Thursday, March 9, 2017

Cara Yang Tepat Memerankan Drama Dalam Pembelajaran

Cara Yang Tepat Memerankan Drama Dalam Pembelajaran. Sebuah naskah drama sebaiknya dapat dipentaskan meskipun  ada juga naskah drama yang tidak dapat dipentaskan. Menurut Endaswara (2005:197-204) dalam mementaskan naskah drama ada tiga tahapan yang harus dilakukan yaitu:

(1) Tahapan Penyajian yang Diharapkan

Pada tahap ini yang terpenting adalah  tim yang akan mementaskan drama harus mengetahui terlebih dahulu tujuan dari pementasan tersebut baru kemudian menyusun draft kegiatan dari awal hingga pementasan. Menurut Hoa Nio (dalam Endaswara, 2005:199) mengemukakan bahwa ada dua tahapan besar yaitu:
Cara Yang Tepat Memerankan Drama Dalam Pembelajaran
Cara Yang Tepat Memerankan Drama Dalam Pembelajaran
(a) Persiapan, mengumpulkan naskah drama sesuai dengan minat, kemampuan, rangsangan dan tingkat kesukaran bahasa;
(b) Kegiatan dalam kelas yang meliputi: (1) penjelajahan (perkenalan) dengan drama dengan membuat pertanyaan sehari-hari yang terkait dengan drama yang akan diapresiasi, dan disertai diskusi kecil tentang “apa yang akan diharapkan” subjek didik dari kehidupan tokoh dalam drama tersebut, membaca dalam hati, menonton pertunjukan baik teman sendiri maupun pertunjukan profesional, (2) interpretasi pertanyaan diskusi dengan pertanyaan menggali (subjek didik diminta membandingkan pendapatnya sendiri dengan apa yang dibaca dalam drama, pertanyaan terkait dengan tema, plot, pelaku, watak dan menganalisis akhir cerita drama), 
(c) rekreasi (pembagian peran, pagelaran, evaluasi, latihan ulangan dan pagelaran), 
(d) teknik pembinaan apresiasi drama.
Selanjutnya, berbeda dengan Moody (dalam Endaswara, 2005:200) mengemukakan bahwa:

(1) pelacakan pendahuluan, mengemukakan pusaran kemenarikan drama yang akan disajikan, alasan-alasan drama itu disajikan; 
(2) penentuan sikap praktis, menjelaskan keistimewaan drama, kekuatan drama yang akan disajikan; 
(3) intoduksi, mengenalkan struktur drama, menanyakan bila subjek didik telah mengenalnya; 
(4) penyajian, berapa pementasan, membaca naskah, ekspresi drama; 
(5) diskusi, membicarakan pementasan, kenikmatan, kekurangan, kelebihan dan lain-lain; 
(6) pengukuhan, melaporkan pementasan, menulis dialog, membuat adegan, mencari cerpen atau novel yang dapat diubah dengan bentuk drama; 
(7) diskusi lanjutan, diskusi mendalam sampai ke tingkat sosio psikologis, filsafat, religius dan memperagakan; 
(8) praktek percobaan, bermain peran, menirukan adegan; 
(9) latihan pengucapan dialog, latihan dinamik suara, vokal berat-sedang-ringan; 
(10) akting dan 
(11) pementasan drama.

Susunan draft sebuah pementasan dapat disesuaikan berdasarkan kesepakatam tim yang terlibat dalam pementasan itu dan kebutuhan yang diperlukan oleh anggota tim. Jika ada hal-hal yang dianggap tidak perlu dapat dihilangkan. 

(2) Tahap  Memahami Anatomi Drama

Di samping naskah dan aktor drama sebuah pementasan akan terkait dengan sutradara. Dia adalah figur penentu dalam pementasan. Menurut Endraswara (2005:202) seorang sutradara seharusnya memiliki berbagai hal antara lain: 

(a) Daya imajinasi: kemampuan menghidupkan tokoh (manusia imajiner) menjadi berpribadi, berkarakter dan berpandangan hidup; 
(b) Kepekaan: menafsirkan secara wajar terhadap naskah;
(c) Vitalitas: memotivasi pelaku semaksimal mungkin;
(d) Kreativitas: memiliki trik-trik unik, menarik, spontanitas dan 
(e) Sutradara sebaiknya tidak menjadi pelaku agar semakin leluasa menggarap pementasan.

Tata panggung dalam pementasan drama yang digunakan baik di kelas maupun di luar kelas dapat berbentuk melingkar, setengah melingkar,  jembatan dan segi empat. Tata panggung tidak harus mewah dapat juga dengan memanfaatkan sesuatu  yang berada di sekitar subjek didik yang penting mampu mendukung pementasan secara keseluruhan.
Unsur lain yang penting dalam drama adalah kostum. Kostum sering dilupakan oleh subjek didik. Apalagi, drama tersebut merupakan pementasan kecil di kelas padahal  kostum baru menjadi sebuah instrumen penting yang dapat membantu penonton  supaya ada ciri pribadi dari sebuah peran dan  agar jelas hubungan antar pemain. Kostum seharusnya mampu mereter kisahan cerita yang melukiskan waktu dan ruang.
Selain yang disebutkkan di atas masih ada unsur lain dalam mementaskan sebuah drama secara utuh seperti: tata rias, pencahayaan dan musik. Kesemua unsur ini tidak dipakai dalam pementasan kelas namun dapat dipakai dalam pementasan sekolah  di akhir tahun. 

(3) Tahap Ekspresi Dalam Pengajaran Drama

Sebelum berlatih ekspresi drama yang akan dipentaskan di depan kelas, di sekolah atau di gedung pertemuan perlu memahami tentang sutradara, pemain (aktor), penonton, panggung dan cerita (naskah). Beberapa unsur ini akan sangat menentukan keberhasilan ekspresi drama tanpa memahami unsur-unsur pendukung ini  pengajaran drama secara ekspresif akan kesulitan.
Untuk melatih ekspresi  maka diperlukan seorang sutradara agar dapat mereter kemampuan aktor. Sutradara tidak harus seorang pengajar bahkan subjek didik pun ada baiknya dilatih menjadi sutradara.  Ia akan menentukan warna pementasan karena melalui tangannya naskah yang mentah akan diolah.  Dia juga yang akan menjadi  penentu (decission) dalam pementasan.  Setiap pemain harus tunduk kepada sutradara. Jika ada pemain yang merasa super (primadona) sering mengintervensi sutradara sehingga pementasan akan gaduh dengan sendirinya. Baru kemudian melakukan  latihan ekspresi. Latihan-latihan yang perlu dilakukan dalam pengajaran ekspresi drama menurut Endraswara (2005:204) adalah sebagai berikut: 

(a) Latihan fisik (ucapan, pernafasan, vokal);
(b) Latihan psikis (penjiwaan);
(c) Penyesuaian naskah (mempelajari naskah sesuai dengan tugasnya);
(d) Latihan pemanggungan: bloking, gerak, akting dan
(e) Latihan memberi pesan : agar drama tidak sekedar “cerita” pemain perlu memberi bobot lewat dialog, lewat kata-kata (monolog)

terimakasih telah berkomentar
EmoticonEmoticon