Monday, August 31, 2009

Filsafat Pendidikan Islam (Gambaran)

Pendekatan filosofi terhadap sebuah pendidikan adalah suatu pendekatan untuk yang digunakan untuk menelaah dan memecahkan permasalahan-permasalahan pendidikan dengan menggunakan berbagai methode filsafat. Pandangan mengenai konsep pengetahuan atau teori pendidikan yang telah dihasilkan dengan pendekatan Filosofi tersebut disebut filsafat pendidikan. Menurut Henderson [1995], filsafat pendidikan adalah filsafat yang diaplikasi untuk menelaah dan memecahkan permasalahanh-permasalahan dari sistem pendidikan.

Gambaran Filsafat Pendidikan Islam
Gambaran Filsafat Pendidikan Islam
Cara kerja dan hasil-hasil dari penggunaan metode filsafat dapat dipergunakan untuk membantu dalam memecahkan masalah-masalh dalam kehidupan, sebagaimana yang kita ketahui jika pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang paling penting dalam kehidupan peradaban manusia. Pendidikan membutuhkan pendekatan filsafat disebabkan karena pendidikan tidak hanya menyangkut tentang pelaksanaannya saja, yang hanya terbatas pada sebauh pengalaman tertentu. Dalam pendidikan akan muncul berbagai masalah yang lebih luas, kompleks, dan lebih mendalam, yang tidak hanya tebatas pada pengalaman indrawi [penglihatan] maupun fakta-fakta faktual, dan masih ada hal lain yang mungkin tidak dapat dijangkau dengan penggunaan methode sains pendidikan (science 0f education).


Kalau kita kembali ke sistem filsafat pendidikan islam disitu jelas digambarkan dasar ajaran islam sebagai nilai-nilai untuk diterapkan dalam kehidupan, dapat dijadikan sumber pijakan dalam menentukan tujuan dari pendidikan, metode, bahkan sampai pada jenis-jenis dari pendidikan untuk mencapai tujuan yang kita inginkan.

Methode yang dipergunakan dalam menyusun teori/konsep pendidikan disebut thesis deduktif. Dinamakan thesis deduktif, karena itu bertolak dari dalil-dalil atau aksioma-aksioma agama yang tidak dapat kita tolak akan kebenaranya. Disamping itu dikatakan juga deduktif, karena teori pendidikan disusun dari prinsip-prisip yang ada/berlaku umum, dan diterapakan untuk memikirkan masala-masalah yang khusus. Ajaran ajaran agama yang berlaku umum dijadikan sebagai pangkal untuk menentukan prinsip-prinsp pendidikan yang lebih khusus.

Sebagai contoh teori pendidikan islam akan merujuk pada Al-Quran, sehingga ayat-ayat Al-Quran akan dijadikan sebagai landasan dalam keseluruhan sistem pendidikan. Abdurrahman Saleh [1991] telah membandingkan konsep teori pendidikan islam dengan konsep teori sains. Ia mengatakan bahwa konsep teori sains ini bersifat deskriptif untuk membantu para peserta didik dalam mencapai/mengasuh keberhasilan siswanya. Tetapi teori ini tidak dapat menjadi paradigma bagi teori pandidikan, karana dalam pendidikan, teori tidak sekedar hanya menerangkan bagaimanan atau mengapa suatu peristiwa tersebut terjadi. Fungsi dasar teori dalam pendidikan adalah untuk menjadi petunjuk prilaku peserta didik dalam melakukan kegiatan mengajar. Dalam pendidikan islam, nilai-nilai Qurani merupakan usaha pembentukan elemen dasar dari sebuah kurikulum, dan sekolah berkepentingan membawa siswa-siswanya supaya mematuhi dan menjalankan nilai-nilai yang ada tersebut. Praktik prilaku harus dinilai oleh para pendidik, dan dalam pemberian nilai tetsebut tidak bisa dibatasi hanya pada penemuan-penemuan ilmiah.

Lebih jauh Salih Abdullah menyebutkan bahwa, jika kita menerima sebuah teori sains sebagai paradigma bagi sistem pendidikan, berarti kita harus meninggalkan seluruh fakta-fakta yang bersifat metafisik (ghaib) Al-Quran. Sains sifatnya hanya menerangkan kepentingan-kepentingan fakta yang dapat diamati. Sains tidak dapat menyentuh semua elemen-elemen yang tidak dapat di-observasi dan diukur. Seperti yang telah kita ketahui bahwa indra dan rasa bukan satu-satunya media yang dapat digunakan untuk mendapatkan pengetahuan. Al-Quran yang merupaka salah kitab wahyu dari Allah, tidak  tidak akan mampu diuji  secara empiris[sains], dan secara menyeluruh. Dalam surat Al-Baqarah telah dipaparkan secara umum dapat kita golongkan bahwa kepercayaan orang islam terhadap segala yang bersifat ghaib, mendahului referensi terhadap perilaku yang dapat diamati/diobservasi. Orang–orang islam menerima sistem etika dari islam yang semua bersumber dari Al-Quran, karena datang dari Allah Yang Maha Ghaib, yang diyakini sebagai sistem etika yang terbaik, bukan berdasarkan hasil temuan empiris, juga bukan hasil dari eksperimentasi sains.

Teori pendidikan Islam merupakan sebuah teori yang terintegratif yang berdasrkan pada nilai-nilai Qurani. Jadi teori pendidikan Islam tidak bertentangan dengan hasil-hasil sains bahkan menerima dan memamfaatkan bagian-bagian dari sains tersebut bagi pelakasanaan operasional pendidikan.

Sebagai contoh konsep tentang asal mula kejadian manusia sudah digambarkan secara sempurna dalam Al-quran misalnya dari surat al-yasin dimana dasar pengetahuan ini bisa dijadikan sebagi pijakan dasar dalam membuktikakanya secara teoritis/empiris yang pada akhirnya apa yang telah digambarkan dalam Al-Quran sangat sesuai denga apa yang telah dibuktikan oleh dunia sains sekarang. Dan masih banyak lagi contoh-contoh dari gambaran ilmu yang telah digambarkan secara jelas dalam Al-Quran yang kebenarannya sudah dapat dibuktikan oleh sains.

Jadi apa yang penulis maksudkan disini adalah mari kita mengkaji ilmu-ilmu pengetahuan  dari berbagai aspek dan tempat dengan tetap menggunakan Ilmu Al-Quran sebagai pijakan dasar, sebab masih sangat banyak sekali kandungan-kandungan isi Al-Quran yang belum mampu kita buktikan dengan konsep ilmu pengetahuan kita disebabkan oleh keterbatasan ilmu yang kita miliki.
Wallahu a’lam

Sunday, August 30, 2009

Gambaran Dari Kerajaan Aceh Tempo Dulu

Sayed Dahlan Al-Habsyi lahir di Panton Labu Aceh, 15 Juni 1944. Beliau adalah seorang seni rupa (pelukis) senior yang telah lama mendedikasikan ilmunya dilembaran kanvas sejarah seni rupa Aceh yang kaya akan kebudayaan. tujuan beliauadalah ingin mengembangkan dan melestarikan Budaya Seni Rupa Aceh patut diacungkan jempol. Sejak tahun 1962 , ia menekuni dunia cerganis di bawah bimbingan Komikus Teguan Harjo dan beberapa cerganis lainnya di Medan.

Gambaran Dari Kerajaan Aceh Tempo Dulu
Gambaran Dari Kerajaan Aceh Tempo Dulu

Ia pun telah menekuni dunia senirupa dan telah mengikuti event Pameran berskala Nasional yang diselenggarakan di Sumatra dan Jawa. Agar tidak melupakan regenerasi, beliau mempersembahkan ilmunya untuk anak bangsa dengan mendidik mereka melalui Sanggar Seni Rupa Sayed Art saat menetap di Kota Lhokseumawe pada tahun 1969-2003.

Mungkin banyak kita yang bertanya mengenai hasil lukisan beliau di atas kanvas, apa benar aceh seperti itu dulu? Sebenarnya pertanyaan ini tidak perlu di ucapkan karena kegemilangan Aceh dulu jauh lebih hebat dari yang terlukis dalam kanvas tersebut. Kita tau Kerajaan Aceh tempo dulu termasuk dalam salah satu dari lima kerajaan besar dunia, jadi boleh dikatankatan tidak perlu diragukan lagi hasil lukisan gambar tersebut minimal sudah ada mendekati gambaran aslinya.

(Baca Konsep Bhineka Tunggala Ika dan Lakumdinukum Waliadin)
(Baca Memaknai Sebuah Kemerdekaan)

Kalau saya sendiri malah cendrung bertanya tentang kemampuan bapak sayed Dahlan dalam melukis karya seni yang begitu penuh dengan muatan sejarah, dan nasionalisme ini. Kerana saya yakin lukisan ini bukan lahir dengan sendirinya tetapi lukisan ini merupakan hasli dari berbagai referensi yang beliau baca baik dari buku-buku dari eropah dan dalam negri seperti kaya Dennys Lombard, bustanussalaten ataupun dari cerita-cerita raknyat yang turun menurun di aceh. Ini merupakan karya yang luar biasa karena beliau mempu berfantasi alias berputualang kezaman dimana beliau belum ada, ini beliau lakukan lewat referensi yang saya sebutkan tadi dan dengan di motivasi oleh rasa keacehan dan rasa cintanya terhadap aceh kebudayaan.

Jadi yang perlu kita amati sekarang kenapa kita bisa melupakan suatu sjarah yang begitu gemilang yang pernah diraih oleh pendahulu alias Indatu kita, sehingga kita sedikitpun tidak termotivasi untuk bisa meraih lebih dari yang pernah mereka raih sebelumnya.

Sejarah kegemilangan aceh itu sudah berlalu, tinggal kita saja yang masih tersisa untuk terus berkarya seperti mereka setidaknya setara dengan apa yang telah mereka raih dulu. Ini sebenarnya merupakan tugas pokok raknyat aceh dan pemerintah aceh sekarang untuk terus membenah diri supaya aceh lebih bagus dan bermartabat dimata dunia. Tapi meliat gelagat pembangunan aceh yang terus didera korupsi, kolusi dan napotisme rasanya sangat tidak mungkin meraih apa yang telah pernah mereka raih sebelumnya. Apakah kita tidak malu melakukan korupsi, kolusi dan napotisme kepada pendahulu kita dimana mereka tidak pernah mewarisi sigat ini sebelumnya. Atau kita memang tidak pernah lagi terpikir untuk mensejahterakan aceh karena kita mengannggap apa yang kita raih baik dari posisi dan jabatan merupakan hasil karya kita sehingga kita seenaknya melakukan penyelewenga kekayaan negara untuk memperkaya diri. Mungkin tulisan saya ini sedikit menyinggung pajabat pemerintah, tapi ini sebenarnya saya tidak sedikitpun punya tujua seperti itu. Ini semua terinpirasi dari karya Bapak Sayyaed Dahlan Al-Hasby.
Terakhir saya mohon maaf pada Bapak sayed karena telah mengapload hasil beliau tanpa izin, tapi apa yang saya lakukan pak hanya ingin menyampaikan pada teman-teman supaya mereka tahu bagimana sih persisnya gambaran Aceh tempoe dolue. mungkin lewat pemeparan ini ada sedkikit gambaran yang mereka peroleh walaupaun jauh dari kebenaran 100% dari aslinya minimal sekitar 70% karya bapak tersebut sudah menjadi dasar yang kuat untuk melihat bagaimana sekilas gambaran kerajaan Aceh darussalam Tempo dulu. sekian dan terimakasih

Friday, August 28, 2009

(Ktsp) Langkah-Langkah Tehnis Pengembangan Silabus

Dalam mengembangakan sillabus KTP sebaiknya Guru, Kepala Sekolah dan dinas Pendidikan memperhatikan langkah-langkah berikut:
LANGKAH-LANGKAH TEHNIS PENGEMBANGAN SILABUS
LANGKAH-LANGKAH TEHNIS PENGEMBANGAN SILABUS
1. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar.
Adapun cara mengkaji standar kompentensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran sesuai dengan SI adalah dengan memparhatikan hal-hal berikut:
- Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu atau tingkat kesulitan materi.
- Melihat keterikatan atara standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran.
- Melihat keterikatan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran.


2. Mengindentifikasi meteri pokok.
Dalam mengindentifikasi materi pokok sebagai penunjang pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar adalah dengan mempertimbangkan:
- dengan melihat tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosi, sosial, dan spiritual peserte didik
- memperhatikan azas kebermanfaatan bagi peserta didik
- melihat struktur keilmuan
- melihat sejauh mana kedalam dan keluasan materi
- tingkat kesesuaiaan dengan kegutuhan anak didik, lingkungan,
- susunan alikasi waktu

3. Mengembangkan pengalam belajar.
Pengalaman belajar adalah hasil yang didapatkan oleh peserta didik selama dia mengajar, baik yang berkenaan dengan mental dan fisik yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar peserta didik.

4. Merumuskan indikator kenerhasilan belajar
indikator merupakan penjabaran kompetensi dasar yang menunjukkan tanda-tanda, perbuatan atau respon yang dilakukan oleh peserta didik yang digunakan sebagai dasar untuk menentukan alat penilaian. Indikator dikembangkan berdasarkan karakteristik satuan pendidikan, potensi daerah dan anak didik, yang dilakukan secara observasi.

5. Penetuan jenis penilaian.
Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator, dengan mengunakan test dalam bentuk notes baik secara lisan ataupun tulisan, pengamatan, sikap, hasil karya (proyek/produk), penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

6. Menentukan alokasi waktu.
Penentuan alokasi waktu didasarkan pada minggu effektif dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, kompleksitas(kesulitan) dan tujuan kompetensi dasar. Alokasi waktu juga merupakan jumlah waktu yang diperlukan oleh peserta didik.

7. Menentukan sumber belajar
sumber belajar adalah merupakan bahan pengajaran, yang didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok, kegiatan pembeljaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

KOMPONEN SILLABUS

1. Komponen identifikasi
terdiri dari nama sekolah, nama mata pelajaran, kelas dan semester.

2. Komponen standar kompetensi
yang perlu dikaji dalam komponen ini adalah standar kompetensi mata pelajaran yangbersangkutan dengan memperhatiakan hal berikut:
- urutan berdasarkan hirarki konsep disiplin ilmu dan tingkat kesulitan
- keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran
- keterkaiatan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran .

3. Komponen kompetensi dasar
pada komponen ini yang perlu diparhatikan asdalah kompetensi dasar mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal berikut:
- urutan berdasarkan hirarki konsep disiplin ilmu dan tingkat kesulitan
- keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran
- keterkaiatan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran.

4. Komponen materi pokok.
Dalam kompenen ini yang harus dilakukan adalah mengindentifikasi mata pelajaran dengan pertimbangan:
1. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik.
2. kebermamfaatan bagi peserta didik
3. stuktur keilmuan
4. kedalaman dan keluasan materi
5. relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan
6. alokasi waktu

5. Komponen pengalam belajar
dalam komponen ini yang perlu diperhatikan adalah:
- pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan mengaktifkan peserta didik
- pengalam belajar meliputi kecakapan hidup yang perlu dikuasai oleh peserta didik
- rumusan yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajarpeserta didik.

6. Komponen indikator
pada kompenen ini yang perlu diperhatikan adalah:
-indikator merupakan penjabaran dari KD yang menunjukkan tanda-tanda, perbuatan, dan respon yang dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik
- indikator dikembangakan sesuai dengan karekteristik stuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.
- rumusan indikator mengunakan kerja opersional yang terukur dan dapat diobservasi
- indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

7. Komponen jenis penilaian
pada kompenen penilaian, penilaian dilakukan dengan mengunakan test dan non-test dalam bentuk tertulis maupun lisan, berupak hasil karya, portoflio dan penilaian diri, tergantung dari rumusan indikator.

8. Komponen alokasi waktu.
Dalam kompenen ini hala-hal yang harus diperhatikan adalah:
- penentuan alokasi wawtu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif, alokasi waktu pelajaran per-minggu, pertimbangan kompetensi dasar kelulusan, kedalaman, kesulitan, dn tingkat tujuan kompenetsi dasar.
- Alokasi waktu merupakan perkiraan waktu yang diperlukan oleh peserta didik untuk menyampaikan meteri palajaran.

9. Komponen sumber belajar.
Pada komponen ini hal-hal berikut sanganperlu diperhatiakan:
1. sumber belajar adalh rujukan, dan sebagai bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran
2. sumber inid apat berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, lingkungan, alam, sosial, dan budaya.
3. sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar sertamateri pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian.

Dari gambaran semua komponen diatas kita bisa membuat sebuah contoh silabus seperti berikut:
Nama sekolah :
Mata Pelajaran :
Kelas/Semester :

Standar kompetensi : 1. Memahami wacana lisan melalui kegiatan mendengar berita
Kompetensi dasar : 1.1. Menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat

1.2. Menuliskan kembali berita yang dibacakan kedalam beberapa kaliamt.

Materi pokok : 
a. Menyimpulkan berita
b. penulisan berita

Pengalam Belajar :
 a - Mendenganr berita
   - Menuliskan pokok-pokok berita
   - Memberikan tanggapan terhadap isi berita lewat disusi
   - Meyarikan poko-pokok berita menjadi isi berita
   - Menyimpulkan isi berita dalam satu alenia

b -Mendengarkan berita yang dibacakan diradio/TV
   - Mendiskusikan poko-poko berita
 - Menuliskan pokok-pokok berita yang dikembangakan dalam beberapa kaliamt

Indikator :
- Mampu menunjukkan pokok-pokok berita yang didengarkan melalui radio/TV
- Mampu menyarikan pokok-pokok berita yang didengarkan melalui radio/TV
- Mampu menuliskan isi berita yang didenggar ke dalam beberapa kalimat.

Penilaan : 
a. Test tulis (test uraian)
b. Test tulis (tugas rumah)

Alokasi waktu: 
a. 2x40 menit
b. 2x40 menit
Media: 
a. TV
b. Radio
c. kaset/CD berita/teks berita.

sumber:
1. Pengembangan Model KTSP Prof. Dr. Muhaimin M.A
2. Implementasi KTSP. Prof. Dr. H.E. Mulyasa, M.Pd.


Thursday, August 27, 2009

Reasoning Pedagogik (Aspek-Aspek Pengetahuan Pedagogik)

Shulman (1986, 1987, 1992) menciptakan Pedagogical Model Penalaran, berbentuk circle dari beberapa kegiatan yang harus lengkap bagi seorang guru untuk mengajar yang baik: pemahaman, transformasi, pengajaran, evaluasi, refleksi, dan pemahaman baru Dalam mengajar pertama-tama kita memahami tujuan, struktur materi subjek, dan ide-ide di dalam dan di luar disiplin ilmu. Guru perlu memahami apa yang mereka ajarkan. Pemahaman tujuan adalah sangat penting dalam pengajaran

Reasoning Pedagogik (Aspek-Aspek Pengetahuan Pedagogik)
Reasoning Pedagogik (Aspek-Aspek Pengetahuan Pedagogik) 

Tujuan pemahaman
1. Untuk memungkinkan siswa menggunakan dan menikmati pengalaman belajar mereka
2. Untuk meningkatkan tanggung jawab siswa untuk menjadi orang yang peduli
3. Supaya siswa lebih percaya dan menghormati orang lain,
4. Untuk memberikan kesempatan pada siswa tentang bagaimana untuk bertanya dan menemukan informasi baru. 
5. Untuk membantu mengembangkan pemahaman siswa yang lebih luas tentang informasi baru. 
6. Untuk membantu mengembangkan keterampilan siswa dan nilai-nilai mereka akan perlu untuk berfungsi dalam suatu masyarakat yang bebas dan adil (Shulman, 1992)

Transformasi
Kunci untuk dalam pengetahuan dasar mengajar terletak di isi materi dan kafahaman guru tentang pedagogi. Ini dimaksudkan untuk mengubah pengetahuan konten ke dalam bentuk yang kuat terhadap berbagai kemampuan siswa dan latar  belakang. Transformasi tersebut membutuhkan beberapa kombinasi dari proses berikut:

Persiapan (dari bahan teks yang diberikan), yang mencakup proses penafsiran kritis
Representasi ide-ide dalam bentuk analogi baru dan metafora (Guru, pengetahuan), termasuk cara mereka dalam berbicara tentang pengajaran, tidak hanya mencakup referensi  untuk apa guru "harus" melakukannya, hal ini juga termasuk menyajikan materi dengan menggunakan bahasa kiasan dan metafora [ Glatthorn, 1990].)
Instructional pilihan dari antara metode pengajaran dan model Adaptasi dari bahan-bahan dan kegiatan siswa untuk mencerminkan karakteristik gaya belajar siswa. Glatthorn (1990) menggambarkan hal ini sebagai proses penggunaan material yang  sesuai dengan karakteristik siswa. Guru harus mempertimbangkan aspek-aspek yang  relevan terhadap kemampuan siswa, jenis kelamin, bahasa, budaya, motivasi, atau pengetahuan dan keterampilan yang akan mempengaruhi respons mereka terhadap  berbagai bentuk presentasi dan representasi.

Insruksional/Pengajaran
instruksi/Pengajaran terdiri dari berbagai tindakan pengajaran, pengajaran mencakupi berbagai aspek yang paling penting dari pedagogi: seperti: manajemen, presentasi, interaksi, kerja kelompok, disiplin, humor, mempertanyakan, penemuan dan penyelidikan.

Evaluasi
Guru perlu berpikir tentang pengujian dan evaluasi sebagai perpanjangan pengajaran, bukan sebagai yang terpisah dari proses pengajaran. Proses evaluasi meliputi peperiksaan untuk memahami dan kesalahan selama mengajar serta menguji pemahaman siswa pada akhir pelajaran atau unit. Disamping juga untuk mengevaluasi kinerja guru sendiri.

Refleksi
Proses ini termasuk meninjau, merekonstruksi, dan menganalisis secara kritis kemampuan diri sendiri dan kemudian menjadikanya sebagai perubahan untuk menjadi guru yang lebih baik. Inilah yang dilakukan seorang guru ketika ia melihat kembali pada pengajaran dan pembelajaran yang telah dijalankanya. Lucas (sebagaimana dikutip dalam Ornstein et al., 2000) berpendapat bahwa refleksi merupakan bagian penting dari pengembangan profesional pendidik. Semua guru diharapkan untuk mempelajari dan mengamati hasil serta alasan untuk menentukan keberhasilan atau kegagalan siswa. Melalui refleksi, guru memusatkan perhatian pada keprihatinan mereka, lebih memahami perilaku mengajar mereka (siswa) sendiri, dan untuk membantu diri sendiri atau kolega untuk meningkatkan kompetensi sebagai guru. Melalui praktek reflektif dalam kelompok pengaturan, guru perlu belajar untuk mendengarkan dengan cermat satu sama lain, yang juga memberi merekakan tenatng wawasan akan karya  mereka sendiri (Ornstein et al., 2000).

Pemahaman Baru
Melalui tindakan pengajaran yang masuk akal,(reasionable)" guru mencapai pemahaman baru dari tujuan pendidikan, baik dari segi mata pelajaran yang diajarkan, siswa, dan proses pedagogi sendiri (Brodkey, 1986).
Siswa (guru penonton) adalah elemen penting bagi guru untuk mempertimbangkan ketika menggunakan model pedagogis. Mengajar dengan cara yang berhubungan dengan siswa juga memerlukan pemahaman tentang perbedaan-perbedaan yang mungkin timbul dari budaya, pengalaman keluarga, mengembangkan kecerdasan, dan pendekatan untuk belajar. Guru perlu membangun dasar pengetahuan pelajar pedagogi (Grimmet & Mackinnon, 1992).

Untuk membantu semua siswa belajar, guru perlu beberapa pengetahuan tentang belajar. Mereka perlu untuk berpikir tentang apa tujuan pembelajaran, dan bagaimana memutuskan jenis belajar yang paling diperlukan dalam konteks yang berbeda. Guru harus dapat mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan peserta didik, dan harus memiliki pengetahuan untuk meningkatkan pengatahuan siswa yang kurang terampil. Guru perlu tahu tentang kurikulum sumber daya dan teknologi untuk menghubungkan siswa dengan sumber-sumber informasi dan pengetahuan yang memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi ide-ide, mendapatkan dan mensintesis informasi, dalam memecahkan masalah. Dan guru perlu tahu tentang kolaborasi-cara menyusun interaksi di antara siswa sehingga pembelajaran yang lebih kuat dapat terjadi; bagaimana untuk berkolaborasi dengan guru lain, dan bagaimana bekerja dengan orang tua untuk mendapatkan pengalaman di sekolah (Shulman, 1992).


Aspek-aspek yang harus dikuasai oleh seorang guru dalam mengajar:

pedagogik, yang meliputi: 
a. Ilmupengajaran, penilaian, teori, dan skill bahasa (languange skill)
b. Sikap&disposisi, meliputi: sikap positif, dan dedikasi
c. kemahiran, meliputi: mengajar, deduktif dan induktif
d. kemahiran lain seperti komunikasi, komputer, internet, dan penguasaan media belajar

Components of pedagogical content knowledge

understanding of the purposes for teaching subject matters
knowledge of the students understanding in subject
curricular knowledge
knowledge of instructional practice


How we define the subject matter?
What are the purposes of teaching the subject in the school?
Why is the subject important for students to study?


Referensi
Reformasi oleh buku: peran bahan kurikulum dalam pembelajaran dan pengajaran guru reformasi? Pendidikan Peneliti, 25 (9), 6-8.

Shulman, L. (1986). Those who understand: Knowledge growth in teaching. Educational Educational Review, 57 (1), 1-22. Shulman, L. (1987).

Allan C. Ornstein Francis P. hunkins

Wednesday, August 19, 2009

Memaknai Sebuah Kemerekaan

Merdeka, merdeka, merdeka, mungkin kata-kata ini tengah menghiasi dari tadi pagi sampai sekarang diseluruh indonesia. Sebab pada hari ini tepatnya 17 agustus 2009 genap sudah bangsa tercinta ini berunsia 64 tahun. Berbagai lagu kemerdekaan dinyanyikan untuk memeriahkan hari ulang tahun Kemerdekaan ini dari sabang sampai meurauke seperti salah satu bait berikut

Memaknai Sebuah Kemerekaan
Memaknai Sebuah Kemerekaan

Hari Kemerdekaan Indonesia
Memaknai Hari Kemerdekaan
[Tujuh belas Agustus tahun Empat Lima]
[itulah hari kemerdekaan kita]
[hari merdeka nusa dan bangsa]
[hari lahirnya bangsa indonesia]
[merdeka sekali merdeka tetap merdeka]


Ungkapan bait terakhir itu jelas-jelas mempunyaI makna yang sangat dalam dimana rasa kemerdekaan itu sangat Dirasakan oleh bangsa ini, akan tetapi apakah kemerdekaan itu sudah kita rasakan secara menyeluruh? sekilas sih iya kita telah merdeka dari sabang sampai merauke dari penjajahan, setidaknya kekejaman belanda dengan sistim kerja paksa itu tidak kita rasakan lagi. Tapi apakah cuma itu yang bisa kita maknai dari kata merdeka? Apakah perjuangan pahlawah kita seperti Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Pahlawan Dipongoro dan masih sangat banyak lagi yang tidak akan mungkin saya sebutkan satu persatu, cuman untuk memerdekakan kita dari penjajahan? Jawabanya tentu tidak karena mereka yang dulu berjuang itu bukan hanya memerdekakan raknyatnya dari penjajahan, tetapi mereka juga berjuang untuk memerdekakan raknyatnya dari kebodohan dan kemiskinan yang dibuat Belanda. Tentu anda masih ingat dengan kelicikan yang dilakukan oleh Teuku Umar terhadap belanda dimana beliau menyerah dan bekerjasama dengan belanda hanya untuk mencuri perlengkapan perang belanda dan pelengakapan ini beliau gunakan untuk melawan belanda, disini jelas terlihat jika beliau juga menanamkan pentingnya perpikir kritis untuk mencapai target tertentu walaupun mesti apa yang beliau lakukan bersebrangan dengan mujahidin Aceh kala itu.

Jadi kalau kita melihat makna yang menyeluruh dari hakikat kemerdekaan sebenarnya memiliki makna yang sangat luas, seperti merdeka dari kebodohan, kemiskinan, bebas dari rasa takut, dan bebas bergerak tanpa dipengaruhi oleh orang luar. Nah kalau kita melihat makna kemerdekaan dalam konteks ini mungkin sekilas tergambar kita belum sepenuhnya merdeka karena masih banyak sekali orang-orang yang ada dinegara kita yang berada dibawah garis kemiskinan, dan masih ada sebagian orang kita yang belum bisa mengenyam pendidikan tinggi disebabkan oleh mahalnya biaya pendidikan sehingga mereka harus berhenti melanjutkan pendidikannya. padahal banyak diantaran anak bangsa tersebut yang memiliki otak cemerlang tetapi karena keadaan yang tidak memihak kepada mereka, mereka terpaksa harus berhenti untuk melanjutkan pendidikan. Kita masih ingat dengan salah satu aktor yang paling cerdas dalam flm laskar pelangi yang bernama Lintang dimana dia harus berhenti sekolah karena harus memikul beban yang seharusnya belum berhak dia pikul, disini banyak orang kagum dan marah melihat nasib yang menimpa lintang padahal mereka lupa masih banyak Lintang lain yang sekarang masih ada dinegara kita, kenapa kita hanya bisa menangisi nasib lintang yang ada di laskar pelangi sementara lintang yang masih ada disekitar kita, kita tertawakan? Apakah ini bukan sebuah sandiwara yang sedang kita lakonkan? Sebenarnya saya tidak menyalahkan siapa-siapa yang jelas disini tergambar jika pendidikan dinegara kita hanya diperuntukkan buat orang yang ekonominya menengah keatas saja sehingga kita berpikir wajar saja jika ada anak yang pustus sekolah karena himpitan ekonomi meskipun sebenarnya hak mendapatkan pendidikan itu bukan hanya untuk orang kaya saja.

Sebenarnya jikalau saja kita memahami dan mengimplemantasi konsep kehidupan islam yang telah diajarkan nabi Muhammad SAW mungkin saya sangat yakin jika permasalahan pendidikan ini akan terselesaikan dengan sendirinya. Kita tau dalam islam ada ajaran untuk menyantuni anak yatim dan fakir miskin, dimana dalam islam ada diwajibkan berzakat dan bersedekah. Jika kedua hal ini masih berjalan sesuai aturan islam rasanya sangat mungkin jika kita mampu mengurangi beban-beban yang di tanggung oleh lintang-lintang yang masih ada di negara ini sebagai rasa syukur kita kepada Allah atas kemerdekaan yang diberikan Nya.

Disamping itu pemerintah jangan hanya berharap dari zakat dan sedekah saja, tetapi pemerintah harus bisa memanfaatkan moment ini dengan memberikan perhatian kusus dalam pendidikan, dimana setiap pemempin harus benar-benar memikirkan raknyatnya dan memperoritaskan keperluan negara dan raknyat lebih diutamakan dalam segala hal sehingga apa yang kita cita-citakan berhasil dan pendidikan kita bisa meningkat di mata dunia dan mampu bersaing dengan negara maju untuk menciptakan anak bangsa yang handal dan trampil. saya berkeyakin dengan adanya kerjasama yang baik diantara pemerintah dan masyarakat dalam memelihara pendidikan seperti yang saya gambarkan tadi insyaalah kejayaan negeri ini akan kita raih bersama.

Memang selama ini gejala perbaikan sudah mulai menggeliat seperti banyaknya pemimpin kelas teras di negeri ini yang dijerat oleh KPK karena terkait persoalan korupsi dan semoga kedepan perbaikan seperti ini akan selalu mendapat dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia untuk mendukung adanya perbaikan dalam segala bidang didalam pemerintah kita.

Jadi dengan semangat Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 64 ini semoga pemerintah kita dibawah kepemimpinan SBY bisa lebih mampu dan lebih bijak dalam menangani berbagai permasalah yang ada dinegara kita sehingga jiwa kemerdekaan itu bukan saja hanya sekedar bebas dari penjajahan tetapi juga mencakup dalam segala aspek persoalan kehidupan yang ada sekarang ini, sehingga Negara Indonesia tercinta bisa lebih bermartabat dan diperhitungkan dalam setiap kebijakannya di dunia internasional.

Dilema Dunia Pendidikan Kita

Bila kita menyikapi kemajuan pendidikan di aceh dari tahun-ketahun mungkin kita akan merasa sedikit senang dan sedikit merasa tersinggung. Kita merasa sedikit senang karena lulusan anak SMA diaceh tiap tahun terus meningkat dari tahun-tahun sebelumnya, tetapi kita merasa tersinggung karena anak yang lulus ujian masuk perguruan tinggi tahun ini lebih rendah jika dibandingkan tahun sebelumnya meskipun tingkat kelulusan tahun lalu lebih rendah dari pada tahun ini tetapi persentase untuk lulus Perguruan tinggi lebih tinggi dari tahun ini.

Dilema Dunia Pendidikan Kita
Dilema Dunia Pendidikan Kita

Jadi satu pertanyaan besar yang ternggiang di hati kita kok bisa jumlah yang lulus perguruan tinggi lebih rendah tahun ini dibandingkan tahun lalu padahal tingkat kelulusan SMA tahun ini lebih besar persentasinya dibandingkan tahun lalu. Jelas disini menimbulkan seribu tanda tanya, dugaannya tentu akan mengarah kepada sistem pengelolaan pendidikan baik di daerah tingkat I ataupun tingkat dua. Ironis memang jika kita melihat hal ini kita merasa sedikit malu dengan daerah lain yang persentase kelulusannya rendah tetapi tingkat kelulusannya keperguruan tinggi lebih tinggi dari pada kita. Jadi disini siapa yang harus disalahkan. Tetapi kita tidak perlu mencari siapa yang harus disalahkan dan dibenarkan.

Bila kita mengamati proses jalannya Ujian Nasional dengan jeli mungkin kita akan dapat menemukan jawaban dari ini semua. Tidak heran lagi selama ini kita mengamati anak aceh yang ikut UN merasa tidak takut dan gundah bahkan mereka kita temui lagi santai dengan teman mereka dimalam Ujian Nasional berlangsung. Jadi kalau kita melihat fenomena ini mungkin akan tersisa sedikit pertanyaan dengan kejanggalan ini seperti apakah mereka memang udah siap untuk ikut UN besok atau mereka memang gak mau tau sama sekali dengan ujian tersebut.
jadi kalau kita mau menelusuri ini semua mungkin kita tidak akan mudah mendapat jawaban dari pertanyaan ini, karena siswa dan guru akan memilih diam ketika kita menanyakan hal ini. Tetapi kalau saja ada terjadi kecurangan ketika UN berlangsung dimana guru akan berjuang mati-matian untuk meluluskan siswanya mungkin ini akan menjadi suatu bumerang yang sangat besar terhadap pendidikan kita, ini akan menjadi tahap awal dimana harga diri guru akan terhina di mata siswa-siswanya. Memang hal ini tidak berdampak langsung pada waktu itu juga, akan tetapi lama kelamaan harga diri guru akan rendah dimata siswa, karena tiap lulusan yang telah mengikuti UN akan memberitahukan pada adek-adeknya yang akan UN jika guru akan membantu mereka nanti waktu UN. Jadi disini anak-anak akan merasa tidak perlu lagi belajar dan akan sering bolos sehingga apa yang diajarkan guru tidak ada yang dipelari kembali dirumah. Mudah mudahan saja hal seperti ini tidak terjadi selama ini sehingga guru tetap menjadi figure yang mulia di masyarakat dan siwa-siswanya.

Jadi untuk menemukan jawaban dari kejanggalan ini ada baiknya Pemda Aceh mengadakan satu penelitian pendidikan (educational research) untuk mendapatkan jawaban dari ini semua. Tetapai penelitian ini harus melibatkankan paling tidak 50% sekolah yang ada di aceh dan penelitian ini harus independent sehingga hasil yang didapatkan lebih optimal. Data yang didapatkan dari semua sample harus benar dengan menekankan jika penelitian ini bukan untuk mencari kesalahan akan tetapi lebih menitik beratkan pada peningkatan mutu pendidikan dan juga sebagai masukan bagi pemeritah dalam menjalankan sistem pendidikan kedepan.

Alasan saya kenapa penelitian ini diperlukan karena sangat tidak mungkin masuk logika jika sekolah yang tidak ada guru kimia dan bahasa ingris memperoleh nilai yang sangat bagus pada hasil UN. Ini bukan omong kosong tetapi begitulah realita yang ada sekarang.
Catatan kecil dari saya ini bukan bermaksud menyalahkan pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan tetapi hanya menitik beratkan pada perbaikan sistim saja, sebab kalau hal ini tidak mendapat perhatian kusus dari pihak terkait apa yang akan kita lakukan untuk aceh kedepan? Akan dikemanakan mereka semua? Sebab mereka adalah generasi kita kedepan untuk mengisi setiap posisi sentral di aceh dalam menjalankan roda pemerintah.

Dilema Pekan Kebudayaan Aceh V

PKA merupakan ajang pertunjukan seni yang paling bergensi di daerah Aceh karena PKA merupakan moment yang sangat di tunggu oleh tiap-tiap daerah di Aceh untuk mempromosikan segala potensi-potensi seni yang dimiliki tiap daerah di tingkat provinsi, Nasional bahkan Dunia. dimana setiap daerah akan saling berpacu untuk menampilakan segala kekayaan seni yang dimiliki untuk menjadi yang terbaik dalam event ini. Namun apa yang terjadi di PKA V kali ini, ketika tim dari Aceh Selatan Walk out dari pementasan seni ini, pertanyaannya adalah siapa yang bertanggung jawab dengan kondisi ini, dan kenapa hal ini bisa terjadi?

Dilema Pekan Kebudayaan Aceh  V
Dilema Pekan Kebudayaan Aceh  V

Jika kita sedikit mengulang kembali kejadian ini mungkin kita masih bisa menangkap asal permasalahan Aceh selatan walk out dari Aceh Selatan, disini saya tidak membenarkan jika wall out itu jalan terbaik meskipun saya notabenenya Anak Aceh Selatan. Akan tetapi apa yang ingin kita liat disini adalah rasa kebersamaan dan tanggung jawab Panitia PKA V itu terkesan tidak ada, ini bisa kita buktikan dengan peryataan orang nomor satu Aceh Selatan Husen Yusuf seprti yang dimuat serambi 2 hari lalu “kalau seandaian ada kata maaf dari Panitia PKA V mungkin keputusan yang kami ambil tidak akan seperti ini”.


Disini jelas sekali terlihat jika bupati Aceh Selatan masih menunjukan sikap cooperatifnya dengan pihak Provinsi sebagai panitia PKA V. namun sangat disayangkan pihak Panitia PKA malah kecolongan dalam menyingkapi hal ini dan terkesan cuek. Kita tau dengan predikat juara umum yang pernah daraih Aceh Selatan pada PKA IV lalu, dan rasanya sangat tidak hilang harga diri panitia PKA V ini untuk minta maaf dengan kesalahan yang terjadi saat kunjungan presiden batal ke Anjongan Aceh Selatan untuk menunjukan jiwa besarnya, tetapi apakah rasa jiwa besar ini telah hilang pada panitia PKA V ini khususnya dan pejabat Provinsi umumnya? Nah klau ini yang terjadi maka sangat jelas dengan PKA V ini telah terjadi sedikit pergeseran nilai dimana jiwa besar yangdulu sangat dimiliki oleh orang Aceh kini pupus adanya karena saling menjaga gengsi masing. Apakah sikap ini perlu dipertahankan? Apakah dengan walk outnya aceh selatan tidak membuat kesan yang kurang baik bagi pengunjung dari luar aceh dan luar negri? Apakah tidak muncul kesan jika panitia PKA kurang professional dalam menangapai masalah?

Sebenanya hal seperti ini tidak akan terjadi jika saja masing-masing pihak bisa mengedalikan diri dan mau duduk berdampingan untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi dengan mengedepankan sikap terbuka dan lapang dada yang telah tertanan pada diri kita masing-masing. Dan pemda aceh selatan seharusnya harus lebih bijak dalam menangapi ini semua karena masih banyak jalan yang harus ditempuh dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Apakah dengan hengkang dari PKA itu bisa membuat aceh selatan terhormat, kalau seandainya demikian saya sangat setuju dengan keputusan walk out nya aceh selatan dari PKA. Tetapi kita juga harus mencermati setiap sudut pandangan masyarakat karena masyarakat kita sudah sangat jeli dalam menangapi setiap permasalah yang ada. Okey sajalah seandainya sebagian masyarakat mendukung keputusan tersebut, bagaimana jika opini kebanyakan masyarakat itu tidak sependapat dengan kita apakah itu tidak mebuat gambaran aceh selatan semangkin buruk. Masyarakat Aceh selatan sebagai orang pesisir yang dikenal sebagai masyarakat yang tegar dalam mengahdapi segala rintangan malah berkecil hati dengan ketidak adilan yang dilakukan oleh panitia PKA. Apakah ini tidak terkesan kita masih kurang mengunakan kepala dingin dalam menghapi apa yang menimpa kita di arena PKA pada masyrakat aceh kususnya dan Indonesia umumnya?

Ajang pementasan seni ini sebernaya bukan saja moment untuk menampilkan seni yang ada di aceh, tetapi ajang ini juga merupakan cara memperkenalakan watak dan karakter masyarakat aceh yang sudah diwarisi oleh indatu kiat kepada para pengunjung luar, tetapi kesan yang terjadi malah kita telah menampakkan sikap yang kurang terpuji kepada orang luar dalam menyingkapai setiap permasalahn termasuk dengan kejadian hengkangnya team aceh selatan dari arena PKA.


Panitia PKA V yang merupakan penanggung jawab kesuksesan PKA V harus memberikan rasa nyaman kepada semua pihak dengan mengkalifikasi setiap permasalah yang muncul. Bukan malah memilih untuk diam. Klarifikasi dari Panitia Provinsi sebenanya sangat diperkukan pada saat kejadian itu terjadi, sehingga dapat mengecilkan masalah yang dihadapi. Dimana masyarakat ramai bisa memahami kejadian yang sebenanya tentang apa sebenarnya yang tejadi. Bungkamnya Panitia Provinsi untuk tidak memberikan klarifikasi yang jelas malah membuat sebagian orang berpikir ini disebabkan oleh karena kurangnya profesinalnya kinerja panitia PKA V. atau malah sebalinkya penyebab panitia tidak peduli dengan anjongan aceh selatan dikarenakan Panitia kesal dengan pengusiran Wakil Gubernur dari Anjongan Aceh Selatan?. Sebenanrnya kalau dikarena hal tersebut Panitia PKA V bungkam, itu merupakan satu kesalah besar. Kita bisa merasakan sendiri jika orang yang ada dianjongan aceh selatan mengusir wagub itu bukan bermaksud untuk menghinanya, cuman cara wagub saja yang sedikit terburu dan kurang cermat dengan situasi, dimana beliau datang pada waktu orang Aceh Selatan lagi marah besar dan karena tak tau harus ditumpahkan kemana akhirnya menumpahkannya pada wagub wagub memang telah berusah untuk memperbaikinya tetapi waktunya ja yang belum tepat seharusnya beliau harus tunggu sampai suasan dingin sehingga semua orang bisa menaggapinya dengan kepala dingin. jadi apa yang ingin diharapkan disini adalah kedepan jangan terulang lagi hal seperti ini, sehingga kesan aceh itu kompak dan bersatu itu benar adanya, sebab apa yang telah terjadi hari ini bisa dijadikan sebagai cerminan untuk memperbaiki system kedepan sehingga tidak ada yang merasa di anak tirikan dan aceh bisa lebih kaya dengan seni dan ilmu dimasa PKA selanjutnya sebagai warisan dari indatu kita semua.

Friday, August 7, 2009

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

A. Landasan Hukum Penerapan KTSP.

KTSP merupakan satu jenis kurikulum yang baru diterapkan di Indonesia, kurikulum ini dimaksudkan sebagai solusi dari kendala-kendala yang dihadapi sebelumnya dalam duinia pendidikan di Indonesia. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diberlakukan mulai tahun 2006/2007, berbeda dengan kaurikulum sebelumnya dimana KTSP disusun oleh satuan pendidikan masing-masing. 

kurikulum tingkar satuan pendidikan
KTSP
Pemerintah Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional) hanya memberikan rambu-rambu yang berlandaskan piranti hukum mulai dari Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional Tahun 2003 Tentang Sisitem Pendidikan Nasional, Peraturan Menteri Pendidikan, Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan Dasar dan Menengah, Peraturan Menteri Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menegah, dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasonal Nomor 24 Tahun 2006 Tentang Pelaksanaan Peraturan Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahum 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006 ini, Satuan Pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA) diharapkan bisa mengembangkan KTSP sebagai dasar untuk merencanakan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran bagi siswa.

Dalam setiap menjalankan kebijakan dalam suatau Negara tentu memiliki payung hukum supaya kebijakan tersebut akan kokoh dan memiliki dasar fondasi yang kuat sehingga tidak akan mudah untuk di rongrong oleh sebagian orang yang memilki persepsi berbeda dengan kebijakan tersebut. Begitu juga halnya dengan penerapan Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di Indonesia, dimana penerapan KTSP ini merupakan peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang system Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan seperti yang telah dijabarkan diatas.

(Baca Langkah-Langkah Tehnis Pengembangan Silabus)
(Baca Model Pembelajaran Discovery Learning)

Dalam penyusunan KTSP disekolah dasar dan menegah, penyusunan kurikulum ini mengacu pada peraturan Menteri Pendidkan Nasional nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar isi untuk masing-masing tiap tingkatan baik pendidikan tingkat Dasar ataupun tingkat Menengah dimana setipa sekolah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan setempat untuk menyusun syllabus pendidkan yang nerujuk pada Standar Isi dan Standar Kulusan yang telah ditetapkan oleh BSNP (badan Nasional Standar Pendidikan).

B. Pengertian Silabus
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.
C. Prinsip Pengembangan Silabus
1.   Ilmiah
Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
2.   Relevan
Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.
3.   Sistematis
Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi
4.   Konsisten
Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.
5.   Memadai
6.   Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
7.   Aktual dan Kontekstual
Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
8.   Fleksibel
Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
9.   Menyeluruh
Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).

D. Unit Waktu Silabus
1.   Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.
2. Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester, per tahun, dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok.
3. Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum. Bagi SMK/MAK menggunakan penggalan silabus berdasarkan satuan kompetensi.

E. Pengembang Silabus

Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah/madrasah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendikan.
1.   Disusun secara mandiri oleh guru apabila guru yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik peserta didik, kondisi sekolah/madrasah dan lingkungannya.
2.   Apabila guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri, maka pihak sekolah/madrasah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah/madrasah tersebut.
3.   Di SD/MI semua guru kelas, dari kelas I sampai dengan kelas VI, menyusun silabus secara bersama. Di SMP/MTs untuk mata pelajaran IPA dan IPS terpadu disusun secara bersama oleh guru yang terkait.
4.   Sekolah/Madrasah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri, sebaiknya bergabung dengan sekolah-sekolah/madrasah-madrasah lain melalui forum MGMP/PKG untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah-sekolah/madrasah-madrasah dalam lingkup MGMP/PKG setempat.
5. Dinas Pendidikan/Departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing.
6.   Adapun cara mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebaimana tersebut dalam standar isi adalh sebagi berikut:
a)  urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI.
b) keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran;
c) keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran.


2. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran
Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:
1.   Potensi peserta didik;
2.   Relevansi dengan karakteristik daerah;
3. Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;
4.   kebermanfaatan bagi peserta didik;
5.   Struktur
6.  Keilmuan;
7.   aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
8. Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
9.   Alokasi waktu.


3. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.
1.   Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.
2.   Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.
3.   Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.
4.   Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.

4. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi
Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

5. Penentuan Jenis Penilaian
Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian adalah sebagai berikut.

1.        Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
2.      Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
3.      Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan peserta didik.
4.      Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
5.      Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.
 

6. Menentukan Alokaso Waktu.
Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

7. Menentukan Sumber Belajar
Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.


F. Hal-hal yang Perlu diperhatikan dalam Pengembangan Silabus
1.        Alokasi waktu yang disediakan untuk menyelesaikan sebuah tema
2.      Pencapaian kompetensi setiap aspek saling terkait, sehingga tidak memungkinkan untuk
dipisahkan.
3.      Untuk memudahkan keterbacaan dan korelasi antara komponen-komponen silabus, maka format silabus dibuat sesuai dengan contoh/model silabus
4.      Kegiatan pembelajaran dalam silabus bahasa asing diharapkan dapat mewujudkan akulturasi budaya positif dari kedua pengguna bahasa
5.      Aplikasi kegiatan pembelajaran hendaknya kontekstual, dan memasukkan unsur-unsur lingkungan serta budaya sesuai dengan kondisi setempat.
6.      Uraian materi yang disajikan merupakan rangkaian materi yang harus dicapai setiap aspek.


G. Contoh Model Silabus



Dalam menyusun silabus dapat menggunakan salah satu format yang sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan. Pada dasarnya ada dua jenis, yaitu jenis kolom (format 1) dan jenis uraian (format 2). Dalam menyusun format urutan KD, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator dan seterusnya dapat ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan, sejauh tidak mengurangi komponen-komponen dalam silabus.