Metode Menanggapi Sebuah Pementasan Drama - Pondok Belajar

Thursday, March 23, 2017

Metode Menanggapi Sebuah Pementasan Drama

Ketika kita menjadi seorang juri dalam pementasan sebuah drama sebaiknya kita harus cakap dalam menilai menanggapi pementasan tersebut. Disini saya akan sedikit membahas mengenai kita-kiat menggapai sebuah pementasan drama. Menanggapi adalah memberikan ulasan, komentar, pendapat dan kritik atau penilaian secara lisan terhadap suatu pementasan karya sastra. Seperti yang saya kutip dalam Depdiknas, (2004:206) ada beberapa tahapan dalam menanggapi pementasan drama yaitu sebagai berikut:


Metode Menanggapi Sebuah Pementasan Drama
Metode Menanggapi Sebuah Pementasan Drama

(1) Menghayati pementasan
Ini adalah sebuah Langkah awal yang harus dilakukan sebelum menanggapi pementasan karya sastra  adalah menghayati dengan sungguh-sungguh pementasan karya sastra yang akan ditanggapi. Setelah menyimak pementasan karya sastra dengan cermat ada dua hal yang ditanggapi dari pementasan karya sastra. Pertama, tanggapan terhadap karya sastra yang dipentaskan. Kedua, tanggapan terhadap teknik pementasan karya sastra.
(2) Menentukan topik yang akan ditanggapi
Sewaktu menyaksikan pementasan pusatkan perhatian pada isi karya sastra yang dipentaskan dan pada teknik pementasannya. Catatlah hal-hal penting yang pantas untuk ditanggapi. Ada dua hal yang dapat ditanggapi yaitu: “Unsur-unsur cerita drama yang dipentaskan dan  teknik pementasannya. Unsur-unsur drama yang dapat ditanggapi adalah tokoh dan karakternya, alur, latar, tema serta penggunaan bahasanya. Adapun teknik pementasan drama meliputi penghayatan, olah vokal dan penampilan”(Depdiknas, 2003:83). Sebelum memberikan tanggapan perlu kita mengetahui bagaimana kaidah pementasan karya sastra. Ada tiga kaidah yang harus diperhatikan yaitu: “Penghayatan, olah vokal dan penampilan” (Depdiknas, 2004:24). Artinya, di dalam pementasan drama seorang aktor atau aktris juga harus menghayati peran yang dibawakannya. Di samping itu, ia harus mampu mengucapkan bunyi bahasa dengan tepat, artikulasinya jelas, mengatur jeda dengan baik dan lancar dalam berbicara. Selanjutnya, ia juga harus mampu menguasai panggung, mengatur gerak agar tidak berlebihan dan menampilkan mimik yang alamiah.

(3) Mempersiapkan alasan yang logis
Di atas telah disebutkan bahwa menanggapi  pementasan karya sastra bermakna memberikan alasan, komentar, pendapat dan kritik secara lisan terhadap pementasan karya sastra. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dimaknai bahwa tanggapan itu merupakan pendapat pribadi. Pendapat itu agar dapat diterima orang lain maka orang yang memberikan tanggapan itu harus dapat memberi pendapat  yang jelas dan masuk akal.

(4) Menyusun kerangka
Berdasarkan butir-butir tanggapan yang telah dibuat baru kemudian  menyusun kerangka tanggapan. Butir-butir tanggapan itu hendaknya disusun secara beruntun sesuai dengan uraian tanggapan yang akan  disampaikan.  Demikian juga bukti-bukti atau argumen yang akan dikemukakan untuk mendukung pendapat harus disusun secara sistematis.
Kerangka tanggapan identik dengan kerangka pembicaraan. Kerangka pembicaraan yang tersusun baik akan bermanfaat bagi pembicara sendiri dan pendengar. Bagi pembicara kerangka itu berfungsi sebagai pedoman atau penuntun arah dalam berbicara. Sedangkan, bagi pendengar kerangka dapat berfungsi sebagai sarana yang memudahkan untuk mengikuti dan memahami isi pembicaraan.

(5) Menyampaikan tanggapan secara lisan.
Baru kemudian menanggapi secara lisan pementasan karya sastra. Pembicara hendaknya berpedoman pada butir-butir yang telah disiapkan dan hendaknya menyampaikan butir-butir itu satu demi satu secara wajar tidak berlebih-lebihan apalagi dibuat-buat. Adakan kontak dengan pendengar melalui pandangan mata, anggukan, senyuman dan perhatian agar terjalin komunikasi yang baik.
Penyampaian tanggapan menggunakan bahasa yang sederhana sesuai dengan taraf kemampuan pendengar. Usahakan agar  berbicara dengan santun dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Atur suasana agar tidak terlalu formal. Suara Anda hendaknya jelas sehingga dapat didengar oleh seluruh pendengar dan hindari sikap-sikap yang kurang baik seperti: menggaruk-garuk kepala, mencuil-cuil hidung dan telinga serta terlalu banyak bergerak.
Kegiatan menanggapi secara lisan pementasan karya sastra merupakan bagian dari kegiatan berbicara. Sebagai bagian dari kegiatan berbicara hendaknya memenuhi kaidah-kaidah berbicara. Pemenuhan terhadap kaidah-kaidah berbicara itu pada akhirnya akan menghasilkan pembicara yang ideal.

Sebelum sampai pada uraian tentang kaidah-kaidah yang harus dipenuhi oleh seseorang yang menanggapi secara lisan pementasan karya sastra ada baiknya kita mengetahui ciri-ciri pembicara yang ideal. Menurut Tarigan (dalam Imam dkk, 2004:86) menyebutkan ada beberapa ciri-ciri pembicara yang baik adalah sebagai berikut: 

(a) Memilih topik dengan tepat;
(b) Menguasai materi;
(c) Memahami latar belakang pendengar; 
(d) Mengetahui situasi;
(e) Tujuannya jelas;
(f) Kontak dengan pendengar; 
(g) Kemampuan linguistiknya tinggi; 
(h) Menguasai pendengar;
(i) Memanfaatkan alat bantu; 
(j) Penampilannya meyakinkan dan 
(k) Berencana.

Berpedoman pada ciri-ciri pembicara ideal tersebut dapat dirumuskan tentang kaidah-kaidah yang harus dipenuhi dalam menanggapi secara lisan pementasan karya sastra. Adapun kaidah-kaidah itu meliputi: “Ketepatan, kelancaran, kewajaran, dan  penggunaan bahasa”( Depdiknas, 2004:86).
Ketepatan berkenaan dengan aspek kesesuaian isi tanggapan dengan hal yang ditanggapi. Ketepatan juga berhubungan dengan kesesuaian antara tanggapan dan alasan terhadap tanggapan yang dikemukakan. Jika tanggapan itu berupa penilaian terhadap pementasan drama, misalnya pembicara harus memberikan alasan yang kuat tentang penilaiannya itu berdasarkan bukti-bukti yang nyata.
Kelancaran berhubungan dengan ada tidaknya hambatan pada saat menanggapi secara lisan pementasan karya sastra. Penuturan yang tidak tersendat-sendat dan tidak banyak jeda untuk memberi waktu berpikir adalah pertanda kelancaran berpendapat.

Kewajaran artinya dalam penampilan juga merupakan sesuatu yang patut mendapat perhatian. Kewajaran gerak dan mimik merupakan bagian penting yang akan mendukung keberhasilan seseorang dalam menanggapi secara lisan di samping kesantunan dalam bersikap. Masalah penggunaan bahasa artinya di dalam menanggapi secara lisan pementasan karya sastra diharapkan dapat menggunakan bahasa yang komunikatif, kata dan kalimat yang sederhana, santun, mudah dipahami, artikulasi jelas dan pelafalan serta intonasi yang tepat.  Dengan kata lain, aspek kebahasaan yang perlu diperhatikan adalah aspek pelafalan, intonasi, artikulasi, pilihan kata dan susunan kalimat.

Berdasarkan uraian di atas akhirnya dapat dibuat alat penilaian kemampuan menanggapi secara lisan pementasan karya sastra yang meliputi empat komponen yaitu: ketepatan, kelancaran, kewajaran dan penggunaan bahasa. Menurut Imam dkk (2004:87-88) berikut ini disajikan deskripsi tiap-tiap komponen penilaian sebagai berikut:

a. Ketepatan
  1. Kesesuaian isi;
  2. Keruntutan tanggapan;
  3. Kelogisan alasan.

b. Kelancaran
  1. Tidak tersendat-sendat;
  2. Tidak banyak jeda/ perhentian.

c. Kewajaran
  1. Kewajaran gerak;
  2. Kewajaran mimik;
  3. Kewajaran sikap.

d. Penggunaan bahasa
  1. Pelafalan tepat;
  2. Intonasi tepat;
  3. Artikulasi jelas;
  4. Pilihan kata tepat dan santun;
  5. Kalimat sederhana dan komunikatif.

Komponen penilaian di atas sifatnya tidak mutlak. Berdasarkan pengalaman di lapangan tentunya dapat dimodifikasikan sesuai dengan kebutuhan.

No comments:

Post a Comment

terimakasih telah berkomentar