Tuesday, November 28, 2017

Pembelajaran Berbasis TIK

Dalam perkembangannya teknologi memegang peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu.Termasuk didalamnya adalah dalam pembelajaran Bahasa Inggris.E-learning dan online learning sangat sering kita dengar di pembicaraan di kalangan pendidik maupun peserta didik. E-learning ini mengacu pada pembelajaran yang menyatukan informasi dan teknologi komunikasi (ICT/TIK) untuk membangun budaya baru, budaya abad 21 yaitu budaya membangun budaya terampil dan berpengetahuan. Kemajuan ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang sangat cepat yang berbasis pada internet. Sebagai misal adalah kata-kata seperti apps; blogs; podcast; game online; media sosial seperti Facebook, Instagram, twitter dll; dan wiki. E-learning menjadi sangat dikenal di kalangan pendidikan, kita juga dapat menyebutnya sebagai digital atau virtual. Berbagai cara belajar secara online mulai dikenal di dunia pendidikan termasuk pembelajaran bahasa Inggris. Tren pembelajaran mengarah menuju digitalisasi. Penggunaan telepon genggam, tablet dan laptop menjadi sesuatu yang sudah tidak asing yang terjadi di sekitar kita. 


Pembelajaran Berbasis TIK 

Terdapat kenaikan secara signifikan berdasar riset bahwa ada peningkatan permintaan peseta didik dengan aplikasi yang memberikan fasilitas tentang pembelajaran bahasa (Chinnery, 200; Goldwin-Jones, 2011; Kukulska-Hulme, 2009; Eaton, 2011:12). Hal ini membuka kesempatan kepada para peserta didik untuk dapat mengakses informasi dan pengetahuan dimanapun dan kapanpun. Dalam perkembangannya, teknologi dapat memberikan sumbangan besar dalam proses pembelajaran bahasa. Banyak materi pembelajaran yang dapat diakses langsung oleh peserta yang dapat untuk meningkatkan keterampilan berbahasa yaitu menyimak, membaca, berbicara dan menulis. Meskipun demikian, peran pendidik tidak akan tergantikan oleh adanya teknologi ini. Hal ini dikarenakan bahwa teknologi hanyalah sebagai alat atau ‘tool’ untuk membantu manusia agar hasil yang diharapkan dapat lebih optimal. Pemanfaatan TIK dalam pembelajaran bahasa Inggris merupakan alat bantu bagi para pendidik dalam proses pembelajaran. TIK yang dapat memberikan ruang bagi peserta didik untuk berperan aktif, kreatif, kritis dan komunikatif dalam proses pembelajaran. Pendidik sebagai mediator dalam hal pemanfaatan TIK ini disesuaikan dengan kebutuhan kurikulum.Banyak manfaat positif yang dapat pendidik gunakan dalam perencanaan sampai pada hasil belajar peserta didik. 
Manfaat dari penggunaan TIK dalam pembelajaran adalah. (ODLAC, 2008:5-6): Pemanfaatan TIK memberikan kesempatan pada peserta didik untuk dapat belajar menggunakan bahasa secara bermakna dan dengan materi otentik. Peserta didik dapat memanfaatkan video-sharing, podcast, Youtube, Online Newspaper sebagai materi dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, para peserta didik dapat berkomunikasi berkolaborasi dengan peserta didik lain melalui chat-room tanpa ada rasa takut salah dalam pengucapan maupun tata bahasa. Pada saat inilah para peserta didik dapat meningkatkan keterampilan dan memotivasi mereka untuk selalu meningkatkan diri. 

Pemanfaatan TIK memberikan kesempatan kepada pendidik untuk dapat lebih memahami berbagai gaya belajar peserta didik baik yang audio, visual, audiovisual, maupun yang kinestetik. Hal ini dimungkinkan dengan sumber belajar yang beragam dan dapat menggunakan model blended learning dimana peserta didik dapat bertatap muka melalui online dengan sumber belajar itu sendiri. Dengan demikian peserta didik akan mendapatkan pembelajaran otentik dan menyenangkan. Bagaimana memulai pembelajaran bahasa Inggris berbasis TIK? Ada beberapa tahapan dalam memulai pembelajaran dengan pemanfaatan TIK, yaitu: 

a. Mempelajari silabus 
Dengan mempelajari silabus, pendidik akan mendapatkan tujuan pembelajaran dan gambaran hasil yang diperoleh oleh peserta didik. Dengan demikian pendidik dapat mengarahkan peserta didik sehingga mendapatkan proses dan hasil pembelajaran yang optimal. 

b. Memperhitungkan fasilitas dan waktu 
Tahapan ini sangat penting dalam proses pembelajaran berbasis pada pemanfaatan TIK sehingga fasilitas yang ada dapat mendukung keberhasilan peserta didik dalam proses belajar tersebut. Demikian juga dengan waktu, pendidik memulai suatu proyek yang tidak menyita waktu sehingga keseluruhan program pembelajaran dapat berjalan dengan baik. 

c. Pengaturan kelompok kerja peserta didik. Hal ini sangat penting mengingat setiap individu memiliki keunikan, kelebihan dan kekurangan sehingga akan terjalin kelompok yang berkualitas dan saling membantu. Beberapa pertimmbangan yang perlu dilakukan adalah di setiap kelompok ada peserta didik yang baik di bidang Bahasa Inggris, di bidang TIK dan di sikap kepemimpinan. 

d. Pendidik memberikan dasar-dasar dan materi yang akan digunakan dalam proses pembelajaran, dengan demikian para peserta didik dapat memahami dan melaksanakan proyek dengan lebih baik. e. Pendidik terus memberikan arahan, kontrol dan masukan-masukan selama proses pembelajaran bahasa Inggris dengan pemanfaatan TIK berlangsung. Dengan demikian setiap masalah yang timbul dapat segera teratasi. Pembelajaran Berbasis TIK tetap mengutamakan nilai pedagogik dari materi yang ingin disampaikan oleh pendidik. Bahwasanya teknologi hanya merupakan alat bantu yang memudahkan pendidik dan peserta didik dalam merancang, memproses, berdaya kreatif, bernilai lebih serta menjadi media untuk mendokumentasikan hasil karya peserta didik. Peran pendidik menempati tempat yang utama dalam mengarahkan peserta didik untuk mendapatkan hasil karya yang optimal.

Saturday, November 18, 2017

Panduan Cara Membuat Akun Edmodo Untuk Guru

Pemanfaatan media Jaringan online dalam melakukan proses pembelajaran sudah menjadi sebuah tuntutan dalam dunia pendidikan dewasa ini, karena dengan munculnya berbagai media tehnologi semangkin menantang para pendididik untuk terus melakukan pemahaman tentang berbagai meida tersebut sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran disekolah. Salah satu kelebihan yang sangat kentara disrasakan oleh guru ketika menggunnakan berbagai media tehnologi tersebut dalam melakukan proses pembelalaran di kelas adalah timbulnya kemudahan bagi pendidik dalam menyampaikan materi ajar kepada perserta didik disamping juga para peserta didik menjadi senang dan termotivasi untuk belajar.  

Panduan Cara Membuat Akun Admodo Untuk Guru
Cara Membuat Akun Edmodo Untuk Guru

Dalam pembelajaran bahasa Inggris.E-learning dan online learning atau lebih populernya bisa disebut dengan Computer Classes Online sangat sering kita dengar di pembicaraan di kalangan pendidik maupun peserta didik. E-learning ini mengacu pada pembelajaran yang menyatukan informasi dan teknologi komunikasi (ICT/TIK) untuk membangun budaya baru, budaya abad 21 yaitu budaya membangun budaya terampil dan berpengetahuan. Kemajuan ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang sangat cepat yang berbasis pada internet. Sebagai misal adalah kata-kata seperti apps; blogs; podcast; game online; media sosial seperti Facebook, Instagram, twitter dll; dan wiki admondo, email google+ dll. . 

Lumrah dipahami jika dalam perkembangannya, teknologi memegang peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Termasuk didalamnya adalah dalam pembelajaran bahasa Inggris.E-learning dan online learning sangat sering kita dengar di pembicaraan di kalangan pendidik maupun peserta didik. E-learning ini mengacu pada pembelajaran yang menyatukan informasi dan teknologi komunikasi (ICT/TIK) untuk membangun budaya baru, budaya abad 21 yaitu budaya membangun budaya terampil dan berpengetahuan. Kemajuan ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang sangat cepat yang berbasis pada internet. Sebagai contohnya adalah seperti apps; blogs; podcast; game online; media sosial seperti Facebook, Instagram, twitter dll; dan wiki kelas edmodo, google+ Youtube dan lain sebagainya. Dimana semua situs tersebut menyajikan berbagai materi pembelajaran yang dapat diakses langsung oleh peserta untuk dapat meningkatkan keterampilan berbahasa yaitu menyimak, membaca, berbicara dan menulis. Meskipun demikian, peran pendidik tidak akan tergantikan oleh adanya teknologi ini. Hal ini dikarenakan bahwa teknologi hanyalah sebagai alat atau ‘tool’ untuk membantu manusia agar hasil yang diharapkan dapat lebih optimal. Sedangkan pendidik adalah tempat dimana peserta didik dapat melakukan interaksi pembelajaran secara langsung dengan menjadi sumber pemberi penjelasan terhadap semua kendala yang dihadapi peserta didik didalam mencerna informasi ilmu pengetahuan yang di akses tersebut.


Salah satu kelas virtual yang dapat dimanfaatkan secara gratis oleh para pendidik adalah kelas admodo, disini saya akan membahas kita-kita membuat kelas untuk guru supaya dapat menggunakan layanan gratis ini. Adapun tahapannya adalah sebagi berikut:

Buka situs edmodo di https://www.edmodo.com/
Buka website edmodo dengan menggunakan browser di Komputer atau Smartphone anda. Klik Sign up Pilih Guru
Disitu akan muncul form pendaftaran terdapat 3 tab, yaitu Teachers, Students dan Parents. Pilih Teacher kemudian masukan alamat email anda dan juga password anda, jika sudah klik SIGN UP FOR FREE

Panduan Cara Membuat Akun Admodo Untuk Guru
Cara Membuat Akun Edmodo Untuk Guru

Temukan Sekolah Anda
Langkah pertama adalah menemukan sekolah tempat anda mengajar, untuk mencarinya anda bisa memasukan nama sekolah, provinsi, kode pos atau negara, jika sekolah anda tidak terdaftar maka anda boleh menambahhnya secara manual sekolah anda tersebut

Lengkapi Profil Anda
Langkah kedua di Edmodo adalah melengkapi profil anda
Isi profil anda, Pilih panggilan apakah Mr, Mrs, Dr dan lain lain. Masukan nama lengkap anda, grade teacher anda dan jurusan yang anda ajarkan serta tulis username pada kolom edmodo profil URL dan pastikan URL belum digunakan dengan adanya peringatan "URL created succesfully".
Kemudian Klik NEXT STEP


Konfirmasi Informasi Profil Anda
Pastikan profil anda sudah benar, jika terdapat kesalah anda bisa mengeditnya, dengan  mengklik icon pensil di samping data.

Set up kelas anda 
Panduan Cara Membuat Akun Admodo Untuk Guru
Cara Membuat Akun Edmodo Untuk Guru

Set up kelas anda sesuai dengan kelas yang anda inginkan, setelah anda men set up kelas tersebut kemudian anda dapat mengundang siswa anda untuk gabung dikelas yang ad buat, dengan membeikan kode kepada para siswa anda tersebut. 

Panduan Cara Membuat Akun Admodo Untuk Guru
Cara Membuat Akun Edmodo Untuk Guru

Tuesday, November 7, 2017

Jenis Jenis Penilaian Dalam Pembelajaran

Pada hakikatnya sebuah Penilaian itu dilakukan bertujuan untuk mengetahui kemajuan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar mereka, memberikan umpan balik dan melakukan perbaikan pada proses pembelajaran yang disajikan di dalam kelas, disamping juga digunakan sebagai bahan evaluasi kenaikan kelas. Disamping itu fungsi lain dari evaluasi pembelajaran adalah untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik melalui ransangan untuk mengenal dan memahami diri dalam melakukan usaha usaha perbaikan belajar mereka, (Surapranata dan Hatta, 2005: 94). 

Jenis Jenis Penilaian Dalam Pembelajaran
Jenis Jenis Penilaian Dalam Pembelajaran

Untuk tingkat pendidikan menengah, evaluasi (penilaian) ini bisa dingunakan sebagai kosep pijakan dasar mereka dalam melanjutkan pendidikan mereka kejenjang pendidikan tinggi/pendidikan tinggi (universitas)

Jenis jenis Penilaian
1. Penilaian Tulis (Tertulis)
Penilaian tertulis adalah penilaian yang hanya mengunakan test soal dan lembaran jawaban dalam mengukur penguasaan materi ajar. Jenis penilaian ini biasanya diadakan dalam waktu yang telah ditentukan dan terbatas dalam kondisi tertentu. Adapun jenis jenis alat penilaian tertulis yang digunakan adalah essai, alat penilaian pilihan ganda, dan menjodohkan kalimat, kesemuaan alat penialan ini sebenarnya hanya menilai kemampuan berpikir rendah, yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). Alat pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami. Pilihan ganda mempunyai kelemahan, yaitu siswa tidak mengembangkan sendiri jawabannya tetapi cenderung hanya menerka jawaban yang benar. Mengapa jenis penilaan ini tidak mengembangkan kosep berpikir peserta didik?, alasannya karena jenis pilihan ganda hanya mebuat peserta didik lebih cendrung untuk tidak belajar memahami pelajaran akan tetapi mereka lebih cendrung menghafalkan soal dan jawabannya saja. Jenis Alat penilaian ini sebenarnya agak kurang mendukung untuk menggambarkan kemampuan siswa yang sesungguhnya karena kurang efekti dalam mengukur kosep pengetahuan peserta didik.


Esai adalah jenis alat penilaian yang yang lebih mengarahkan peserta didik untuk mengingat, memahami, dan mengorganisasikan gagasan dari konsep ilmu yang sudah mereka pelajari sebelumnya. Dalam jenis penilaian ini, peserta didik mengemukakan atau mengekspresikan gagasan mereka dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-kata yang mereka bangun sendiri. Salah satu kelebihan dari jenis alat penilaian ini adalah pendidik (guru) dapat menilai berbagai aspek  kemampuan, seperti  kemampuan dalam mengemukakan pendapat, kamampuan dalam berpikir logis/kritis, dan kemampuan untuk menarik kesimpulan. Adapun yang menjadi kelemahan dari jenis penilaian essai ini adalah soal yang disediakan terkadang kurang dapat mencakupi semua materi yang diajarkan karena terbatas. 

2. Penilaian Unjuk Kerja (Performance)
Pada dokumen kurikulum tercantum banyak hasil belajar yang menggambarkan proses, kegiatan, atau unjuk kerja. Untuk menilai hasil belajar tersebut dibutuhkan pengamatan terhadap siswa ketika melakukannya. Jenis Penilaian unjuk kerja adalah jenis penilaian yang berdasarkan hasil pengamatan terhadap aktivitas peserta didik. Penilaian dilakukan terhadap unjuk kerja, tingkah laku, ataupun interaksi antar siswa. Cara penilaian ini lebih otentik daripada tes tertulis karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya. Alasannnya karena Semakin sering pendidik mengamati unjuk kerja peserta didik, maka semakin valid hasil penilaian yang dihasilka. Jenis Penilaian ini lebih tepat digunakan untuk menilai kemampuan peserta didik seperti dalam berpidato, membaca puisi, dan melakukan diskusi ketika dalam proses pembelajaran, melakukan pemecahan masalah secara kelompok, ketelibabatan peserta didik secara aktif (partisipasi) ketika berdiskusi, menari, memainkan alat musik, dan melakukan aktivitas berbagai cabang olahraga, menggunakan peralatan laboratorium, dan mengoperasikan suatu alat peraga misalnya peralatan laboratorium.

Dalam melakukan Pengamatan unjuk kerja, sebaiknya penilaiannya dilakukan dalam berbagai konteks sebelum menetapkan tingkat pencapaian peserta didik. Sebagai contoh kecil, ketika pendidik melakukan penilaian kemampuan berbicara peserta didik, untuk mendapatkan penilaian yang utuh maka perlu dilakukan pengamatan berbicara yang beragam, seperti: berpidato, bercerita, diskusi dalam kelompok kecil, dan melakukan wawancara. Dengan demikian, gambaran kemampuan siswa akan lebih terpadu.

Jika anda menggunakan jenis penilaian ini, maka hal yang harus anda perhatikan adalah bagaimanan cara mengamati dan memberi skor dalam melakukan penilaian unjuk kerja peserta didik. Untuk mendapatkan hasil penilaian yang valid, sebaiknya dalam melakukan penilaian ini harus dilakukan lebih dari satu orang supaya faktor subjektivitas dapat diperkecil sebagai hasilnya maka hasil penilaian lebih akurat dan tepat. Jenis intrumen penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan list/dftar cek (ya – tidak) atau skala rentang (sangat bagus – bagus – kurang bagus  – tidak nagus) redaksi katanya terserah pada pendidik. Jika penilaian unjuk kerja yang menggunakan daftar cek (ya dan tidak/benar/salah), peserta didik mendapat nilai apabila kriteria penguasaan kemampuan tertentu dapat diamati oleh penilai. Namun jika penguasaan kemapuan peserta didik tidak dapat diamati oleh penilai, maka peserta didik tersebut tidak akan memperoleh nilai. Adapun kelemahan dari cara penilaian ini adalah penilai hanya dibatasi oleh dua pilihan saja, yaitu benar/salah, dapat diamati/tidak dapat diamati. Dengan demikian nilai tengah tidak ada. Namun akan beda Jika pendidik menggunakan Penilaian unjuk kerja yang menggunakan skala rentang, jenis penilaian kerja yang menggunakan rentang masih memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi yang disajikan, karena katagori penilaian ini mengunakan pilihan penilaan lebih dari dua pilihan.

3. Penilaian Produk
Jenis yang ketiga adalah Penilaian hasil kerja. Jenis penilaian ini meliputi penilaian terhadap kemampuan peserta didik dalam membuat produk-produk teknologi dan seni, misalnya: makanan, pakaian, hasil karya seni (patung), barang barang terbuat dari kayu, keramik, logam  dan plastik. Dalam melakukan penilaian ini, pendidik tidak hanya melihat hasil akhirnya saja akan tetapi juga menilai segala tahapan dan proses yang dilakukan dalam pembuatan produk tersebut. sebagi Contoh, penilaian kemampuan peserta didik dalam menggunakan berbagai teknik dalam menggambar, penilaian kemampuan peserta didik dalam menggunakan peralatan dengan aman, penilaian kemampuan peserta didik dalam membakar kue, penilaian kemampuan peserta didik dalam meracik cita rasa yang enak, dan berpenampilan menarik. 

Jenis jenis tahapan tahapan Pengembangan produk.
Tahapan tahapan Pengembangan produk meliputi tiga tahap
1. Pada tahap persiapan, mencakupi: menilai kemampuan peserta didik merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, dan mendesain produk.
2. Pada tahap pembuatan (produk), mencakupi: menilai kemampuan peserta didik menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik.
3. Pada tahap penilaian (appraisal), mencakupi: penilaian kemampuan peserta didik membuat produk sesuai kegunaannya dan memenuhi kriteria keindahan.

Dalam penilaian produk ini, penilaian ini biasanya memakai cara holistik atau analitik. Cara holistik adalah cara penilaian yang berdasarkan pada kesan secara keseluruhan dari produk yang dihasilkan, dan penilaian ini biasanya dilakukan pada tahap appraisal. 

Cara analitik adalah cara penilaian yang berdasarkan aspek-aspek produk yang berbeda, dan penilaian ini biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan yang dilakukan. Contoh penilaian untuk produk teknologi pada tahap perencanaan termasuk kriteria yang berkaitan dengan desain dan pemilihan bahan pada tahap produksi termasuk kriteria yang berkaitan dengan aplikasi proses dan kemampuan dalam memperagakan/menggunakan alat dan pada tahap appraisal dengan mengaitkan dengan pencapaian tujuan yang diinginkan dalam pembelajaran tersebut.

4. Penilaian Portofolio
Portofolio merupakan kumpulan karya (hasil kerja) seorang siswa dalam satu periode. Kumpulan karya ini menggambarkan taraf kemampuan/ kompetensi yang telah dicapai seorang siswa. Hal penting yang menjadi ciri portofolio adalah karya tersebut dapat diperbaiki jika siswa menghendakinya. Oleh karena itu penilaian portofolio ini dapat mengambarkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik. Adapun Perkembangan yang dihasilkan dalam Portofolio tersebut tidak dapat digambarkan/diamati dangan hasil pengujian. Kumpulan karya siswa itu merupakan refleksi perkembangan berbagai kompetensi. Di samping itu, kumpulan karya yang berkelanjutan lebih memperkuat hubungan pembelajaran dan penilaian.

Oleh karena itu, ketika pendidik melakukan proses Pengumpulan dan penilaian karya peserta didik secara terus-menerus, maka sebaiknya penilaian ini dijadikan sebagai titik pokok dalam program pengajaran, dengan alasan karena penilaian merupakan bagian dari proses pengembangan pembelajaran yang dilakukan. Karya tersebut harus selalu diberi tanggal sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu. Dan satu hal yang harus diperhatikan oleh pendidik, mereka harus menggunakan penilaian portofolio tersebut sebagai bagian integral dari proses pembelajaran yang mereka lakukan. Portofolio dapat digunakan untuk menilai perkembangan siswa dalam ilmu-ilmu sosial, seperti menganalisis masalah-masalah sosial, bahasa, seperti menulis karangan, dan matematika, seperti pemecahan masalah matematika. Bagi pendidik yang berprofesi sebagai guru bahasa asing, mereka dapat menggunakan portofolio berbenru audio untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berbicara peserta didik. Contohnya rekaman cara peserta didik berbicara dalam bahasa asing tersebut dikumpulkan secara terus menerus dalam waktu tertentu dapat dimasukkan dalam portofolio berbicara.

Friday, November 3, 2017

Konsep Penilaian Berbasis Kelas

Setiap kegiatan belajar mengajar di dalam kelas tentunya berakhir dengan sebuah penilaian. Penilaian di dalam kelas menjadi sangat penting karena hasil penilaian tersebut akan berpengaruh pada kualitas pendidikan yang dilaksanakan, disamping itu bagi pendidik sendiri dapat menggunakan hasil penilaian tersebut untuk memperbaiki proses belajar mengajar yang dilakukan di dalam kelas (refleksi). Khusus bagi sekolah hasil dari penelitian penilaian pembelajaran dapat digunakan untuk menyusun program sekolah dalam rangka peningkatan prestasi dan mutu pendidikan sekolah. Serang pendidik membutuhkan informasi yang akurat dan berkesinambungan dalam proses pembelajaran di kelas, informasi ini hanya dapat diperoleh apabila guru melakukan Penilaian Berbasis Kelas.

Konsep Penilaian Berbasis Kelas
Konsep Penilaian Berbasis Kelas 

Pada kosep dasar penelitian tindakan kelas dapat dikatagorikan sebagai suatu metode/suatu pendekatan yang lebih luas dalam peningkatan kualitas belajar dan mengajar (pendidikan). Jenis Penilaian Berbasis Kelas ini dapat didesain dalam membantu pendidik untuk mememukan tentang bagaimana individu dan atau kelompok peserta didik (siswa) belajar dalam kelas. Para tenaga pengajar (Guru), mereka dapat menerapkan hasil penilaian mereka untuk meningkatkan kompetensi mengajar. Sedangkan bagi peserta didik, mereka dapat meningkatkan hasil pencapaian dari pembelajaran mereka.

Pengertian Penilaian Berbasis Kelas 
Penilaian Berbasis Kelas merupakan suatu proses penilaian Berbasis Kelas, yakni proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik dengan menggunakan model ataupun prinsip-prinsip penilaian yang berkelanjutan, otentik, akurat, dan konsisten dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Secara khusus, proses Penilaian Berbasis Kelas ini dapat digunakan untuk mengidentifikasikan perolehan/pencapaian dari indikator indikator yang telah ditentukan dimana indikator indikator ini merupakan turunan dari KD dan SK, kemudian dibuat pemetaan dan terakhir disusun dalam sebuah laporan. 

Penilaian berbasis kelas sudah menjadi sebuah keharusan untuk diterapkan oleh para pendidik, beda halnya dengan penilaian yang dilakukan oleh guru pada masa masa sebelumnya dimana penilaian hanya berlaku pada ujian akhir sehingga penilaian tersebut tidak mencakupi semua aspek indikator yang ada pada setiap pembahasan pokok materi pelajaran. Oleh karena itu peningkatan kemampuan dan profesionalisme beserta integritas moral guru dalam Penilaian Berbasis Kelas merupakan suatu keniscayaan, ini semua dimaksudkan supaya  terhindar dari upaya manipulasi nilai peserta didik.


Sebenarnya, penilaian Berbasis Kelas menggunakan kata assessment, yang memiliki arti dimana proses kegiatan penilaian dilakukan untuk memperoleh dan mengefektifkan informasi tentang hasil belajar peserta didik dalam kelas selama dan setelah kegiatan pembelajaran berlangsung. Kemudian informasi dari penilaian ini merupakan salah satu bukti yang digunakan untuk mengukur keberhasilan/kefektivan suatu proses belajar mengajar yang dijalankan. Pada dasarnya, penilaian Berbasis Kelas ini juga dikelompokkan dalam evaluasi pendidikan dimana kita fahami bahwasanya cakupan evaluasi pendidikan lebih luas dan kompleks dibandingkan Penilaian Berbasis Kelas itu sendiri.

Berdasarkan gambaran di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa penilaian kelas merupakan suatu proses Penilaian yang Berbasis Kelas, yakni penilaian yang berdasarkan proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik untuk mengukur tingkatan penguasaan kompetensi yang ditetapkan, adapun kompetensi tersebut adalah standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian belajar yang termuat dalam kurikulum setiap mata pelajaran. Penilaian Berbasis Kelas merupakan jenis penilaan dari kurikulum berbasis kompetensi. KTSP dan K.13 merupakan jenis katagori kurikulum berbasis kompetensi, sebagai kurikulum berbasis kompetensi, Penilaian Berbasis Kelas itu sendiri pada dasarnya merupakan kegiatan penilaian yang dilaksanakan secara terpadu dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dengan mengumpulkan kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance), dan tes tertulis (paper and pen). Adapun Fokus dari penilaian berbasis kelas ini diarahkan pada penguasaan kompetensi (yang sudah dijabarkan dalam indikator) dan hasil belajar siswa sesuai dengan level pencapaian mereka.

Cakupan dari Penilaian Berbasis Kelas ini mencakup semua aktifitas/kegiatan pengumpulan informasi tentang pencapaian hasil belajar peserta didik dan pembuatan keputusan tentang hasil belajar mereka berdasarkan informasi informasi tersebut. Adapun tehnik pengumpulan informasi dalam Penilaian Berbasis Kelas ini dapat dilakukan di dalam atau di luar ruangan belajar, baik menggunakan aktualitas khusus atau tidak, misalnya untuk penilaian aspek sikap/nilai bisa dengan mengunakan tes ataupun non tes atau penilaian tersebut terintegrasi dalam seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan (dari awal, tengah, dan akhir kagiatan pembelajaran). Namun sering dijumpai di sebagian sekolah dimana mereka terbiasa menggunakan istilah tes untuk kegiatan Penilaian Berbasis Kelas dengan alasan kemudahan/kepraktisan, karena tes sebagai alat ukur sangat praktis digunakan untuk melihat prestasi siswa dengan menghubungkan dengan tujuan yang telah ditentukan, terutama pada aspek domain kognitif.

Domain dan Alat Penilaian Berbasis Kelas
1. Ranah Kognitif
Ranah kognitif merupakan ranah berpikir (otak). Dalam taksonomi bloom dijabarkan bahwa ranah kognitif terdiri atas 6 (enam) jenjang dimanan setiap jenjang tersebut memiliki tingkatan yang berbedadari yang rendah sampai ke jenjang yang tinggi. Ke-enam tingkatan tersebut adalah : (1) Knowledge (Pengetahuan),  (2) Comprehension (Pemahaman), (3) Application (Penerapan), (4) Analysis (Analisis). (6) Syntesis (Sintesis/sintesa), dan (6) Evaluation (Penilaian). 

Adapun tujuan dari Penilaian ranah kognitif adalah untuk mengukur penguasaan pemahaman terhadap konsep dasar keilmuan (goal) berupa materi-materi esensial sebagai konsep kunci dan prinsip utama. jadi untuk mempermudah penyampaian materi oleh guru beserta memudahkan penguasaan siswa secara tuntas, sebaiknya dipelukan penyususnan ranah pengetahuan dalam setipa konsep sajian materi ajar ajar apakah c1 c2 c3 c4 c5 ataupun ranah c6 sehingga konsep ilmu anak bukan hanya di ukur pada hapalan mereka saja. Teori taksinomi bloom ini terjadi perubahan Tepatnya Pada 2001, yang irevisi oleh Rin W. Andersoni David R. Krathwohl. Adapun jenis revisinya adalah (1) remember, (2) understand, (3) apply, (4) analyze, (5) evaluate, dan (6) create. Akan tetapi dalam penerapannya sampai dengan sekarang ini, seprtinya penyempurnaah taksonomi bloom tersebut masih belum duterapkan secara maksimal karena masih terikatnya pemahaman guru terhadap teori taksonomi bloom sebelum masa revisi. 

2.Ranah Afektif
Sebagaimana yang sudah kita pahami jika ranah afektif merupakan ranah yang berhubungan dengan sikap/kepribadian. Kita tahu bahwa perilaku ataupun sikap seseorang dapat berubah ketika mereka telah memiliki penguasaan domain kognitif. Jadi domain kognitif dan afektif ini memiliki hubungan yang erat, ini akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku, seperti: perhatian terhadap pelajaran, rasa kepudulian sesama, kedisiplinan, motivasi belajar, rasa hormat dan lain lain.

Krathwohl dkk., meneglompokkan ranah afektif ini dalam lima pembagiandiataranya: (1) receiving (perhatian/ penerimaan), (2)  responding (tanggapan), (3) valuing (penilaian/penghargaan), (4) organization (pengorganisasianpengelompokan), dan (5) characterization by a value or value complex (karakterisasi terhadap suatu atau beberapa nilai). Adapun Penilaian ranah afektif ini mencakup watak perilaku seperti sikap, perasaan, minat, nilai dan emosi. Satu hal yang harus difahami jika Ranah afektif memiliki peran besar dalam menentukan ketuntasan belajar peserta didik. Misalnya jika seorang peserta didik tidak memiliki motivasi dalam mengikuti proses belajar, maka sebagai konsekwensinya mereka akan sulit untuk mencapai keberhasilan belajar mereka dan akan berbanding ternalik jika peserta didik memiliki motivasi dan bersikap positif (hormat) terhadap pelajaran yang diikuti, maka secara otomatis dapat dipastikan bahwa ia akan memfokuskan semua kemampuannya dalam mengikuti proses belajar tersebut untuk memperoleh nilai yang maksimal. Jadi dalam ranah afektif ini, pendidik harus melakukan penilaian yang otimal kemudian ditindak lanjuti dengan peningkatan terhadap kelemahan-kelemahan yang terdapat pada ranah afektif ini supaya peserta didik akan termotivasi dengan sendirinya pada saat mengikuti proses belajar yang disajikan di dalam kelas.

3.Ranah Psikomotor
Ranah Psikomotor adalah yang berhubungan dengan skill (keahlian melakukan sesuatu) atau kemampuan berbuatmelakukan setelah mengikuti pengalaman belajar tertentu (peserta didik). Simpson (1956) menyebutkan bahwa hasil belajar domain psikomotor ini akan muncul  dalam bentuk keterampilan dan kemampuan bertindak pada peserta didik. Hasil belajar psikomotor merupakan kelanjutan dari belajar kognitif dan afektif, akan tampak setelah siswa menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung pada kedua ranah tersebut dalam kehidupan siswa sehari-hari.

Secara umum, Ranah psikomotor dibagi dalam tujuh bagian yaitu:
  1. Persepsi – perception (mampu menafsirkan rangsangan, peka terhadap rangsangan, menyeleksi obyek)
  2. set (mampu berkonsentrasi, menyiapkan diri secara fisik, emosi, dan mental)
  3. guided response (mampu meniru contoh, mencoba-coba,
  4. Gerakan terbiasa – mechanism (berketrampilan, berpegang pada pola, respons baru muncul dengan sendirinya)
  5. Gerakan kompleks – complex overt response (sangat terampil secara lancar, luwes supel, gesit, lincah)
  6. Penyesuaian pola gerakan – adaptation (mampu menyesuaikan diri, bervariasi, pemecahan masalah)
  7. Kreativitas/keaslian – creativity/origination (mampu menciptakan yang baru, berinisiatif). ( Bina Mitra. 2005)