Monday, January 30, 2017

KTSP dalam Konsep School Based Curriculum Development

KTSP dalam Konsep School Based Curriculum Development. Dalam posting sebelumnya saya sudah memberi deskripsi School Based Currculum Development, sekarang saya ingin mengambarkan konsep Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di Indonesia dalam konsep SBCD. Kita tahu jika Kurikulum adalah sebagai landasan dasar untuk menentukan keberhasilan atau kegagalan pendidikan dalam satu Negara. Setiap bangsa memiliki 'kurikulum mereka sendiri dengan mengacu pada sistem pendidikan nasional mereka, disamping tujuan pendidikan dan philosphy bangsa. Seperti di Indonesia di mana Kurikulum Tingkat Satuan (KTSP) mengacu pada bentuk desentralisasi kurikulum yang memberikan kebebasan kepada setiap pemerintah provinsi dan kabupaten untuk mengembangkan kurikulum sekolah mereka berdasarkan kondisi distrik mereka untuk mendapatkan kapasitas dalam memberikan kontribusi kesejahteraan dan produktivitas ekonomi nasional. Brady & Kennedy Menyebutkan:
KTSP dalam Konsep School Bacsed Curriculum Development
KTSP dalam Konsep School Bacsed Curriculum Development

Pemerintah memiliki kepentingan yang sebagian besar meskipun tidak secara eksklusif dalam mengatur prekonomian. Pertumbuhan ekonomi dan pembangunan telah menjadi perhatian utama pemerintah karena disebabkan oleh keprihatinan mereka. Sifat kurikulum sekolah akan menentukan pengetahuan dan keterampilan warga negara di masa depan karena kapasitas mereka sangat diperlukan untuk berkontribusi terhadap perekonomian negara-negara 'dengan cara yang lebih produktif. Tentu saja, pemerintah lebih menekankan konsep pendidikan daripada ekonomi. Secara umum, negara demokratis, pemerintah ingin melihat sebuah komunitas yang yang manpu mengusai sosial kohesif, politik kohesif, maju dari segi tehnologi, toleran dan adil. Kurikulum dapat memberikan kontribusi yang banyak untuk mencapai semua tujuan ini”. (L Brady & K Kennedy,: 1999: 7)


Dalam konteks saat ini inisiatif pendidikan di Indonesia, KTSP tidak berarti memberi wewenang kepada setiap daerah dalam mengembangkan kurikulum secara beasa dan tanpa rujukan utama. Sebaliknya, pemerintah pusat memberikan acuan dasar yaitu stadar pendidikan nasioanl berupa satndar isi dan standar lulusan, yang dikeluarkan oleh Badan Nasional StandarPendidikan (BNSP) dalam merancang kurikulum sekolah. Selain itu guru memberikan lebih banyak kebebasan dalam merancang, merencanakan silabus dan rencana pelajaran, dan menciptakan pengalaman pendidikan, memilih dan mengadaptasi materi kurikulum dalam keadaan situasi tertentu dan kebutuhan dengan mengacu pada standar yang disebutkan di atas

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah pengembangan Kurikulum berbasis Kompetensi. KTSP diluncurkan pada tahun 2006 oleh Badan Nasional StandarPendidikan  (BNSP) sebagai lembaga kurikulum nasional di Indonesia. Kurikulum 2006 'bernama KTSP', yang dikembangkan oleh sekolah sebagai satuan pendidikan, dan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan, yang menekankan pada standar isi dan standar kelulusan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 dan 23, 2006. kurikulum Sekolah harus sejalan dengan standar isi dan standar kelulusan, dan pedoman standar pengembangan diatur oleh Badan Nasional Standar Pendidikan  (BNSP) dengan prinsip-prinsip berikut; Hal ini terpusat pada potensi, perkembangan dan kebutuhan peserta didik dan lingkungannya, keragaman dan integritas, tanggap dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, yang relevan dengan kebutuhan kehidupan, holistik dan kontinuitas, belajar seumur hidup, menjadi keseimbangan Nasional dan kepentingan Daerah. 

Pada prinsipnya, KTSP merupakan kurikulum operasional yang dirancang dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP didasarkan pada tujuan pendidikan disetiap tingkat satuan pendidikan, struktur dan isi kurikulum, kalender pendidikan, dan silabus (BNSP, 2006: 5). Ini berarti bahwa sekolah dan otoritas guru menentukan keberhasilan tujuan pendidikan di tingkat sekolah.

Pada kata lain, guru memiliki tugas pada: (1) membangun dan merumuskan tujuan yang tepat, (2) memilih dan membangun sumber daya yang tepat pelajaran sesuai dengan fase kebutuhan, kepentingan dan perkembangan anak, (3) memilih metode dan media pembelajaran yang bervariasi, (4) dan membangun program pembelajarn dan evaluasi yang tepat. Sebuah kurikulum dibuat secara sistematis dan detail, yang akan memudahkan guru pada tahap pelaksanaannya. Dalam hal ini, sekolah memiliki kewenangan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan. KTSP adalah kebijakan umum yang ditetapkan  oleh Badan Nasional Standar Pendidikan yang digunakan sebagai dasar pertimbangan sekolah dalam merancang kurikulum yang berkualitas kondusif untuk belajar murid yang efektif. Sekolah didorong untuk mengadaptasi Standar Nasional Kurikulum sesuai konteks yang unik mereka. Ketika merancang KTSP, sekolah disarankan untuk mengamati dari dekat arah dan persyaratan yang ditetapkan oleh Badan Pengembangan Kurikulum dengan merujuk pada  dokumen kurikulum resmi. Berdasarkan analisis yang cermat dan kebutuhan peserta didik, kemampuan dan minat sekolah 'ekologi kontek, gaya kepemimpinan kepala sekolah dan manajemen sekolah, serta kesiapan guru, sekolah perlu menggunakan pengajaran yang paling tepat, strategi pembelajaran dan penilaian disamping penggunaan berbagai bahan pembelajaran untuk mengintegrasikan siklus penilaian proses belajar-mengajar dalam KTSP. Hal ini penting untuk memastikan bahwa semua murid memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan memporoleh pengalaman belajar yang kaya yang bertujuan untuk membangun manusia seutuhnya dan belajar sepanjang hayat. Bolstad (2004), menyatakan penting untuk mengenali bahwa "ruang operasional" untuk SBCD pada waktu tertentu/tempat sangat dipengaruhi oleh bentuk yang lebih luas dari sistem pendidikan, termasuk struktur dan struktur kurikulum Nasional, tingkat sentralisasi/desentralisasi, pengambilan keputusan sekolah, penilaian sekolah dan persyaratan pelaporan, peran yang diharapkan dari guru dalam pengembangan kurikulum sekolah, dan peran yang diharapkan atau potensi manusia dalam pengembangan kurikulum tersebut.

Sunday, January 29, 2017

The Context of School Based Curriculum Development in Singapore

The School Based Curriculum in Singapore.
In current context of educational initiatives in Singapore, SBCD does not mean changing schools from being places that primarily implement the externally designed curriculum to becoming places responsible for creating their own curriculum materials. Rather, it means primarily that schools have more autonomy in designing, planning, and creating educational experiences trough selecting and adapting curriculum materials in the light of their particular situations and needs. This, of course, does not exclude the possibility that schools create their own curriculum materials when there is a need (Gopinanthan & Deng, 2006:106)

The Context of School Based Curriculum Development in Singapore
School Based Curriculum Development in Singapore

At the outset, it is important to point out that there are many variations of SBCD. SBCD may typically involve creating new curricular products, but it can also involve selecting from existing curriculum materials and making various adaptations (Walton, 1978). It can be accomplished by individual teachers, groups of teachers, or a whole school staff. In addition, it can be long-termed, medium-termed, or short-termed (Marsh, 1992). Within a range of SBCD models, the one adopted in Singapore is far less radical. Instead of being skeptical of centrally based curriculum development, the Ministry holds that the existing national curriculum is relatively well-developed and effective-at least in terms of producing students who are competent in various academic subject areas. Therefore, SBCD is by no means construed as an alternative or replacement for the MoE-directed curriculum development. Rather, it is considered a necessary complement to the Ministry’s curriculum planning and development efforts so as to provide more flexibility and choices, and encourage local initiatives and ownership. It can be seen as a tangible expression of the ability-driven school system that the Ministry o Education wishes to create. In general, Singapore’s SBCD model takes the form of adapting, modifying, and translating the externally developed curriculum materials according to the school context:

( Read Historical Roots Of School Based Curriculum Development)
( Read KTSP as a Form of School Based Curriculum Development)

"Principals and teachers should be encouraged to make full use of autonomy given to schools with respect to modifying CDIS texts to suit the needs of their students. Teachers should be encouraged to actively engage in tailoring the curriculum to the needs and interests of their students. Issues relating to the translation of the curriculum into effective classroom practice can be discussed at regular meetings between Heads of Departments (HoDs) and teachers. Ministry officials (e.g., subject specialists) can act as resource persons and help teachers brainstorm for ideas on improving teaching and learning. Both the Ministry and the schools should provide a supportive environment to engage teachers to introduce and experiment with innovative ideas. (MoE, 1998)"

The centrally developed curriculum materials can include syllabi, textbooks, and resources which provide information on what to teach as well as how to teach it to students of various school ages. Teachers are expected to interpret and transform these materials to achieve curriculum objectives according to their classroom or school situations. They can reorganize or restructure the content within a particular subject area. For example, as reported in the speech by the Minister of Education, Tharman Shanmugaratham (2004), a secondary mathematics teacher, based upon a careful analysis of the current secondary mathematics syllabus and textbook, identified a “knowledge block” that links advanced and elementary topics together. Such a restructuring of content resulted in more effective learning. Teachers can also organize the content around a certain theme, engaging in curriculum integration that might require the cooperation of teachers from various departments. In short, teachers are encouraged to be flexible and creative in using the curriculum materials. SBCD also takes the form of teachers’ involvement in the “creation” of a new curriculum product. Project Work and the above-mentioned Knowledge and Inquiry syllabus are cases in point. Both are relatively new subjects, and there are no curriculum materials available. Although the syllabi of these two subjects are provided by the Ministry, schools and teachers are responsible for planning, creating, implementing, and evaluating their own materials. Overall, school-based curriculum enactment represents the primary approach to SBCD in Singapore. This is, indeed, consistent with the observation of Reid (1987) and Brady (1995) on the form SBCD would take when there is a centrally mandated national curriculum in place. As Brady (cited in Bolstad, 2004:9) suggests, SBCD would take the form of curriculum “adaptation” by individual teachers or group of teachers operating within specified parameters rather than of the “creation” of curriculum which might require whole staff involvement. 

Gopinathan and Deng (2006:93-110) coined the term ‘school –based curriculum enactment’ with reference to Singapore. They argue that teachers in Singapore can be curriculum developers within a context of centralized curriculum development. A recent Singaporean study noted that middle level leaders such as heads of departments can be important players in bringing about curriculum development.

Reading Source https://www.academia.edu/13051432/Fostering_school-based_curriculum_development_in_the_context_of_new_educational_initiatives_in_Singapore

Saturday, January 7, 2017

Langkah-langkah Penerapan Discovery Learning dalam Pembelajaran

Discovery Learning, Langkah-langkah Penerapannya dalam Pembelajaran.
sebelumnya saya telah mengambarkan descripsi singkat mengenai Discovery Learning, sekarang akan saya akan mendiskripsikan kembali lanjutan dari Model Discovery Learning dalam bagian Langkah-langkah Penggunaan/Penerapan Model Discovery Learning dalam proses belajar mengajar di dalam kelas. Adapun langkah-langkah penerapan  Discovery Learning dalam proses pembelajaran di dalam kelas adalah dengan melakukan beberapa tahapan-tahapan berikut ini:
Penerapan Discovery Learning dalam Pembelajaran
Penerapan Model Discovery Learning

1) Stimulation (Stimulasi/Memberikan Rangsangan)
Adapun proses kegiatan yang dilakuakan pada tahap pertama ini adalah pendidik memberikan ransangan kepada peserta didik dimana nantinya peserta didik akan melakukan tanya jawab terhadap topik yang di sampaikan kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi. Ini semua dimaksudkan supaya peserta didik memiliki keinginan sendiri untuk melakukan penyelidikan sendiri. Pada tahapn proses ini guru juga dapat melakukan jegiatan tanya jawab ataupun juga bisa mengajurkan siswa membaca buku untuk memperdalam pemahaman awal mereka dalam memecahkan permasalahan, disamping juga dapat melakukan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. 

(Baca Model Pembelajaran Discovery Learning, Pengertian Pemahaman, Kelebihan Dan Kekuranganya)
(Baca Penggunaan MethodePembelajaran Yang Efektif Dan Efisien)

2) Problem Statement (Pernyataan/Identifikasi Masalah)
Setelah melakukan tahapan awal (stimulasi) langkah selanjutya adalah pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan identifikasi terhadap permasalahan yang disajikan sebanyak mungkin, kemudian dilanjutkan dengan menentukan salah satu solusi pemecahan masalah yang dianggap sangat relevan untuk digunakan dalam proses penyelesaian masalah tersebut. Adapun salah satu jenis penyelesaian masalah yang dipilih tersebut digolongkan kedalam katagori hipotesis (pemecahan masalah sementara atas permasalahan yang disajikan). Penyelesaian masalah yang telah dipilih tersebut harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan yakni berupa pernyataan yang berbentuk jawaban sementara dari pertanyaan masalah yang diajukan. 

3) Data Collection (Pengumpulan Data)
Ketika proses eksplorasi berlangsung, pendidik juga memberi kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan proses mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan, ini dimaksudkan untuk memerikan kesempatan kepada siswa dalam membuktikan benar atau tidaknya hipotesisyang telah di tentukan tersebut. Tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis yang telah ditetapkan oleh peserta didik. Ini berarti bahwa pada tahapan ini, peserta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan data (data collection) dari berbagai jenis informasi yang relevan, literatur, melakukan prose mengamati objek, melakukan wawancara dengan narasumber tertentu, melakukan experiment (uji coba sendiri) dan lain sebagainya. Konsekuensi dari tahap ini adalah peserta didik diharapakan untuk dapat belajar secara aktif dalam menemukan informasi tertentu yang berkenaan dengan permasalahan yang di sajikan, secara impilcit, dengan melalui proses tahapan ini, peserta didik dengan secara tidak disengaja telah melakukan proses menghubungkan masalah yang ada dengan pengetahuan yang telah dimiliki oleh mereka.

4) Data Processing (Pengolahan Data)
Pada tahapan ini, semua informasi yang telah didapatkan/dikumpulkan oleh peserta didik baik informasi dari hasil bacaan, melakukan wawancara, melakukan observasi, dan lain sebagainya, lalu semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan jika perlu dihitung dengan mengunakan cara tertentu lalu kemudian ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah, 2002:22). Data processing disebut juga dengan pengkodean/kategorisasi yang berfungsi sebagai dasar untuk membuat konsep generalisasi. Maka dari hasl generalisasi tersebut peserta didik akan mendapatkan pengetahuan atau pemahaman baru tentang alternatif dari jawaban untuk penyelesaian sebagai dasar pembuktian secara logis.

5) Verification (Pembuktian)
Pada tahap ini peserta didik melakukan pengkajian ulang secara cermat sebagai dasar untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang telah ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244). Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar mengajar  dapat berjalan dengan baik dan kreatif seadainya pendidik memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang di jumpai dalam kehidupan peserta didik.
Berdasarkan hasil dari pengolahan dan tafsiran, peserta didik di arahkan untuk memeriksa kembali informasi yang ada, baik pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.

6) Generalization (Menarik Kesimpulan/Generalisasi)
Tahap generalisasi/menarik kesimpulan adalah sebuah tahapan yang dilakukan oleh pesreta didik untuk menarik sebuah kesimpulan yang dijadikan sebagi prinsip umum dan berlaku untuk semua masalahkeladian  yang sama, dengan tetap memperhatikan hasil verifikasi. Setelah menarik kesimpulan, peserta didik harus memperhatikan proses generalisasi dimanan proses ini sangat menekankan pada pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang menjadi dasar pengalaman seseorang, disamping menekankan pentingnya  proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.

Penilaian pada Model Pembelajaran Discovery Learning.
Jenis penilaian Model Pembelajaran Discovery Learning dapat dilakukan dengan menggunakan tes maupun nontes. sedangkan penilaian dalam Discovery Learning ini berupa mencakupi aspek domain kognitif, proses, sikap, atau penilaian hasil kerja peserta didik. Adapun pengunnan penilaian aspek masing-masing seperti aspek kognitif, apektif dan spikomotor disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing baik berupa test ataupun non-test. 

Tuesday, January 3, 2017

Model Pembelajaran Discovery Learning Dalam Pembelajaran

Model Pembelajaran Discovery Learning, Pengertian pemahaman, kelebihan dan kekurangannya 
Model Discovery Learning dapat didefinisikan sebagai sebuah proses pembelajaran yang terjadi dimana peserta didik tidak disajikan materi pembelajaran secara finalnya, namun peserta didik diharapkan mampu untuk mengorganisasikan sendiri dari materi pembelajaran tersebut. Ini didasarakan pada pendapat Bruner, “Discovery Learning can be defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject matter in the final form, but rather is required to organize it him self” (Lefancois dalam Emetembun, 1986:103). Pendapat Bruner ini d dasarkan pada pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan lenoh aktif dalam mengikuti proses pembelajaran di dalam kelas.
Disamping itu, Model Discovery Learning dapat juga di artikan sebagai pendekatan pembelakaran untuk memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005:43). Discovery Learning akan terjadi secara bila peserta didik terlibat, terutamayang berkaitan dengan proses mentalnya dalam menemukan beberapa konsep dan prinsip tertentu. Discovery biasanya dapat berlamgsung melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi. Adapaun Proses dalam pendekatan tersebut dapat digolongkan dalam katagori cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps and principles in the mind (Robert B. Sund dalam Malik, 2001:219).

Pada dasarnya, Discovery Learning memiliki prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry). Tidak ada perbedaan yang signifikan pada kedua pendekatan pembelajaran tersebut, namun pada pendekatan Discovery Learning ini lebih menekankan pada penemuan konsep ataupun prinsip dimanan sebelumnya tidak diketahui. Perbedaannya yang mendasar pada model Inquiry dengan Discovery Learning adalah pada proses penemuan (discovery) masalah yang disajikan kepada peserta didik berupak permasalahan yang di sajikan/direkayasa oleh guru, sedangkan pada pendekatan model inkuiri learning, permasalahannya bukan merupakan hasil rekayasa guru, akan tetapi siswa harus mampu menemukan semua permasalahn dalam semua temuannya dengan mengerahkan seluruh kemampuan siswa dalam menyelidiki temuan tersebut baik melalui proses pengamatan ataupun penelitian.

Di dalam kegiatan proses belajar mengajar, Bruner lebih menekankan pada partisipasi aktif dari setiap peserta didik, dan peserta didik mampu mengenal dengan baik tentang adanya perbedaan kemampuan antara mereka. Dalam melakukan proses pembelajaran melalui model Discovery Learning, dibutuhkan lingkungan pembelajaran yang mampu menfasilitasi siwa untuk dapat merasang rasa ingin tahu siswa terutama dalam melakukan tahapan eksplorasi. Lingkungan ini dalam disebut dengan Discovery Learning Environment. Dicovery Environment ini adalah suatu lingkungan dimana peserta didik melakukan proses ekplorasi untuk mendapatkan penemuan-penemuan baru yang belum dipahami atupun dikenali oleh peserta didik sebelumnya. Disinilah dituntut seorang pendidik untuk mampu menciptakan lingkungan belajar yang kreative dan innovatif. Untuk dapat menciptakan proses lingkungan yang akti kreatif dan innovatif tersebut, pendidik harus mampu memgasilitasi proses belajar dengan memanipulasi bahan ajar tertentu sesuai dengan tingkat perkembangan kognif peserta didik. Ini bertujuan untuk dapat  memfasilitasi kemampuan siswa dalam meransang pola pikir siswa untuk dapat berpikir dengan tingkat pekembangannya.

Menurut Bruner proses perkembangan kognitif peserta didik berlangsung melalui tiga tahapan, dan sangat dipengaruhi oleh faltor lingkungan, ketiga tahapam tersebut adalah: enactive, iconic, dan symbolic

Tahap enactive, adalah dimanan seorang peserta didik dapat melakukan aktivitas-aktivitas tertentu sebagi upaya untuk memahami keadaan lingkungan sekitar, artinya, dalam proses pemahaman dunia sekitar seorang peserta didik menggunakan dasar pengetahuan motoriknya, sebagai contoh melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan lain sebagainya. 

Tahap iconic adalah dimanan serang peserta didik dapat memahami objek-objek atau dunianya melalui penggunaan media gambar-gambar dan visualisasi verbal. Ini berarti, dalam prises pemahamam dunia sekitarnya, peserta didik dapat belajar melalui penggunaan bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi). 

Tahap symbolic, adalah proses dimanan seseorang peserta didik telah mampu memiliki/mengemukakan ide-ide tertentu atau gagasan-gagasan abstrak, dimanan proses pengembangan ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan peserta didik dalam penggunaan bahasa dan penggunaan logika. Disinilah peran simbol-simbol bahasa, logika, matematika, dan sebagainya sangat berpengerauh terhadap pengembangan pemehaman peserta didik dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar. 

Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan Hasil Pembelajaran.
Berdasarkan dari berbagai fakta dan hasil pengamatan, penerapan pendekatan Discovery Learning mempunyai kelebihan dan kelemahan tersendiri,  adapun kelebihan dan kelamahan dari penerapananya adalah sebagai berikut: 

1) Kelebihan dari Penerapan Discovery Learning.
  • Dapat Membantu siswa dalam memperbaiki dan meningkatkan keterampilan (skill) dan proses kognitif. Usaha penemuan merupakan salah satu kunci dalam tahapan proses ini, seseorang itu sangat tergantung dengan bagaimana cara meraka belajar.
  • Adapun pemahaman tentang Pengetahuan yang diperoleh melalui penerapan model ini bersifat Personal, dan ampuh karena dapat menguatkan pengertian, daya ingat dan transfer.
  • Dapat Menimbulkan rasa senang pada diri peserta didik, karena pendekatan ini dapat merangsang timbulnya rasa menyelidiki pada diri peserta didik.
  • Model ini memungkinkan peserta didik untuk berkembang dengan cepat dan itu sangat tergantung dengan kecepatan diri siswa.
  • Dapat Menyebabkan siswa engendalikan/mengarahkan proses kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan nalar/akal dan motivasinya sendiri.
  • Dapat Membantu siswa untuk memperkuat konsep pada dirinya, karena pendekatan ini peserta didik dapat memperoleh kepercayaan untuk melakukan kerja sama dengan peserta didik lainnya.
  • Pendekatan pembelajaran ini Berpusat pada siswa dan guru berperan sebagai fasilitator dalam menfasilitasi siswa untuk menemukan gagasan-gagasan tertentu. Bahkan di lain sisi, guru sendiripun dapat berperan sebagai peserta didik, dan juga sebagai peneliti pada situasi diskusi tertentu.
  • Dapat Membantu siswa untuk menghilangkan rasa skeptisme (keragu-raguan) karena mengarahkan pada kebenaran yang final atau pasti.
  • Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
  • Dapat Membantu dan dalam mengembangkan proses ingatan dan transfer kepada situasi dari sebuah proses belajar tertentu.
  • Dapat Mendorong perseta didik untuk berpikir dan bekerja atas dasar inisiatif mereka sendiri.
  • Dapat Mendorongm peserta didik untuk dapat berpikir secara intuisi dan dapat merumuskan hipotesis mereka sendiri.
  • Dapat Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik dari kegiatan pembelajaran tertentu.
  • Pendekatan pembelajaran ini mampu menciptakan situasi belajar menjadi lebih terangsang.
  • Dapat Meningkatkan penghargaan pada siswa dalam menjalankan proses pembelajaran.
  • Memudahkan siswa uutuk memanfaatkan berbagai jenis sumber bahan belajar baik internet atupun lingkungan tertentu.
  • Dapat mengembangkan pola bakat dan kecakapan pada individu peserta didik.

2) Kelemahan Penerapan Discovery Learning.
  • Dapat Menimbulkan asumsi bahwa peserta didik harus meiliki kesiapan pikiran tersendiri sebelum memngikuti proses belajar mengajar. Bagi peserta didik yang memiliki daya lemah, mereka akan mengalami kesulitan abstrak berpikir, dan mengungkapkan hubungan antar konsep-konsep, yang tertulis atau lisan, sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi bagi mereka.
  • Pendekatan ini kurang efisien untuk direrapkan pada kelas yang memiliki jumlah peserta didik dalam jumlah banyak, karena akan mengalami kendala dengan waktu dalam membantu mereka untuk menemukan teori atau dalam pemecahan masalah lainnya yang timbul.
  • Pendekatan ini akan terbentu dengan pemahaman guru yang telah terbiasa dengan cara-cara/gaya belajar yang lama.
  • Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman, sedangkan mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang sesuai.
  • Pada beberapa mata pelajaran tertentu, misalnya IPA sepertinya akan memngalami kendala karena kurangnya fasilitas sekolah yang dapat mengukur gagasan ataupun konsep tertentu yang dikemukakan oleh para siswa.
  • Pembelajaran ini akan membatasi pola pikir siswa terhandap materi tententu karena topik dan batasan pembelajaran sudah dipilih dan ditentukan  terlebih dahulu oleh pendidik.



Sunday, January 1, 2017

Mengenali Bahaya Minum Air Sambil Berdiri

Bahaya Minum Air Sambil Berdiri. Air adalah sumber kehidupan, tanpa air kita dan semua benda hidup tidak akan dapat hidup dalam dunia. Manusia sebagai salah satu makluk hidup ciptaan Allah swt, juga membutuhkan air sebagai sumber kehidupannya. Namun harus dipahami selain sebagai sumber kehidupan air juga dapat menimbulkan berbagai masalah dan penyakit bagi tubuh kita jika kita mengkonsumsinya secara tidak benar. Maka posisi yang sangat di ajukan oleh para medis bahkan Rasulullah Nabi Muhammad Saw sendiri adalah minum air dalam posisi duduk, ingat duduk bukan dalam posisi berdiri. Memang terkadang kebayakan kita sering sekali mengkonsusmsi air sambil berdiri dengan alasan mudah daln tidak repot. Namun harsd dipahami jika kita sering mengkonsumsi air dalam posisi berdiri malah dapat menimbulkan bumerang pada diri dan tubuh kita, di bawah ini akan saya ulas sedikit gambaran singkat tentang berbagai jenis bahaya yang dapat ditimbulkan karena mengkonsumsi/minum air dalam posisi berdiri. Adapaun jenis bahaya yang dapat ditimbulkan karena mengkonsusmsiminum air dalam posisi berdiri adalah sebagai berikut:  
 
Mengenali Bahaya Minum Air Sambil Berdiri
Bahaya Minum Air Sambil Berdiri
1. Berisiko Terkena Artritis
Salah satu penyebab yang dapat di timbulkan oleh minum sambil berdiri adalah penyakit Arthritis, Arthritis adalah jenis penyakit yang bersifat kronis dan dapat menyerang kita seumur hidup, biasanya jenis penyakit ini dapat menyerang kaum pria dan wanita yang telah berusia kira-kira di atas 55 tahun. Bagi Pasien yang menderita penyakit arthritis akan mengalami pembengkakan dan kekakuan pada sendi yang dapat menyebabkan gerakan tubuh menjadi sedikit sulit dan menimbulkan rasa sakit. Seandainya pasien membiarkan penyakit tersebut tanpa dirawat atau ditangani, maka penyakit ini biasanya akan menyebabkan kerusakan pada jaringan tubuh
seperti yang dilansir dari wellordie.com, salah satu bahaya minum sambil berdiri adalah kita bisa berisiko mengalami gangguan pengaturan keseimbangan cairan dalam tubuh kita. maka Akibatnya bisa mengakibatkan terjadinya penumpukan cairan di baigian sendi-sendi pada tubuh, kemudian dilajutkan akan menyebabkan arthritis.

(Baca CaraMempercepat Proses Penyembuhan luka Paska Operasi)
(Baca Kiat Penanganan Awal Terhadap Anak YangMengalami Deman Kejang)

2. Mengakibatkan Gangguan Sistem Pencernaan
selain dari penyakit diatas, Minum air sambil berdiri, dapat juga menganggu Sistem Pencernaan dalam tubuh, gangguan cerna ini disebabkan oleh air yang kita konsumsi sambil berdiri akan mengalir melewati usus dan menciprat ke dinding perut. Cipratan air ini dapat mengakibatkan kerusakan sistem pencernaan dalam tubuh kita, bahkan jika berlangsung dalam jangka panjang, maka akan dapat merusak bagian alat pencernaan. 

3. Haus Susah Hilang
salah satu manfaat yang kita peroleh setilah minum air adalah dapat menghilangkan rasa dahaga yang kita derita. Maka untuk dapat menghilangkan rasa dahaga dengan segera sebaikanya minumlah air dalam posisi duku, sebab jika kita minum air dalam posisi berdiri, maka kan mengakibatkan rasa dahaga yang kita alami akan sulit hilang. Minumlah air dengan dalam posisi duduk dengan tidak terburu-buru.

4. Ginjal Tak Bisa Menyaring Air dengan Baik
salah satu fungsi ginjal dalam tubuh adalah untuk membersihkan kandungan air /menyaring air yang ada dalam tubuh kita. namun jika kita minum dalam posisi brdiri, ternyata ginjal kita tidak dapat melakukan tugasnya dengan sempurna, dan bahkan dapat menyebabkan kotoran yang menumpuk pada ginjal dan kantung kenih. Jika berketerusan malah dapat mengakibatkan gangguan saluran kenih, batu karang dan pada tahap kronis dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal kita. 

5. Tak Bisa Mengencerkan Kadar Asam di Dalam Tubuh
salah satu fungsi air didalam tubuh adalah untuk mengencerkan kadar asam di dalam tubuh yang disesuaikan dengan proporsi air yang dibutuhkan. tubuh. Jadi kalau minum air sambil berdiri, proses pengenceran kadar asam ini bisa terganggu. Maka untuk dapat mebuat air bekerja secara optimal di dalam tubuh untuk mengencerkan kadar asam sebaiknya konsumsilah air secara benar yaitu dalam psosisi duduk dan dengan santai minumlah secara perlahan dan jangan diburu.

6. Dapat Menyebabkan Ulser dan Heartburn
Dengan Minum air dalam posisi berdiri menyebakan air yang diminum akan mengalir dan dapat menciprat ke area kerongkongan pada bagian bawah dengan cukup keras. Kejadian ini dapat mengganggu sfingter (kumpulan serabut otot berbentuk seperti cincin dan berfungsi untuk menutup jalur atau pembukaan alamiah pada tubuh) dan hal ini juga dapat bisa menimbulkan sensasi seperti rasa terbakar di kerongkongan kita yang disebabkan oleh dorongan zat asam di dalam perut. 

7. Menyebabkan Saraf-Saraf Menegang Kalau Minum Sambil Berdiri
Ketika kita minum sambil berdiri, maka tanpa disadari saraf tubuh kita akan menegang. Manun berbading terbalik jika kita minum dalam posisi duku, dimanan sistem parasimpatetik akan terkondisikan akan lebih rileks dan tidak menimbulkan ketegangan. Disamping itu, Proses penyerapan air minum dan pencernaan pun bisa berjalan dengan lebih baik jika kita minum dalam posisi duduk.

jadi setelah memahami berbagai penyakit yang dapat diakibatkan oleh mengkonsumsi/minum air dalam posisi berdiri maka sebaiknya mulai dari sekarang hindari kebiasaan yang salah tersebut. Bahkan bagi orang islam sendiri Nabi Muhammad Saw juga melarang kita minum dalam posisi berdiri. Lakukan kebiasaan yang benar ini supaya kita dapat terhindar dari berbagai penyakit yang tidak kita sadari dan bahkan dapat berisiko fatal buat tubuh kita. mulai sekarang cintai tubuh anda dan jalani proses yang benar terutama dalam mengkunsumsi air dalam kehidupan sehari-hari. Memang ini kelihatan agak sepele namun akibatnya bisa fatal.  Sekian semoga bermanfaat