Friday, March 31, 2017

Hal Yang Tersembunyi di Balik Bangunan Ka’abah

Tags
Siapa yang tak menganal Ka’abah Baitullah? Jelas sekali jika orang yang beragama islam rasanya sangat tidak mungkin jka merea tidak kenal dengan Ka’abah Baitullah. Ini karena Ka,abah Batullah adalah tempat tujuan sebagian besar umat islam untuk melaksankan/menunaikan rukun islam yang kelima yaitu Melaksanakan Haji ke Baitullah.
Hal Yang Tersembunyi di Balik Bangunan Ka’abah
Hal Yang Tersembunyi di Balik Bangunan Ka’abah
Batullah ini dibangun rertama kali pada masa nabi Adam AS. Kemudian menurut pendapat sebagian ulama, Mekkah Baitullah ini mengalami kerusakan pada masa Nabi Nuh AS, dimana pada saat itu terjadi musibah banjir besar yang menenggelamkan hampir seluruh permukaan bumi. kemudian Allah memerintahkan untuk membangun kambali Ka'abah tersebut pada masa nabi Ibrahim, dan nabi Ibrahim AS membangun kembali Ka'abah tesebut untuk direnovasi kembali. Dan adapun proses renovasi tersebut terus berlangsung kemasa-masa seterusnya dengan berbagai perubahan dan perluasan di lakukan untuk mempermudah para jamaah haji seluruh dunia dalam menunaikan rukun islam yang ke-lima tersebut

Ka’abah Baitullah adalah rumah Allah yang terletak tepat di tengah-tengah Mesjidil Haram disamping Ka’abah ini merupakan arah kiblat yang harus di hadap oleh semua umat islam keltika menunaikan Shalat sebanyak lima kali sehari semalam. Ka’abah sekilas kita lhat adalah sebuah bangunan berbentuk kubus yang dibungkus/ditutupi dengan kain hitam dan dihiasa dengan tulisan Al-quran. Namaun adakah anda berpikir kira-kira seperti apakah isis didalam bangunan Ka’abah tersebut. Apakah bentuknya padat atau ada ruang-ruang tertentu di dalamnya. Untuk itu kali ini saya akan mengambarkan sedikit rahadia yang terkandung di dalam bangunan Ka’abah tersebut.

Sebagaimana diperlihatkan dokumenter kerajaan Arab Saudi, bagian dalam Ka’abah hanyalah ruangan kosong. Dimana bangunan tersebut hanya terdapat tiga pilar dari kayu Gaharu. Panjang per pilar hanya sekitar seperempat meter atau setangah meter berwarna campuran antara merah dan kuning. Katiga pilar ini berjejer dengan rapi dari utara keselatan.

Pada awal tahun 2000, bagian bawah ketiga pilar tersebut rusak karena terjadi keretakan pada bagian bawahnya, yang kemudian diperbaiki dengan diberi kayu melingkar di sekelilingnya. Gaharu ketiga pilar ini dibuat atas inisiatif Abdullah ibn Al Zubair, sekitar tiga abad lalu. Meski sudah demikian lama, namun ketiganya masih tetap kokoh berdiri hingga sampai sekarang ini untuk menompang bangunan Ka’abah tersebut.

Adapun pada atap bagian dalam Ka’abah dipenuhi berbagai ukiran-ukiran yang mengagumkan, selain itu juga diberi lampu-lampu indah yang terbuat dari emas murni dan dari perhisan-perhiasan indah lainnya sehingga lebih menambah keindahanya karena adanya penerangan dari lampu tersebut. Disampin itu, Lantai Ka’abah terbuat dari batu pualam putih yang sangat indah dan menarik sehingga lantai Ka’abah terlihat sangat indah dn mengkilap laksana kaca.

Pada bagian dinding Ka’abah, pada bagian dalamnya dibalut dengan batu pualam warna-warni dan dihiasi ukiran bergaya arab yang sangat menarik dan menawan mata bagi yang memandangnya, sehingga menhgadirkan rasa takjub yang tersendiri. Pada bagian diding dalama ini juga terdapat tujuh papan yang menempel pada dinding ini yang bertuliskan nama-nama orang yang pernah merenovasi atau menambahkan sesuatu yang baru di didalam Ka’abah ataupun Mesjidil Haram tersebut.

Disamping itu, pada bagian didinding bagunan Ka’abah ini tepat pada bagiannya terdapat bnagunan kecil yang menepel pada bagian bawah didinding Ka’abah. Bagunan ini dinamakan Syadzawan. Ada Disebutkan bahwa tembok sydzarwan merupakan bangunan tambahan pada Ka’abah yang dikerjakan oleh kaum quraisy. Ada bebrbagai pendapat dari sebagain ulama mengenai bangunanan Syadzawan ini. Menurut mazhab Syafi’i dan Maliki, tembok syadzrwan bukan merupakan bagian dari Ka’abah. Mazhab Hambali memilih berada diantara dua pendapat itu. Menurut mereka, menjauhi tembok tersebut sangat di anjurkan, tetapi seandainya jamaah melakukan thawaf didalamnya, maka thawaf tetap sah dan tidak sampai rusak. Yang jelas, belum diketahui secara pasti kapan pertama kali tembok syadzawan dibangun. Setiap kali Masjidil Haram dipugar, tempat-tempat itu disekitarnya juga dipugar. Yang pasti tembok syadzawan mengalami pemugaran pada tahun 542 H, 636 H, 660 H, dan 1010 H.

Inilah sekilas gambaran rahasia yeng terkandung di dalam Ka’abah tersebut, memang tidak semua orang dapat masuk kedalam bangunan tersebut sebab ada larangan dari kerajaan Arab Saudi. Jadi karena kita tidak bisa masuk kedalam bangunan tersebut maka saya kira gambaran dari dalam bangunan Ka’abah yang mulia yang saya paparkan ini rasanya dapat merubah rasa penarasan kita terhadap keadaan di dalam bangunan Ka’abah tersebut. Semoga saja somoga kita mendpatkan rezeki yang dapat mengantarkan kita kesanan untuk menuikan rukun silam yang lima. Rasanya semua orang islam rindu sekali untuk melaksanakan shalat langsung mengahadap Ka’bah Baitullah yang mulia dan mencium batu Hajar Aswad. Disamping jyga melkasankan thawaf untuk memulikan Rumah Allah tersebut. Sungguh tergetar rasanya bathin ini ketika mendengar cerita dri orang-orang yang pernah berkunjung kesana dimana kebanyakan mereka merasakan nilai spritual yang tinggi ketika berkunjung kesana. Insyaalah kita semua diberikan kesempatan oleh Allah suatu hari nanti, terus berdoa dan berusaha untuk mewujudkan cita-cita suci tersebut, karena Allah maha mendengar setiap doa yang kita kirimkan kepadaNya. Amien ya rabbal ‘alamin.

Cukup Sekian saja kupasan/gambaran saya semoga tulisan singkat ini dapat memberikan manfaatnya  bagi pembaca sekallian teutama bagi diri saya sendiri, dan terakhir say ucapkan terimakasih atas kunjungannya jumpa lagi di lain kesempatan. Wassalam

Thursday, March 30, 2017

Ini Dia Tiga Teknologi Tercanggih Saat ini

Teknologi tercanggih mulai bermunculan menggebrak pasar global. Ini dia tiga jenis teknologi tercanggih untuk ukuran waktu saat ini. penumbuhan dan pengembangan tehnologi dewasa ini sudah sangat demikian cepat dan pesat yang dipucu oleh innovasi besar-besaran yang dilukan diberbagai negara-negra di dunia. timbulnya berbagai penemuan teknologi baru dan canggih ini akan sangat penting dalam menunjang berbagai aktivitas dan kerja manusia dalam melakukan berbagai usaha/kegiatan di bidangnya masing-masing. dibawah ini disajikan tiga jenis penemuan yang sangat mutakhir dewasa ini, sehingga menimbulkan berbagai kemudahan bagi umat manusia. Untuk lebih jelasnya lihat penjelasan berikut ini mengenai jenis teknologi tersebut secara bertahap.
Ini Dia Tiga Teknologi Tercanggih Saat ini
Ini Dia Tiga Teknologi Tercanggih Saat ini
1. Jam Tangan Pintar
jenis teknologi ini sebenarnya bukanlah teknologi yang baru di Indonesia maupun di berbagai negara di belahan dunia. jam pintar ini, jauh hari sebelum menjadi mini smartphone, jam tanggan pintar atau smartwatch ini pernah dijuluki sebagai mini tablet dan mini PDA. Tetapi kini setelah mengalami beberapa peningkatan, perangkat tersebut sudah bisa digunakan juga sebagai alat komunikasi yang canggih. 
Jika ditelisik kebelakang, teknologi canggih pada smartwatch sebenarnya sudah ada sejak tahun 1978. Ya saat itu masyarakat dunia dihebohkan oleh penemuan teknologi baru, yakni produk jam tangan dengan fitur calkulator electronik. lalu bebarapa tahun kemudian, muncul berbagai produk jam tanggan pintar dari beberapa merek terkenal dengan tingkat kecanggihan yang saling berbeda satu dengan lainnya; mulai dari fitur kalkulator layar sentuh hingga jam tanggan yang bisa digunakan untuk berkomunikasi. 

Saat ini muncul kembali smartwacth dengan teknologi terbaru dan tercanggih tepatnya pada pertengahan 2015 lalu. Smartwatch ini diluncurkan oleh salah satu perusahaan terbesar yakni sonny. Bukan hanya tehnologi saja yang jadi unggulan brand sony ini. Dalam proses produksinya, sonny mengandeng salah satu perusahaan fashion dunia. Hal ini untuk membuat jam tangan pintar buatannya menjadi lebih fashionable. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk menhhasilkan dasain yang keren dan unik sehingga masyarakat dunia berhasrat memiliknya. Fasilitas fitur yang dimiliki smartwacth ini cukup lengkap, selain dapat digunakan untuk telepon, smartwatch ini dapat juga digunkan untuk mengakses berbagai media sosial yang sedang hit saat ini, seperti facebook, whatshap dan lain sebagainya. Pengusungan bateraipun tidak kalah dengan baterai smartphone, smartwatch ini sudah dilengkapi baterai dengan kukuatan 300 mAh; sudah dilengkapi bluetooth dan slot USB. Sistem operasi jam pintar ini yakni menggunkan sistem operasi Android 4.4 Kitkat, layar berukuran 1,54 inci, anti air, dan didesain dengan model yang menarik. 
    
2. Pengedalian PC dengan mata
Pangedali PC dengan menggunakan mata atau sering disebut Virtual Goggles atau Virtual Reallity ini merupakan salah satu teknologi terbaru dan tercanggih yang tengah menjadi perbincangan masyarakat dunia. Bentuknya seperti kaca mata, ya kacamata yang dielngkapi dengan tehnologi super canggih. Alat-alat tehnologi dengan kacanggihan yang super wow ini persis seperti yang diperlhatkan dalam flm-flm Hollywood. Benda di dalam flm seperti diwujudkan dalam bentuk asli, nyata dikehidupan kita. Istilah vitrual reallity pertama kali dipakai dan didengungkan pada awal tahun 1990, pada tahun 2010 nama Virtual Reality diubah menjadi Virtual Goggles. 

Jenis Teknologi tercanggih dan terbaru ini dapat digolongkan sebagi teknologi yang membawa dunia ke arah virtual menggunakan komputer tiga demensi. Virtual Goggles menggunkan teknologi stereoscopic goggles, alias kaca mata sebagai media gamabr 3D
Jadi dengan menggunkan tehnologi canggih ini, kita bisa melihat sekeliling kita seolah-olah hidup. Cara kerja virtual goggles sama dengan kacamata 3D, namun lebih canggih karena ditunjang oleh teknologi super wow, super sekali bukan?

3. Cermin layar sentuh. 
Berbagai peralatan elektornik sudah hadir dengan konsep layar sentuh, mulai dari samartphone, hingga televisi. Kini hadir pula teknologi terbaru dan tercanggih dengan konsep yang sama, akan tetapi bukan digunakan pada alat elekronik tetapi jenis penemuan terbaru ini digunakan pada sebuah cermin, ya cermin layaknya cermin biasa dirumah. 
Cermin pintar ini dinamai dengan Cybertecture Mirror. Dimana cermin ini dilengkapi dengan tehnologi super canggih yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan asal Hongkong. Cermin revolusioner ini memiliki tampilan program aplikasi digital. Bahkan yang lebih mencengangkan lagi didalamnya terdapar pula fitur speaker stereo, WiFi, water proofing, IP41, dan berbagai fitur keren lainnya. 

Cermin pintar tersebut dapat digunakan dalam dua model, yakni model aktif dan model pasif. Ia dapat dikendalikan melalui remote control ataupun ponsel pintar yang dimiliki oleh penggunanya. Cermin ajaib ini dapat anda sambung dengan ponsel pintar yang ada miliki. Cermin pintar ini berfungsi mirip dengan cermin nenek sihir dalam dongeng-dongeng menjelang tidur. Cermin pintar ini dapat dunakan sebagi asisten pribadi, karena cermin ini mampu memberikan beragam informasi penting, dan dapat digunakan juga sebagia alat komunikasi, mampu memantau kesehatan anda melalui sebuah alat sensor otomatis yang telah disematkan pada cermin ini.

Itulah tiga jenis teknologi yang lagi-lagi marak diperbicangkan saat ini. Kemajuan teknologi yang terjadi telah memungkinkan sesuatu yang tadinya hanya sebuah imajinasi di dalam sebuah flm, dapat diubah menjadi kenyataan. Memang dengan modal teknologi, manusia memiliki kemampuan melakukan banyak hal; dari yang tadinya tidak mungkin akhirnya menjadi mungkin. Karena manusia tidak dapat bernafas dalam air layaknya ikan, untuk itu manusia menciptakan kapal selam. Kalau kita melihat burung yang bisa terbang dengan indah dan senangnya bebas diangkasa luar, maka untuk mengimbangi itu semua manusia menciftakan pesawat terbang.

Hanya satu hal yang tidak mungkin dapat dicptakan oleh manusia yaitu nyawa, karena untuk yang satu ini memang kuasa Illahi (Allah) semata saja.  



Wednesday, March 29, 2017

Jenis Gaya Bahasa Dalam Penulisan Cerpen

Betapa besar peranan bahasa dalam suatu cerita tertentu, dan hal ini diakui oleh semua orang. Semua unsur cerita sebagaimana tersebut dapat dinikmati apabila telah disampaikan atau dinyatakan dalam bahasa.
Jenis Gaya Bahasa Dalam Penulisan Cerpen
Jenis Gaya Bahasa Dalam Penulisan Cerpen
Apabila dilihat dari arti katanya maka gaya bahasa berarti cara tampil atau cara menampilkan diri. Karena bahasa dalam sebuah karya sastra berfungsi sebagai medianya, atau perantaranya, maka secara keseluruhan pengertian gaya bahasa adalah cara menampilkan diri dalam bahasa. Oleh karena itu, dari gaya bahasa akan terlihatlah keadaan pribadi seseorang. 

(Baca Tehnik Memperkenalkan Watak Pelaku Dalam Sebuah Cerpen)
(Baca Jenis Sudut Pandang Dalam Penulisan Cerpen)

Dengan gaya bahasa yang baik akan baiklah penilaian seseorang terhadapnya. Menurut Tarigan (seperti dirujuk dalam Suroto, 1990:114) Taringan mengambarkan bahwa gaya bahasa merupakan cara untuk menyampaikan pikiran melalui bahasa secara khas/khusus untuk memperlihatkan kepribadian  dan jiwa penulis (pengguna bahasa). Gaya bahasa juga merupakan ekspresi personal manusia untuk menyampaikan maksudnya dengan bahasa lisan maupun dengan bahasa tulisan. Setiap pengarang memiliki bahasa khasnya untuk melukiskan peristiwa-peristiwa lewat media bahasa, seperti jenis bahasa yang digunakan, kata-katanya, sifat atau ciri khas imajinasi, struktur, dan irama kalimat-kalimatnya.

Gaya bahasa seorang pengarang turut dipengaruhi oleh pendidikannya, usia, pengalaman, lingkungan, aliran, dan kecakapannya menuturkan cerita. Oleh karena itu, gaya bahasa seorang pengarang beraliran humanis akan berbeda dengan pengarang yang menganut aliran romantis.

Nurgiyantoro (2005:276) menyatakan gaya bahasa ditandai oleh ciri-ciri formal kebahasaan seperti pilihan kata, struktur kalimat, bentuk-bentuk bahasa figuratif, penggunaan kohesi dan lain-lain. Menurut Leech dan Short (dalam Nurgiyantoro, 2005:277) gaya bahasa merupakan cara penggunaan bahasa dalam konteks tertentu, oleh pengarang tertentu, untuk tujuan tertentu, dan sebagainya. Dengan demikian, gaya bahasa dapat bermacam-macam sifatnya, bergantung pada konteks di mana dipergunakan, selera pengarang, dan tujuan penuturan itu sendiri. Adanya konteks, bentuk, dan tujuan yang telah tertentu inilah yang akan menentukan gaya bahasa sebuah karya. Seorang pengarang jika menulis dalam konteks dan tujuan yang berbeda, misalnya dalam konteks fisikdan makalah ilmiah, mau tak mau akan mempergunakan gaya yang berbeda pula.

Gaya bahasa sangat beragam, hal itu disebabkan oleh dasar penggolongan yang berbeda. Kalau didasarkan pada penuturnya tentu sangat banyak dan tidak mungkin. Karena tujuan gaya bahasa untuk menarik perhatian, maka akan lebih baik jika dasar yang digunakannya adalah cara untuk mencapai tujuan itu.
Untuk bahan pengetahuan, penulis menurunkan secara singkat jenis-jenis gaya bahasa yang sudah sering dipakai dalam berbagai karya sastra. Gaya bahasa tersebut adalah sebagai berikut:

1. Asosiasi
Asosiasi ialah gaya bahasa yang memberikan perbandingan terhadap suatu benda yang sudah disebutkan.

2. Metafora
Metafora ialah gaya bahasa yang memperbandingkan suatu benda dengan benda lain. Kedua benda itu mempunyai kesamaan sifat.

3. Simbolik
Gaya bahasa ini melukiskan sesuatu dengan benda lain sebagai perbandingan.

4. Alegori
Alegori ialah suatu gaya bahasa yang memperlihatkan suatu perbandingan utuh. Beberapa perbandingan yang bertaut satu dengan yang lain membentuk satu kesatuan utuh.

5. Litotes
Gaya bahasa ini bisa dipakai untuk merendahkan diri.

6. Metonimia
Metonimia ialah gaya bahasa yang menyebutkan suatu kata tertentu sebagai pengganti yang dimaksud.

7. Hiperbola
Gaya bahasa ini menggunakan kata tertentu untuk melukiskan sesuatu yang lebih besar atau lebih hebat.

8. Personifikasi
Personifikasi ialah gaya bahasa yang menggambarkan benda-benda mati dapat berbuat atau bergerak seperti manusia.

9. Parabel
Gaya bahasa ini melukiskan pedoman hidup, filsafat hidup yang berguna bagi kehidupan. Biasanya kita harus memahami seluruh isi karangan yang kita baca.

10. Tropen
Gaya bahasa tropen ialah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu sejajar dengan pengertian yang diinginkan.

11. Sinekdoke
Sinekdoke ialah gaya bahasa yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhan atau sebaliknya.
a. Pars prototo: bermaksud sebagian untuk semua.
b. Totem proparte: bermaksud semua untuk sebagian.

12. Alusio
Alusio ialah gaya bahasa yang mempergunakan peribahasa atau ungkapan yang sudah diketahui umum.

13. Antonomasia
Gaya bahasa ini menyebutkan sesuatu tidak menyebutkan yang sebenarnya, tetapi diganti dengan nama lain yang sesuai dengan sifatnya.

14. Eufimisme
Gaya bahasa eufimisme ialah gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu dengan cara halus. Biasanya untuk menghindarkan diri dari yang dianggap tabu.

15. Perifrasis
Perifrasis adalah gaya bahasa penguraian. Sepatah kata diganti dengan serangkaian kata yang mengandung arti yang sama dengan kata yang digantikan itu.

16. Ironi
Ironi ialah gaya bahasa menyindir. Sesuatu benda atau perkataan dikatakan sebaliknya.

17. Sinisme
Sinisme disebut juga sindiran yang bermaksud mencemooh.

18. Sarkasme
Sarkasme adalah gaya bahasa sindiran yang amat kasar dan tajam.

19. Anakronisme
Gaya bahasa ini adalah menyatakan sesuatu yang bertentangan dengan sejarah.

20. Kontradisio interminis
Gaya bahasa ini merupakan gaya bahasa yang memperlihatkan suatu pernyataan yang sudah diucapkan disangkal lagi oleh ucapan kemudian.

21. Antitesis
Gaya bahasa ini menggunakan paduan kata-kata yang bertentangan artinya.

22. Paradoks
Dalam gaya bahasa ini diungkapkan pernyataan atau perbandingan yang bertentangan.

23. Pleonasme
Gaya bahasa ini menggunakan kata mubazir. Hal ini karena pengertian dimaksud sudah terkandung dalam kata-kata sebelumnya.

24. Paralelisme
Paralelisme ialah gaya bahasa perulangan dengan maksud mencapai efek yang besar. Bila kalimat yang diulang awal kalimatnya disebut anafora, sedangkan bila kata yang diulang pada akhir disebut efifora.

25. Repetisi
Gaya bahasa repetisi ialah gaya bahasa perulangan untuk mencapai efektifitas sebuah tutur.

26. Tautologi
Tautologi ialah gaya bahasa untuk memperjelas sesuatu maksud dengan menggunakan dua kata atau lebih yang hampir sama pengertiannya.

27. Klimaks
Gaya bahasa ini melukiskan sesuatu, semakin lama semakin keras atau hebat.

28. Antiklimaks
Antiklimaks adalah lawan klimaks. Kata-kata yang digunakan dalam gaya bahasa ini makin lama makin menurun.

29. Praterito
Dalam gaya bahasa ini penutur seolah-olah menyembunyikan atau merahasiakan sesuatu. Pembaca atau pendengar dibiarkan mengungkapkan sendiri apa yang sengaja dihilangkan atau tidak disebut.

30. Enumerasio
Gaya bahasa ini bermaksud melukiskan beberapa peristiwa utuh secara satu persatu supaya tiap-tiap peristiwa itu tampak dengan jelas.

31. Ekslamasio
Gaya bahasa ini memakai kata-kata seru untuk menengaskan arti.

32. Interupsi
Untuk menengaskan maksud, maka ditengah-tengah kalimat pokok disisipkan kata atau frase.

Jenis Sudut Pandang Dalam Penulisan Cerpen

Sudut pandang (point of view) adalah tempat atau posisi pengarang dalam kisahan yang dikarangnya: apakah ia berada di dalam cerita, di luar cerita, atau hanya sebagai pengamt yang berdiri di luar cerita. 
Jenis Sudut Pandang Dalam Penulisan Cerpen
Jenis Sudut Pandang Dalam Penulisan Cerpen
Nurgiyantoro (2005:248) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan sudut pandang atau point of view yaitu cara sebuah cerita dilukiskan. Sudut pandang juga merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan oleh pengarang sebagai saran untuk menyajikan tokoh, latar, tindakan, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca cerita. Dengan demikian, sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat, yang sengaja dipilih pengarang untuk menyampaikan gagasan dan ceritanya.


Sedangkan menurut Sumardjo (2004:28) pada dasarnya yang disebut dengan point of view adalah visi pengarang, artinya sudut pandangan yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita. Dalam hal ini, harus dibedakan dengan pandangan pengarang secara pribadi, sebab sebuah cerpen adalah pandangan pengarang terhadap kehidupan. Suara pribadi pengarang jelas akan masuk ke dalam karyanya. Ini lazim disebut gaya pengarang. Sedangkan point of view teknik bercerita saja, yaitu soal bagaimana pandangan pribadi pengarang akan bisa diungkapkan sebaik-baiknya. Untuk ini ia harus memilih karakter mana dalam cerpennya yang disuruh bercerita. Sekali lagi, pemilihan point of view amat penting sebab menyangkut masalah seleksi terhadap kejadian-kejadian cerita yang disajikan, menyangkut masalah ke mana pembaca akan dibawa, menyangkut masalah kesadaran siapa yang dipaparkan. Sumardjo (2004:29) membagi point of view sebagai berikut:

1) Omniscient point of view (sudut penglihatan yang berkuasa). 
Di sini pengarang bertindak sebagai segalanya. Ia bisa menciptakan apa saja yang ia perlukan untuk melengkapi ceritanya sehingga mencapai efek yang diinginkan. Ia bisa keluar dan masukkan para tokohnya. Ia bisa mengemukakan perasaan, kesadaran, jalan pikiran pelakunya. Bahkan pengarang juga bisa mengomentari kelakuan para pelakunya.

2) Objektive point of view. 
Dalam teknik ini pengarang seperti dalam teknik omniscient, hanya pengarang tidak memberi komentar apapun. Pembaca hanya disuguhi ‘pandangan mata’. Pengarang hanya menceritakan apa yang terjadi, seperti penonton melihat pementasan sandiwara. Pengarang tidak mau masuk ke dalam pikiran pelaku. Pada kenyataannya perbuatan orang lain, kita menilai kehidupan jiwanya, perasaannya, jalan pikirannya, kepribadiannya,  dan lain-lain. Motif perbuatan pelakunya hanya bisa kita nilai dari perbuatan mereka. Dalam hal ini jelas pembaca amat diharap partisipasinya. Penulis modern banyak memakai teknik ini. Ia ingin melepaskan segala inflikasi nilai dan hanya mau mengemukakan apa yang sebenarnya terjadi dengan cara memaparkan detail-detail kejadian itu sendiri. Karena dialog merupakan cara paling objektif untuk bercerita maka ia banyak mempergunakan dialog dalam cerpen-cerpennya.

3) Point of view orang pertama. 
Jenis Teknik ini sering kita jumpai dalam cerpen Indonesia. Jenis Gaya ini bercerita dengan sudut pandang ‘aku’. Ini kelihatan seperti orang menceritakan pengalaman sendiri saja. Dengan teknik ini pembaca diajak ke pusat kejadian, melihat, merasakan melalui mata kesadaran orang yang langsung bersangkutan. Justru dalam gaya ini pengarang harus berhati-hati, jangan mencampurkan pandangan pribadi pengarang dengan pandangan si ‘aku’ dalam cerita.

4) Point of view peninjau. 
Dalam teknik ini pengarang memilih salah satu tokohnya untuk bercerita. Seluruh kejadian cerita kita ikuti bersama tokoh ini. Dalam poin ini, Tokoh bisa bercerita tentang pandangan sendiri, pendapatnya atau, tetapi terhadap tokoh-tokoh lain ia hanya bisa memberitahukan pada kita seperti apa yang ia lihat pada kenyataannya saja. Jadi teknik ini berupa penuturan pengalaman seseorang, si dia. Hal ini cocok untuk cerita yang memerlukan realisme dan kesatuan, totalitas. Dalam beberapa hal efe teknik ini hampir sama dengan teknik orang pertama, tetapi teknik ini lebih fleksibel dalam bercerita. Pelaku utama point of view peninjau ini sering disebut teknik orang ketiga, yang pelakunya disebut pengarang dia, tentu saja lengkap dengan namanya. Untuk cerita yang bersifat introspeksi, mengudar pikiran dan perasaan, teknik ini bisa dipakai amat efektif.

Selanjutnya, Nurgiyantoro (2005:256-271) membagi sudut pandang sebagai berikut:

a) Sudut Pandang Persona Ketiga: ‘Dia’
Sudut pandang ini memposisikan pengarang sebagai narator yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita yang menyebut nama, atau kata gantinya; ia, dia, dan mereka. Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap atau terus menerus disebut dan sebagai variasinya dipergunakan kata ganti. Sudut pandang ini di bagi menjadi:

(1)‘Dia’ Mahatahu
Sudut pandang ‘dia’ mahatahu dalam literatur bahasa Inggris dikenal dengan istilah-istilah the omniscient point of view, third person omniscient, the omniscient narrator, atau author omniscient. Dalam sudut pandang ini, cerita dikisahkan  dari sudut ‘dia’, namun pengarang, narator, dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh ‘dia’ tersebut.

(2) ‘Dia’ Terbatas, ‘Dia’ sebagai Pengamat
Dalam sudut pandang ini (‘dia’ terbatas), seperti halnya dalam ‘dia’ mahatahu, pengarang melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh cerita, namun hanya terbatas pada seorang tokoh saja, atau terbatas dalam jumlah yang sangat terbatas. Tokoh cerita mungkin cukup banyak, yang juga berupa tokoh ‘dia’, namun mereka tak memberi kesempatan (tak dilukiskan) untuk menunjukkan sosok dirinya seperti halnya tokoh pertama.

Dalam teknik ini (‘dia’ terbatas) sering juga dipergunakan teknik narasi aliran kesadaran, strem of consciousness yang menyajikan kepada pembaca pengamatan-pengamatan luar yang berpengaruh terhadap pikiran, ingatan, dan perasaan yang membentuk kesadaran total pengamat. Sudut pandang cerita, menjadi bersifat objektif (objective of view), atau narasi objektif (objective narration). Namun, karena cerpen merupakan hasil kreasi imajinasi, pengarang dapat saja mengomentari atau menilai sesuatu yang diamatinya sesuai dengan pengamatan dan pengalamannya dari sudut pandang tokoh tertentu yang telah dipilih sebagai pengamat.

b) Sudut Pandang Persona Pertama: ‘Aku’
Dalam sudut pandang persona pertama, first person point of view, ‘aku’ pencerita (narator) terlibat dalam cerita. Si ‘aku’ tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran drinya sendiri (self-consciousness) mengisahkan peristiwa dan tindakan, yang diketahui, dilihat, didengar, dialami, dirasakan, serta sikapnya terhadap orang lain kepada pembaca.
Sudut pandang persona, ‘aku’ ini dibagi pula atas:

(1) ‘Aku’ Tokoh Utama
Dalam sudut pandang teknik ini, si ‘aku’ mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik bersifat batiniah, dalam diri sendiri, maupun fisik, hubungannya dengan sesuatu yang di luar dirinya sendiri. Si ‘aku’ menjadi fokus, pusat kesadaran, pusat cerita. Segala sesuatu berada di luar diri si ‘aku’, peristiwa, tindakan dan orang, diceritakan hanya jika berhubungan dengan dirinya, atau dipandang perlu. Jika tidak, hal itu tidak disinggung sebab si ‘aku’ mempunyai keterbatasan terhadap segala hal di luar dirinya, di samping memiliki kebebasan untuk memilih masalah-masalah yang akan diceritakan. Dalam cerita demikian, si ‘aku’ menjadi tokoh utama (first-person).

(2) ‘Aku’ Tokoh Tambahan
Dalam sudut pandang ini ‘aku’ bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai tokoh tambahan (first-person peripheral). Tokoh ‘aku’ hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca, sedangkan tokoh cerita yang sedang diceritakan itu kemudian ‘dibiarkan’ untuk mengisahkan sendiri berbagai pengalamannya. Tokoh cerita yang dibiarkan berkisah itulah yang kemudian menjadi tokoh utama, sebab dialah yang lebih banyak tampil, membawakan berbagai peristiwa, tindakan, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Setelah cerita tokoh utama habis, si ‘aku’ tambahan tampil kembali, dan dialah kini yang berkisah.

(3) Sudut Pandang Campuran
Penggunaan sudut pandang dalam sebuah cerpen pada dasarnya sama dengan novel mungkin saja lebih satu teknik. Pengarang dapat berganti-ganti dari teknik yang satu ke teknik yang lain untuk sebuah cerita yang dilukiskannya. Kesemua itu tergantung dari kemauan dan kreativitas pengarang, bagaimana mereka memanfaatkan berbagai teknik yang ada demi efektivitas penceritaan yang lebih, atau paling tidak untuk mencari variasi penceritaan agar memberi kesan lain.
Penggunaan sudut pandang campuran ini, mungkin berupa penggunaan sudut pandang persona ketiga dengan teknik ‘dia’ mahatahu dan ‘dia’ sebagai pengamat, person pertama dengan teknik ‘aku’ sebagai tokoh utama dan ‘aku’ tambahan atau sebagai saksi, bahkan dapat juga campuran antara persona pertama dan ketiga, antara ‘aku’ dan ‘dia’ sekaligus.
dan mengkonkretkan ciri-ciri kedirian tokoh yang telah dilukiskan dengan teknik yang lain

Tuesday, March 28, 2017

Management of School Based Curriculum Change

Management of School Based Curriculum Change.
Curriculum change management and development is an important activity for the improvement of education process and pursuit of school effectiveness. 
Management of School Based Curriculum Change
Management of School Based Curriculum Change
The changing educational environment, the high expectations from the public, the diverse educational needs of students, and the policy reports demand strongly educational change not only at the educational system level but also at the school-based level in local and international contexts. For example, some efforts on curriculum change management have been done at the system of district management and also at the school level, and it has been encouraged strongly in both primary secondary schools and senior high school in Aceh-Indonesia. Curriculum change management as a form of planned change in school of course will meet resistance and its implementation also will be affected by different organizational factors.
The aims of school based curriculum management is to improve  the implementation of curriculum by maximizing the effectiveness of teaching learning trough change in planed content, activities and arrangement of syllabus and lesson plan for educational process. In other hand, we may say that school based curriculum management aims to educate the teachers as the conductor curriculum at school level and other educations’ stakeholders to have good skill and knowledge in implement the curriculum. It is crucial to know what kind of curriculum change management is used by Ministry and District education department in southern Aceh, in order to get the effectiveness of curriculum implementation. 

Marsh and George Willis (1999:228), state that local capacity to implement an innovation can be improved by increasing financial support and the training of teachers as long as the increases are significant and continue over a period of years. McLaughlin 1987 as referenced in Marsh & Willis (1999:228), also reports that the structures and policies within the school and the relative stability and support for teachers can have a mayor effect upon their willingness to implement new curricula.  

As we know a curriculum starts as a plan. It becomes a reality only when teachers implement it with real student in a real classroom. Carefully planning, development and analysis are obviously important to have a good curriculum, but they count for nothing unless teachers have been trained about what they must do in arrange the syllabus and lesson plan to develop the curriculum in their classroom. 

KTSP as new curriculum in Indonesia, of course have a lot of obstacles at the beginning of the implementation of this curriculum. We know the teacher as the one who implement this curriculum at school level is supposed to have new understanding and knowledge about KTSP. In normal, we see that there are some teachers often wish to continue doing what they have been doing-sometime for good reason and sometime for a bad. In fact, teachers are as a key position to reject a new curriculum whether through the assumption of indifferent between new curriculum and previous curriculum, ignorance, and un-readiness to implement it. 

It is one thing to plan and then create new curriculum, another things to have that curriculum formally adopted by a school, and still another things to see that curriculum actually come into widespread use. There is no reason to suppose that teachers should enthusiastically embrace a curriculum that has been decided for them by others, Mars and George Willis (1999:165). The ministry and district education department as the one who in charge to implement new curriculum in Indonesia, should works hard in order to solve this problem. And of-course, they will use appropriate strategies and techniques to widespread this curriculum in order to carry on this curriculum at school level. It would be interesting to study the models and strategies conducted by ministry and district education department in southern Aceh to carry on this curriculum at district to school level in southern Aceh. 

Monday, March 27, 2017

The Principle of Education School Level Curriculum Development

The principle of Education School Level curriculum (KTSP) Development. In the previous I already described the The principle of implementation Education Unit Level Curriculum (KTSP) In Indonesia, here I would like to continue my writing on The principle of Education School Level curriculum (KTSP) Development. 
The principle of Education School Level curriculum
The principle of Education School Level curriculum
The point of Education School Level Curriculum development is not allowed to develop this curriculum freely without refer to the principles of Education School Level Curriculum (KTSP) Development. so the teachers who want to develop this curriculum (KTSP) should refer to the principle of Education School Level Curriculum Development. Here are the following of the principles of Education School Level Curriculum Development as mentioned by Mansnur Muslich (2008:11):
(1) Centered on the potential, progress, needs and interests of learners and their environment
The curriculum was developed based on the principle that learners have a central position to develop the competence to become a man of faith and duty to God Almighty, noble, healthy, knowledgeable, competent, creative, independent, and become citizens of a democratic and responsible. To support the achievement of these goals competency development, the curriculum designed referred to learners' potential, progress, needs and interests of learners and the demands of the environment. It’s means that learning activities is centered on the learner

(2) Diverse and integrated. The curriculum was developed by taking into value the diversity of learners' characteristics, local conditions, levels and types of education, and respect and not discriminating against religious differences, ethnic, cultural, customs, socio-economic status, and gender. The curriculum includes compulsory substance of components of the curriculum, such as local content, and integrated development, and arranged continuity meaningful and appropriate among the elements. 

(3) Responsive to the development of science, technology and art, curriculum was developed based on the Consciousness that science, technology and art developed dynamically. So that, the spirit and content of the curriculum gives students a learning experience to follow and take advantage of developments in science, technology, and art

(4) Relevant to the needs of life. Curriculum development carried out by involving stakeholders to guarantee the relevancy of education to the needs of life, including social life, business world and the world of work. Therefore, the development of personal skills, thinking skills, social skills, academic skills, and vocational skills is essential.

(5) Comprehensive and sustainable. The substance of the curriculum covers all dimensions of competence, the field of scientific study and subjects who are planned and presented continuously in all education level.

(6) Life long learning. The curriculum is directed to the development process, familiarization, and the empowerment of learners for a lifetime. The curriculum reflects the connection between the elements of formal education, and informal with respect to conditions and demands of environment and the direction of the whole human development

(7) Balance between national interests and regional interests. It means a curriculum that was developed suitable to the national education goals, where education which is conducted to create human beings who love the country, has an extensive knowledge to reach the standard of living better, without ignoring the values in their respective areas

Education School Level Curriculum Components 
Here is the following Education School Level Curriculum Components:
  1. The objective of Education School Level Curriculum 
  2. The structure of substance Education School Level 
  3. Education Calendar 
  4. Syllabus and Teaching planning program

However in developing Education School Level Curriculum, we should have referred to the following rules:
  1. The principle of Education School Level Curriculum development,
  2. The Principle of Content Standard 
  3. The principle of syllabus development and stages of its’ development 
  4. The development of teaching completion and assessment and graduation system. 


Saturday, March 25, 2017

The principle of implementation Education Unit Level Curriculum (KTSP) In Indonesia

Education Unit Level Curriculum (KTSP) is the newest curriculum in Indonesia, this curriculum as the solution to solve the Indonesia’s education problem. Education Unit Level Curriculum was implemented on 2006/2007, where this curriculum gives more freedom to schools and school committee to develop the school curriculum.  
The principle of implementation Education Unit Level Curriculum (KTSP) In Indonesia
The principle of implementation Education Unit Level Curriculum (KTSP) 
Government of Indonesia (Ministry of National Education) only gives signs legal instrument based on starting from the Law of the Republic of Indonesia number 20 on National Education Standards, the Indonesian Government Regulation Number 19 Year 2003 about National Education System, Regulation of the Minister of National Education No. 22 of 2006 on Content Standards for the Elementary and Secondary Education units, Ministerial Regulation No. 23 Year 2006 about the Graduates Competency Standards for Basic Education and secondary Unit, and Regulation of the Minister of National Education Number 24 Year 2006 About the Implementation of Regulations the Minister of National Education No. 22 Year 2006 and No. 23 Year 2006. However be based on the assumptions, all of Education unit (SD / MI, SMP / MTs, SMA / MA) is expected to develop KTSP as a basis for planning, implementing, and assessing learning for students.
In implementing the States’ policy, the government would have principle of policy that will be a basic foundation that will not be easy for being undermined by some people who have the different perceptions of these policies. The implementation of Curriculum Implementation Unit Level Education (KTSP) in Indonesia be based on the  application of a regularly Government of the Republic  Indonesia Number 20 Year 2003 on National Education system, the Indonesia Government Regulation number 19 Year 2005 on National Education Standards as outlined above.
In implementing Education Unit Level Curriculum in primary and secondary school, the arrangement of curriculum refer to Regulation of the Minister of National Education number 22 year 2006 about Content Standards for Basic Education and secondary Unit, where every school cooperates with the head education division in their district to organize syllabus referred to Content Standard set by Education Standards National Board (BNSP). 

(1) Education Unit Level Curriculum (KTSP)
Curriculum is as basic foundation to determine success or failure of an education in one State. Every nation has their own curriculum refer to their national education’s goal and philosophy, such as in Indonesia where Education Unit Level Curriculum refer to decentralization curriculum give the freedom to every provincial and district government in Indonesia to develop their school curriculum based on their district conditions. 
Education Unit Level Curriculum (KTSP) is the reformation of curriculum based competency (Kurikulum Berasaskan Competensi) that already implemented before Education Unit Level Curriculum. According DEPDIKAS (National Education Department) KTSP is wel known as Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah Kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan Pendidikan (DEPDIKNAS). Regarding to the syllabus arrangement, the Education Standard National Board (BNSP) already set the guidance of syllabus arrangement to make teacher easy to understand this curriculum. This guidance is supposed to be a reference for all education unit -Primary School (SD), Secondary School (SMP/MTs), Senior High School (SMA/MA)-  and should be implemented in their education unit. It is supposed to show their own specific character to carry out their school education system based on their culture, social, and environment. The national law number 20 year 2003 about National Education System on the explanation mentioned that one of the mandates of national education development strategy is the development and implementation of competency-based curriculum at the learning process, by emphasizing every students to get opportunity to learn to reflect their knowledge, skills and attitudes in their daily life (National Law Number 20 year 2003).  

The principles of the application of the teaching and learning activities (KBM) in Education School Level Curriculum (KTSP) are as stated by Masnur Muslich:
(1) berpusat pada siswa, (2) belajar dengan melakukan, (3) Mengembangkan kemampuan social, (4) mengembangkan keingin tahuan, Imajinasi dan fitrah manusia (5) mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah, (6) mengembangkan kreatitivitas siswa, (7) mengembangkan kemampuan mengunakan ilmu dan tehnologi, (8) Menumbuhkan kesadaran sebagai warga Negara yang baik (9) Belajar sepanjang hayat, (10) Perpaduan Kompetensi, kerja sama dan solidaritas (Masnur Muslich, 48:2007)

From the above explanations, students are supposed to be able to increase their understanding of concepts in learning knowledge to be applied in students’ critical thinking, and logic. The principle of Teaching and Learning Activities (KBM) above will achieve maximum results by combining various Methods, Techniques and Medias that allow all the senses are used in accordance with the characteristics of each lesson. Classroom-based assessment is an activity of gathering information about the process and results of student learning conducted by the teacher so that the assessment would be "measuring what is to be measured" from the students. The principle of class-based assessment is inseparable from the teaching and learning activities, using a reference standard, a variety of assessment (tests and non-test), reflecting the competence of students in a comprehensive, competency-oriented, valid, fair, open, continuous, meaningful, educated and conducted by teachers and students. These should be done together because only the teacher who best knows the achievement level of students in the class. After conducting series of assessments in accordance with the principles as mentioned above, then the parents will receive a report communicatively by emphasizing to the competence that has been achieved by children in school.
KTSP Management refers to "unity in diversity of policy in implementation", "unity in policy" marked by the schools using the same instruments of  KTSP, issued by the Ministry of National Education. Diversity in the implementation of the Education School Level Education is marked by diversity syllabus that will be developed by each school according to school characteristics, so many people and agencies that will play a role and responsibility in fulfilling it, such as: schools, teachers, district education division, provincial education offices and National Education Department (DEPDIKNAS). The principle of diversity in the implementation of KTSP showed by every school, and teacher in the field has a responsibility to translate Education School Level Curriculum (KTSP) into a syllabus that will be used in learning process in the classroom. Syllabus made by each school and the teachers were formulated base on school characteristics, the aspect of the school's ability, teacher capability, the ability of students, infrastructure owned by the school and so on.  There is no reference of the format and content in preparing the syllabus, so teachers are given great freedom to appreciate their ability to translate Education School Level Curriculum (KTSP). The formulation of syllabus can be done by involving the experts or the relevant agencies in local areas such as community leaders, government agencies, school committee, board of education, private institutions, companies, and industries. 
In developing education school level curriculum, the center government also formed a network of regional in each region, it is intended to avoid the diversity in interpreting skills and developing education school level curriculum in each region, and this network is hoped to help the head of education division to develop the concepts of education school level curriculum
According to Sutjipto, the forming of curriculum network in each region referred to:

(1) pengembangan kurikulum harus merupakan suatu siklus kontinuitas dan kompleksitas sebagai suatu proses, (2) pengembangan kurikulum harus merupakan sebagai bagian integral dan berkelanjutan dalam kebijakan perencanaan dan pengembangan sistem pendidikan, dan (3) pengembangan kurikulum sebagai fungsi berkelanjutan memerlukan mekanisme permanen secara nasional maupun regional untuk menghadapi berbagai persoalan yang timbul (Sutjipto,200). 

On the other hand, the curriculum managers in each region are supposed to acquire conceptual skills who are able think radically, understanding the concepts and curriculum theories, able to analyze a case based on the theoretical capacity and based on future demands and the community, and have interpersonal skills in order to ménage cooperation to other related agency. As we know curriculum is a plan of study and management about objective education including materials, contents, and teaching methods in order to get the education objective. That’s why curriculum as a plan of teaching is not only consists of course of study, course of content, teaching preparation in syllabus and teaching program, but also curriculum include all the written documents related to the foundation and principle of curriculum development, structure and brochures, as well as the procedures or guidelines of the implementation. 
As the researcher already described above, even though the school and all of education elements have authority to develop their own curriculum, but it is supposed to be referred to the Content Standard (SI) and the Graduation Standard (SKL) set by Education Standard National Board (BNSP) (Soemantrie:2008)

Thursday, March 23, 2017

Metode Menanggapi Sebuah Pementasan Drama

Ketika kita menjadi seorang juri dalam pementasan sebuah drama sebaiknya kita harus cakap dalam menilaimenanggapi pementasan tersebut. Disini saya akan sedikit membahas menganai kita-kiat mengggapai sebuah pementasan drama. Menanggapi adalah memberikan ulasan, komentar, pendapat dan kritik atau penilaian secara lisan terhadap suatu pementasan karya sastra. Seperti yang saya kutip dalam Depdiknas, (2004:206) ada beberapa tahapan dalam menanggapi pementasan drama yaitu sebagai berikut:
Metode Menanggapi Sebuah Pementasan Drama
Metode Menanggapi Sebuah Pementasan Drama
(1) Menghayati pementasan
Ini adalah sebuah Langkah awal yang harus dilakukan sebelum menanggapi pementasan karya sastra  adalah menghayati dengan sungguh-sungguh pementasan karya sastra yang akan ditanggapi. Setelah menyimak pementasan karya sastra dengan cermat ada dua hal yang ditanggapi dari pementasan karya sastra. Pertama, tanggapan terhadap karya sastra yang dipentaskan. Kedua, tanggapan terhadap teknik pementasan karya sastra.
(2) Menentukan topik yang akan ditanggapi
Sewaktu menyaksikan pementasan pusatkan perhatian pada isi karya sastra yang dipentaskan dan pada teknik pementasannya. Catatlah hal-hal penting yang pantas untuk ditanggapi. Ada dua hal yang dapat ditanggapi yaitu: “Unsur-unsur cerita drama yang dipentaskan dan  teknik pementasannya. Unsur-unsur drama yang dapat ditanggapi adalah tokoh dan karakternya, alur, latar, tema serta penggunaan bahasanya. Adapun teknik pementasan drama meliputi penghayatan, olah vokal dan penampilan”(Depdiknas, 2003:83). Sebelum memberikan tanggapan perlu kita mengetahui bagaimana kaidah pementasan karya sastra. Ada tiga kaidah yang harus diperhatikan yaitu: “Penghayatan, olah vokal dan penampilan” (Depdiknas, 2004:24). Artinya, di dalam pementasan drama seorang aktor atau aktris juga harus menghayati peran yang dibawakannya. Di samping itu, ia harus mampu mengucapkan bunyi bahasa dengan tepat, artikulasinya jelas, mengatur jeda dengan baik dan lancar dalam berbicara. Selanjutnya, ia juga harus mampu menguasai panggung, mengatur gerak agar tidak berlebihan dan menampilkan mimik yang alamiah.

(3) Mempersiapkan alasan yang logis
Di atas telah disebutkan bahwa menanggapi  pementasan karya sastra bermakna memberikan alasan, komentar, pendapat dan kritik secara lisan terhadap pementasan karya sastra. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dimaknai bahwa tanggapan itu merupakan pendapat pribadi. Pendapat itu agar dapat diterima orang lain maka orang yang memberikan tanggapan itu harus dapat memberi pendapat  yang jelas dan masuk akal.

(4) Menyusun kerangka
Berdasarkan butir-butir tanggapan yang telah dibuat baru kemudian  menyusun kerangka tanggapan. Butir-butir tanggapan itu hendaknya disusun secara beruntun sesuai dengan uraian tanggapan yang akan  disampaikan.  Demikian juga bukti-bukti atau argumen yang akan dikemukakan untuk mendukung pendapat harus disusun secara sistematis.
Kerangka tanggapan identik dengan kerangka pembicaraan. Kerangka pembicaraan yang tersusun baik akan bermanfaat bagi pembicara sendiri dan pendengar. Bagi pembicara kerangka itu berfungsi sebagai pedoman atau penuntun arah dalam berbicara. Sedangkan, bagi pendengar kerangka dapat berfungsi sebagai sarana yang memudahkan untuk mengikuti dan memahami isi pembicaraan.

(5) Menyampaikan tanggapan secara lisan.
Baru kemudian menanggapi secara lisan pementasan karya sastra. Pembicara hendaknya berpedoman pada butir-butir yang telah disiapkan dan hendaknya menyampaikan butir-butir itu satu demi satu secara wajar tidak berlebih-lebihan apalagi dibuat-buat. Adakan kontak dengan pendengar melalui pandangan mata, anggukan, senyuman dan perhatian agar terjalin komunikasi yang baik.
Penyampaian tanggapan menggunakan bahasa yang sederhana sesuai dengan taraf kemampuan pendengar. Usahakan agar  berbicara dengan santun dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Atur suasana agar tidak terlalu formal. Suara Anda hendaknya jelas sehingga dapat didengar oleh seluruh pendengar dan hindari sikap-sikap yang kurang baik seperti: menggaruk-garuk kepala, mencuil-cuil hidung dan telinga serta terlalu banyak bergerak.
Kegiatan menanggapi secara lisan pementasan karya sastra merupakan bagian dari kegiatan berbicara. Sebagai bagian dari kegiatan berbicara hendaknya memenuhi kaidah-kaidah berbicara. Pemenuhan terhadap kaidah-kaidah berbicara itu pada akhirnya akan menghasilkan pembicara yang ideal.

Sebelum sampai pada uraian tentang kaidah-kaidah yang harus dipenuhi oleh seseorang yang menanggapi secara lisan pementasan karya sastra ada baiknya kita mengetahui ciri-ciri pembicara yang ideal. Menurut Tarigan (dalam Imam dkk, 2004:86) menyebutkan ada beberapa ciri-ciri pembicara yang baik adalah sebagai berikut: 

(a) Memilih topik dengan tepat;
(b) Menguasai materi;
(c) Memahami latar belakang pendengar; 
(d) Mengetahui situasi;
(e) Tujuannya jelas;
(f) Kontak dengan pendengar; 
(g) Kemampuan linguistiknya tinggi; 
(h) Menguasai pendengar;
(i) Memanfaatkan alat bantu; 
(j) Penampilannya meyakinkan dan 
(k) Berencana.

Berpedoman pada ciri-ciri pembicara ideal tersebut dapat dirumuskan tentang kaidah-kaidah yang harus dipenuhi dalam menanggapi secara lisan pementasan karya sastra. Adapun kaidah-kaidah itu meliputi: “Ketepatan, kelancaran, kewajaran, dan  penggunaan bahasa”( Depdiknas, 2004:86).
Ketepatan berkenaan dengan aspek kesesuaian isi tanggapan dengan hal yang ditanggapi. Ketepatan juga berhubungan dengan kesesuaian antara tanggapan dan alasan terhadap tanggapan yang dikemukakan. Jika tanggapan itu berupa penilaian terhadap pementasan drama, misalnya pembicara harus memberikan alasan yang kuat tentang penilaiannya itu berdasarkan bukti-bukti yang nyata.
Kelancaran berhubungan dengan ada tidaknya hambatan pada saat menanggapi secara lisan pementasan karya sastra. Penuturan yang tidak tersendat-sendat dan tidak banyak jeda untuk memberi waktu berpikir adalah pertanda kelancaran berpendapat.

Kewajaran artinya dalam penampilan juga merupakan sesuatu yang patut mendapat perhatian. Kewajaran gerak dan mimik merupakan bagian penting yang akan mendukung keberhasilan seseorang dalam menanggapi secara lisan di samping kesantunan dalam bersikap. Masalah penggunaan bahasa artinya di dalam menanggapi secara lisan pementasan karya sastra diharapkan dapat menggunakan bahasa yang komunikatif, kata dan kalimat yang sederhana, santun, mudah dipahami, artikulasi jelas dan pelafalan serta intonasi yang tepat.  Dengan kata lain, aspek kebahasaan yang perlu diperhatikan adalah aspek pelafalan, intonasi, artikulasi, pilihan kata dan susunan kalimat.

Berdasarkan uraian di atas akhirnya dapat dibuat alat penilaian kemampuan menanggapi secara lisan pementasan karya sastra yang meliputi empat komponen yaitu: ketepatan, kelancaran, kewajaran dan penggunaan bahasa. Menurut Imam dkk (2004:87-88) berikut ini disajikan diskripsi tiap-tiap komponen penilaian sebagai berikut:

a. Ketepatan
  1. Kesesuaian isi;
  2. Keruntutan tanggapan;
  3. Kelogisan alasan.

b. Kelancaran
  1. Tidak tersendat-sendat;
  2. Tidak banyak jeda/ perhentian.

c. Kewajaran
  1. Kewajaran gerak;
  2. Kewajaran mimik;
  3. Kewajaran sikap.

d. Penggunaan bahasa
  1. Pelafalan tepat;
  2. Intonasi tepat;
  3. Artikulasi jelas;
  4. Pilihan kata tepat dan santun;
  5. Kalimat sederhana dan komunikatif.

Komponen penilaian di atas sifatnya tidak mutlak. Berdasarkan pengalaman di lapangan tentunya dapat dimodifikasikan sesuai dengan kebutuhan.

Wednesday, March 22, 2017

Tehnik Memperkenalkan Watak Pelaku Dalam Sebuah Cerpen

Ketika seorang Penulis memperkenalkan kepada kita bagaimana watak pelaku, secara garis besar ada dua cara seorang Penulis/pengarang memperkenalkan karakter dalam tokoh cerita mereka, yaitu:
Memperkenalkan Watak Pelaku dan Setting Dalam Sebuah Cerpen
Tehnik Memperkenalkan Watak Pelaku Dalam Sebuah Cerpen

A) Teknik Ekspositoris
Teknik ini disebut juga dengan teknik analitis, yaitu penggambaran karakter tokoh dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, penjelasan secara langsung. Tokoh cerita hadir dan dihadirkan oleh pengarang kehadapan pembaca secara tidak berbelit-belit, melainkan begitu saja dan langsung disertai deskripsi kediriannya, yang mungkin berupa sikap, sifat, watak, tingkah laku, atau bahkan secara fisik.

(Baca Pengertian Cerpen dan Struktur Penulisan)
(Baca Pengertian Jenis dan Tingkatan Tema Dalam Penulisan)

B) Teknik Dramatik
Teknik dramatik, artinya mirip dengan yang ditampilkan dalam drama, dilakukan secara tidak langsung. Artinya, pengarang tak mendeskripsikan secara eksplisit (gamblang) sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Pengarang melukiskan karakter pelakunya melalui aktivitas baik verbal  melalui kata maupun nonverbal lewat tindakan atau tingkah laku, dan juga melalui peristiwa yang terjadi.

Wujud penggambaran teknik dramatik dapat dilakukan dengan sejumlah teknik. Biasanya pengarang menggunakan teknik itu secara bergantian dan saling mengisi. Berbagai teknik tersebut yang dimaksud antara lain:

(1) Teknik Cakapan
Teknik cakapan ini dilakukan/diterapkan pada tokoh-tokoh cerita yang biasanya dimaksudkan untuk menggambarkan sifat-sifat tokoh yang bersangkutan.

(2) Teknik Tingkah Laku
Jika teknik cakapan dimaksudkan untuk menunjukan tingkah laku verbal yang berwujud kata-kata para tokoh, teknik tingkah laku menyarankan pada tindakan nonverbal, fisik. Apa yang dilakukan orang dalam wujud tingkah laku/tindakan, dalam banyak hal dapat dipandang sebagai reaksi, tangggapan, sifat, dan sikap yang mencerminkan sifat-sifat kediriannya.

(3) Teknik Pikiran dan Perasaan
Dalam teknik ini pengarang menggambarkan karakter pelaku melalui pengungkapanpikiran dan perasaan yang tercermin dalam kata-kata, tingkah laku, sikap, dan pandangan pelaku. Bahkan, pada hakikatnya, ”tingkah laku” pikiran dan perasaan yang kemudian diejawantahkan menjadi tingkah laku verbal dan nonverbal. Perbuatan dan kata-kata merupakan perwujudan konkret tingkah laku pikiran dan perasaan. Di samping itu, dalam tingkah laku secara fisik dan verbal, orang mungkin berlaku atau dapat berpura-pura, berlaku secara tidak sesuai dengan yang ada dalam pikiran dan hatinya. Namun, orang tak mungkin dapat berlaku pura-pura terhadap pikiran dan hatinya sendiri.
Dalam karya fiksi, keadaan tersebut akan lain. Karena, hanya itu merupakan sebuah bentuk yang sengaja dikreasikan dan disiasati oleh pengarang, maka jika terjadi kepura-puraan tingkah laku tokoh yang tidak sesuai dengan pikiran dan hatinya, hal itu akan diberitahukan kepada pembacanya. Dengan demikian, pembaca menjadi tahu. Lebih dari itu, pembaca justru akan dapat menafsirkan sifat-sifat kedirian itu berdasarkan jalan pikiran dan perasaannya.

(4) Teknik Arus Kesadaran
Teknik arus kesadaran (stream of consciousness) berkaitan dengan teknik pikiran dan perasaan. Keduanya tidak dapat dibedakan secara pilah, bahkan mungkin dianggap sama karena memang sama-sama menggambarkan tingkah laku tokoh. Dewasa ini dalam fiksi moder4n teknis arus kesadaran banyak digunakan untuk melukiskan sifat-sifat kedirian tokoh. Arus kesadaran merupakan sebuah teknik narasi yang berusaha menangkap pandangan dan aliran proses mental tokoh, di mana tanggapan panca indera akan bercampur dengan ketidak sadaran dan kesadaran dan pikiran, ingatan, perasaan, harapan, dan asosiasi-asosiasi acak. 
Aliran kesadaran berusaha menangkap dan mengungkapakan proses kehidupan batin, yang hanya memang terjadi di batin, baik yang berada diambang kesadaran maupun ketaksadaran, termasuk kehidupan bawah sadar, atau minimal yang berada di pikiran dan perasaan manusia, jauh lebih banyak dan kompleks daripada yang dimanifestasikan ke dalam perbuatan dan kata-kata. Dengan demikian, teknik ini banyak mengungkapakan dan memberikan informasi tentang kedirian tokoh. Arus kesadaran sering disamakan dengan interior monologue, monolog batin. Penggunaan arus kesadaran, monolog batin itu, dalam penokohan dapat dianggap sebagai usaha untuk mengungkapkan informasi yang sebenarnya tentang kedirian tokoh karena tak sekedar menunjukkan tingkah laku yang diindera saja.

(5) Teknik Reaksi Tokoh
Teknik reaksi tokoh dimaksudkan sebagai reaksi tokoh terhadap sesuatu kejadian, masalah, keadaan, kata, dan sikap tingkah laku orang, dan sebagainya yang berupa ”rangsangan” dari luar diri tokoh yang bersangkutan. Bagaimana reaksi tokoh terhadap hal-hal tersebut dapat dipahami sebagai sebuah bentuk penampilan yang mencerminkan sifat-sifat kedirian mereka.

(6) Teknik Reaksi Tokoh Lain
Reaksi tokoh-tokoh lain dimaksudkan sebagai reaksi yang diberikan oleh tokoh-tokoh lain terhadap tokoh utama, atau tokoh yang dipelajari kediriannya, yang berupa pandangan, pendapat, sikap, komentar, dan lain-lain. Pendek kata: penilaian kedirian tokohy (utama) cerita oleh tokoh-tokoh cerita yang lain dalam sebuah karya.

(7) Teknik Pelukisan Latar
Dalam teknik ini, pengarang mencoba menggambarkan penokohan tokoh dengan menampilkan latar (tempat) sekitar tokoh. Pelukisan suasana latar dapat lebih mengintensifkan sifat kedirian tokoh seperti yang telah diungkapkan dengan berbagai teknik yang lain. Keadaan tertentu, memang dapat menimbulkan kesan yang tertentu pula dipihak pembaca. Misalnya suasana rumah yang bersih, teratur, rapi, tak ada barang yang bersifat mengganggu pemandangan, dan akan mendatangkan kesan seolah-olah bahwa pemilik rumah itu sebagai orang yang sangat peduli dengan kebersihan, lingkungan, teratur, teliti, dan lain-lain.

(8) Teknik Pelukisan Fisik
Keadaan seseorang sering berkaitan dengan keadaan kejiwaannya, atau paling tidak, pengarang mencoba dengan sengaja mencari dan menghubungkan adanya keterkaitan. Pelukisan keadaan fisik tokoh, dalam kaitannya dengan penokohan, kadang-kadang memang terasa penting. Keadaan fisik tokoh perlu dilukiskan, terutama jika memiliki bentuk fisik khas sehingga pembaca dapat menggambarkan secara imajinatif. Di samping itu, ia juga dibutuhkan untuk mengefektifkan dan mengkonkretkan ciri-ciri kedirian tokoh yang telah dilukiskan dengan teknik yang lain.

C. Latar (setting)
Latar atau setting adalah segala keterangan mengenai tempat, waktu, ruang, dan suasana yang diceritakan dalam sebuah karya. Meskipun cerpen merupakan dunia kreasi imajinatif, penggunaan latar yang tepat juga memegang peranan agar peristiwa-peristiwa sebagai unsur berupa sarana penyampaian ide, gagasan, amanat, dan lain-lain terkesan wajar. Nurgiyantoro (2005:216) menyebutkan bahwa latar (setting) dan juga dinamakan landas tumpuan untuk menyarankan pada pengertian hubungan waktu, tempat, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan tersebut. Dengan demikian, setting tidak hanya diartikan sebagai tempat terjadinya peristiwa cerita, melainkan harus diartikan sebagai tempat terjadinya peristiwa cerita, melainkan harus diartikan sebagai unsur yang kompleks dan mempunyai jalinan yang sangat erat dengan tema, perwatakan,  dan unsur-unsur ceritanya. Bila sebuah setting fisik dapat diganti dengan tempat lain tanpa berpengaruh pada tema dan perwatakan tokoh, maka setting tersebut tidak integral (menyatu) dengan unsur ceritanya.

Latar dalam karya fiksi tidak terbatas pada penempatan tempat lokasi tertentu, atau sesuatu yang bersifat fisik saja, melainkan yang berwujud tata cara, adat istiadat, kepercayaan, dan nilai-nilai yang berlaku di tempat yang bersangkutan. Hal-hal yang disebut terakhir inilah sebagai latar spiritual ‘spiritual setting’. Llatar spiritual ini adalah latar yang mengandungi nilai-nilai yang melingkupi dan dimiliki oleh latar fisik. Latar sebuah karya fiksi kadang-kadang menawarkan berbagai kemungkinan yang justru dapat lebih menjangkau di luar makna cerita itu sendiri (Nurgiyantoro:220). Berbagai elemen latar dengan sifat-sifat kekhasannya menawarkan kemungkinan-kemungkinan lain, misalnya kemungkinan adanya temu budaya, baik budaya dalam lingkungan nasional, budaya antardaerah, maupun lingkup internasional, budaya antarbangsa.

Seterusnya, menurut sifat latar, Nurgiyantoro menyebutkan ada dua yaitu latar netral dan latar tipikal. Latar netral yaitu latar sebuah karya fiksi yang hanya berupa latar yang sekedar latar, berhubung sebuah cerita memang membutuhkan latar tumpu, pijakan. Sebuah nama tempat hanya sekedar sebagai tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan, tak lebih dari itu. Sedangkan latar tipikal yaitu latar yang memiliki dan menonjolkan sifat khas tertentu, baik yang menyangkut unsur tempat, waktu, maupun sosial. Oleh karena itu, latar tipikal digarap secara teliti dan hati-hati oleh pengarang, antara lain dimaksudkan untuk mengesani pembaca agar cerita tampak realistis, terlihat sungguh-sungguh diangkat dari latar faktual. Latar tipikal secara langsung akan berpengaruh terhadap pengaluran dan penokohan.
Kehadiran latar tipikal dalam sebuah karya fiksi, dibandingakan dengan latar netral, lebihmeyakinkan, memberikan kesan dan imajinasi secara konkret terhadap imajinasi pembaca. Namun, perlu ditegaskan, perbedaan antar latar netral dengan latar tipikal tidaklah bersifat pilah. Ia juga lebih bersifat gradasi, walau tak dapat dipungkiri bahwa ada karya fiksi tertentu yang benar-benar berlatar netral, atau sebaliknya berlatar tipikal.