Tuesday, February 28, 2017

Pembelajaran Apresiasi Puisi dengan Model Sanggar Sastra

Pembelajaran Apresiasi Puisi dengan Model Sanggar Sastra. Sanggar sastra sebagai wadah kegiatan sastra memiliki tujuan untuk memberdayakan sastra dan ingin memompa sastra agar lebih berkualitas. Melalui sanggar sastra, aspirasi dari setiap siswa akan terkover dan memiliki tempat untuk menuangkan dan mengapresiasi karya sastra di dalam sanggar sastra. Sanggar sastra adalah bingkai komunitas yang memiliki kegiatan yang sejalan untuk memberdayakan sastra, antara lain; menciptakan karya sastra, menampilkan karya sastra, mengapresiasi karya sastra, bereksperimen sastra, dan lain-lain.
Pembelajaran Apresiasi Puisi dengan Model Sanggar Sastra
Pembelajaran Apresiasi Puisi dengan Model Sanggar Sastra

Sanggar sastra berfungsi sebagai tempat untuk bertukar pikiran, ilmu, dan segala wawasan dalam hal pengembangan sastra. Di dalam sanggar sastra, siswa akan saling berdiskusi, saling membahas, saling mengkritik, dan lain-lain untuk kemajuan kerja kreatif masing-masing. Konteks ini mengandung pesan bahwa sanggar sastra tidak jauh berbeda dengan sebuah perguruan; di dalamnya ada kontak aktivitas pembina dengan anggota.
Visi dan misi sanggar sastra cukup jelas dan terang. Visi yang dikedepankan adalah mengadakan gerakan moral kesastraan untuk meningkatkan kiprah sastra (Endraswara 2003:94). Visi semacam ini lebih diarahkan untuk mewadahi para anggota yang memiliki keinginan untuk berlatih, membina, dan mengembangkan kesastraan. Sanggar sastra lebih memupuk aktivitas kreativitas sastra menuju masa depan yang lebih cerah. 
Misi yang diemban setiap sanggar berbeda-beda satu dengan yang lain. Misi tersebut tergantung lokasi dan jangkauan masing-masing sanggar. Namun, secara umum misi sanggar dapat dikemukakan sebagai berikut (Endraswara 2003:94-95).
1) Pembenahan keadaan, perencanaan, dan pelaksanaan aktivitas sanggar untuk meningkatkan kualitas sastra.
2) Menumbuhkan kerjasama antarlembaga sastra dengan tujuan untuk meningkatkan kiprah sastrawan.
3) Ikut membantu program-program pemerintah khususnya bidang pendidikan humaniora, kesastraan, dan kebudayaan untuk menyambut kehidupan yang sejahtera.
4) Untuk meningkatkan dan menghidupkan sanggar diupayakan aktivitas;
  1. Menggalakkan minat baca karya sastra dengan membuat kelompok-kelompok pembaca sastra menurut genrenya
  2. Menerbitkan buku-buku sastra yang sistematis
  3. Menyelenggarakan penataran dan lokakarya bagi pengarang dan sayembara-sayembara, serta penulisan jurnalisme sastra,
  4. Mengelola perpustakaan sastra.
Baik visi maupun misi sanggar tentu ada penjabaran dan langkah-langkah untuk mencapainya. Pelaksanaan visi dan misi biasanya telah dirancang oleh pengurus yang dibentuk bersama. Sanggar adalah kegiatan yang tidak mengedepankan aspek material, melainkan lebih mendorong ke arah spiritual. Kepuasan batin adalah yang lebih banyak mewarnai kegiatan sanggar sastra. Oleh sebab itu, sanggar sastra tidak mengenal jam pelajaran (batas waktu) dan tempat yang khusus. Apabila proses demikian diterapkan di sekolah, peran guru amat diperlukan dalam membina siswa untuk berpartisipasi dalam sanggar. Sanggar dapat dijadikan kegiatan ekstrakurikuler  agar siswa semakin leluasa berolah sastra. Namun, dapat juga dimasukkan ke dalam kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam berolah sastra. 

Strategi Sanggar Sastra
Kegiatan sanggar sastra dilakukan secara sederhana, melalui penggalangan dalam pentas sastra, melalui penerbitan karya nyata, dan sebagainya. Hal ini dapat dilakukan di sekolah dengan cara menggalang anggota sanggar secara sukarela. Pada umumnya jika sanggar sastra dikelola oleh sekolah dan dipimpin langsung oleh guru, hampir semua siswa akan ikut aktif. 
Kegiatan-kegiatan sanggar sastra terangkum ke dalam strategi pembinaan kreativitas, mulai pembacaan, apresiasi, cipta sastra, dan kritik sastra. Secara garis besar, kegiatan itu dapat dilihat sebagai berikut:

1) Diskusi, sarasehan, ceramah, bedah buku sastra, terlebih lagi membicarakan karya para anggota sanggar sastra. Pembicara tidak harus dari luar anggota sanggar, tetapi dapat diambil dari teman sendiri.

2) Lokakarya penciptaan sastra dan pementasan. Latihan pentas dan baca sastra di panggung dilakukan terutama menjelang peringatan hari besar dan tutup tahun/ semester.

3) Pentas dan baca sastra melalui media elektronik, yaitu untuk mengisi siaran radio swasta terdekat.

4) Penerbitan lembar komunikasi sastra dan majalah sastra. Media ini diterbitkan sendiri secara terbatas dan dana kecil-kecilan. Yang penting sosialisasi karya tersebar luas.

5) Berkunjung, wisata, kemping sastra, ziarah sastra, dengan tujuan untuk eksplorasi kreatif.

6) Mengikuti lomba-lomba sastra, dengan cara memacu anggota untuk mengikuti berbagai perlombaan. Jika mereka ada yang menang, lalu diminta berbicara di tengah-tengah anggota sanggar untuk menjelaskan proses kreatifnya. Penerbitan buku atau antologi karya anggota sanggar.
(Endraswara 2003: 97)

Kompetensi Sanggar Sastra di Sekolah
Sanggar sastra dapat dijadikan salah satu alternatif pengajaran KTSP sastra yang dapat meningkatkan kemampuan siswa terhadap karya sastra secara mendalam. Melalui  sanggar sastra, siswa juga diajak mengelola organisasi bernama sanggar sastra. Sanggar sastra di samping sebagai model pengajaran juga akan menanamkan tata cara berorganisasi secara estetis. Jika guru mampu membentuk sanggar sastra di sekolah tentu akan menambah wawasan estetis siswa. Sanggar termasuk kegiatan ekstrakurikuler, tetapi dapat secara langsung dikaitkan dengan pokok bahasan sastra dalam kegiatan kurikuler karena dalam KTSP sastra, sesungguhnya batas kurikuler dan ekstrakurikuler sebenarnya tipis sekali dan saling mengisi. Jika sanggar sastra tersebut berada dalam kegiatan ekstra, justru pengajar akan lebih leluasa untuk memasukkan figur lain di luar sekolah untuk ikut andil dalam pengajaran. Sanggar juga lebih leluasa untuk melakukan eksplorasi dan pentas-pentas di luar sekolah sebagai salah satu wujud nyata hasil pengajaran. Berdasarkan hal tersebut, kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh siswa dengan adanya sanggar sastra di sekolah antara lain sebagai berikut:

1) Siswa mampu mengelola sanggar sastra sebagai aset aktivitas estetis berupa keterampilan berolah sastra.

2) Siswa mengikuti sanggar sastra tanpa ada paksaan, didorong oleh kesadaran diri bahwa pengalaman sastra secara langsung akan diperoleh di dalamnya.

3) Siswa dapat melakukan pentas sastra dalam situasi apa pun, seperti mengisi siaran radio, mengisi peringatan hari besar nasional, dan gemar mengikuti lomba-lomba sastra.

4) Siswa mampu menghasilkan produk sastra secara rutin dan berkualitas.

Jika keempat kompetensi di atas dapat terpenuhi, akan dapat menjadi catatan guru dalam memberikan penilaian akhir. Siswa yang berkali-kali dalam setiap semester mengikuti atau mengisi aktivitas sastra, baik di sekolah maupun di luar sekolah tentu akan mendapat nilai plus.

Jenis Metode Pembelajaran Apresiasi Puisi

Pembelajaran Apresiasi Puisi. Pengajaran merupakan alat pendidikan untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, setiap pengajaran harus mempunyai tujuan yang jelas dan terencana dengan baik. Demikian pula dengan pembelajaran puisi, pelaksanaannya harus mempunyai rumusan yang jelas. Hal ini sangat penting karena akan menjadi pegangan bagi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran Sastra (Apresiasi Puisi)
Pembelajaran Apresiasi Puisi

Pembelajaran sastra bertujuan memberikan kepada siswa pengalaman tentang karya sastra. Siswa diharapkan dapat memahami dan mengaplikasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai bekal bagi pengembangan jiwa dan kepribadiannya. Hal ini sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah digariskan dalam kurikulum, yaitu siswa mampu menikmati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra sebagai sarana pengembangan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan juga untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
Pengetahuan tentang sastra dapat diajarkan oleh guru kepada siswanya. Akan tetapi, untuk memperoleh pengalaman tentang sastra harus disediakan kesempatan agar siswa terlibat secara langsung, mengalami atau mendengarkan karya sastra sehingga akan mencapai tujuan pengajaran yang memuaskan. 
Pembelajaran puisi merupakan aktivitas guru dan siswa dalam menikmati puisi. Sebelum mempelajari puisi, pengajar dituntut terlebih dahulu menghayati makna puisi yang hendak dipelajari dan kemudian menyajikan puisi itu dengan menarik. Unsur yang sangat penting dalam pembelajaran puisi adalah penikmatan terhadap puisi, penimbangan, dan sikap menghargai sebuah puisi.

Kritikus sastra terkemuka di dunia, I.A. Richards ( Wilson Nadeak, 1985:33) memberikan perumusan atas hakikat puisi yang mengandung makna keseluruhan sebagai berikut.

a. Tema atau makna
Penyair ingin mengemukakan sesuatu kepada pembaca, sesuatu kejadian yang dialaminya, dipersoalkan, dan dipermasalahkan dengan caranya sendiri.

b. Rasa
Suatu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terkandung dalam puisinya. Dua orang penyair dapat menyairkan objek yang sama dengan sikap yang berbeda.

c. Nada
Nada ini sangat berhubungan dengan tema dan rasa yang terkandung dalam sajak tersebut. Pada saat pribadi atau masyarakat menderita tekanan maka timbullah pemberontakan atau keluhan, jeritan yang bernada sinis.

d. Tujuan (amanat)
Setiap penyair mempunyai tujuan dengan sajak-sajaknya, baik disadari atau tidak. Tujuan ini diungkapkan penyair berdasarkan pandangan hidupnya.ada puisi yang religius, ada yang filosofis dan sebagainya, semuanya berdasarkan pandangan hidup penyair itu sendiri.

Keempat unsur yang disebutkan di atas tidaklah berdiri sendiri-sendiri, kesemuanya saling mengukuhkan dalam sebuah puisi yang sudah jadi dan berhasil.

A. Pengertian Puisi
Jassin (1977:40 –1) dalam Wilson Nadeak (1985:16) mengatakan bahwa puisi adalah pengucapan dengan perasaan, dalam puisi itu pikiran dan perasaan seolah bersayap, ditambah lagi oleh syarat-syarat keindahan bahasa mengenai tinggi rendahnya tekanan suara (ritme), bunyi, dan lagu. Penyair   mengungkapkan gejolak batinnya yang indah ke dalam wujud yang utuh, didukung oleh perasaan, pikiran, dan cita-citanya. Ketiga unsur itu menggemakan getar jiwa. Unsur-unsur itu saling mendukung dan mengisi. Puisi yang indah bukan hanya merupakan letupan-letupan luahan perasaan saja, akan tetapi juga merupakan perpaduan dari perasaan, pikiran, dan keinnginan/kehendak. Penyatuan dari Ketiganya itu melahirkan satu kepaduan yang disebut dengan keindahan. Kata ‘puisi’ atau ‘sajak’ sebenarnya berasal dari bahasa Yunani ‘poiesis’ yang bermakna penciptaan. Di dalam buku Ensiklopedia Indonesia N-Z (edisi lama, tanpa tahun: 1147) dalam Wilson Nadeak (1985:18) memberi pengertian bahwa puisi adalah hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat-syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak, dan kadang-kadang kata-kata kiasan.
Sementara itu Waluyo (1991:25), menyebutkan bahwa puisi merupakan bentuk karya sastra yang digunakan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batin dalam sebuah puisi. Ungkapan pikiran dan perasaan penyair yang dilakukan secara imajinatif dengan menggunakan kekuatan bahasa untuk berkomunikasi dengan pembaca dan pencinta sastra khususnya karya puisi.

B. Memahami Puisi   
Usaha penikmatan suatu karya puisi sangat erat hubungannya dengan pemahaman. Hutagalung dalam Wilson Nadeak (1985:26) berpendapat bahwa seperangkat pengetahuan diperlukan seseorang untuk memahami sebuah puisi, apalagi untuk menikmatinya.
Modal yang utama untuk memahami puisi adalah hati yang terbuka dan pikiran yang terbuka. Yang dimaksud dengan terbuka di sini adalah mencoba membiarkan pikiran kita berkelana, menjelajahi dunia yang diciptakan oleh penyair, dan kemudian mereguk makna kehidupan yang terkandung dalam puisi karena setiap puisi mempunyai amanatnya sendiri.
Dalam memahami puisi terdapat metode untuk memudahkan pengapresiasian puisi. Jadi, untuk memahami puisi ada beberapa metode beserta sarana yang perlu diperhatikan dengan teliti. Sarana itu adalah sebagai berikut.

1. Diksi
Diksi adalah pilihan kata yang teliti dan tepat. Kata yang digunakan pada puisi cenderung pada makna konotatif . Setiap kata yang digunakan penyair memiliki makna tertentu.

2. Imaji
Imaji adalah segala yang dirasai atau dialami secara imajinatif. Pilihan kata yang tepat membantu daya hayal untuk menjelmakan gambaran yang nyata, sehingga penikmat dapat melihat, merasakan, mendengar, dan menyentuh secara imajinatif apa yang dituliskan penyair.

3. Kata Nyata (concrete word)
Bahwa dengan pilihan kata yang tepat penyair dapat menggambarkan suatu pengertian menyeluruh sebuah puisi. Ketepatan kata  akan menimbulkan asosiasi yang menjelmakan imaji sehingga penikmat dapat merasakan apa yang dialami penyair.

4. Majas
Bahasa kias atau gaya bahasa yang digunakan penyair berusaha memperjelas maksud serta menjelmakan imajinasi. Ada penyair yang menggunakan gaya personifikasi, metafora, simbolisme, perbandingan, dan persamaan.
5. Ritme dan Rima
Ritme dan rima mempunyai pengaruh yang besar untuk memperjelas makna suatu puisi.

C. Metode Pembelajaran Apresiasi Puisi
Metode berhubungan dengan cara (bagaimana) membelajarkan sastra yang tepat. Cara ini akan merujuk pada kiat-kiat yang efektif dan efisien dalam pengajaran. Oleh karena itu, melalui metode yang tepat, tentu tidak akan memakan waktu dan menguras energi dalam proses pengajaran. Metode pengajaran sastra yang kondusif dapat disebut juga metode yang sinergis.
Metode yang digunakan dalam pembelajaran puisi didasarkan pada pendekatan komunikatif dan keterampilan proses yang dapat memberi peluang kepada siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Tujuan penggunaan metode adalah agar guru dapat menggiring siswa kepada aktivitas belajar secara aktif selama pembelajaran berlangsung.
Sistem dan metode pengajaran yang efektif selalu diupayakan oleh guru dalam mengajarkan sastra. Pemilihan model pembelajaran disesuaikan dengan siswa dan tetap sesuai dengan KTSP sastra. Pembelajaran sastra mutakhir dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai model pembelajaran. Model pembelajaran sastra tersebut seperti dikemukakan oleh Endraswara (2003:85-195) adalah sebagai berikut. 

a) Model Sanggar Sastra 
Sanggar sastra adalah sebuah wadah aktivitas sastra yang memiliki tujuan memberdayakan sastra. Sanggar sastra merupakan bingkai komunitas yang memiliki tujuan yang sama dengan berbagai aktivitas sastra. Aktivitas yang ada adalah mencipta, menampilkan, mengapresiasi, mengotak-atik, dan bereksperimen sastra. Dalam sanggar, seseorang dapat bertukar pikiran, ilmu, dan segala wawasan yang dimiliki. Siswa dapat saling berdiskusi, saling mengkritik, dan lain-lain demi meningkatkan kreativitas mereka dalam bersastra. 

b) Model Worksop Sastra dan Bengkel Sastra
Worksop sastra adalah sejenis pelatihan yang banyak dilakukan oleh kaum akademisi yang bertujuan untuk menghasilkan karya yang optimal. Worksop sastra ini dirancang dan dikerjakan sebaik-baiknya, dalam tempo singkat, siswa telah mampu mencipta dan membaca sastra dengan baik. 

c) Model Laboratorium Sastra
Melalui laboratorim sastra, kompetensi apa saja yang hendak dicapai akan lebih mudah karena siswa akan berkreasi sendiri dengan ditopang sejumlah sarana dan prasarana relatif lengkap.

d.) Model Pragmatik Sastra
Pragmatik akan berhubungan dengan ihwal fungsi sastra. Dalam wawasan pragmatik, kompetensi yang perlu ditanamkan kepada siswa adalah fungsi sastra sejalan dengan kondisi zaman.

e) Model Literature Based Thematic 
Literature Based Thematic  adalah model apresiasi sastra yang lazim dilaksanakan dalam pengajaran sastra dengan cara mengungkap makna. Model pengajaran ini berusaha menemukan refleksi tematik karya sastra. 

Dengan berbagai model yang dapat diterapkan dalam pengajaran sastra, guru akan lebih mudah memilih dan menyesuaikan model pembelajaran yang sesuai dengan siswa yang menjadi objek pembelajaran. (Endraswara, 2003 : 85-195).

Puisi selalu terkait dengan emosi, pengalaman, sikap, dan pendapat-pendapat tentang situasi atau kejadian yang ditampilkan secara abstrak atau implisit (Altenbernd, dalam Endraswara, 2005:109). Oleh karena itu, pemahaman sebuah puisi juga memerlukan keterlibatan emosi, pengalaman estetis, dan intuisi-intuisi. Bekal semacam ini akan banyak menolong siswa untuk menikmati keindahan puisi.

Monday, February 27, 2017

Mengapa Begitu Cepat Ayah Berlalu

Mengapa Begitu CepatMengapa hari-hariku selalu seperti ini, diliputi dengan rasa iri dan juga sedih. Ratapanku kepadamu seperti tiada gunanya. Sama saja hari-hariku selalu melihat, mendengar, bersedih dan tak tahu harus berbuat apa hingga aku berkata “Mengapa terlalu cepat”. Inilah sekelumit cerita yang ingin aku sampaikan kepada mu, kisah yang semestinya tak kuceritakan tetapi inilah adanya. Seperti mimpi buruk yang berlari dihamparan gurun sahara.  
Tak henti-hentinya aku bersedih ketika melihat mereka, mereka dan anak-anak se usiaku yang bersalaman, berpelukan dan melepaskan rindu ketika ayahnya pergi untuk bekerja ataupun pulang dari bekerja.  Itu hanyalah sekitar jarak dan waktu yang tak dapat ditempuh dengan transportasi. Sedangkan aku hanya bisa menyaksikan aktifitas orang orang tersebut. 
Cerpen Mengapa Begitu Cepat Ayah Berlalu
Mengapa Begitu Cepat Ayah Berlalu
Tetapi bagaimana dengan diriku sendiri, seorang gadis yang berusia sekitar 17 tahun yang takkan dapat lagi menyaksikan dan melihat bagaimana sosok ayah yang tegar, dermawan, berwibawa dan peduli tarhadap anak-anaknya seperti yang teman-temanku yang bercerita terhadap sosok kepribadian ayah mereka masing-masing yang selalu mereka idolakan. Pernah sekali aku tidak peduli dengan omongan teman-temanku tentang sosok ayah mereka karena aku terbawa oleh perasaan iri kepada mereka yang masih memiliki sorang ayah sedangkan aku sendiri sudah lama tidak melihat apa lagi mendengar kabarnya. Aku sadar bahawa sang yang maha khlaiq lebih menyanyangi ayahku sehingga beliau lebih dahulu dipanggil kepangkuanNya. 
Sekarang ini yang masih sering mengaung dalam ingatanku adalah sebuah kisah tragis tentang kematian ayahku yang diceritakan oleh ibuku kepada kami semua. Waktu itu aku baru saja mamasuki usia 17 tahun, sedangkan adikku yang juga seorang perempuan sudah memasuki usia 15 tahun, kami hanya terpaut usia 2 tahu. Aku memaksa ibuku bercerita tentang bagaimana ayahku dipanggil oleh illahi. Ibuku memulai ceritanya dengan mengatakan jka aku sudah berunsia 17 tahun dan sudah sangat dewasa untuk mencermati cerita dari ibuk ini. Aku hanya menduk lesu mendengar cerita ibuku. “ayahmu adalah seorang suami yang sangat hebat, dia tidak pernah mengeluh dengan apa yang dia peroleh dari usahanya. Kelahiran anak pertamnya yaitu dirimu adalah anugrah Allah yang sangat besr baginya. Tapi Allah berkehendak lain ayahmu tidak akan pernah dapat melihat kamu tunbuh dewasa sebagaimana orang lain. Ucap ibuku dengan pilu. Kemudian aku bertanya kepada ibuku, “apa yang menyebabkan ayah meninggal bu, apakah ayah sakit atau mengalami kecelakaan?”. Ibuku menjawab “ ibu tidak tahu pasti kejaidian yang sesungguhnya, yang jelas ayahmu adalah seorang kombatan GAM waktuNegeri ini dilanda konflik, sebelum ayahmu hendak pergi bergabung dengan GAM, ayahmu menyempatkan untuk memandikanmu dan adik mu dan tidak lupa juga menandani kalian berdua. Ayahmu kelihatan sangat baagian waktu menandani kalian berdua, dan beliau sempat berpesan kepada ibu untuk tolong jaga anak kita, semoga mereka kelak tumbuh dewasa dan hidup dengan bahagia. Itulah kata terkhir ayahmu sebelum belalu pergi ayahmu masih sempat mencium keniang kalian berdua. Kemudian ibu melanjutkan ceritanya, setelah kepergian ayahmu ibu tetap bekerja seperti biasa, hingga suatu hari ibu mendengar kabar jika ayahmu meninggal dalam kontak senjata di bakongan dan di makamkan disana. Ibuku meneteskan air mata ketika mencerutakan kejadian itu, kemudian melanjutkan katanya “ jika senadainya ibu dapat mengubah masa, maka terusterang ibukatakan bu tidak akan memilih untuk hidup dimasa itu, dimana keadaan warga selalu diliputi oleh rasa ketakutan, dan selalu dibayangi oleh rasa cemas dan kengerian. Pada masa itu setiap hari orang menyaksikan perang, kematian dan berbagai tindakan kejahatan yang sangat jauh dari nilai perikemanusian, masa yang sangat kelabu dan menakutkan semua orang. Namun ibu berharap cerita ibu ini bukanlah untuk menanamkan benih kebencian kepada pihak manapun, ibu hanya ingin bercerita kepada kalian supaya kalian tahu tentang sejarah kehidupan ayah kalian. Dan kamu yang sudah menjelang dewasa ini harus dapat menyikapi dengan bijak cerita ibu ini, karena selaku orang islam yang beriman tentang untung baik dan untung jahat kita harus tabah menerima semua apa yang telah menimpa kita. Kamu tahu jika semua kejadian itu merupakan sebuah perencanaan Allah, karena hidup ini adalah fana. Disamping itu ibu juga berharap jangan pernah kamu merasa iri dengan teman-temanmu yang masih memiliki ayah, nikmati saja kedamaaian yang sudah terwuud ini sehingga sampai ke anak cucumu kelak. 

Aku hanya terdiam membisu mendengarkan kata ibuku, rasa kagumku tumbuh dihatiku, ibu begitu tegar dan tidak sedikitpun terbesit di kata-katanya untuk sakit hati pada pihak tertentu, malah beliau memberikan dorongan yang luar biasa kepada kami untuk menatap hidup kedepan sebagai bekal hidup kami nantinya.        

Sebuah Pengorbanan dan Penantian Yang Panjang Untuk Mendapatkan Cinta Sejati

Sebuah Pengorbanan dan Penantian Yang Panjang Untuk Mendapatkan Cinta Sejati. Sinar mentari telah tersenyum melihat kicauan burung yang sedang menri-nari di hamparan sawah yang tertiup udara pengunungan yang sejuk dan penuh dengan warna kehidupan yang menjadi saksi lahirnya dua insan. Disekolah yang tidak jauh dari kota mega, dimana awal mula terkisah kehidupan remaja-remaja yang melukiskan sebuah cerita masa remaja “SMA” adalah masa yang mebuat seorang gadis lembut dan cerdas berparas cantik menghabiskan waktu indahnya bersama sahabat-sahabatnya, gadis itu bernama Mia. Mia adalah gadis remaja yang selalu ceria dan tidak membeda-bedakan siapapun yang ingin dekat dengannya untuk menjadi temannya. Setiap waktu luangnya, Mia selalu mengisinya dengan membaca buku sambil mendengarkan musik. Sikap yang lembut dan gaya bicaranya yang cerdas membuat teman-temannya ingin bersahabat dengannya. Salah satunya adalah Hafid salah seorang cowok remaja yang cerdas, sopan dan ramah yang menjadi sahabat dekat Mia di sekolah. 
Sebuah Pengorbanan dan Penantian Yang Panjang Untuk Mendapatkan Cinta Sejati
Cerpen Pengorbanan dan Penantian Yang Panjang

Mia dan Hafid selalu bertukar pikiran dan saling membantu satu sama lain terutama dalam hal mata pelajaran disekolah. Ketika hafid mengalami kendala dalam memahami materi pelajaran tertentu, Mia lah yang selalau menjelaskannya kepada Hafid, dan begitu juga sebaliknya. Persahabatan adalah sebuag harapan yang tidak akan pernah pudar tetap entah mengapa getaran itu kini mulai terasa berbeda, gejolak di hati Hafid kini sudah mulai berubah dari rasa bersahabat menjadi cinta. Perasaan tersebut sebenrnya ingin dipatahkan oleh hafid, namun Hafid sudah tidak bisa lagi mengontrol perasaan tersebut karena sudah terlanjur terbuai oleh perasaan tersebut, dan meski harus dia luahkan kepada Mia. Suatu hari hafid memutuskan untuk menemui Mia, dengan gugupny Hafid menyapa Mia “Mia” dengan penuh senyum mia membalas sapaan Hafid “ya hafid ada apa?”. Hafid boleh ngomong sesuatu ngak sama Mia” Tanya hafid. Mia menjawab “ ngomong aja Fid ada apa memangnya kelihatan serius banget”.  Mia sebenrnya hafid ngak mau lagi kita bersahabat!” kata hafid. Dengan terkejut mia merespon “maksud Hafid apa?” Hafid mulai menerangkan gejolak hatinya. “begini mia maksud Hafid, Hafid ingin kita berhubungan lebih dari sekedar teman ya itulah Hafid suka pada Mia, mau gak Mia jadi pacar Hafid?”. Mia menjawab “ ah Hafid ada ada aja, kita ini masih anak-anak mana boleh gituan, udah deh, Mia pergi dulu ya. Mia langsung berlalu dengan tidak sedikitpun mempertimbangkan perasaan hati Hafid kepadanya. 
Waktu terus berlalu dari heri kehari bulan ke bulan dan tahun ke tahun. Hingga tibalah masa dimana Ma dan Hafid telah menamatkan pendidikan SMA. Kali ini Hafid kembali memburu cinta Mia karena Hfid berpikir jika dulu alasan mia karena masih anak-anak kali ini mungkin akan diterima karena Mia sudah menamtkan sekolah SMA. Hafid datanf berkunjung kerumah Mia dengan mebawakan bunga sebagai pelengkap ungkapan cintanya kali ini kepada Mia. “Mia skarang kita sudah menamatkan jenjang sekolah SMA, apakah kamu sudah siap menerima Hafid sebagai pacar kamu?” tanya Hafid dengan serius. Mia menjawab dengan bersahaja“maaf Fit, Mia rasa sekarang ini juga belum waktu kita berpacaran, Mia belum siap karena ingin fokus dulu untuk melanjutkan ke jenjang pedidikan selanjutmya” hafid hanya terdiam dan tidak bisa berkata apa apa lagi karena dia sangat menghargai keputusan Mia, lagian Hafid berpikir jika Mia bukan menolaknya tetapi belum masanya saja untuk menerima Hafid. Kemudian hafit pamitan untuk pulang. 

Masa kuliah mereka jalani, kebetulan Hafid diterima di fakultas Kedokteran disalah satu kampus di pusat Ibukota Provinsi di daerahnya, sedangkan Mia melanjutkan studinya di kota lain di fakultas Ekonomi. Waktu terus belalu hingga akhirnya mereka sama-sama akan meyelesaiakan studi mereka, ketika mereka sudah melaksanakan wisuda, Hafid mendatangi Mia di kota tempat dia Kuliah dulu dimanan sekarang ini Mia sedang meniti karirnya bekerja di salah satu perusahaan ternama di Ibukota tersebut. Hafid yang telah terlebih dahalu menayakan alamat Mia kepada orang tuanya dikampung mendatangi tempat keidaman Mia. Mai agak terkejut dengan kehadiran hafid. Setelah mereka berbicara seadanya mengenai kegiatan masing-masing dimana Mia bekerja sebagai Bendahara Perusahaan dan Hafid sedang Menyelesaikan Pendidikan Dokter Spesialis tibalah masanya kembali Hafid mengutarakan pesaraananya kembali kepada Mia yang sudah lama dia harapkan sewaktu mereka masih duduk di bangku SMA. “Mia bagaimana dengan sekarang ini, apakah wakgtu sekarang sudah tepat buat mia meberima pinanganku, aku serius mia, kali ini aku bukan hanya ingin menerima cintamu, akan tetapi saya ingin langsung menikahi mu jika kamu siap untuk menerima saya” kata Hafid. Mia tidak bisa berkata matanya berkaca-kaca mendengar ucapak Hafid tersebut, terbsit rasa kagum di hatinya akan kesetian Hafid yang selalu mengarapkan cintanya daro dulu. Dengan terbata-bata Mia menjawab” Fit kamu itu adlah sahabat aku yang terbaik yang pernah ada, dan saat ini aku sangat tidak beralasan untuk menolak ponangan kamu, sebenarnya jujur saja aku juga punya perasaan ang sam pada kamu ketika kita sama-sama di bangku SMA, akan tetapi aku menolak perasaan tersebut karena bagiku pacaran itu bukanlah hal yang bagus, karena saya hanya ingin berpacaran setalah menikah, sehingga segalanya akan terasa sangat indah. Teimakasih telah sudi untuk menunggu cintaku dalam waktu yang sangat lama, dan sekarang aku siap untuk kamu pinang menjadi itri mu” , mendengar jawaban tersebut hafid sangat bahagai kerana dia akan mendapatkan perempuan yang salam ini selalu menyita ruang hatinya semenjak dia di SMA. 

Taklama kemuaid merekanpun menikah, dan hidup dengan bahagia dan dikarunia satu putra dan 2 putri, mereka hidup dengan lebih dari ukuran berkeculupan, Hfaid yang berprofesi sebagai dokter spesialis dan Mia kini mulai meniti perusahan sendiri dengan dukungan baik moril ataupun materil dari sang auaminya.        

Sunday, February 26, 2017

Pahlawan Hati yang Hilang untuk selamanya

Pahlawan hati yang Hilang untuk selamanyaSurya mulai menjingga, azan magrib berkumandang diseluruh mesjid, hati ibu mulai gelisah karena ayah tidak pulang sejak dua hari yang lalu. Sekumpulan orang yang entah dari mana datangnya berseragam loreng dengan muka garang menyeret ayah entah kemana. Aku dan ibu hanya bisa menangis di sudut rumah, semenjak itu kami tidak lagi mendengar kabarnya apalagi melihat ayah. Akhirnya ibuku bangkit dari tempat duduknya dan pergi kekamar mandi mengambil handuk untuk menunaikan shalat magrib, dari raut wajahnya terlihat jelas kecemasan akan keadaan ayah, namun dia tetap berusaha tetap tegar dan menyembunyikannya dari ku.     

Diluar rumah terdengar letusan-letusan senjata, ibu cepat-cepat membereskan mukenanya dan segera berrgegas menemuiku dikamar yang lagi sendirian. Ibu memelukku dengan erat disertai air mata yang mengalir membasahi kedua pipinya. Mulutnya tidak henti-hentinya beristughfar menyebut nama Allah sambilan menyelipkan doa untuk keselamatan ayah, sementara aku hanya terdiam membisu menyaksikan semua itu. 
Pahlawan hati yang Hilang untuk selamanya
Cerpen Pahlawan hati yang Hilang
Ayahku adalah seorang pedagang yang lumayan sukses dikampungku, ayah juga tergolong salah seorang yang terpandang dan disegani oleh semua orang di desaku karena kebaikan budinya. Ayahku juga dipercaya oleh semua masyarakat untuk menjual semua hasil bumi di desa kami untuk dijual ke pusat kota kecamatan di daerah kami. Namun tidak semua orang berpandangan positif atas kepercayaan yang diterima oleh ayahku dari masyarakat kampung tersebut. mungkin ada satu atau dua orang yang merasa iri dengan kepercayaan yang dimiliki oleh ayahku tersebut. Dimana pada akhirnya ada salah seorang yang merasa iri dengan ayahkau dan tega menfitnah beliau jika ayahku adalah salah satu orang yang memberikan makanan untuk Kombatan GAM kapada aparat kemananan yang sedang nge pos di desa tetangga.
Suara letusan senjata kini sudah mulai reda, tiba-tiba terdenbgar suara ketukan pintu di rumah kami, kami semua terdiam dan tidak berani membukan pintu. “ini aku adam, ani” terdengar suara di balik pintu. Wajah ibu seketika berubah menjadi berseri-seri, tanpa dikomando ibuku langsung bergegas membuka pintu, ibu menangis melihat kondisi ayah yang terluka, lemah dan tak berdaya, ibu memapah tubuh ayah untuk duduk dan menyuruhku untuk tidur. Setelah seminggu berlalu, kondisi ayahku kini sudah mulai membaik, ayah memutuskan untuk berdagang ke kota ibu melarang tetapi ayah tetap bersisikeras dengan keputusannya. 

Hari sudah mulai petang, ibu merasa cemas karena ayah belum juga pulang, ibu berusaha menpis hayalan yang tidak-tidak tentang ayah karena yah belum ke,bali, malam itu ibu menghabiskan malam dengan hati yang gelisah. Sayup-sayup sinar sang surya perlahan menjulurkan lidah kehidupanya untuk menerngi setiap lereng-lereng pegunungan menghidupkan semangat penduduk desa untuk menjalani pekerjaan dipagi hari yang cerah itu. Begitu juga dengan ibuku yang sedari tadi sibuk membersihkan perkarangan rumah dengan begitu bersemangat dan di iringin oleh riyuh-riang celotehan anak-anak yang bermain di halamn rumahku.  Akupun tak ketingggalan meluapkan kegembiraan dipagi itu dengan bermain diperkarangan rumahku, aku berlri kesan-kemari untuk mencari seteka tanah yang cocok untuk aku coret-coret dengan kayu kecil ditngganku. Kemudian aku mencot=ret-coret di atas tanah tersebut yang kemudian terbentuk gambar yang aku anggap sebagai gambar ayah dan diriku. Aku terpukau dan tak henti-hentinya memnadang mungkin bagi sebagian orang itu hanyalah sebuah coret moret yang tidak berbentuk apa-apa namun bagiku itu adalah sudah sangat luar biasa bagi ku. Tanpa  kusadari ternyata gambar ayah yang kugambarkan tadi terhapus oleh jejak kaki anak yang lewat, namun akau tetap memandang lukisan wajah ayah dengan lekat-lekat ternyata ada bagian gambar yang rusak, seketika itu akupun kesal dan hendak memarahi anak tersebut namun suaraku tertahan. Seketika itupun ibu datang meyurukuhku untuk segara masuk kedalam rumah. 

Kemudian ibu langsung mengunci pintu dan semua jendela dan memelukku dengan erat. Entah apa yang kurasa pagi itu, yang jelas hanya suara letusan senjata yang terdengar oleh ku. Ibu memelaukku semakin erat sambil memanjatkan doa, sementara aku hanya bungkam dan tak atu apa yang terjadi, kulihat mata ibuku yang berkaca-kaca dan tetesan bening itupun mengalir membasahi keuda pipinya. Kami sangat ketakutan, peristiwa itu berlangsung sekitar dua puluh lima menit. Selama itupula ibuk memelukku dengan erat. Tak lama kemudia keadaan kembali normal, semua kebisingan senjata itu sudah tudak terdengar lagi yang tertinggal hanyalah hanyalah ketakutan yang medalam, dengan tidak melepaskan puelukannya, iu berusa mengintip dari celah-celah dinding rumah untuk memastikan jika keadaan sudah benar-benar normal namun tuba-tiba seseorang mengetuk pitu rumah kami, dengan perasaan was-was ibu mencob berpikir sejenak membuka pintu atau tidak. Namun pintu itu terus diketuk yang harus mau tidak mau ibu harus membukanya. Ibu membuka pintu rumah kami dan dia melihat pak rahmat dan penduduk kampung yang datang kerunahnya. Kemudian ibu bertanya” ada perlu apa pak?”. Heran tak biasanya pak rahmat datang kerumah. Kemudian pak rahmat kenjelaskan segala sesuatu yang terjadi kepada ayahku, sontak ibu terhenyak dan membisu, ibu belum bisa menerima semua kenyataan bahwa ayah telah tiada menghilang dimabil sibaju lorenga ketika pulang dari berdngan di kota semalam.  
Karya Anak MA Darul Aitami  


Saturday, February 25, 2017

Dihari Kepergian Sang Ibunda Tercinta

Suasana anak-anak sebayaku membuat suasana menjadi semakin damai. Semua pada lagi asiknya bermain, suasana sangat menyenangkan sekali, dan mentari terasa sangat-sangat terik seolah-olah memarahiku agar aku segera kembali kerumah.
Di rumah banyak sekali orang-orang pada berdatangan, aku sama sekali tidak tahu apa yang sebenrnya sedang terjadi di rumahku. Aku terdiam seketika disusul ayah yang kenudian menarik tangganku dengan mata berbinar.
Dihari Kepergian Sang Ibunda Tercinta
Kepergian Sang Ibunda Tercinta

Ayah... mengapa rumah kita menjadi ramai? Tanyaku kebingungan. “ayo nak ikut ayah” ayah membawa ku ke dalam ruma, lalu aku bertanya lagi “apa yang terjadi ayah?” dan jangan katakan jika yang sedang terbaring itu ibu” ujar ku, namun  keadaan berkata lain. 
Isak tangis ku tersedu-sedu melihat kabut-kabut nakal begitu cepat merenggut nyawa ibuku, wanita yang  sangat ku kasihi, tempat dimana aku mencari syurga illahi. Mengapa semua terasa berlalu begitu cepat, bagaikan petir disiang bolong keluh ku.
Ayah ku berujar “ayah juga tidak menginginkan ibu mu pergi begitu cepat, namun ajal telah datang menjemputnya disaat kamu dan ayah mesih sangat membutuhkannya.  Kemudian ayah menjelaskan kejaidian yang terjadi kepada ibu ssat di menghembuskan nafas terakhirya. “ayah juga tidak tahu secara pasti tetapi yang jelas itu semua disebabkan oleh penyakit ibu yang sudah terun temurun dari kakek mu sampai kepada almarhum ibu mu” memang ibu sakit apa? Dan mengapa beliua tidak penah menceritakannya kepada ku” tanya ku. Suasana senyap seketika auah menunduk entah apa yang sedang ayah pikirkan akupun tidak tahu. 

Kemudian ayah melanjutkan katanya “ sebenarnya ibu kamu mau memberitahu mu tentang penyakitnya ini, akan tetapi ibu kamu takut jika itu akan menjadi beban pikiran mu’ kemudian aku melanjutkan ucapanku “bagaimana bisa ibu terlihat begitu sehat selama ini? Ayah tidak bisa berkata apa-apa lagi dan meninggalkan ku sendiri yang masih terisak isak. 

Ditengah perjalanan menuju pemakaman ibu, aku tidak menoleh kemanapun, mataku hanya tertuju pada kerenda yang sedang di susung oleh orang-orang untuk mengantarkan ibundaku tercinta ke tempat pembaringannya yang terakhir. Bathinku sangat pilu ketika melihat ibuku benar-benar memejamkan matanya ketika kain kapan dibuka talinya saat tubuh terbujur tersebut dibaringkan di liang lahat sebagi tenpat istirahat yang terakhir. “doakan ibumu semoga bahagia di alam sanan” ucap ayahku sambil terisak. 
Sebelum aku dan ayahku meninglkan pusara, aku sempat memanjatkan doa dengan tulus supaya ibuku di tempatkan di tempat syurga firdaus oleh sanga yang maha khaliq. Dan aku berharap semoga kelak kami dipertemukan kembali di alam syurga. 
Rasanya aku sangat berat meningalkan pusara ibuku, namun aku tidak dapat merbuat apa-apa karena semua orang sudah berlalu yang tinggal kini hanya aku dan ayahlku saja, dan ayah mengajakku untuk kembali kerumah untuk mendoakan ibu.

Dalam senja aku berharap akan ada bianglala-binaglala menggodaku dengan warnanya yang idah. Aku yakin dibalik indahnya bianglala ada ibu yang telah menjadi bidadari-bidadari syurga untuk ayah. Aku tersenyum kecil membayangkan jika itu benar-benar menjadi kenyataan.
Aku melirik ke ayah, ternyata ayah sedang diam membisu menatap lukisan-lukisan fana tentang ibu. “ayah sedang memikirkan ibu ya?” tanyaku memecahkan keheninggan. 

Eh kamu ada ada aja sergah ayah. “Tetapi benrkan ayah lagi memikitkan ibu?” godaku. Namun ayah hanya diam membisu saja. 
Pagi ini mendung datang kembali menggantung di atas atap rumah ku, gerimis mulai turun semua sayu dan membisu. Tanpa aku tahu makna dari itu aku malah membatin “mungkin ini adalah sebuah pertanda jika ibu ku sedang sedih karena sedang meridui aku dan ayahku”. Ah bukankah tidak ada yang abdi di dubia ini semua fana dimana semua akan punah ditelah massa. 
Malam yang dingin membuat aku terbawa dalam mimpi yang ditemani bintang-bintang dan bulan. Aku melihat ibuku berpakaian serba putih wajah ibuku bersinar-sinar dan aku malah terus melangkah mendekati ibuku. “ kau terlihat sangat cantik ibu” ucapku. Ibuku hanya tersenyum dan tidak menjawab satu patah katapun. Aku dan ayah disini sangat merindukan ibu maukah ibu kembali bersama kami lagi disini” tanyaku. “Ayolah ibu aku mohon” pintu ku lagi. Kemudian ibuku menjawab maaf nak ibu tidak bisa dan agar kamu tahu saja jika ibu sangat bahagia disini, dan ibu juga selalu merindukan mu dan ayahmu”, jawab ibuku sambl terus berlalu. 

Karya Siswi MA darul Itami 
   
   

    
   

Friday, February 24, 2017

The Validity of Research (Writing Thesis and Dissertation)


The Validity of ResearchThe validity of the data is one of the most important aspects in conducting qualitative research. Validity refers to the degree to which a test measures what it is supposed to measure, consequently, and permits the appropriate interpretation of scores. Validity is, therefore, “the most fundamental consideration in developing and evaluating test. When we conduct the test, we test for a purpose, and our measurement tools have to help us to achieve that purpose, Geoffrey & Airasian (2009:154). In the context of my research validity pertains to the data and the analysis of the findings of the study. For the purpose of validity, I used Maxwell’s Typology (1966) on validity in qualitative research. 
According to Maxwell (1996) as citied in Lim,(2007:63), the validity in qualitative research can be categorized as follows: 

 The Validity of Research (Writing Thesis and Dissertation)
 The Validity of Research

a. Descriptive Validity
Descriptive 'validity' is that which is concerned with the initial stage of research, usually concerning with data gathering. The central issue is factual accuracy in the informational statements that describe what was observed and experienced (Winter, G, 2000). In this research, I used the Descriptive validity to validate interview data obtained from the ten teachers. I did this by giving them a verbal summary to them of the salient points from the interviews. The respondents then verbally endorsed the summary as representing their respective views. This further enhanced when I compared it with interview transcripts and made sure that I did not “read into the data”. I made sure that my personal views did not the actual data obtained from the interviewees. 
b. Interpretative Validity
Within the qualitative paradigm, interpretation is typically assumed as an inextricable (and, indeed, unavoidable) the element of data collection. On these grounds, Maxwell's segregation of description and interpretation is not only a false distinction, but effectively impossible. Interpretation is essentially couched within the rhetoric that the researcher uses to describe a situation and is mutually constructed between researchers and subjects. Quantitative researchers do much to dis-associate themselves from such interpretations, yet these too are inevitable in their categorizations and selection of data (Winter. G,  2000). 

In this study, I also used interpretative validity, by asking the participants’ perspective pertaining to my interpretation of the interview data. Mostly, the interviewees agreed with my interpretations, but there were also times when interviews changed my choice of words. This was minimal. Hence, I did try minimizing the intrusion of my personal views in interpreting interview data of the researcher in relation to their personal views and explanations. This help ensure that I did not misrepresent the actual views of the interviewees.  

c. Naturalistic Generalizability
Naturalistic generalization is the process of where the readers gain insight by reflecting on the details and descriptions presented in case studies. As readers recognize similarities in case study details and find the descriptions that reverberate with their own experiences; they consider whether their situations are quite similar to warrant generalizations. Naturalistic generalization invites readers in order to apply ideas from the natural and in-depth depictions applied in case studies to personal contexts. Melrose, S, (2009). In Stake’s view, naturalistic generalizations are conclusions arrived at through personal engagement in life’s affairs or by vicarious experience so well constructed that the person feels as if it happened to them. Naturalistic generalization emphasizes practical, functional application of research findings that intuitively fall naturally in line with readers’ ordinary experiences.

This form of validity is used to justify the authenticity of this study based on the concept of the readers in understanding the real situation in this study. On the other hand, in this position, the readers will be able to evaluate the validation of this study when they read the description in this study. 

d. Dependability
The traditional quantitative view of reliability is based on the assumption of replicability or repeatability. The Essentially, it is concerned with whether we would find the same results if we could observe the same thing twice. But we can't actually measure the same thing twice -- by definition if we are measuring twice, we are measuring two different things. In order to estimate reliability, quantitative researchers construct various hypothetical notions (e.g., true score theory) to try to get around this fact, (Trochim). The idea of dependability, on the other hand, emphasizes the need for the researcher to account for the ever-changing context within which research happen. The research is responsible for describing the changes that occur in the setting and how these changes affected the way of the research approached the study. 

This criteria of validity were used also by the reseacher in this study to prevent the possible errors in collecting and interpreting data so the data can be accounted for scientifically. Mistakes are often made by people or the researchers because of limited experience, time, knowledge. This way of validity were used by the reseacher to establish that the process of research can be justified through the audits on his supervisor.

Tuesday, February 21, 2017

The Relationship Educational Technology and Teaching Learning Processes

1. What do you know about educational technology? And How is it different when perceived by educators versus technologists?
Educational technology can be defined as the theory and practice of design, development, utilization, management and evaluation processes and resources for learning. The other definition is any technology used by educators in support of the teaching and learning process.
The Relationship Educational Technology and Teaching Learning Processes
Educational Technology and Teaching Learning Processes 

The different in definition as perceived by the educators and technologist is that for educator, educational technology include printed media, model, projected and non projected visual, audio, video and digital media while for the technologist the educational technology is computers. Computers peripherals and the related software used in teaching and learning.
2. What is the relationship between the teaching-learning process and educational technology?
The relationship is that the educational technology has become the tools that a teacher might use to create an effective instructional event

3. What factors can affect perspectives on learning? Explain how each can interfere with the sender’s message.
There are three factors that affected perspectives on learning are;
1) Environment factors
2) Psychological factors, and
3)Personal factor

a) Environment factors – include environmental conditions that cause the message to be distorted. The outside noises can interrupt communication. Others include dim lighting, excessive movement and uncomfortable temperature.
Any factor emanating from the environments that cause a learner to lose focus may be included in environmental factor.
b) Psychological factors – the unique individual psychological differences that define and affect the reception of a communicated message. It includes the receiver’s emotional state at the time the message is transmitted.
c) Personal factor – individual have preferences as to how they best received information. Each of us has a preferred sensory gateway, that is, the sense that is most effective for receiving and decoding information.

4. Contrast the three perspectives on learning. How are they the same? How are they different? With which do you most agree?

All the three perspectives attempt to explain the complex process of learning but one perspective may be more attractive than others. But all of them work together as the range of possible explanation of learning and each individual approach as unique.

They are the same because we use all the perspectives in order to look for the answer of our learning. 

They are different in the sense that we have to understand the ay the students learn. To understand it, we need to know the learning theory.

I would agree the fact that we need to have a working knowledge on learning theory because from them, it is possible for us to develop our own view of learning theory. We may choose certain part that may suit us our select it in its entirety.

5. Explain the different between cognitive styles. How might each affect learning?

Cognitive style refers to how one thinks. One of the most widely used is Myres-Briggs Type Indicator. While the learning style is another factor influencing how an individual learns

Unlike the broader concept of cognitive style, that is, how we think, learning style refers to those conditions under which we best learn.

Most learning style theorists identify three primary modalities for learning: auditory, visual, and, kinesthetic.

Some individuals learn best by listening; thus, they might be said to have predominantly auditory learning style. Other may learn best by seeing, thus having a visual learning style. Yet others learn best by doing, which suggests a kinesthetic learning style.

6. How does the current viewed of educational technology differ from earlier views?

Perbedaan antara masa dulu dengan masa sekarang dalam pengunaan tehnologi pendidikan adalah hanya pada kesederhanaan sahaja dimana dulu segala tehnologi yang digunakan masih sangat sederhana dibandingkan sekarang sebab masa itu merupakan masa pengembangan dalam bidang tehnologi. Pengunaan visual dan audio visual sudah mulai juga digunakan pada masa lalu. Walaupun demikian ke-enganan pengunaan tehnologi pada masa itu masih ditujukan oleh para pendidik yang disebabkan oleh mahalnya biaya yang dipelukan sehingga penggunaan tehnologi disekolah sedkit menurun. Walaupun demikian pemekaian alat tehnologi tetap di usahakan dengan berbagai cara untuk meningkatkan mutu pendidikan. sedangakan masa sekarang pengunaan alat tehnologi sudah hampir merata disemua tingkat pendidikan sehingga alat tehnologi sudah menjadi kebutuhan utama dalam mendukung proses pembelajaran dan pengajaran di sekolah. 
  
7. What is programmed instruction? What has been its impact on the current approach to educational technology?

Adalah merupakan system pengajaran dimana materinya disajikan dalam tahap/langkah yang kecil. Setiap langkah memerlukan respon pelajar secara aktif, yang di ikuti oleh feed back (umpan balik) yang segara sebagai pembenaran dari respon tersebut.   

gerakan pengajaran  yang terprogram tidak memiliki dampak pada pendidikan teknologi. pada kenyataannya, ternyata menjadi dasar dari pendekatan berikutnya. dengan pendekatan analisis metodis pengajaran, pernyataan diamati secara seksama untuk tujuan pembelajaran, dan penggunaan proses pembangunan secara sistematis menjadikannya menjadi pelopor untuk sistem instuctional sekarang. pendekatan untuk merancang dan memilih teknologi pendidikan. instruksi yang diprogram secara empiris menganalisis data yang terkait dengan konten dan pelajar, mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan, disesuaikan sesuai sistem, mengevaluasi hasil pembelajaran, dan sistem direvisi sesuai dengan evaluasi. 


8. Describe your synthesized view of teaching, learning, and technology?

pengajaran merupakan perencanaan urutan peristiwa yang sistematis yang mengunakan ide-ide komunikasi, konsep, atau skill yang di sampaikan kepada pelajar. Pegajaran memerlukan pemahaman pembelajaran dan pemahaman individu, faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi keadaan siswa

pembelajaran proses peningkatan pemahaman/pengetahuan tertentu dengan menggunakan meteri tertentu biasanya di ajarkan langsung oleh seorang pendidik, baik secara formal atau nonformal. 

Technologi merupakan hasil penemuan yang dapat digunakan untuk mendukung kerja kita baik secara langsung atapun tidak langsung. Tehnologi juga boleh digunakan sebagai alat bantu dalam pendididkan bahkan sekarang sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pengajaran pendidikan. 

Monday, February 20, 2017

Cara Efektif Menurunkan Kadar Kolesterol Tinggi Dalam Tubuh

Cara mengurangi kalestrol akan saya gambarkan pada tulisan kali ini, sebaiknya kita harus mengetahui jenis makanan apa saja yang dapat mengurangi kadar kalestrol dalam tubuh kita. Dewasa ini kita tahu di berbagai media masa banyak sekali orang yang meninggal akibat terkena ancaman kolesterol tinggi dalam darah mereka. Sebelum membahas lebih jauh mengenai kalestrol ini, ada baiknya kita pahami dulu apa itu kalestrol, Apa itu yang disebut kolesterol? Secara umum Kolesterol dipahami merupakan sebuah metabolit yang memiliki kandungan lemak sterol yang dapat ditemukan dalam membran sel.
Cara Efektif Menurunkan Kadar Kolesterol Tinggi Dalam Tubuh
Menurunkan Kadar Kolesterol Tinggi Dalam Tubuh
Namun anda harus memahami juga jika kalestrol itu juga diperlukan oleh tubuh, fungsinya adalah untuk membangun dinding sel, disamping itu kalestrol juga berperan dalan pembuatan/pembentukan sel. Namun harus diingat jika kalestrol yang dibutuhkan itu tidak berlebihan karena akan memimbulkan permasalahan pada tubuh kita jika jumlah kadarnya melebihi batas normal maka dapat memicu timbulnya berbagai macam penyakit kronis yang sangat berbahaya pada tubuh kita seperti kangker, jantung dan lain sebagainya.

Cara Efektif untuk Menurunkan kadar Kolesterol Tinggi
Sebelum kita memahami cara effektif untuk menurunkan kadar kalestrol dalam tubuh kita, ada baiknya kita pahami dulu apa yang menjadi pemicu utama yang meningkatkan kadar kalestrol tersebut.? Jelas jawabanya adalah pola ataupun cara hudup seseorang yang melingkupi pola makan dan hidup sehat. Pola makan yang tidak baik seperti terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung kalestrol dan kurang serat akan mengakibatkan tingginya kadar kalestrol dalam tubuh kita. jadi ada baiknya kita mengkunsi makanan yang mengandung serat seperti buah-buahan dan sayuran sebagai penyeimbang dari kadar kalestrol yang terkandung dalam makanan yang kita sajikan. Hindari mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak tinggi seperti lobster, dan makan cepat saji lainnya.
Bagi anda yang sudah memiliki kadar kalestrol tinggi di dalam tubuh, ada baiknya anda memahami cara afektif mengurangi kadar kalestrol tersebut sebelum menimbulkan berbagai permasalahan bagi kesehatan kita. Di sini saya akan membahas jenis makanan yang sangat bermanfaat untuk menurunkan kadar kalestrol dalam tubuh yaitu:

(Baca Manfaat Buah Seri Untuk Kesehatan)

(Baca Mengenali Penyakit Ginjal dan Cara Penganggulangannya)

1. Delima
Buah delima merah ini bisa anda konsumsi untuk membantu menurunkan kolesterol dalam tubuh secara alami. Selain itu, delima juga dapat membantu kita untuk mengurangi plak arteri dengan cara meningkatkan kandungan oksida nitrat dalam tubuh.

2. Alpukat
Bukan hanya delima, alpukat bisa dingunakan untuk menurunkan kadar kalestrol dalam tubuh. Siapa yang tidak kenal dengan buah yang satu ini rasanya lezati? Buah alpukan ini tidak hanya memiliki rasa yang lezat dan enak tetapi juga memiliki manfaat untuk menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh kita. alasan ini disebakan karena buah Alpukat merupakan buah yang mengandung lemak tak jenuh diaman lemak jenis ini memiliki manfaat yang baik bagi tubuh kita.

3. Buah Seri
Buah seri ini disamping daunnya berguna untuk mengobati penyakit diabetes, buah nya juga sangat bermanfaat untuk menurunkan kadar kalestrol di dalam tubuh. Selain buah yang masak dapat mengurangi kadar kalestrol, daun seri juga memiliki manfaat untuk menurunkan kadar kalestrol dalam tubuh, minumlah rebusan daun seri secara rutin 1 kali dalam dua hari dengan ukuran setengah gelas untuk orang yang menderita kolesterol yang tinggi. Resebuslah segegam daun dengan segelas air lalu panaskan hingga tinggal setengah dari jumlah air tersebut. Namun harus di inggat jika minuman ini tidak dianjurkan untuk orang yang mengalami darah rendah

4.  Perbanyak Konsumsi Sayuran
Ini mungkin sudah sangat dipahami secara umum oleh masyarakat, jika cara untuk menurunkan kadar kolesterol secara alami adalah dengan cara memperbanyak konsumsi sayuran. Sayur-Sayuran memiliki kandungan serat yang tinggi disamping juga mengandung antioksidan tinggi yang baik untuk tubuh kita. Adapun jenis Antioksidan yang terkandung dalam sayur-sayuran adalah berupa betakaroten, Vitamin A, Vitamin C dan juga E. Jenis Antioksidan inilah yang dapat menangkal semua radikal bebas didalam tubuh kita yang menyebabkan timbulnya penyakit berbahaya dalam tubuh. Disamping dapat menurunkan kadar kolesterol tinggi, sayuran dapat juga memberikan kandungan nutrisi-nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh.

4. Jeruk
Buah Jeruk memiliki kandungan Vitamin C yang sangat tinggi. Karena rasanya asam manis dan memiliki kandungan Vitamin C yang berperan sebagai antioksidan bagi tubuh. antioksodan yang terkandung di dalam buah jeruk ini mampu mencegah semua radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh kita. Tak hanya itu, dengan mengkonsumsi sebanyak 3 gelas jus jeruk perhari, ini bermanfaat untuk meningkatkan kadar HDL hingga 21 mg dalam waktu 1 bulan.