Wednesday, March 29, 2017

Jenis Sudut Pandang Dalam Penulisan Cerpen

Sudut Pandang (point of view) dalam menulis Cerpen
Sudut pandang (point of view) adalah tempat atau posisi pengarang dalam kisahan yang dikarangnya: apakah ia berada di dalam cerita, di luar cerita, atau hanya sebagai pengamt yang berdiri di luar cerita. 
Jenis Sudut Pandang Dalam Penulisan Cerpen
Jenis Sudut Pandang Dalam Penulisan Cerpen
Nurgiyantoro (2005:248) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan sudut pandang atau point of view yaitu cara sebuah cerita dilukiskan. Sudut pandang juga merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan oleh pengarang sebagai saran untuk menyajikan tokoh, latar, tindakan, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca cerita. Dengan demikian, sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat, yang sengaja dipilih pengarang untuk menyampaikan gagasan dan ceritanya.


Sedangkan menurut Sumardjo (2004:28) pada dasarnya yang disebut dengan point of view adalah visi pengarang, artinya sudut pandangan yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita. Dalam hal ini, harus dibedakan dengan pandangan pengarang secara pribadi, sebab sebuah cerpen adalah pandangan pengarang terhadap kehidupan. Suara pribadi pengarang jelas akan masuk ke dalam karyanya. Ini lazim disebut gaya pengarang. Sedangkan point of view teknik bercerita saja, yaitu soal bagaimana pandangan pribadi pengarang akan bisa diungkapkan sebaik-baiknya. Untuk ini ia harus memilih karakter mana dalam cerpennya yang disuruh bercerita. Sekali lagi, pemilihan point of view amat penting sebab menyangkut masalah seleksi terhadap kejadian-kejadian cerita yang disajikan, menyangkut masalah ke mana pembaca akan dibawa, menyangkut masalah kesadaran siapa yang dipaparkan. Sumardjo (2004:29) membagi point of view sebagai berikut:

1) Omniscient point of view (sudut penglihatan yang berkuasa). 
Di sini pengarang bertindak sebagai segalanya. Ia bisa menciptakan apa saja yang ia perlukan untuk melengkapi ceritanya sehingga mencapai efek yang diinginkan. Ia bisa keluar dan masukkan para tokohnya. Ia bisa mengemukakan perasaan, kesadaran, jalan pikiran pelakunya. Bahkan pengarang juga bisa mengomentari kelakuan para pelakunya.

2) Objektive point of view. 
Dalam teknik ini pengarang seperti dalam teknik omniscient, hanya pengarang tidak memberi komentar apapun. Pembaca hanya disuguhi ‘pandangan mata’. Pengarang hanya menceritakan apa yang terjadi, seperti penonton melihat pementasan sandiwara. Pengarang tidak mau masuk ke dalam pikiran pelaku. Pada kenyataannya perbuatan orang lain, kita menilai kehidupan jiwanya, perasaannya, jalan pikirannya, kepribadiannya,  dan lain-lain. Motif perbuatan pelakunya hanya bisa kita nilai dari perbuatan mereka. Dalam hal ini jelas pembaca amat diharap partisipasinya. Penulis modern banyak memakai teknik ini. Ia ingin melepaskan segala inflikasi nilai dan hanya mau mengemukakan apa yang sebenarnya terjadi dengan cara memaparkan detail-detail kejadian itu sendiri. Karena dialog merupakan cara paling objektif untuk bercerita maka ia banyak mempergunakan dialog dalam cerpen-cerpennya.

3) Point of view orang pertama. 
Jenis Teknik ini sering kita jumpai dalam cerpen Indonesia. Jenis Gaya ini bercerita dengan sudut pandang ‘aku’. Ini kelihatan seperti orang menceritakan pengalaman sendiri saja. Dengan teknik ini pembaca diajak ke pusat kejadian, melihat, merasakan melalui mata kesadaran orang yang langsung bersangkutan. Justru dalam gaya ini pengarang harus berhati-hati, jangan mencampurkan pandangan pribadi pengarang dengan pandangan si ‘aku’ dalam cerita.

4) Point of view peninjau. 
Dalam teknik ini pengarang memilih salah satu tokohnya untuk bercerita. Seluruh kejadian cerita kita ikuti bersama tokoh ini. Dalam poin ini, Tokoh bisa bercerita tentang pandangan sendiri, pendapatnya atau, tetapi terhadap tokoh-tokoh lain ia hanya bisa memberitahukan pada kita seperti apa yang ia lihat pada kenyataannya saja. Jadi teknik ini berupa penuturan pengalaman seseorang, si dia. Hal ini cocok untuk cerita yang memerlukan realisme dan kesatuan, totalitas. Dalam beberapa hal efe teknik ini hampir sama dengan teknik orang pertama, tetapi teknik ini lebih fleksibel dalam bercerita. Pelaku utama point of view peninjau ini sering disebut teknik orang ketiga, yang pelakunya disebut pengarang dia, tentu saja lengkap dengan namanya. Untuk cerita yang bersifat introspeksi, mengudar pikiran dan perasaan, teknik ini bisa dipakai amat efektif.

Selanjutnya, Nurgiyantoro (2005:256-271) membagi sudut pandang sebagai berikut:

a) Sudut Pandang Persona Ketiga: ‘Dia’
Sudut pandang ini memposisikan pengarang sebagai narator yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita yang menyebut nama, atau kata gantinya; ia, dia, dan mereka. Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap atau terus menerus disebut dan sebagai variasinya dipergunakan kata ganti. Sudut pandang ini di bagi menjadi:

(1)‘Dia’ Mahatahu
Sudut pandang ‘dia’ mahatahu dalam literatur bahasa Inggris dikenal dengan istilah-istilah the omniscient point of view, third person omniscient, the omniscient narrator, atau author omniscient. Dalam sudut pandang ini, cerita dikisahkan  dari sudut ‘dia’, namun pengarang, narator, dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh ‘dia’ tersebut.

(2) ‘Dia’ Terbatas, ‘Dia’ sebagai Pengamat
Dalam sudut pandang ini (‘dia’ terbatas), seperti halnya dalam ‘dia’ mahatahu, pengarang melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh cerita, namun hanya terbatas pada seorang tokoh saja, atau terbatas dalam jumlah yang sangat terbatas. Tokoh cerita mungkin cukup banyak, yang juga berupa tokoh ‘dia’, namun mereka tak memberi kesempatan (tak dilukiskan) untuk menunjukkan sosok dirinya seperti halnya tokoh pertama.

Dalam teknik ini (‘dia’ terbatas) sering juga dipergunakan teknik narasi aliran kesadaran, strem of consciousness yang menyajikan kepada pembaca pengamatan-pengamatan luar yang berpengaruh terhadap pikiran, ingatan, dan perasaan yang membentuk kesadaran total pengamat. Sudut pandang cerita, menjadi bersifat objektif (objective of view), atau narasi objektif (objective narration). Namun, karena cerpen merupakan hasil kreasi imajinasi, pengarang dapat saja mengomentari atau menilai sesuatu yang diamatinya sesuai dengan pengamatan dan pengalamannya dari sudut pandang tokoh tertentu yang telah dipilih sebagai pengamat.

b) Sudut Pandang Persona Pertama: ‘Aku’
Dalam sudut pandang persona pertama, first person point of view, ‘aku’ pencerita (narator) terlibat dalam cerita. Si ‘aku’ tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran drinya sendiri (self-consciousness) mengisahkan peristiwa dan tindakan, yang diketahui, dilihat, didengar, dialami, dirasakan, serta sikapnya terhadap orang lain kepada pembaca.
Sudut pandang persona, ‘aku’ ini dibagi pula atas:

(1) ‘Aku’ Tokoh Utama
Dalam sudut pandang teknik ini, si ‘aku’ mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik bersifat batiniah, dalam diri sendiri, maupun fisik, hubungannya dengan sesuatu yang di luar dirinya sendiri. Si ‘aku’ menjadi fokus, pusat kesadaran, pusat cerita. Segala sesuatu berada di luar diri si ‘aku’, peristiwa, tindakan dan orang, diceritakan hanya jika berhubungan dengan dirinya, atau dipandang perlu. Jika tidak, hal itu tidak disinggung sebab si ‘aku’ mempunyai keterbatasan terhadap segala hal di luar dirinya, di samping memiliki kebebasan untuk memilih masalah-masalah yang akan diceritakan. Dalam cerita demikian, si ‘aku’ menjadi tokoh utama (first-person).

(2) ‘Aku’ Tokoh Tambahan
Dalam sudut pandang ini ‘aku’ bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai tokoh tambahan (first-person peripheral). Tokoh ‘aku’ hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca, sedangkan tokoh cerita yang sedang diceritakan itu kemudian ‘dibiarkan’ untuk mengisahkan sendiri berbagai pengalamannya. Tokoh cerita yang dibiarkan berkisah itulah yang kemudian menjadi tokoh utama, sebab dialah yang lebih banyak tampil, membawakan berbagai peristiwa, tindakan, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Setelah cerita tokoh utama habis, si ‘aku’ tambahan tampil kembali, dan dialah kini yang berkisah.

(3) Sudut Pandang Campuran
Penggunaan sudut pandang dalam sebuah cerpen pada dasarnya sama dengan novel mungkin saja lebih satu teknik. Pengarang dapat berganti-ganti dari teknik yang satu ke teknik yang lain untuk sebuah cerita yang dilukiskannya. Kesemua itu tergantung dari kemauan dan kreativitas pengarang, bagaimana mereka memanfaatkan berbagai teknik yang ada demi efektivitas penceritaan yang lebih, atau paling tidak untuk mencari variasi penceritaan agar memberi kesan lain.
Penggunaan sudut pandang campuran ini, mungkin berupa penggunaan sudut pandang persona ketiga dengan teknik ‘dia’ mahatahu dan ‘dia’ sebagai pengamat, person pertama dengan teknik ‘aku’ sebagai tokoh utama dan ‘aku’ tambahan atau sebagai saksi, bahkan dapat juga campuran antara persona pertama dan ketiga, antara ‘aku’ dan ‘dia’ sekaligus.
dan mengkonkretkan ciri-ciri kedirian tokoh yang telah dilukiskan dengan teknik yang lain

terimakasih telah berkomentar
EmoticonEmoticon