Monday, October 31, 2016

Mengenal Karakteristik Dan Perilaku Gajah


MENGENAL KARAKTERISTIK DAN PERILAKU GAJAH. Binatang merupakan makluk ciptaan tuhan dimuka bumi, sama halnya dengan manusia binatang juga mempunyai karakteristik tersendiri, dimana hewan juga mempunyai rasa persatuan dan kebersamaannya, namun demikian perbedaan utama pada hewan dan manusia adalah manusai dianugrahi pikiran sehingga manusia dapat mengenal tuhannya dan mengusai seluruh isi yang ada dimuka bumi. Namun demikian walaupun hewan tidak mempunyai fikiran tetapi hewan ada dianugrahi Instinct yaitu prilaku alami/firasat/naluri yang bisa membuat hewan tetap bertahan hidup didunia ini. Bila kita meneliti/mencermati kehidupan hewan/binatang kita akan mendapatkan berbagai macam keunikan dari prilaku hewan tersebut, dimana rasa persatuan dan sikap kegotoroyongan mereka membuat kita harus berfikir ulang, dan memberi komentar tersendiri yang didasari dari rasa keingintahuan kita, misalnya kok bisa ya semut itu membawa bangaikai tikus ke atas pohon secara bersama-sama? 
Mengenal Kerekteristik dan Perilaku Gajah
Kerekteristik dan Perilaku Gajah

Pertanyaan ini sangat menarik untuk kita pelajari karena dengan pertanyaan ini menyebabkan kita untuk melahirkan berbagai macam jenis pertanyan untuk mejawab satu pertanyaan diatas. Bila kita berfikir lebih lebih rasional tentu ada diantara kita yang tidak akan percaya jika binatang melakukan semua itu hanya didasari dari insting/nalurinya saja tanpa ada yang memberi perintah, namun itulah alam binatang dimana dia melakukan sesuatu itu dengan didasari rasa nalurinya saja yang sudah menjadi kodratnya untuk berprilaku demikian.

Begitu juga halnya dengan gajah, gajah yang dikelompokkan kedalam kolompok hewan herbivora ini merupakan hewan yang terbesar saat ini yang ada dijagad raya, gajah juga mempunyai prilaku tersendiri dimana gajah yang hidupnya berkelomok ini mempunyai rasa persatuan yang tinggi, dimana mereka akan salin melindungi terhadap bahaya yang mengancam mereka terutama terhadap anak-anak mereka. Gajah hidup di dalam kelmpok sosial yang terstruktur. Kehidupan sosial dari jantan dan betina sangat berbeda. Dimana betina akan menghabiskan seluruh hidupnya di dalam satu grup keluarga yang terdiri atas ibu, anak perempuan, saudara perempuan, dan bibi. Grup ini dipimpin oleh perempuan tertua. Sedangkan gajah jantan dewasa menghabiskan waktunya dalam kehidupan secara sendiri-sendiri (tidak berkelompok).

Gajah yang berbadan besar mata kecil dan daun telinga yang lebar ini mempunyai kekuatan yang luar biasa, dimana dia mampu menumbangkan tanaman keras dengan belalainya, tetapi walaupun demikian hewan ini tidak tahan terhadap suhu panas, sehingga dia akan selalu menyoprotkan air ketubuh dengan balalainya untuk mendinginkan suhu badanya ketika musim kemarau. Disisi lain binatang ini juga termasuk jenis hewan yang suka berpetulangan dimana dia mampu menempuh parjalanan jauh untuk mencari sumaber makanan yang dibutukannya untuk mempertahankan kehidupanya. 
 Disisi lain hal yang paling unik yang dimiliki gajah adalah mereka akan selalu melintasi tempat yang pernah mereka lewati atau diami, meskipun tempat itu telah ditinggalkan bertahun-tahun Ini merupakan salah satu gambaran jika gajah mempunyai instik yang tinggi. Hal inilah yang sering menimbulkan konflik antara manusia dengan gajah, dimana manusia yang telah mendiami tempat yang pernah dilalui atau didiami oleh gajah akan selalu di ganggu oleh gajah. Dimana lahan pertanian petani ini akan dirusak, sekilas ini terlihat seperti balas dendam yang dilakukan gajah terhadap manusia karena telah merusak habitatnya, tetapi kita selaku manusia sebaiknya harus mencermati kejadian ini dengan bijak karena kita ada diberi akal sehingga kita tidak ceroboh dalam melakukan suatu tindakan seperti gajah. 

Gambaran diatas merupakan sedikit ulasan dari  kehidupan binatang di alam raya ini, pada hal begitu banyak hewan/binatang lain yang ada didunia ini dimana tiap-tiap hewan tersebut mempunyai karakteristik tersendiri. Jadi yang perlu kita pahami disini bahwa hewan itu juga mempunyai rasa untuk tetap ingin hidup didunia ini, dimana mereka tetap akan menjaga anak-anak mereka dari gangguan hewan dan manusai untuk meneruskan kehidupan mereka.   

Sunday, October 30, 2016

Kepala Sekolah Sebagai Supervisor Akademik

PERAN KEPALA SEKOLAH SEBAGAI SUPERVISOR AKADEMIK. Kita pahami bersama jika Kepala sekolah adalah guru yang mendapat tugas tambahan sebagai pemimpin sebuah sekolah, makanya selain tugas pokoknya sebagai guru, kepala sekolah juga berperan sebagai orang yang sangat bertanggung jawab dalam kemajuan sebuah sekolah, yang meliputi aspek perencanaan, pelaksanaan dan pengelolaan. Tanggung jawab kepala sekolah telah dituangkan berdasarkan Peraturan Pemerintah No.13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Dimana dalam permen tersebut dinyatakan ada sekitar 5 (Lima) kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah diantaranya adalah Kompetensi Kepribadian Kepala Sekolah, Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah, Kompetensi Kewirausahaan Kepala Sekolah, Kompetensi Supervisi dan Kompetensi Sosial Kepala Sekolah.
Disini saya hanya berfokus pada tugas kepala sekolah sebagai pelaksana supervisi pembelajaran disekolah baik mencakupi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Tujuan dari supervisi secara umum dapat digambarkan untuk membantu guru dalam mengembangkan kemampuan pengelolaan pembelajaran di dalam kelas. School Supervision (Supervisi akademik) merupakan suatu kegiatan yang terencana, terpola dan terprogram, dengan tujuan untuk merubah prilaku guru, dan menigkatkan kualitas pendidikan dilingkungan sekolah.  Dalam posisi kepala sekolah sebagai supervisi guru ini, kepala sekolah juga harus memiliki konsep yang jelas tentang tehnik-tehnik supervisi dan juga pemahaman tentang konsep untuk mendorong guru supaya mampu melakukan inovasi dalam pendidikan. sebab inovasi merupakan sebagai salah satu kunsi suksesnya seorang pengajar dalam melakukan akitifitas pembelajaran disekolah, tanpa adanya dorongan dari kepala sekolah kepada semua tenaga pendidik di sekolahnya untuk melakukan inovasi pembelajaran maka jelas saja jika proses pembelajaran disekolah tersebut akan berlangsung apa adanya dan terkesan terikat dan kaku. jika demikian maka peserta didik akan menjadi kurang berkesan dalam mengikikuti akitifitas belajar dan mereka merasa seperti dibelunggu saja untuk mengikuti proses belajar mengajar. Maka dari itu supaya inovasi pembelajaran berjalan semsetinya, sebaiknya kepla sekolah harus mebina para tenaga pendidik dengan secara bertahap hingga pada akhirnya semua yang dicita-citakan akan berhasil dengan sendirinya.  

Cakupan dari Supervisi akademik yang dilakukan kepala sekolah antara lain:

  1. Membimbing guru memilih menggunakan strategi/methoda/teknik dapat mengembangkan berbagai potensi.
  2. Membimbing guru dalam melaksanakan proses pembelajaran dan bimbingan di dalam kelas.
  3. Membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan fasilitas pembelajaran.
  4. Memotifasi guru untuk melaksanakan pembelajaran dengan terperinci dan terarah.
Sasaran utama supervisi akademik adalah untuk meningkatkan kemampuan guru dalam merencanakan, pelakasanaan dan evaluasi kegiatan pembelajaran, menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan, dan memanfaatkan sumber pembelajaran yang ada.

Tujuan supervisi guru junior bagi kepala sekolah:
  1. Mengembangkan kompetensi akademik
  2. Melatih kemampuan guru memahami prosees pelaksanaan supervisi.
  3. Melatih kemampuan mengidentifikasi permasalah guru junior, dalam rangka meningkatkan mutu proses hasil pembelajaran.
  4. Membantu guru dalam mengambangkan kompetensi guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
  5. Membantu guru junior mengembangkan kurikulum silabus dan RPP.
Hasil yang diharapkan dari supervisi guru junior:
  • Mampu mengembangkan kompetensi perencanaan supervisi akademik. 
  • Melaksanakan supervisi akademik.
  • Mampu melaksanakan tindak lanjut dalam rangka menigkatkan hasil pembelajaran sebagai salah satu cara untuk memperbaiki pola pelaksanaan pembelajaran kepada peserta didik. 


dari semua aktifitas dan peran kepala sekolah diatas, ini menandakan jika mereka semua para kepala sekolah dituntut untuk benar-benar dan sungguh dalam menjalankan semua tugas mereka jangan hanya sekedar lepas tugas saja, sehingga apa yang kepala sekolah cita-citakan akan berhasil dengan sendirinya. disamping itu ini juga harus menjadi standar patokan dasar yang harus dipamahi dengan betul oleh para kepala sekolah supaya mereka betul-betul cakap dan handal dalam dalam memimpin sekolah supaya sekolah tersebut memiliki mutu yang bagus terutama bagi guru sebagai pendidik disekolah tersebut dan juga siswa sebagai anak didik yang ada disekolah tersebut. jadi faktor-faktor yang telah dijabarkan di atas harus benar-benar ada pada diri seorang kepala sekolah dimana jabatan mereka yang dipercayakan sebagai seorang pemimpin benar-benar bisa mengkoordinir dan mengarahkan sekolah mereka ke arah yang lebih baik dan lebih bagus dari sebelumnya. 

Saturday, October 29, 2016

KEWAJIBAN MENDAHULUKAN IBADAH DARI KEGIATAN LAINNYA

Tags

KEWAJIBAN MENDAHULUKAN IBADAH DARI KEGIATAN LAINNYA. Mungkin ketika membaca judul penulisan diatas, anda akan berpikir jika konsep/kata ibadah itu terlalu umum, namun disini saya akan menjelaskan maksud kata ibadah tersebut. Untuk makna kata ibadah yang saya maksudkan adalah ibadah/amalan yang diwajibkan dalam islam dan telah diatur kejelasan kewajiban hukumnya dari nash yang sahih seperti Al-Quran dan Hadist Nabi, seperti shalat, puasa, dan lain sebagainya. 

Kewajiban Mendahulukan Shalat
Ibadah Shalat
Adapun anjuran melaksanakan kewajiban yang diwajibkan oleh agama diatas urusan/perkara lain itu merupakan suatu hal yang wajib dipatuhi oleh umat islam untuk memperoleh keselamatan di akhirat nanti. Memang islam juga menganjurkan umatnya untuk melakukan kegiatan tertentu dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya dengan pertimbangan tetap mendahulukan kewajiban agama. Kita sebagi orang islam wajib meyakini jika hidup di dunia ini merupakan sebuah persinggahan yang sementara untuk mencari bekal menuju keperjalan yang lebih panjang. Kita tahu jika sebagai manusia akan melewati dua jenis perjalanan lagi. Diantaranya perjalanan alam barzah ada alam akhirat. Jadi untuk itu supaya kita selamat menuju keperjanalan yang selanjutnya maka kita dituntut untuk melakukan amalan-amalan yang telah ditetapkan dalam agama kita sebagai bekal menuju alam akhirat. 
Adapun kewajiban mendahuli melakukan kewajiban agama diatas perkara/urusan dunia ini bisa kita lihat dalam salah satu hadist Nabi Muhammad Saw, yang artinya,

Berusahlah untuk dunia kamu seolah-olah kamu hidup selama-lamanya, dan beramalah kamu seolah-olah kamu mati besok’.

Dari ayat diatas kita bisa simpulkan jika nabi mengajurkan kita supaya dalam berusaha yang berkaitan dengan perkara dunia kita bisa menyelasaikan besok atau lusa seadainya kita tidak bisa tuntaskan pekerjaan tersebut hari ini. Namun khusus untuk perkara/anjuran kewajiban dalam agama seperti shalat dll, kita tidak dibolehkan menunda-nunda apalagi tidak mengerjakannya sama sekali. Jadi kita tahu masalah menunaikan kewajiban dalam agama kita bukanlah hal yang sepele, karena amalan kewajiban itu adalah bekal kita dimasa akhirat nanti, sedangkan usrusan dunia adalah bekal kita untuk hidup hari ini. Memang kalau kita bisa memahami ajaran agama dengan baik, maka kita bisa membuat semua perkara dunia bisa menjadi amalan akhirat, seperti ketika kita mendapatkan uang ataupun materi tertentu dari usaha dunia, kita bisa menggunakananya dengan iklas dalam menafkahi keluarga kita, menyantuni anak yatim beserta fakir miskin.

sebagaimana kita ketahui, memang mancari nafkah untuk menhidupi keluarga kita merupakan sebuah kewajiban dalam agama, namun harus dimaklumi perkara kewajiban menunaikan shalat itu juga jauh lebih diwajibkan dalam islam, karena tidaklah kita mengalami kerugian besar dengan menunaikan perintah shalat yang mengunakan waktu sekitar 5-10 menit. Mengapa saya mengatakan kewajiban shalat lebih utama. Kerana banyak pendapat para ulama yang mashur jika amalan pertama yang akan diperiksa di akhirat nanti adalah amalan shalat. Mengapa amalan sahat dulu yang diperiksa, karena jika orang sudah beres dalam pelakasaan amalan shalatnya maka hidupnya akan bagus dan akan sesuai dengan tuntunan agama. Ini didasarkan pada hadist nabi yang artinya:

Dirikanlah shalat, karena sesunggunya sahlat itu mencegah kamu dari perkerjaan keji dan mungkar’.

Hadist diatas adalah jaminan dari nabi kita Muhammad saw jika orang yang menunaikan shalat akan terhidar dari perkara jahat.  Namun mengapa juga dalam realita kehidupan kita sering dapati ada orang yang shalatnya rajin malah jadi maling ataupun koruptor. Sebenarnya jika kita telususri boleh kita katakan orang yang shalatnya rajin dan masih melakukan korupsi berarti besar menungkinan jika shalatnya itu masih cacat atau malah belum di terima oleh Allah.
Disamping itu nabi Muhammad juga menegasakan dalam hadist jika shalat itu adalah pondasi dasar kita dalam beragama, beliau bersabda dalam Hadistnya yang artinya:

Shalat itu adalah tiang agama, barang siapa mendirikanya berarti dia telah mendirikan agama, dan barang siapa yang meninggalakannya berati dia telah meruntuhkan agama’.

Maka dari itu marilah kita mengutamakan menunaikan shalat dalam setiap perkara lainnya, karena dari makna azan saja kita bisa maknai Allah maha besar-Allah maha besar. Dari azan tersebut bisa kita maknakan jika perintah Allah itu lebih besar dari urusan lainnya. Maka untuk itu marilah bersegera ketika kita mendengarkan seruan azan tersebut supaya kita bisa mendapatkan perlindungan dari Allah di hari penghakiman nanti. Dimana kita pahami jika penghakiman Allah itu adalh penghakiman yang sebenar-benarnya dmana semua anggota badan kita akan menjadi saksi dari setiap tindakan kita selama di dunia. Dan besar harapan semoga kita semua mendapat kesaksian dari semua amalan yang kita lakukan, amien  

Banda Aceh Kota Wisata Religi


BANDA ACEH KOTA WISATA RELIGI. Banda Aceh Merupakan Ibukota Provinsi Naggroe Aceh Darusslam, Banda Aceh juga merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki keunikan objek wisata tersendiri dari daerah lain di indonesia. Konsep wisata religi merupakan salah satu konsep wisata yang di usung oleh pemerintah kota Banda Aceh dalam menarik perhatian para wisatawan baik dari luar daerah maupun wisatawan manca negara supaya berkunjung ke Aceh (Banda Aceh). Mengapa Banda Aceh berjuluk sebagi salah satu deerah wisata religi. Sebenarnya ini sudah difahami secara luas oleh masyarakat indonesia, jika proses pelaksanaan/penerapan syariat islam di Aceh memiliki dampak terhadap pengelolaan aset wisata di Banda Aceh dan juga aceh memuliki julukan darean serambi mekah. Disamping itu, ada hal-hal lain yang mendukung konsep kota wisata religi ini, seperti adanya objek-objek wisata yang merupakan sisa sisa/bekas tsunami, sehingga banyak wisatawan akan tergerak rasa kemanusian dan keimanannya yang masih tampak asri untuk di saksikan seolah-olah kita juga berada pada saat tsunami menerjang tanah serambi mekah tersebut. Ketika menyaksikan objek-objek wisata tersebut, misalnya seperti kuburan massa, mesium tsunami, kapal apung, kapal nalayan di atap rumah dan lain sebagainya maka rasa nlai spritual kita akan ikut terbawa dalam menyaksikan semua fenomena tersebut. Bagi anda yang berada jauh dari provinsi Aceh selain dengan menepuh perjalan darat, anda dapat menempuh perjalan udara dengan maskapai pelayanan seperti Garuda Indonesia, Air Asia, Batik Air dan Lion Air. 

Banda Aceh Kota Wisata Religi
Banda Aceh Kota Wisata Religi

Salah satu ikon kota wisata di Banda Aceh yang sangat begitu pupuler dikalangan masyarakat adalah Mesjid Raya Baiturrahman, dimana mesjid kebangaan masyarakat ini memiliki keindahan dan keunikan tersendiri dibandingkan mesjid-mesjid lain di indonesia. Dan banyak sekali kesan spritual yang di alami oleh sebagian pengunjung ketika melaksanakan shalat di mesjid ini, ada sebagian yang merasa kedamaian, ketenangan, ketuduhan dan lain sebagainya. disamping itu mesjid ini juga menjadi sebagai salah satu saksi sejarah dari masa kerajaan aceh sampai dengan masa aceh dilanda tsunami, maka tidak salah jika mesjid raya Baiturrahman ini dijuluki dengan julukan "jantong hateenya raknyat Aceh". 

Disamping hal ataupun objek wisata yang saya sebutkan diatas tadi, suasana religi akan lebih kentara/terasa ketika anda melakukan wisata/kunjungan pada bulan ramadhan, dimana anda akan merasakan keunikan tersendiri bagi anda saat menyaksikan situasi masyarakatt di Banda Aceh yang jauh berbeda dari hari biasanya. Boleh dibilang, aktifitas masyarakat dimulai diwaktu sore hari, dimana pada saat sore hari sebagian besar masyarakat keluar memenuhi jalan-jalan baik yang untuk membeli makanan bukaan ataupun sekedar jalan-jalan sambil menunggu waktu buka. Berbagai jenis makanan kecil untuk berbuka tersedia di hampir seluruh trotoar jalan. Mengapa saya mengatakan kegiatan dimulai pada saat sore, karena anda tidak akan pernah melihat orang berjualan jenis makanan minuman, baik nasi ataupun mertabak sebagaimana layak gari biasanya di waktu pagi, mereka akan memulai aktifitas jualan makanan hanya diwaktu sore hari saja. Hal seperti ini tentu akan membawa sedikit kenyamanan bagi kita ketika menunaikan ibadah puasa. Boleh dikatakan jika penerapan syariat islam khusunya di kota Banda Aceh sudah menunjukkan nilai yang bagus walaupun belum mencapai taraf kesempurnaan, dan ini merupakan salah satu nilai positif yang harus tetap dipertahankan kedepan 

Jika anda ingin merasakan suasana religi, tepat sekali jika anda menggunakan momen pada saat bulan puasa untuk berwisata ke kota Banda Aceh. Disini saya bukan bermaksud menapikan daerah lain di indonesia, akan tetapi tidak salah jika anda ingin menikmati suasanan yang berbeda ketika menjalani ibadah puasa walaupun mungkin diderah anda juga menerapkan hal yang sama ketika memasuki bulan puasa. Ingatlah untuk membawa semua kebetuhan anda ketika berkunjung disini seperti kamera yang sangat berguna untuk mengabadikan moment yang indah selama anda berada disini. 

Friday, October 28, 2016

School Based Curriculum Assessment In Indonesia

SCHOOL BASED CURRICULUM ASSESSMENT IN INDONESIA. Evaluation is one way to measure the students’ achievement in learning process. What students learn and what student knows about what teachers teach should be evaluated in order to know course improvement. We know that there are many ways to measure the students’ achievement, and it depends on the objective of teaching. On the other hand it is also affected by parents’ curiosity about their children improvement, where students’ parent will always ask the achievement of their children at the school. Evaluation, which has an improvement perspective, provide a structure for teachers and also this could be a good chance for teaching evaluation, where the teachers should reflect what they have though, and what is the problem in their teaching, and what they should do in further steps in improving their teaching. So according to this context, evaluation is not only means the measuring of students’ ability but also this is a way to find the weaknesses of teaching in applying education.  


School Based Curriculum Assessment in Indonesia
School Based Curriculum Assessment
In Kurikulum Tiga Belas (K.13), the evaluation of teaching is divided into three categories, government evaluation, school evaluation and class evaluation. 
1. Evaluation by Government.
The national evaluation conducted by government of Indonesia to measure the achievement of graduation competence in whole of Indonesia within some subject and carry out in national examination. It is well know as Ujian Nasional (UN) National examination is conducted as objective as possible, justice, and accountable. In senior high school only Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, science and social that included into national examination, where science is just for science students, and social for social student only. 

The national examination is as the quality control of education system, because it supposes to know about the process and input of education.  

2. School Based Evaluation.
School evaluation is known as the school based exam (SBC), or commonly known as UAS (Ujin Akhir sekolah). This evaluation is supposed to get the description concerning with the mastery learning (ketuntasan belajar) of the students in some education level.  The students’ achievement in this evaluation will be used as the learning result in graduation certificate.    

3. Class Based Evaluation.
The class evaluation is conducted by teachers directly. The class evaluation is the measurement of the behavior changing of the students, in terms of the introspection of teachers about their weaknesses in performing teaching learning process.

According to Masnur Muslich (2008:78), class evaluation is the systematic process regarding to information collection (numbers, descriptive and verbal), analysis, and interpreting of the information in order to determine the decision on students’ ability mastery. In conducting class evaluation, teachers should understand some criteria of class evaluation, such validity, reliability, focus on competence, comprehensive, objective, and teachable. In class evaluation, there are many techniques that could be used by teachers, so it not depends on the written test. Kinds of the test that could be conducted by teachers are performance, project, product, written test (paper and pen), portfolio, and attitudes.      

Model Konseptual Teaching and Learning Dalam Model Pembelajaran K13


MENGINTEGRASIKAN MODEL KONSEPTUAL TEACHING AND LEARNING  DALAM MODEL PEMBELAJARAN K13. Sebelum menjelaskan konsep pembelajaran koseptual terlebih dahulu, saya ingin menjelaskan pendekatan pembelajaran. Pendekatan yang saya maksudkan disini boleh dibilang approach (pendekatan) secara umum, yang digunakan oleh seorang pendidik dalam melakukan proses belajar mengajar di dalam kelas. Konstektual ada sebuah pendekatan pembelajaran yang kontektual (dimana sajian meteri pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan tempat tinggal anak). Anak diharapkan secara langsung dapat melakukan aktifitas tertentu ataupun guru menyediakan meteri ajar atau media ajar yang bisa diamati oleh anak dan sesuai dengan kontek lingkungan peserta didik mereka.
Penerapan k13 memberikan sedikit kemajuan yang bagus dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Sebagaimana yang kita ketahui jika penggunaan model pembelajaran dalam Kurkulum tiga belas (K.13), sudah ditentukan secara langsung dalam penerapan kurikulum ini. Adapun jenis model pembelajarn yang digunakan dalam k13 ini adalah model Pendekatan Saintifik, Problem-based Learning, Project-based Learning, Inquiry Learning, dan Discovery Learning. Adapun penggunaan dari kesemuaan model pembelajaran ini harus disesuaikan dengan KD yang ada, sehingga penyampaian meteri ajar akan mencakup secara keseluruhan yang tersirat dari KD tersebut.

Sebagai seorang guru yang kreatif, kita tentu tidak akan hanya terperangkap pada tahapan ataupun jenis kegiatan yang telah ditentukan dalam setiap jenis pendekatan tersebut. Namun ada baiknya kita akan berusaha melakukan inovasi tersendiri dengan melibatkan berbagai model pembelajaran lainnya kedalam model yang tekah ditentukan tersebut, namun tetap tidak lari dari konsep dasarnya. Sebagai contoh kita bisa menggabungkan model pembelajarn problem based learning dengan model pembelajaran kontektual learning. Dimana kita fahami jika model pembelajaran yang berbasis problem based learning ini adalah dengan menyediakan berbagai permasalahan sebagai materi pembelajaran dengan tujuan supaya siswa mampu menyelesaikan permasalahan tersebut, disamping juga diharapkan supaya siswa mendapatkan pengalaman tertentu dalam melakukan penyelesaian masalah tersebut. Supaya kegiatan pembelajaran kita jadi menarik, kita sebaiknya mengintegrasikan beberapa model pembelajaran lain kedalam model pendekatan problem based learning tersebut, seperti misalnya ketika kita menyajikan topik permasalahan tertentu kepada peserta didik, seorang pendidik harus membuat kegiatan khusus dalam melakukan proses pembelajaran problem based learning ini, seperti mengitegrasikan beberapa tahapan model pembelajaran think pairs chair, dimana kita meminta semua murid malakukan pembicaraan/percakapan secara berpasangan dalam melakukan penyelesaian dari masalah tersebut sehingga anak akan lebih tertarik dalam belajar dan kita sebagai pendidikpun akan semakin terinovasi untuk melakukan hal-hal lainnya ketika melakukan proses belajar mengajar didalam kelas.

Ini bukan hanya berlaku untuk jenis model problem based learning saja, namun kita bisa menggabungkan keseluruhan model tersebut (Saintifik, Problem-based Learning, Project-based Learning, Inquiry Learning, dan Discovery Learning) dengan mengitegrasikan mode-model lainnya, sehingga pembelajaran jadi lebih menarik dan tidak kaku hanya dengan mealkukan/menerapkan tahapan tahapan yang telah ditentukan, akan  tetapi harus diingat jika model yang kita integrasikan tersebut tidak melangkahi/berseberangan dengan maksud ataupun tujuan dari model yang telah ditentukan tersebut, sehingga apapun jenis aktifitas yang dilakukan tetap merujuk kepada dasar acauan acuan yang ada. 
sekian gambaran sedkit ini semoga bisa menambah ilmu bagi pembaca sekalian dan terimakasih atas kunjungannya semoga ada manfaat dari tulisan kecil ini.

Keutamaan Dan Kelebihan Dari Amalan Sedekah

Tags

Kita tahu bawasanya Bersedekah merupakan hal yang sangat dianjurkan dalam agama islam, karena sedekah itu merupakan sebuah sikap ataupun rasa empati kita untuk saling berbagi terhadap orang fakir dengan tujuan untuk meringankan beban hidup mereka. Membantu dan menolong orang yang sedang dalam kesulitan merupakan sebuah sikap yang sangat terpuji dan merupakan sebuah jembatan yang sangat ampuh untuk membangun rasa sosial dan rasa kemnusian yang tinggi dikalangan umat islam. Nabi Muhammad Saw, sangat mengajurkan kita umatnya untuk bersedekah (untuk menyantuni orang fakir dan anak yatim piatu). 
Keutamaan dan Kelebihahan Amalan Sedekaha
Keutamaan dan Kelebihan Sedekah

Disamping itu, sedekah bisa kita maknakan sebagai sebuah perwujudan dari rasa syukur kita kepada Allah atas segala meteri yang telah diberikan Allah kepada kita, dan bahkan orang yang bersedekah tidak akan pernah mengalami kebangkrutan alias miskin, malah harta yang dimiliknya semangkin bertambah dan tidak akan berkurang. Ini sesuai dengan janji Allah Swt sendir sesuai dengan firman Nya dalam Al quran. 
Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pahalanya) kepada mereka dan bagi mereka pahala yang banyak’. (QS. Al-Hadid: 18)  

Dari ayat diatas kita bisa memahami secara umum, jika Allah akan terus melipat gandakan harta orang yang suka bersedekah, tapi harus diingat lakukan sedekah secara iklas tanpa mengharap pamrih dan pujian dari orang lain, lakukan sedekah itu dengan penuh keiklasan, jika sulit untuk iklas maka berusahlah dengan menanamkan niat iklas tanpa perlu bercerita dan menampakkan pada orang lain. Untuk lebih mudahnya anggap saja ketika kita bersedekah itu merupakan tabungan untuk hari akhirat nanti, jika sudah demikian maka sedekah itu bisa kita ibaratkan sama halnya dengan kita melakukan penyetoran tabungan anda ke bank, sehingga tidak perlu bercerita dengan jumlah saldo tabungan kita kepada orang lain. Ibarat lagu opik yang salah satu baitnya orang yang bersedekah dekat dengan Allah, takkan berkurang yang disedekah akan bertambah-akan bertambah dst. 

Selain bersedekah dapat membuat harta kita utuh dan bertambah, sedekah juga dapat menghapus dosa kita (bukan dosa besar karena dosa besar mesti melakukan Tobat Nasuha). Memang banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menghapus dosa, seperti berzikir, berpuasa dan lain sebaginya. Namun sedekah memberikan suatu nilai lebih, karena sedekah selain dapat menghapus dosa banyak lagi hikmah aatupun fazilah yang kita peroleh dari bersedekah, terkadang kelebihan dari bersedekah tersebut akan kita peroleh dengan tidak kita sadari sama sekali. Itulah rahasia Allah yang diberikan bagi orang yang suka melakukan sedekah dalam meringankan beban anak yatim dan orang fakir. Adapun dalil tentang sedekah dapat menghapuskan dosa adalah seperti yang telah disampaikan oleh nabi Muhammad Saw, dalam salah satu Hadistnya:

Sesungguhnya sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api’.(HR. At-Tirmidzi).

Namun hal yang sangat ditekankan oleh Nabi Muhammad Saw, bahwa kita di anjurkan untuk iklas dalam melakukan sedekah, seperti yang telah saya jabarkan sedikit diatas memang sulit untuk melakukan sesuatu dengan iklas, karena iklas itu perkara hati, maka setidaknya hindari saja perkara ria/pemer ketika kita melakukan sedekah tarhadap orang-orang miskin. Setidaknya itu merupakan awal dari sebuah niat kita supaya tidak ria dalam melakukan amal kebaikan. Dibawah ini salah satu dalil yang memperkuat tentang untuk tidak berlaku ria ketika kita melakukan sedekah. Rasulullah Saw, bersabda dalah salah satu hadistnya: 

‘Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, maka ia menyembunyikan amalnya itu sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya’. (HR. Bukhari)

Sekian kupasan ringkas dari manfaat melakukan sedekah, semoga ini bisa menjadi sebuah motivasi bagi kita untuk lebih meningkatkan amalan sedekah kita, jangan pernah beralasan untuk tidak melakukan sedekah karena kita merasa tidak cukup, karena yakinlah bantuan Allah akan selalu ada bagi orang-orang yang sangat gemar melakukan amalan sedekah.

Thursday, October 27, 2016

IMAN KEPADA QADA DAN QADAR ALLAH

Tags
IMAN KEPADA QADA DAN QADAR ALLAH (UNTUK BAIK DAN UNTUNG JAHAT). Dalam menggarungi kehidupan ini, sebagai manusia kita sering mengalami berbagai macam persoalan kehidupan apalagi dijaman yang sekarang ini dimana keadaan sudah sangat jauh berbada dari masa dahulu baik dari segi persaingan dalam berkarir ataupun dalam berdikari sendiri untuk menompang kehidupan ini. Kita tahu, sebagian besar orang sangat sulit untuk menwujukan sesuatu yang dia harapkan terjadi sebagaimana yang mereka citakan. Akan tetapi, terkadang ada juga sebagian orang yang sama sekali tidak memiliki masalah dalam kehidupannya, dimana semua yang diinginkan/dicitakan dia peroleh dengan sangat mudah tanpa harus bersusah-susah. Itulah gambaran umum (sedikit) mengenai contoh dari berlakunya Qadar Allah kepada kita manusia baik yang mendapatkan qadar baik ataupun qadar buruknya dari Allah.

Iman Kepada Qadar Baik dan Buruk dalam Islam
Iman Kepada Qadar Allah
Sangat disayangkan, ada sebagian orang yang terkadang tergelincir ke lembah kufuran disebabkan oleh karena tidak bisa menerima ketetapan Allah yang sudah ditetapkan kepadanya, misalnya mereka akan dengan mudah mengatakan jika Allah tidak adil karena kegagalan yang mereka hadapi didalam hidup mereka. bahkan yang lebih tragis lagi ada yang melakukan bunuh diri dengan anggapan sebagai solusi dari sebuah persoalan yang dihadapi. Subhanallah, sunguh disayangkan jika orang yang bunuh diri itu akan dipandang sebagai orang islam yang mati dalam keadaan tidak beriman di hadapan Allah. 

(Baca Penjabaran Qanaah Dalam Konsep Islam)

Sebagai orang Islam yang beriman kepada-Nya, kita pasti akan percaya dan beriman kepada semua ketepan apapun yang telah ditetapkan Allah kepada kita baik untung baik ataupun untk buruk. Akan tetapi maksud kata menerima segala ketetapanNya disini, bukanlah menerima segala kegagalan kita dengan pasrah saja, tetapi kita diharapkan untuk terus memperbaiki dan berbenah diri atas segala kegagalan yang ada supaya kita bisa menerima sebuah kesuksesan yang kita idamkan. Seperti yang Allah tegaskan dalam Firmanya

Tidak akan aku ubah nasib suatu kaum, kecuali mereka merubahnya sendiri.

Adapun maksud dari kata ayat tersebut bisa kita pahami secara umum jika Allah menghendaki manusia untuk terus dan tetap berusaha semaksimal mungkin dalam mewujudkan segala sesuatu yang kita impikan. Jadi disini jelas sekali jika kita tidak boleh hanya pasrah saja untuk menerima semua kegagalan yang ada tanpa berusaha kembali untuk memperbaiki diri kita dengan merefleksikan segala kelemahan kelemahan yang ada pada diri kita. teruslah jalani kehidupan ini, karena hidup ini hanya sekali, dan yakini jika hidup itu adalah anugerah Allah yang paling besar buat kita. jangan pernah menyesali terhadap apapun kegagalan kita yang disebabkan oleh kita sendiri, sehingga menyebabkan kita terus terjebak kedalam kehidupan yang tidak pernah pasti. 

Sebenanya kita selaku manusia terlalu lemah ilmu yang kita miliki untuk mengetahui segala hilmah dari ketetapan Allah yang ada pada kita. kita harus menyakini jika apapun yang Allah tetapkan pada kita itu adalah yang terbaik yang tidak mampu kita pahami dengan ukuran ilmu yang kita miliki. Terkadang sebagian orang baru menyadari hikmah sesuatu hal yang buruk terjadi kepadanya adalah yang terbaik ketika dia mengamati kejaidian yang terjadi selanjutnya. Misalnya seeorang yang mau berangkat keluar negeri, jauh-jauh hari dia telah mempersiapkan segalanya untuk berangkat pas pada hari keberangkatan di harus gagal berangkat karena demam, pada saat itu dia merasa kesal dengan penyakitnya karena menyebabkan keberangkatan dia gagal, namun sesuatu hal buru terjadi dimana pesawat yang rencanya dia berangkat memgalami musibah. Pada saat itu baru dia pahami hikmah yang baik dari kekgagalan keberangkatan dia ke luar negeri. Itu hanya contoh kecil saja, pada hal banyak sekali hikmah-hikmah lain yang terkandung dalam setiap kegagalan kita dalam mengarungi kehidupan ini, cuman terkadang kita terlalu naif untuk mampu menemukan semua hikmah tersebut, kecuali hanya bagi mereka yang memiliki sikap tawadhuk dan qanaah, dan tetap mensyukuri apapun yang kita perolah/miliki sebagi bentuk syukur kita kepada sang Khaliq Allah ‘Azawajalla.

Perkembangan Kurikulum Dicetralisasi Di Indonesia


PERKEMBANGAN KURIKULUM DICETRALISASI DI INDONESIA. Kurikulum merupakan proses merencana, memandatkan, memadukan, mentafsirkan isi ataupun maksud, dan objective kurikulum (Ishak Ramly, 2003:7). Dewasa ini kurikulum pendidikan mempunyai peranan penting bagi seluruh negara yang ada di dunia, karena kurrikulum merupakan fondasi utama dalam menentukan maju mundurnya suatu pendidikan dalam suatu negara. Jika kita melihat dunia pendidikan sekarang, banyak sekali negara yang terus mengembangkan kurikulum pendidikannya untuk mencapai taraf yang lebih bagus, sebab banyak sekali faktor yang terus mempengaruhi perkembangan kurikulum pendidikan, seperti: tehnologi dan informatika, perkembangan ilmu pengetahuan, lingkungan, kebudayaan, dan lain. Namun demikian dalam perancangan kurikulum dibutuhkan metode yang sangat tepat untuk menjawab semua persoalan di atas, di mana kurikulum yang dirancang harus sesuai dengan perkembangan zaman dan tehnologi, sebab dewasa ini pengaruh tehnologi terhadap dunia pendidikan sangat besar, di mana tehnologi sudah menjadi kebutuhan primer untuk setiap orang. Mengikuti Allan C Ornstein France P hunkins: 
Perkembangan Kurikulum Disentralisasi Di Indonesia
Kurikulum Disentralisasi


'Curriculum development is where the action is. This is not meant that those who are scholars in the field should not deal with broad issues such as social policy, culture mores, and political power. Bur the key for activity for educators, where the rubber hit the road, is creating aducational program that engage student in learning and empowering them to construct their own meaning and to comprehend the meaning of scoolars, to take currirulum as vision to actual program. The dominant of curriculum development is not static. New procedures are being suggested for changing axisting curricula that draw on post modern way of thinking. New approaches to curriculum development are drawing on the latest in cognitive theories. Instructional design theories also are enriching ways of approaching curriculu development'.   
(Allan C. Ornstein France P. Hunkins 2004:194) 


Untuk memecahkan persoalan yang ada dari keberanekaragaman negara indonesia, sebagai Negera kepulauan yang terdiri dari berbagai macam suku dan adat istiadat dimana satu sama lain mempunyai perbedaaan masing-masing, tentu saja mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pengembangan dunia pendidikan. Pemberian Otonomi Daerah oleh pemerintah pusat merupakan langkah strategis bagi daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri, berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan untuk menghindari hal-hal yang sensitive sehingga sisiwa boleh memahami materi pelajaran sesuai dengan keadaanya. Untuk merancang kurikulum yang berkwalitas berbagai jenis rancangan kurikulum dipelajari, paling kurang rancangan tersebut juga mengacu pada rancangan yang digambarkan oleh Allan C. Ornstein France P. Hunkins dimana kurikulum pendidikan dapat dikelompokkan dalam tiga bahagian diantaranya 1. Kurikulum Subject center, 2.Kurikulum learners/student center, 3. kurikulum problem solving (Allan C. Ornstein France P. Hunkins, 2005:245).

Desentralisasi pendidikan merupakan salah satu contoh kewenangan daerah untuk mengurus tuntas segala permasalahan yang tercakup di dalam pembangunan bidang pendidikan di daerahnya. Desentralisasi pendidikan ini tentu saja membuat peluang menuju peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan, terarah dan menyeluruh sesuai dengan lingkungan dan dunia kerja di suatu daerah. Salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan adalah dengan penyempurnaan kurikulum Nasional. Penyempurnaan kurikulum ini akan lebih bermakna bila diikuti oleh perubahan pengelolaan kurikulum yang dengan sendirinya akan merubah praktik-praktik pembelajaran di kelas, dimana sangat tidak memungkinkan jika penerapan kurikulum harus disamakan antara satu daerah dengan daerah lain. Disini kita melihat penerapan Kurikulum K13 Sebagai Penyempurnaan dari kurukulum KTSP diharapkan akan mampu membuat perobahan pengeloaan kurikulum yang maximal antar pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Pemaknaan standar pendidikan tidak di artikan secara bebas tetapi masih mengikuti rambu-rambu yang telah diatur, seperti perumusan indikator masih sesuai dengan Kompetensi yang telah ditentukan dalam penyusunan perangkat pembelajaran. Sehingga proses pencapaian yang diharapkan oleh kurikulum akan tercapai dan terlaksana dengan seragam dan serentak walaupun dalam penyajiannya sedikit berbeda.     

Definition Of School Based Curriculum Development

DEFINITION OF SCHOOL BASED CURRICULUM DEVELOPMENT. 
Before determining the terms of SBCD, it is necessary to examine the notion of SBCD, which is the central of our discussion. The word “school-based” literally implies that all curricular decision are made at the school level. When combining with the word “curriculum development”, it connotes that all activities associated with the creation of curriculum materials, such as planning, designing, producing, implementing, and evaluating must be conducted at school level. 



Definition of School Based Curriculum Developmen
School Based Curriculum Development
(Read KTSP as a Form of SBCD)

School Based Curriculum Development may be taught of a set of interrelated ideas about, or proposals for, how whole curriculum are to be designed and how the related teaching and learning are to be planned and organized according to the context of societies and environments’ need. A literal definition of "school-based” might imply that all educational decisions are made at the school level. Apart from independent and "alternative" schools operating as separate entities, it is highly unlikely that this situation pertains to systemic schools (for example, government schools, and schools operating within a school district).
The terms of school based curriculum is defined in a range of different ways in the literature. According to Bezzina (as referenced in Rachel Bolstad, 2004:6). The school based curriculum development is defined as bellow: 

'[SBCD is] a process in which some or all of the members of a school community plan, implement and/or evaluate an aspect or aspects of the curriculum offering of the school. This may involve adapting an existing curriculum, adopting it unchanged, or creating a new curriculum. SBCD is a collaborative effort which should not be confused with the individual efforts of teachers or administrators operating outside the boundaries of a collaboratively accepted framework' (Curriculum Development: principles, Processes and Practices, 2004:5)

So from the above statements we may understand that school based curriculum is the schools needing to be responsive to their environment, and requiring the freedom, opportunity, responsibility and resources to determine and direct their affairs, it’s mean that SBCD provides chance to region  for shaping curriculum to suit unique local needs and resource of students and communities. The curriculum in school based curriculum development is internal and organic to the institution, not an extrinsic imposition. The institution is also has a network of relationship with another institutions, groups and bodies, as for example a school is part of local education authority and  national education system and it releases to community bodies.  

Hence, other writes try to map the infinitive varieties of SBCD in their attempt to explain what it is. For example, Brady as referenced in Rachel Bolstad (2004:24), he postulates twelve variations of SBCD using a classification system based upon type  of activity (creation, adaptation, selection of curriculum materials), on one axis people involved (individual teachers, pair of teachers, groups, and whole staff), on the other axis 

One single of definition of SBCD is can not to justify the SBCD, because SBCD is move dynamically based on the context of environment and social need. We see that the type of SBCD in America and Australia even in Hongkong are not the same in all aspects, however the main purposes of this curriculum is the same in developing the curriculum in grass level. 

As already mentioned in earlier, School based curriculum as the planning, design, implementation, and Evaluation of a programme of students’ learning by the educational institution of which of those students are member Skillbeck (1984:2). The implication of this definition is that curriculum development and curriculum research are inseparable and that, since teachers are center agents, curriculum development about teacher self-development and curriculum research is about how to make curriculum more efficient and how to solve the problem in education. 

SBCD can involve creating new products or processes, but that can also involve selecting from available commercial materials and making various adaptations. The latter two processes, of course, require less time and funds and a lower level of commitment from participants. Yet, it can be argued, that SBCD tasks should be embark upon only if they are manageable and can be achieved within a reasonable time frame. 

Other writers argue that SBCD is an amalgam of ideas, which can be interpreted as an educational philosophy. Skilbeck (1990:241-244), puts together such terms as "teacher and learner working together to produce a curriculum", "freedom for both teacher and pupil", and the "school's responsiveness to its environment" to produce a theoretical position about SBCD. He argues at length for structures and policies to be developed at the school - level and for there to be shared decision - making by all participants, especially teachers and students. Fullan (2002:16-20) supports teacher involvement in change at the school level, and he has produced various factors and strategies, which could be viewed as a model for SBCD. Other writers have commented on educational philosophies that are closely linked to SBCD. For example, A.V. Kelly (2009:268) argues for a democratic underpinning to curriculum planning and development. He states that democracy is a moral system-the major elements of this moral framework are equality, freedom and respect for the rights of the individual. “In a genuinely democratic society, the government’s policies must accord with these elements.

SBCD can be seen as a product of discontent with externally or centrally based curriculum development. Many SBCD advocates reject any curriculum development activities which are not located at the school level. They argue that centrally based curriculum developers fail to take into account the diverse needs of students and teachers in a particular school. “Top-down” modes of curriculum development, they contend, ignore classroom teachers and provide them with little incentive, involvement, and job satisfaction Collin J. Marsh & George Willis, (1990). 

So as the conclusion we may describe that SBCD can be viewed as the opposite of centrally based curriculum development, and as a “rallying cry” for the active involvement of teachers in designing, planning, implementing, and evaluating curriculum materials within a particular school Collin J. Marsh & George Willis, (1990:46). Then SBCD could be described as the various curriculum processes of planning, designing and producing, associated with the completion of a particular set of materials. It can also include teaching activities associated with the implementation and evaluation of a set of materials. One might ascribe such elaborate activities to a well- funded curriculum project team, but the scale and range of these activities could well be beyond the scope of individual school communities. As a result, the term "curriculum - making" is preferred, because it signifies a less grandiose range of activities for school personnel. 

In fact, the early notion of SBCD has a strong relationship to action research. As John Elliot (1997) points out, in the 1960s, action research emerged as a tool for school-based curriculum change, which was tied to the goal of creating curriculum that was more meaningful and relevant to students.
Through conducting action research, teachers emancipate themselves and become the creators of curriculum for themselves and students. Advocates of action research and SBCD declare that having the responsibility to develop and implement curriculum is crucial to the professional identity of teachers. SBCD is thus principally a way to develop teachers’ professional competence and empower them. 

In reality the School Based Curriculum Development is really good strategy in managing school curriculum, where this form of curriculum involving all elements in managing curriculum such as teacher, community, education scientist, education stake holder, education division, agent of education, companies, and so forth. this statements based on what skilbeck said, (as referenced in A.V Kelly, 1999:116) he states that there are several major principles are reflected in this notion of School Based Curriculum Development, First it acknowledges that a large measure of freedom from both teachers and students are a necessary condition for curricula provision, which is fully education. Second, it views the school as human social institution which must be responsive to its’ own environment, and which must, therefore, be permitted to develop in its’ own way to fit that environment. Lastly, it regards as a vital to this development that the individual teacher or at least the staff individual should, should accept a research and development role in the respect of curriculum.    

Wednesday, October 26, 2016

Historical Roots Of School Based Curriculum Development

HISTORICAL ROOTS OF SCHOOL BASED CURRICULUM DEVELOPMENT. 
Curriculum as word is not recent invention. It does not simply refer to what is taught in school. It is more complex, a word from antiquity that has involved in meaning. Kenneth T Henson states that the terms of curriculum comes from a Latin word meaning “racecourse” when used in education, curriculum has many meaning. Traditionally, the word has meant a list of course, but through the years the terms has expended, taking on several additional meaning (Kenneth T Henson, 1995:4). 


We known one of the reason why education need improve and change dynamically because the education in the world always challenge with the progression of knowledge and the problem education in world. Nowadays we see that there are many countries in the world have many problems in progressing their own educational system, they trying to manage education which is able to be accessed easily by students. They manage the education research/project in order to know the basic problem in order to increase their education, and tried to back to roots problem in education, where the school need freedom, access to materials, resources, strategies, and involved in all activity of education. 

We know that the school is not only belonging to government but community also have big role in managing the education system because the knowledge is passed to members of societies. So the curriculum is not only doing the mandate of the government in the top level by ignoring the competency of teacher in the class room, where the teacher is just focus on doing the instruction from the top level without caring the students, society and environments’ need. The curriculum in modern era is permitted the teacher to be more creative in using their own intellectual to manage the school curriculum by taking account the society, a students and environment need. This is not meant that only teacher who has responsible to arrange the curriculum but teacher is only one element that should be involved in managing curriculum. 

School based curriculum is essentially a teachers-initiated grass root phenomenon, and it’s likely to survive in this pure form regardless of political and economic context. In each country SBCD has grown within a different cultural tradition, and it is therefore difficult to point out to a particular time period when it began, because there is no many documents regarding to this curriculum. 

As general rule, we found significantly less literature about SBCD written during the last 10 years. The exception to this was a few articles about SBCD in Hong Kong, China, Japan, and Taiwan written since 2000. The problem may be caused by many document was not documented and also many literature that was not written in English. However during the 1960s there were growing advocacy Then to find the real data regarding the SBCD, educationalist and system managers operating tone collect the documents at least in English speaking countries, and this is the history of SBCD begin. Collin Mash, Christopher Day & Lynne Hanna (1990:18)

It was not until well after World War II that various moves were made in educational circles which might be constructed as being related to SBCD. The Plowden report release in UK in 1967 (central Advisory Council for education, 1967), advocated child centered approaches and informal learning practice in primary school. This approach became popularized as open education and open learning in many western countries and especially in Australia. So in order to get a clear description about the historical of School Based Curriculum Development, let see the description about the School Based Curriculum in USA.  

In America, the reformation in education sector during ninetieth century, but there is no evident to justify that America already implement this curriculum at the beginning of ninetieth century. However the various terms of curriculum related to the School Based Curriculum Development already used in developing curricula, such as “child-central” approach, progressive education, curriculum reform, school improvement, and school effectiveness. 

According to Collin Mash, Christopher Day & Lynne Hanna, (1990:15) since the mid-1970s there has been a major effort at all level to bring about school improvement/school effectiveness in USA, school level group has been, and continue to be, involved in SBCD activities. The implementation of School Based Curriculum in America is not totally the same among the district level, because the different location and the development of education. 

Marsh as referenced in Collin Mash, Christopher Day & Lynne Hanna (1950:23), said, it is not possible to provide an overall judgment about current levels of SBCD occurring in the USA because of the enormous diversity occurring at the district and states levels. However, some states, such as California and Florida, do appear to be encouraging SBCD development quite strongly. For example, the school improvement project (SIP) in California has provided individual schools with state funding for the creation of school site council to plan and implement local change over periods of two to three years.

Tuesday, October 25, 2016

Curriculum Change And Innovation


CURRICULUM CHANGE AND INNOVATION. 
Curriculum change is a generic that include a whole family of concepts such as 'innovation, development and adaption' it includes change that can be either planned or unplanned (unintentional, spontaneous or accidental), Marsh & George Willis (1999:150).

Concept of Curriculum Change and Innovation
Concept of Curriculum Change and Innovation
Change in educational depends to a very large extent upon the process of institutionalization which, help to transform the general potentialities for change into historical realities. Education, generally speaking, is a conserving institution, seeking to maintain and to mediate the culture heritage of society, S.N Eisenstaedt (1964 as referenced in Ivor Morish 1967: 23). This mean that there are must be some attempt the old culture to new condition in order that individual within society might keep up with technological change, and culture however should trough the processes of educational dynamic, and it should perform a directional role. Change is not only occurring by its self, but there many factors that influence change occur, such as innovation, development and adoption etc. M.B Milles (1955, as referenced in Ivor Morish 1967:28), states that there are a number of environmental factor which enable and dispose educational system to change. Some are quite specific, such as size, complexity, finances and congruence between the innovation and the values and practices of those who receive them; and others are of a more general nature. Ivor Morrish (1976:29), state, other areas of change occur in terms of financial allocation to research and development, buildings, materials, staffing and so forth. Much here will depend upon whether society is going through a period of expansion or retrenchment, inflation or deflation.   
Innovation process is the planned application of ends or means new to the adopting education system, and intended to improve the effectiveness and/or efficiency of the system, Henderson (1985:3). This definition, with its emphasis on interaction and application, indicates that the process of innovation includes not only an awareness of alternative but definite intention to implement one or more alternatives. In addition Hendrson’s definition also directs intention to improving the effectiveness of a system. Educators do not always agree with the contention that a change has to be an improvement to quality as an innovation. Whether an innovation is regarded as an improvement or not depends, of course, on the judgment of who ever makes the decision about adoption, with the judgment usually made in terms of aspiration and past experience.

In consideration of the general parameters of educational innovation, Westley (1964:158) argues that there are three processes at work. First, innovations tends to occur through the accumulation of a variety of changes; some quite small, such as the introduction of a new text book; some more widespread, such as a general improvement in the professional education and training of teachers. Other changes are effected more at the level of measurement techniques, such as the improvement of testing and diagnostic methods. All such changes as these, however, are usually developed slowly, but the total effect is continual improvement in the education system as a whole. 

Secondly, there is a what Westley calls the “grass root” theory of the development of change; the system as a whole is perpetually being infused with new idea, and it is transforming those with it is prepared to assimilate into some newly conceived from more constant with its own norms and practice. Thirdly, changes occur in policy decision; a central governmental authority decides to adopt a new idea and issues the requisite regulations and instructions to bring it into effect. These three analyzed by Westley are probably at work in most innovations that are eventually introduced.       

Thus, innovation is always needed, especially in the field of education to overcome the problems that are not only limited to education but also the problems that influence the process of education process. Rosenblum & Louis (1981: 1) argued the need of innovation in education. 

'Declining enrollments, rapid changes in the existing technology and knowledge about teaching and learning processes, a continual expansion of the role of the school into new areas, and changes in the prevailing cultural preferences of both local communities and the larger society continually impel schools to innovate'


Innovation often treated as change, but not all of change is able to be treated as innovation. Mars and George Willis (199:151) state, that the terms of innovation may mean either a new object, idea, or practice or the process by which a new object, idea, or practice comes to adopted by an individual group or organization. In my view, with curriculum innovation, you would be teaching the subject in a new way, perhaps connected with other activities. For example, if you are teaching about a certain book, like the independent day of Indonesia, you might have the students learn about the 1945s, about lifestyles of blacks and whites in that particular town, and what was going on during that time in Indonesia. If it hasn't been done before, it might be useful to include a simulation of some experience, bring in someone who lived in those times--an experience that will transform the knowledge that the students have.  However a change in curriculum will effect the subjects being taught. An alternative book, like the independent day of Indonesia, would be required reading instead. The independent day of Indonesia might be moved to a reading list for juniors from the freshman year or to the curriculum of another class, such as history. 

Furthermore Roger and Shoemaker (1971), identify six attributes that in studies of innovation and implementation consistently stood out as most important part: 

1. Relative advantage: the degree to which an innovation is perceived to be better that the idea it supersedes
2. Status: the importance attached to a subject or program
3. Relative reward: the strength of the reward if the innovation is used
4. Compatibility: the degree to which an innovation is perceived as being consistent with existing values and practice
5. Complexity: the degree to which an innovation may be experimented with on a limited basis. 

Based on the statements above, it implies that the appearing of an innovation is caused by the problems of education that have to be solved, and the way to solve it is through innovation (often referred to as "renewal", although this term is not identical with innovation). The innovation should be resulted by original thinking, creative, and unconventional.  The implementation of the innovation should be simple by involving comfort and convenience elements. All this is forwarded as an attempt to improve the situation of education. 

One important aspect in any context of education is by understanding the curriculum that is implemented by national education. Often the curriculum becomes a scapegoat due to the failure of the education because of changing of curriculum. In fact, it should be understood that the curriculum has to move dynamically, has to be changed in order to follow the changes in society. Cuban (1991: 216) suggests that to understand the curriculum changes necessary to understand three basic concepts of these changes, namely (a) the plan of change is always good, (b) must be separated between the change with stability, and (c) if the plan of change has been adopted, it is needed the improvement of the plan.