dari model pembelajaran yang banyak diteliti, seperti Jigsaw, window shopping, talking stikck, dan lain sebagainya.  Jadi untuk supaya lebih mudah buatlah ide yang brilian karena hampir semua proses pembelajaran yang dilakukan sebagai penjelmaan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar serta Indikator yang mempunyai masalah atau tidak sempurna, sehingga ide yang brillian tadi akan memilih masalah yang cocok dengan sendirinya. Sebagai contoh ide kreatif adalah Televisi, dan Hand phone. Jadi dari contoh tersebut akan menimbulkan pertanyaan tersendiri tentang kegiatan pembelajaran apa yang cocok atau yang sesuai dengan Film dan Internet tersebut.  

2. Judul
Dalam penulisan Judul, penulis juga harus membuat judul yang menarik sama seperti saat menentukan ide penulisan. Dari contoh ide diatas, jadi kita bias juga membuat judul penulisan tindakan kelas seperti:

a. Televisi “peningkatan penguasaan vocab (kosa kata bahasa Inggris) siswa dengan film berbahasa inggris”.
b. Internet “ Peningkatan Kemampuan Membuat kalimat teks naratif Melalui Pemanfaatan media you tube.

Jadi dari judul diatas, kita tidak lagi hanya terfokus pada metode dan model pembelajaran saja yang kita teliti, sehingga kita tidak akan terjebak dengan tahapan tahapan pembelajaran yang harus diikuti dalam dalam pembuktian dari penelitian tersebut. Walaupun dari judul di atas kita tidak akan terlepas dari model pembelajaran tertentu yang kita gunakan, akan tetapi setidaknya kita tidak dituntut untuk membuktikan metode dan model pembelajaran yang umum di gunakan karena kita lebih focus pada pemanfaatan media belajar. 

3. Latar Belakang Masalah
Menentukan permasalahan dalam penelitian merupakan hal yang paling utama dari sebuah penelitian yang akan dikaji, karena dengan adanya masalah maka lahirlah konsep pemikiran (solusi) terhadap apa yang akan dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sebagian penulis terjebak karena mereka terlebih dahulu memikirkan judul dan menentukan permasalahan sesudahnya sehingga menyebabkan kesulitan dalam menjabarkan tahapan-tahapan lain yang akan dilakukan.

Sebuah penelitian yang baik memiliki kriteria jika penelitian itu dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran/data yang dapat digunakan sebagai solusi dari sebuah masalah. Maka dari itu, setiap penelitian, harus terlebih dahulu memiliki sebuah masalah, secara umum Masalah dapat diartikan sebagai sebuah penyimpangan dari hal seharusnya terjadi baik secara teori maupun secara praktek. Dengan adanya permasalahan akan maka penulis akan memiliki acuan tentang masalah yang akan diteliti dan ini akan lebih mempermudah pada tahapan perumusan masalah. Perumusan masalah merupakan suatu pertanyaan atau rasa rasa ingin tahu peneliti yang akan dicari jawabannya melalui pengumpulan pengumpulan data. Sebagai contoh dari perumusan masalah adalah:

“Dalam penelitian ini permasalahan dibatasi pada pengembangan dua aspek kemampuan yaitu kemampuan menguasai Vocab (kosa kata) dan pemecahan masalah pembelajaran Bahasa inggris siswa SMP Negeri melalui penggunaan Film Berbahasa Inggris. Lebih jelasnya masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
"Apakah pembelajaran dengan Penggunaan Media Youtube dapat meningkatkan kemampuan penguasaan vocab siswa dalam  pemecahan masalah Bahasa Inggris siswa?".
.
4. Kajian Pustaka
Pada bagian ini, meski lebih panjang dalam uraiannya, namun sangat mudah menyusun nya. Semua variabel pada judul usahakan mendapat rujukan yang sesuai. Pada judul rujukan yang harus ada adalah Vocab, K.13, media pembelajaran, youtube/TV, Film. Saat ini mencari literatur tidak lagi sulit, selain buku di perpustakaan sekolah sudah banyak, internet juga menyediakan literatur-literatur yang kapabel, bahkan e-book dapat ditemukan dengan mudah untuk memperkuat kajian pustaka penelitian kita.

5. Siklus
Pada setiap penulisan Penelitian Tindakan Kelas umumnya kita mendapati jika kebanyakan peneliti menggunakan 2 atau 3 siklus. Jadi ketika kita melakukan sebuah laporan Penelitian Tindakan Kelas  sebaiknya kita menggunakan 2 siklus saja. Mengapa saya menganjurkan dua siklus saja, karena jika penelitian Tindakan Kelas dilakukan dengan satu siklus saja itu artinya penelitian tersebut dilakukan dengan seadanya saja dan terkesan asal asalan. Namun jika anda melakukan dengan tiga siklus, maka penelitian tersebut dianggap terlalu bertele-tele bahkan bias mengganggu kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Pentingnya melakukan dua siklus, karena penelitian kelas ini memerlukan hasil refleksi. Jadi pada siklus 1 penulis harus menggambarkan bahwa penelitian yang dilakukan belum mencapai hasil yang sempurna atau belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan yang disebabkan oleh berbagai kendala yang ada. Seterusnya kendala kendala yang dihadapi pada siklus 1 akan diatasi pada kegiatan di siklus 2 dan inilah yang menjadi alasan mengapa siklus 2 diperluakan. Adapuan jabaran yang digambarkan pada tahapan siklus dua adalah bahwa semua kendala yang dihadapi pada suklus 1 dapat diatasi pada tahapan suklus 2 sehingga penelitian yang dilakukan sudah mencapai kriteria yang ditetapkan atau sudah dapat mendapatkan jawaban dari penelitian yang dilakukan.

6. Hasil dan Pembahasan
Pada hasil pembahasan Penelitian Tindakan Kelas, sebaiknya disajikan tabel dan grafik pencapaian terhadap kriteria-kriteria penilaian yang ditentukan. Sebagai contoh sangat tepat, tepat, kurang tepat, dan tidak tepat. 

Contoh

Tabel Data Hasil Belajar Kondisi Awal
No
Kriteria
Rentang  Nilai
Jumlah
persentase
Rata-Rata
1
Belum Mencapai KKM
40 – 69
19
73,08 %
57,69
2
Sudah Mencapai KKM
70 – 100
7
26,92 %

Table Nilai Tertinggi dan Terendah Kondisi Awal
No
Keterangan
Nilai
1
Nilai Tertinggi             
75
2
Nilai Terendah
40
3
Jumlah Nilai
1500
4
Nilai Rata-rata
57,69

Tabel Data Hasil Belajar Siklus I
No
Kriteria
Rentang
Nilai
Jumlah
persentase
Rata-Rata
1
Belum Mencapai
KKM
40 – 69
11
42,31 %
68,46
2
Sudah Mencapai
KKM
70 – 100
15
57,69 %

Table Nilai Tertinggi dan terendah Pada Siklus I
No        
Keterangan
Nilai
1
Nilai Tertinggi              
85
2
Nilai Terendah
50
3
Jumlah Nilai
1780
4
Nilai Rata-rata
68,46

Table Hasil Belajar Siklus II
No
Kriteria
Rentang
Nilai
Jumlah
persentase
Rata-Rata
1
Belum Mencapai
KKM
40 – 69
1
3,85 %
80,19
2
Sudah Mencapai
KKM
70 – 100
25
96,15 %

 Nilai Terendah Siklus II
No
Keterangan
                                Nilai
1
Nilai Tertinggi              
100
2
Nilai Terendah
65
3
Jumlah Nilai
2085
4
Nilai Rata-rata
80,19

7. Lampiran
Untuk bagian ini anda hanya perlu melampirkan semua dokumen yang berhubungan dengan penelitian kelas yang dilakukan. Seperti photo kegiatan penelitian, nama siswa yang menjadi sampel penelitian, dokumentasi kegiatan pada setiap siklus yang dilakukan, keterangan dari kepala sekolah ataupun dari pihak yang lain nya, beserta dokumen lain yang berkaitan dengan penelitian atau hasil penelitian.