Friday, November 3, 2017

Konsep Penilaian Berbasis Kelas

Setiap kegiatan belajar mengajar di dalam kelas tentunya berakhir dengan sebuah penilaian. Penilaian di dalam kelas menjadi sangat penting karena hasil penilaian tersebut akan berpengaruh pada kualitas pendidikan yang dilaksanakan, disamping itu bagi pendidik sendiri dapat menggunakan hasil penilaian tersebut untuk memperbaiki proses belajar mengajar yang dilakukan di dalam kelas (refleksi). Khusus bagi sekolah hasil dari penelitian penilaian pembelajaran dapat digunakan untuk menyusun program sekolah dalam rangka peningkatan prestasi dan mutu pendidikan sekolah. Serang pendidik membutuhkan informasi yang akurat dan berkesinambungan dalam proses pembelajaran di kelas, informasi ini hanya dapat diperoleh apabila guru melakukan Penilaian Berbasis Kelas.

Konsep Penilaian Berbasis Kelas
Konsep Penilaian Berbasis Kelas 

Pada kosep dasar penelitian tindakan kelas dapat dikatagorikan sebagai suatu metode/suatu pendekatan yang lebih luas dalam peningkatan kualitas belajar dan mengajar (pendidikan). Jenis Penilaian Berbasis Kelas ini dapat didesain dalam membantu pendidik untuk mememukan tentang bagaimana individu dan atau kelompok peserta didik (siswa) belajar dalam kelas. Para tenaga pengajar (Guru), mereka dapat menerapkan hasil penilaian mereka untuk meningkatkan kompetensi mengajar. Sedangkan bagi peserta didik, mereka dapat meningkatkan hasil pencapaian dari pembelajaran mereka.

Pengertian Penilaian Berbasis Kelas 
Penilaian Berbasis Kelas merupakan suatu proses penilaian Berbasis Kelas, yakni proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik dengan menggunakan model ataupun prinsip-prinsip penilaian yang berkelanjutan, otentik, akurat, dan konsisten dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Secara khusus, proses Penilaian Berbasis Kelas ini dapat digunakan untuk mengidentifikasikan perolehan/pencapaian dari indikator indikator yang telah ditentukan dimana indikator indikator ini merupakan turunan dari KD dan SK, kemudian dibuat pemetaan dan terakhir disusun dalam sebuah laporan. 

Penilaian berbasis kelas sudah menjadi sebuah keharusan untuk diterapkan oleh para pendidik, beda halnya dengan penilaian yang dilakukan oleh guru pada masa masa sebelumnya dimana penilaian hanya berlaku pada ujian akhir sehingga penilaian tersebut tidak mencakupi semua aspek indikator yang ada pada setiap pembahasan pokok materi pelajaran. Oleh karena itu peningkatan kemampuan dan profesionalisme beserta integritas moral guru dalam Penilaian Berbasis Kelas merupakan suatu keniscayaan, ini semua dimaksudkan supaya  terhindar dari upaya manipulasi nilai peserta didik.


Sebenarnya, penilaian Berbasis Kelas menggunakan kata assessment, yang memiliki arti dimana proses kegiatan penilaian dilakukan untuk memperoleh dan mengefektifkan informasi tentang hasil belajar peserta didik dalam kelas selama dan setelah kegiatan pembelajaran berlangsung. Kemudian informasi dari penilaian ini merupakan salah satu bukti yang digunakan untuk mengukur keberhasilan/kefektivan suatu proses belajar mengajar yang dijalankan. Pada dasarnya, penilaian Berbasis Kelas ini juga dikelompokkan dalam evaluasi pendidikan dimana kita fahami bahwasanya cakupan evaluasi pendidikan lebih luas dan kompleks dibandingkan Penilaian Berbasis Kelas itu sendiri.

Berdasarkan gambaran di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa penilaian kelas merupakan suatu proses Penilaian yang Berbasis Kelas, yakni penilaian yang berdasarkan proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik untuk mengukur tingkatan penguasaan kompetensi yang ditetapkan, adapun kompetensi tersebut adalah standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian belajar yang termuat dalam kurikulum setiap mata pelajaran. Penilaian Berbasis Kelas merupakan jenis penilaan dari kurikulum berbasis kompetensi. KTSP dan K.13 merupakan jenis katagori kurikulum berbasis kompetensi, sebagai kurikulum berbasis kompetensi, Penilaian Berbasis Kelas itu sendiri pada dasarnya merupakan kegiatan penilaian yang dilaksanakan secara terpadu dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dengan mengumpulkan kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance), dan tes tertulis (paper and pen). Adapun Fokus dari penilaian berbasis kelas ini diarahkan pada penguasaan kompetensi (yang sudah dijabarkan dalam indikator) dan hasil belajar siswa sesuai dengan level pencapaian mereka.

Cakupan dari Penilaian Berbasis Kelas ini mencakup semua aktifitas/kegiatan pengumpulan informasi tentang pencapaian hasil belajar peserta didik dan pembuatan keputusan tentang hasil belajar mereka berdasarkan informasi informasi tersebut. Adapun tehnik pengumpulan informasi dalam Penilaian Berbasis Kelas ini dapat dilakukan di dalam atau di luar ruangan belajar, baik menggunakan aktualitas khusus atau tidak, misalnya untuk penilaian aspek sikap/nilai bisa dengan mengunakan tes ataupun non tes atau penilaian tersebut terintegrasi dalam seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan (dari awal, tengah, dan akhir kagiatan pembelajaran). Namun sering dijumpai di sebagian sekolah dimana mereka terbiasa menggunakan istilah tes untuk kegiatan Penilaian Berbasis Kelas dengan alasan kemudahan/kepraktisan, karena tes sebagai alat ukur sangat praktis digunakan untuk melihat prestasi siswa dengan menghubungkan dengan tujuan yang telah ditentukan, terutama pada aspek domain kognitif.

Domain dan Alat Penilaian Berbasis Kelas
1. Ranah Kognitif
Ranah kognitif merupakan ranah berpikir (otak). Dalam taksonomi bloom dijabarkan bahwa ranah kognitif terdiri atas 6 (enam) jenjang dimanan setiap jenjang tersebut memiliki tingkatan yang berbedadari yang rendah sampai ke jenjang yang tinggi. Ke-enam tingkatan tersebut adalah : (1) Knowledge (Pengetahuan),  (2) Comprehension (Pemahaman), (3) Application (Penerapan), (4) Analysis (Analisis). (6) Syntesis (Sintesis/sintesa), dan (6) Evaluation (Penilaian). 

Adapun tujuan dari Penilaian ranah kognitif adalah untuk mengukur penguasaan pemahaman terhadap konsep dasar keilmuan (goal) berupa materi-materi esensial sebagai konsep kunci dan prinsip utama. jadi untuk mempermudah penyampaian materi oleh guru beserta memudahkan penguasaan siswa secara tuntas, sebaiknya dipelukan penyususnan ranah pengetahuan dalam setipa konsep sajian materi ajar ajar apakah c1 c2 c3 c4 c5 ataupun ranah c6 sehingga konsep ilmu anak bukan hanya di ukur pada hapalan mereka saja. Teori taksinomi bloom ini terjadi perubahan Tepatnya Pada 2001, yang irevisi oleh Rin W. Andersoni David R. Krathwohl. Adapun jenis revisinya adalah (1) remember, (2) understand, (3) apply, (4) analyze, (5) evaluate, dan (6) create. Akan tetapi dalam penerapannya sampai dengan sekarang ini, seprtinya penyempurnaah taksonomi bloom tersebut masih belum duterapkan secara maksimal karena masih terikatnya pemahaman guru terhadap teori taksonomi bloom sebelum masa revisi. 

2.Ranah Afektif
Sebagaimana yang sudah kita pahami jika ranah afektif merupakan ranah yang berhubungan dengan sikap/kepribadian. Kita tahu bahwa perilaku ataupun sikap seseorang dapat berubah ketika mereka telah memiliki penguasaan domain kognitif. Jadi domain kognitif dan afektif ini memiliki hubungan yang erat, ini akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku, seperti: perhatian terhadap pelajaran, rasa kepudulian sesama, kedisiplinan, motivasi belajar, rasa hormat dan lain lain.

Krathwohl dkk., meneglompokkan ranah afektif ini dalam lima pembagiandiataranya: (1) receiving (perhatian/ penerimaan), (2)  responding (tanggapan), (3) valuing (penilaian/penghargaan), (4) organization (pengorganisasianpengelompokan), dan (5) characterization by a value or value complex (karakterisasi terhadap suatu atau beberapa nilai). Adapun Penilaian ranah afektif ini mencakup watak perilaku seperti sikap, perasaan, minat, nilai dan emosi. Satu hal yang harus difahami jika Ranah afektif memiliki peran besar dalam menentukan ketuntasan belajar peserta didik. Misalnya jika seorang peserta didik tidak memiliki motivasi dalam mengikuti proses belajar, maka sebagai konsekwensinya mereka akan sulit untuk mencapai keberhasilan belajar mereka dan akan berbanding ternalik jika peserta didik memiliki motivasi dan bersikap positif (hormat) terhadap pelajaran yang diikuti, maka secara otomatis dapat dipastikan bahwa ia akan memfokuskan semua kemampuannya dalam mengikuti proses belajar tersebut untuk memperoleh nilai yang maksimal. Jadi dalam ranah afektif ini, pendidik harus melakukan penilaian yang otimal kemudian ditindak lanjuti dengan peningkatan terhadap kelemahan-kelemahan yang terdapat pada ranah afektif ini supaya peserta didik akan termotivasi dengan sendirinya pada saat mengikuti proses belajar yang disajikan di dalam kelas.

3.Ranah Psikomotor
Ranah Psikomotor adalah yang berhubungan dengan skill (keahlian melakukan sesuatu) atau kemampuan berbuatmelakukan setelah mengikuti pengalaman belajar tertentu (peserta didik). Simpson (1956) menyebutkan bahwa hasil belajar domain psikomotor ini akan muncul  dalam bentuk keterampilan dan kemampuan bertindak pada peserta didik. Hasil belajar psikomotor merupakan kelanjutan dari belajar kognitif dan afektif, akan tampak setelah siswa menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung pada kedua ranah tersebut dalam kehidupan siswa sehari-hari.

Secara umum, Ranah psikomotor dibagi dalam tujuh bagian yaitu:
  1. Persepsi – perception (mampu menafsirkan rangsangan, peka terhadap rangsangan, menyeleksi obyek)
  2. set (mampu berkonsentrasi, menyiapkan diri secara fisik, emosi, dan mental)
  3. guided response (mampu meniru contoh, mencoba-coba,
  4. Gerakan terbiasa – mechanism (berketrampilan, berpegang pada pola, respons baru muncul dengan sendirinya)
  5. Gerakan kompleks – complex overt response (sangat terampil secara lancar, luwes supel, gesit, lincah)
  6. Penyesuaian pola gerakan – adaptation (mampu menyesuaikan diri, bervariasi, pemecahan masalah)
  7. Kreativitas/keaslian – creativity/origination (mampu menciptakan yang baru, berinisiatif). ( Bina Mitra. 2005)

terimakasih telah berkomentar
EmoticonEmoticon