Pondok Belajar

Monday, October 23, 2017

Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah

Pada waktu dulu tugas seorang kepala sekolah hanya berperan sebagai pengatur/manajer disekolah. Dimana pada waktu itu tidak ada persyaratan khusus seperti sekarang dimana kepala sekolah harus memiliki sertifikat dari LPPKS solo yang membidangi peningkatan mutu kepala sekolah sehingga kepala sekolah yang memiliki sertifikat mampu dan cakap dalam memahami berbagai kompentensi yang diwajibkan untuk mereka kuasai dalam memimpin sekolah. 

Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan di lingkungan Sekolah
Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah

Pada masa dulu kebanyakan kepala sekolah hanya menjalankan segala kebijakan yang sudah ditentukan oleh Dinas Pendidikan di daerah mereka, disamping juga mengatasi isu-isu ketenagaan, pengadaan faslitas dan infrastruktur sekolah, menyesuaikan anggaran sekolah, menjaga/memelihara gedung sekolah supaya nyaman dan tetap aman, menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar, dan memastikan jika kantin sekolah dan UKS berjalan lancar dan terkendalai dengan baik. Namun pada kondisi sekarang ini, disamping hal hal diatas masih tetap harus dilakukan oleh kepala sekolah akan tetapi ada berbagai kompetensi lain yang harus mereka kuasai dengan cakap seperti kompetensi kepribadian, kompetensi managerial, kompetensi supervisi akademik, kompetensi kewirausahaan dan kompetensi sosial. Kompetensi dan Tanggung jawab kepala sekolah tersebut telah dituangkan berdasarkan Peraturan Pemerintah No.13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah

Dari segi aspek kompetensi supervisor akedemik, kepala sekolah dituntut untuk bisa meningkatkan proses belajar mengajar, pada bagian ini kepala sekolah harus dapat berperan sebagai leaders for learning, dimana para kepala sekolah harus mengetahui kejelasan pokok isi pelajaran, unsur unsur pedagogis dan teori belajar yang ada. Ini semua dimaksudkan supaya kepala sekolah mampu memberikan masukan terhadap kelemahan pendidik ketika proses supurvisi dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan proses belajar mengajar di dalam kelas. Untuk menciptakan proses supervisi yang berhasil disekolah kepala sekolah dituntut untuk bisa melakukan ataupun membangun kerjasama yang baik antar sesama guru disekolah, kemampuan inilah yang dimaksudkan dalam aspek kompetensi kepribadian kepala sekolah, yaitu kemapuan untuk mampu membangun kerja sama yang sehat dan baik antar semua anggota sekolah dan masyarakat. Sebagaimana yang kita pahami jika Pendidikan bukan hanya sekedar untuk mengawetkan kebudayaan dan meneruskannya dari generasi ke generasi berikutnya, akan tetapi tuntutan zaman dimasa sekarang diharapkan pendidikan untuk lebih maju dan mampu menjawab segala tuntutan zaman dengan cara melakukan inovasi dan pengembangan pembelajaran untuk dapat meningkatkan aspek pengetahuan. 


Pendidikan pada hakitanya bukanlah hanya untuk menyampaikan keterampilan yang sudah dikenal, akan tetapi proses pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang menyatukan domain kognitif, domain emosional, dan lingkungan beserta pengalaman tertentu yang bertujuan untuk memperoleh, meningkatkan, atau membuat perubahan terhadap pengetahuan keterampilan (skill), nilai, dan pandangan seseorang atau secara sederhana sekali bisa dikatakan pendidikan itu merupakan wahana untuk memanusiakan manusia seutuhnya. Faktor inilah yang diharapkan mampu untuk dapat meningkatkan kesejahteraan dengan menciptakan berbagai kemampuan peserta didik baik konsep pengetahuan skill dan kerakter seseoranga supaya dapat terhindar mencipatkan kemakmuran dan terhindar dari kebodohan dan juga kemiskinan dimasa akan datang.

Kepala sekolah seharusnya punya kesadaran jika guru sebagai tenaga pendidik adalah orang yang menjadi unjung tombak (grass root) terhadap berhasil tidaknya tujuan pendidikan yang ditargetkan, untuk itu kepala sekolah harus lebih berperan dalam mengakses berbagai ilmu pengetahuan (up grade) dari berbagai media yang ada sehingga pengelolaan tenaga pendidik akan lebih terarah dan lebih terencana sesuai dengan konsep yang telah ditetapkan. Dengan adanya kemampuan supervisi yang baik dari kepala sekolah, maka para pendidik akan lebih berkonsentrasi untuk menciptakan/berinovasi dalam menyusun pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan anak didik sehingga lebih memudahkan mereka dalam mengakses ilmu pendidikan di dalam kelas. Kemapuan ini juga mencakupi aspek aspek penguasaan IT, ukuran paling dasar seperti penguasaan microsoft word, microsoft power point dan microsoft excel sebagai media pendukung dalam melakukan proses pembelajaran.

Disamping itu dari hasil supervisi yang dilakukan, kepala sekolah juga dapat merekomendasikan kepada sebagian guru yang masih lemah dalam melakukan proses pembelajaran di dalam kelas dengan memberikan kegiatan pelatihan baik di tingkat sekolah sendiri (mandiri) ataupun dengan mengirimkan guru tersebut kedalam berbagai program pelatihan yang diadakan di lingkungan Dinas Pendidikan di daerah mereka, sehingga skill dan pengetahuan guru akan meningkat dengan sendirinya. Tentu dalam penentuan sikap ini kepala sekolah harus terlebih dahulu mengkomunikasikan kelemahan yang masih ada pada guru tersebut dengan bijak bukan secara parsial sehingga tidak menjadi bumerang bagi mereka diantara rekan rekan se-profesi yang lain (dianggap bodoh). Jadi sebagai konsekwensinya Kepala sekolah bukanlah sosok yang hanya dapat duduk manis dengan menikmati berbagai fasilitas kemudahan yang mereka dapatkan (untuk sekarang kepala sekolah tidak diwajibkan mengajar alias nol jam) akan tetapi gunakanlah fasilitas keistimewaan tersebut (nol jam) untuk lebih fokus pada peningkatan mutu pendidikan karena mungkin inilah salah satu tujuan pihak Kementerian Pendidikan Indonesia tidak mewajibkan kepala sekolah untuk mengajar sehingga mereka para kepala sekolah bisa lebih berkonsentarsi dalam pengelolaan manajemen dan peningkatan mutu pendidikan. 

Seperti pada poin di atas yang saya jelaskan tadi, kepala sekolah harus bisa membangun konsep kebersamaan (semua warga sekolah) dalam mengangani sekolah, sehingga dengan terwujudnya konsep kebersamaan tersebut maka akan terciptanya persepsi semua kalangan warga yang ada di sekolah jika peningkatan mutu sekolah tidak hanya menjadi tanggung jawab kepala sekolah saja, akan tetapi ini juga menjadi tanggung jawab bersama baik guru ataupun karyawan sekolah yang ada di suatu lembanga pendidikan tersebut (secara khusus). Namun Jika ditingkatkan selangkah lagi, dengan meningkatkan pengelolaan aspek kompetensi sosial, kepala sekolah harus lebih jeli lagi untuk dapat membangun kerjasama dengan baik antar semua kalangan masyarakat dan tokoh masyarakat yang ada di sekitar lingkungan seklah. jika hal ini bisa terlaksana dengan baik maka secara otomatis pengelolaan sekolah juga akan menjadi tanggung jawab mereka (tokoh masyarakat dan orang tua siswa) sehingga tanggung jawab ini tidak hanya menjadi kewajiban kepala sekolah dan guru yang ada disekolah saja akan tetapi juga menjadi tanggung jawab semua anggota lapisan masyarakat.

Untuk dapat mencapai tujuan akhir tadi, maka kepala sekolah harus berkerja ekstra untuk mampu membangun komunikasi yang baik dan sehat antar tokoh masyarakat dan warga masyarakat baik dengan cara melibatkan mereka secara langsung dalam pengelolaan bidang bidang yang bisa untuk dilibatkan partisipasi mereka sehingga proses kepercayaan dan rasa memiliki sebuah istitusi pendidikan tersebut akan datang dengan sendirinya pada diri mereka masing-masing, sehingga mereka akan lebih sadar dengan segala aturan dan tujuan yang hendak dicapai oleh sekolah tersebut. 

Namun untuk menjalin kerjasama yang baik dan terbuka dengan masyarakat ini terkadang bukanlah hal yang gampang untuk dilakukan, terbukti banyak sekali sekolah sekolah yang masih kurang memiliki hubungan yang indah dengan warga yang ada sisekitar mereka, terbukti jika seandainya dilakukan supervisi terhadap poin ini secara jujur dan terbuka saya yakin sekali jika semua hubungan kerjasama antara lembaga sekolah dengan masyarakat hanya tertulis saja dalam program program sekolah tanpa ada realisasi yang nyata tetapi sekedar hanya untuk meningkatkan nilai akreditasi sekolah saja. Padahal jika kita dalami pemaknaan dari poin ini maka kita akan mengetahui jika faktor membagun kerjasama dengan masyarakat sangat penting dan urgen. Sayangnya poin ini masih dianggap sepele oleh pihak pihak yang terlibat dalam proses akreditasi sekolah, sebenernya poin kerja sama antar warga sekolah dan warga masyarakat ini sebenarnya memiliki peran yang sangat besar untuk mencapai keberhasilan pendidikan. Boleh saja anda beranggapan kata saya ini telalu mengada ngada, tapi sebaiknya anda dalami lagi pemaknaan kata saya tadi. Mengapa penglibatan masyarakat sangat penting dalam menigkatkan mutu pendidikan? Karena proses yang paling sulit dilakukan pada diri manusia adalah merubah pola pikir meskipun mereka sadar dengan pola pikir mereka salah akan tetapi mereka belum tentu mau menerima mentah mentah konsep yang kita tawarkan tersebut, merek akan tetap kukuh dengan konsep pemikiran mereka sendiri sehingga terkadang sekolah akan mengalami berbagai kendala dengan masyarakat dalam menjalankan program program yang ada disekolah karena tidak adanya komukasi yang sehat terbangun antar mereka. Akan tetapi beda halnya jika kita memiliki konsep kepemilikan sekolah secara bersama, semua kendala tersebut tidak akan terjadi bahkan mereka sendiri yang akan menyelesaikan permasalah yang ada di sekolah jika ada permasalahan yang berhubungan dengan masyarakat. Disamping itu, manfaat lain dengan adanya hubungan yang baik antar sekolah dan masyarakat adalah akan lebih memudahkan kepala sekolah dalam meningkatkan aspek kompetensi kewirausahaan, dimana konsep kewirausahan tersebut akan mendapatkan dukungan dari mereka sehingga memudahkan dalam menjalankan program tersebut. sebagai contoh, bagi sekolah SMK kepala sekolah mungkin akan mendapatkan bantuan ataupun saran dari masyarakat tentang tempat/lingkungan untuk dapat membagun kerjasama dengan sekolah dalam menempatkan anak didik mereka ketika menjalankan proses PSG (pelatihan sistem ganda).
      
jadi salah satu ujung tombak untuk dapat meningkatkan semua gambaran yang ada di atas sebaiknya bangunlah konsep pengembangan budaya sekolah yang sehat, karena dengan adanya konsep sekolah yang berbudaya sehat maka segala program yang programkan akan terlaksana dengan baik di sekolah tersebut. adapun manfaat secara umum yang akan di dapatkan dengan adanya konsep sekolah yang berbudaya sehat (sekohat) ini adalah sebagi berikut: 

(1) menjamin tercitanya kualitas kerja yang lebih baik di sekolah; (2) akan terbukanya seluruh jaringan komunikasi dari segala aspek dan level baik komunikasi vertical maupun horisontal; (3) sekolah tersebut akan tranfaran kepada semua pihak yang telibat; (4) dapat menciptakan rasa saling memiliki yang tinggi terhadap sekolah; (5) dapat meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan dan kebersamaan yang tinggi antar warga sekolah; (6) dapat memberikan solusi dengan cepat terhadap permasalahan yang dihadapi; (7) mampu dan cakap dalam menjawab segala tuntutan zaman (baik perkembangan IPTEK maupun tuntutan lingkungan kerja). 

Selain beberapa manfaat di atas, manfaat lain bagi individu (pribadi) dan kelompok adalah : (1) dapat meningkatkan kepuasan kerja disekolah; (2) dapat menimbulkan pergaulan lebih akrab/ramah; (3) terciptanya lingkungan yang disiplin; (4) terciptanya pengawasan dan pengelolaan lebih ringan karena adanya rasa kebersamaan; (5) akan timbulnya keinginan untuk selalu ingin berbuat proaktif antar sesama; (6) terciptanya sistem belajar yang berprestasi (7) timbulnya rasa ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah, keluarga, orang lain dan diri sendiri (8) terciptanya  nilai kejujuran, empati, kebersamaan dan respek yang tinggi antar sesama

Friday, October 20, 2017

Pengertian dan Model Pembelajaran Jigsaw

Belajar merupakan proses interaksi antara pendidik dan peserta didik yang berlangsung di dalam kelas maupun diluar kelas yang masih dalam wadah lingkungan belajar. Belajar boleh juga dijabarkan sebagai proses penyatuan domain kognitif, domain afektif, domain psikomotor, domain emosional, berserta dengan ingkungan dan pengalaman tertentu yang bertujuan untuk memperoleh, meningkatkan, atau membuat perubahan terhadap pengetahuan keterampilan (skill), nilai karakter ataupun pandangan seseorang.

Pengertian dan Model Pembelajaran Jigsaw
Pengertian dan Model Pembelajaran Jigsaw

Pendidik (guru) dalam usahanya sebagai pendidik, mereka dituntut untuk mampu ataupun bisa mencapai tujuan pembelajaran yang telah mereka tentukan dalam perangkat pembelajaran. Maka untuk mencapain tujuan tersebut pendidik harus merencanakan dan menyusun perencanaan pembelajaran tersebut dengan semaksimal mungkin dengan kata lain semua perencanaan tersebut bukanlah hasil kopy paste dari teman yang ada melainkan sebuah hasil yang didasarkan pada pengetahuan dan kemapuan pendidik tersebut. Salah satu hal yang sangat mendasar yang harus dicermati oleh seorang pendidik adalah dalam penyusunan model pengajaran beserta pemanfaatan media ajar (Komputer, LCD, dan peralatan Laboratorium lainnya), harus terperinci dan terpogram ketika disajikan dalam proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Mengapa model pembelajaran tersebut sangat penting untuk dicermati secara mendalam, ini semua tak lain dan tak bukan disebakan karena model pembelajarn yang disajikan dalam penyampaian materi ajar harus selektif dan sesuai dengan materi ajar yang disampaikan sehingga dalam proses penerapannya tidak akan terjadi ketimpangan ketimpangan yang dapat mengakibatkan tujuan pembelajaran tersebut tidak berjalan semabagaimana yang diharapkan dan direncanakan. Bagi seorang pendidik, menguasai jenis jenis teori belajar merupakan sebuah keharusan dan hal yang sangat signifikan disamping penguasaan terhadap content (materi) ajar itu sendiri, karena kedua item tersebut (teori belajar dan meteri ajar) sangat berkaiatan erat dan saling mendukung satu sama lain dalam proses pencapaian tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Untuk itu pendidik harus mengenali dan memahami jenis jenis model pembelajaran yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran sehingga tidak monoton dan membosankan bagi peserta didik sendiri. Sebagaimana yang banyak kita amati jika kebanyakan para pendidik masing manggunakan model ceramah yang memposisikan guru sebagai pihak utama dalam mengakses ilmu pengetahuan kepada pendidik. Untuk itu ada baiknya jik seorang pendidik untuk selalu mengakses pengetahuan mereka tentang medel model pembelajaran baik melalui media elektronik seperti internet dan lainnya, maupun melalui media cetak seperti buku maupun majalah majalan yang ada. 


Sebagaimana topik yang telah tertulis di atas, maka model yang akan dijelaskan dalam penulisan ini adalah model pembelajran jigsaw, bagaimana model pembelajaran jigsaw dan bagaimana tahapan pelaksanaanya akan digambarkan dibawah ini:

Pengertian Model Pembelajaran Jigsaw.
Dari segi etimologi Jigsaw berasal dari bahasa ingris yang bermakna gergaji ukir, disamping itu ada juga yang mengambarakannya dengan istilah istilah Fuzzle, yang jika jika diartikan bermakna sebuah teka teki (permainan teka-teki untuk menyusun potongan gambar). Pembelajaran kooperatif model jigsaw ini juga mengambil pola cara bekerja sebuah gergaji ( jigsaw), yaitu siswa melakukan sesuatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama.

Model pemebelajaran jigsaw merupakan bagian dari model pembelajarn cooperative learning.  Jadi model jigsaw salah satu model dari belajar kooperatif lebih menitik beratkan kepada kerja kelompok peserta didik dalam bentuk kelompok kelompok kecil, seperti yang diungkapkan Lie ( 1993: 73), pembelajaran kooperatif learning model jigsaw ini merupakan model belajar kooperatif dimana peserta didik belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat atau enam orang secara heterogen dan peserta didik tersebut bekerja sama dan saling bertanggung jawab secara mandri.
Jenis model pembelajaran jigsaw ini peserta didik diberika kebebasan dalam menyampaikanide ide mereka, mengelolah imformasi yang mereka hasilkan sendiri sehingga mampu meningkatkan kecakapan keterampilan berkomunikasi mereka masing-masing.  Salah satu keunikan dari kodel jigsaw ini adalah masing-masing anggota kelompok langsung bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi yang mereka pelajari sehingga masing masing anggota kelompok tersebut diharapkan mampu menjelaskan materi tersebut kepada anggota kelompok masing-masing sehingga mencapai keberhasilan kelompoknya.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw
Menurut Rusman (2008 : 205) model pembelajaran jigsaw ini dikenal juga dengan kooperatif para ahli. Karena anggota setiap kelompok dihadapkan pada permasalahan yang berbeda. Namun, permasalahan yang dihadapi setiap kelompok sama, kita sebut sebagai team ahli yang bertugas membahas permasalahan yang dihadapi. Selanjutnya, hasil pembahasan itu di bawah kekelompok asal dan disampaikan pada anggota kelompoknya.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelasnya marilah kita pahami langlah-langkah penerapan model jigsaw ini dalam pembelajaran, Adapun langkah langkah pembelajaran nodel jigsaw ini adalah sebagai berikut:

Tahapan-Tahapan Pembelajaran Model Jigsaw
  1. Pendidik membagikan peserta didik dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 5 ataupun lima orang anggota. 
  2. Kemudian pendidik memberikan materi yang berbeda bagi masing masing anggota kelompok. 
  3. Masing masing anggota kelompok diberikan bahan ajar seusuai dengan meteri yang telahdiberikan tadi.
  4. Peserta didik diberikan waktu beberapa saat untuk mendalami materi mereka masing-masing sebagai dasar untuk membangun pengetahuan tentang konsep yang diberikan.
  5. Setelah proses pendalaman materi tersebut berakhir, setiap anggota kelompok dari masing masing kelompok yang memiliki sub materi yang sama berkumpul dalam satu kelompok baru, dan mereka ini disebut sebagai kelompok ahli dalam sub materi mereka. 
  6. Kelompok ahli tersebut mendiskusikan materi mereka untuk mendalami konsep ilmu dari pokok bahasan materi yang mereka terima, setelah proses diskusi berakhir maka mereka akan kembali kedalam kelompok mereka masing-masing (kelopok awal). 
  7. Kemudian para anggota kelompok akan mendapatkan giliran untuk menyampaikan (mengajarkan) semua anggota kelompok mereka mengenai sub materi yang telah mereka kuasai sehingga semua anggota kelopok akan mendapatkan kesempatan sebagai pengajar dan sebagai pendengar.  
  8. Setelah kegiatan poin nomor 7 berakhir, Masing masing Kelompok ahli akan melakukan persentasi hasil dari diskusi sub materi meteri yang telah mereka lakukan. 
  9. Pendidik melakukan proses evaluasi 
  10. Pendidik malakukan penutupan kegiatan proses belajar mengajar


Wednesday, October 11, 2017

Model Model Pembelajaran Tematik

Model pembelajaran tematik merupakan model kegiatan pembelajaran dengan memadukan materi antar mata pelajaran (mengabungkan beberapa mata pelajaran dalam satu tema tertentu). Jenis Pelaksanaan kegiatan pembelajaran  dengan cara ini dapat dilakukan dalam dua cara. Yaitu Cara pertama, dengan menyajikan beberapa mata pelajaran dalam proses pembelajaran pada tiap pertemuan. Adapun cara yang kedua, yaitu dengan manyajikan satu mata pelajaran saja pada setiap kali pertemuan (pemisahan mata pelajaran). Untuk menciptakan keterkaitan antar mata pelajaran tersebut khususnya pada cara kedua ini keterpaduannya diikat dengan menentukan satu tema yang yang dapat menyatukan semua konsep keterkaitan antar mata pelajaran tersebut (pemersatu).  dalam menciftakan keterikatan ini, harus dipahami bahwa keterpaduannya ini tidak hanya mencakupi meteri ajar saja akan tetapi juga mencakupi penggunaan media ajar seperti LCD, media computer dan berbagai media lainnya baik yang elektronik ataupun median sederhana. Dengan alasan di atas tersebut maka jenis pembelajaran tematik ini sering juga dinamakan sebagai pembelajaran terpadu (integrated learning).

Model Model Pembelajaran Tematik
Model Model Pembelajaran Tematik 

Satu hal yang harus dipahami jika cara yang digunakan oleh pendidik dalam megemaskan pengalaman belajar sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan proses belajar tersebut bagi peserta didik. Adapun Pengalaman belajar yang dirancang oleh pendidik ini yang menunjukan keterkaitan unsur-unsur konseptual antar mata pelajaran tersebut, dapat menjadikan pembelajaran lebih efektif bagi peserta didik. Hasil Perolehan keutuhan belajar, pengetahuan, dan kebulatan pandangan tentang kehidupan nyata hanya dapat direfleksikan melalui pembelajaran tematik(terpadu) (William dalam Udin Sa’ud, 2006).

Forgaty (1991) mengemukakan bahwa cara memadukan konsep, keterampilan, topic dan unit tematisnya dalam pembelajaran tematik ini bisa diterapkan dengan mengunakan cara-cara atau model dalam merencanakan pembelajaran tematik. Adapun model tersebut adalah sebagai berikut:

1. Model Sequenced (Urutan/Rangkaian)
Adapun Model sequenced ini merupakan model pemaduan topik-topik antar mata pelajaran yang berbeda secara paralel. Sebagai contoh adalah memadukan pada mata pelajaran IPA dan matematika tentang dalam meteri pengukuran pengukuran. Untuk meteri pembelajaran Pelajaran IPA mengunakan suhu(Kelvin, derajat, Fahrenheit, Reamur sebagai tema pelajaran tersebut. sedangkan untuk mata Pelajaran matematika mengunakan cara pengolahan data sebagai tema pembelajaran, yang meliputi cara penambahan, pengurangan,  pembagian, dan perkalian. Jadi keterikatan kedua materi tersebut saling barkaitan dalam hal perhitungan. Perkalian dan pengurangan yang meliputi pengkukuran hasil suhu yang disajikan dalam pembelajaran IPA.
Adapun yang menjadi Kelebihan dari model ini adalah dalam hal penyusunan urutan topic, dimanan pendidik memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri berdasarkan prioritas dan tidak dibatasi oleh ketetapan yang sudah ditentukan dalam kurikulum. Sedangkan kelebihan modil ini dari sudut pandang peserta didik, pengurutan topic yang berhubungan dari disiplin yang berbeda (anatar disiplin ilmu) akan memudahkan peserta didik untuk memahami isi mata pelajaran. Mengenai Kelemahan dari model sequencedini  antara lain adalah diperlukan kerjasa yang erat antara guru-guru bidang studi yang terkait dalam hal pengurutan materi ajar, dengan tujuan untuk menciptakan kesesuaian antara konsep konsep materi ajar yang diajarkan. 

2. Model shared
Jenis Model pembelajaran model Shared ini merupakan mode pembelajaran berbentuk pemaduan pembelajaran yang diakibat adanya “overlapping” konsep atau ide pada dua mata pelajaran atau lebih. Adapun continhya adalah seperti menggabungkan 2 mata pelajaran atau lebih dalam satu tema, seperti pemeblajaran mengenai konsep pelajaran Iman dalam pelajaran Akhidah Akhlaq akan dapat bertumpang tindih dengan konsep pembelajaran  Rukun iman dalam pendidikan Ilmu Fiqih dan lain sebagainya. Yang menjadi kelebihan dari konsep model pembelajaan ini adalah dalam hal mentransfer konsep konsep tersebut secara lebih terperinci sehingga peserta didik menjadi lebih mudah memhahami dan melakukan konsep sonsep tersebut. adapun Kelemahan dari model ini adalah diperlukan kerja ekstra dari para pendidik antar mata pelajaran yang terkait tersebut untuk mendiskusikan dan menyatukan konsep pemikiran dalam menyususun rencana model pembelajaran ini. 

3. Model Jaring Laba-laba (Web)
Sebenarnya model pembelajarn ini agak bertolak belakang dengan konsep pendekatan tematis sebagai pemadu bahan dan kegiatan palaksanaan kegiatan pembelajaran. Jenis model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran yang mengintegrasikan materi pengajaran dan pengalaman belajar melalui keterpaduan tema ajar, dan fungsi dari tema tersebut adalah sebagai pengikat keterkaitan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain. Permulaan dari model pendekatna ini dimulai dengan menentukan tema pembelajaran tertentu. Adapaun penentuan tema pembelajaran ini dapat ditetapkan dengan cara melakukan negoisasi dengan peserta didik, dan juga dapat dilakukan dengan cara diskusi anatar sesama pendidik. Jika penentuan tema tersebut sudah disepakati, kemudian dilanjutkan dengan mengembangkan sub-sub temanya dengan memperhatikan kaitannya tersebut dengan bidang studi lainnya. Kemudian dari Dari sub-sub tema inilah aktifitas belajar dikembangkan dengan melibatkan peserta didik sebagai objek.  Sebagai contoh, tema yang sudah ditentukan bersama adalah “Keluarga”. Dari tema keluarga ini dikembangkan dan dipadukan menjadi sub-sub tema yang ada pada beberapa mata pelajaran tertentu, seperti pelajaran IPS dengan Standar Kompetensi adalah “mendeskripsikan lingkugan rumah”,  Peserta didik diajarkan untuk mendeskripsikan lingkungan rumahnya masing-masing.

(Baca Definisi dan Karekteristik Pembelajaran Tematik )
(Baca Landasan Pembelajaran Tematik )

Adapun Kelebihan dari pendekatan tematik ini dapat memotivasi peserta didik untuk melakukan penyeleksian tema sesuai dengan minat mereka. adapun Kekurangan dari model ini adalah kesulitan bagio pendidik dalam menentukan tema pembelajaran, para pendidik lebih suka menetukan tema pembelajaran yang lebih mudah mereka ajarkan (tema yang tidak begitu dalam) sebagi konsekwensinya tema tersebut menjadi kurang berkesan ataupun bermanfaat bagi peserta didik.

4. Model Threaded 
Model Threaded merupakan model pembelajaran yang mengembangkan pokok gagasan dengan berfokus pada meta curriculum (metakurikulum). Contohnya untuk melatih keterampilan berfikir peserta didk (problem solving) dari beberapa mata pelajaran maka ditentukanlah beberapa bagian materi yang merupakan bagian dari pokok matari yang menyajikan problem solving. Sebagai contoh Seperti materi komponen memprediksi, meramalkan kejadian yang sedang berlangsung, mengantisipasi sebuah bacaan, hipotesis laboratorium dan lain sebagainya. Keterampilan-keterampilan ini merupakan dasar yang saling berkaitan. Adapun jenis Keterampilan yang digunakan dalam model threaded disesuaikan dengan tingkat perkembangan usia peserta didik.

5. Model Keterpaduan (Integrated)
Model integrated dapat di jabarkan senagai model Pembelajaran yang memadukan sejumlah tema/topik dari mata pelajaran yang berbeda tetap memepertahankan esensinya. Secara khusus model integrated ini adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antar bidang studi tertentu. Jensi Model ini merupakan model yang menggabungkan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler, keterampilan, konsep dan sikap yang saling tumpang tindih di dalam beberapa mata pelajaran tertentu. Dalam menentukan tema pembelajaran, pendidik diharuskan untuk melekukan penyeleksian terlebih dahulu terhadap konsep dari beberapa mata pelajaran yang ditentukan, untuk selanjutnya maka ditentukanlah satu tema tertentu yang dapat memayungi dari beberapa mata pelajaran tersebut dalam satu paket pembelajaran dari tema yang sudah ditentukan tersebut. Adapun yang menjadi kelebihan dari model integrated ini adalah peserta didik akan termotivasi dalam belajar dikarenakan adanya keterkaitan dan hubungan timbal balik antar berbagai disiplin ilmu (mata pelajaran), disamping juga dapat memperluas wawasan mereka terhadap materi yang disam;paikan tersebut. adapun yang menjadi Kelemahan dari model ini adalah pendidik akan membutuhkan waktu yang lama untuk menentukan kesesuaian antar mata pelejaran tersebut, kerana kesulitan dalam mencari keterkaitan antara mata pelajaran yang satu dengan yang mata pelajaran lainnya baik dari segi keterikatan keterampilan, konsep dan sikap. 

6. Model Networked 
model pembelajaran yang mengendalikan kemungkinan pengubahan konsep, bentuk pemecahan masalah, maupun tuntutan bentuk keterampilan baru setelah siswa mengadakan studi lapangan dan situasi, kondisi, maupun konteks yang berbeda. Model Networked merupakan model pembelajaran yang melibatkan kerjasama antara peserta didik siswa dengan seorang ahli (expert) yang berposisi sebagai nara sumber dalam mencari data, keterangan, atau lainnya yang terkait dengan meteri pelajaran. Moel pembelajarn netwoworked ini memungkinkan peserta didik untuk mengendalikan kemungkinan adanya pengubahan konsep, bentuk pemecahan masalah, ataupun tututan kentrampilan baru sebagai hasil dari mengadakan studi lapangan. Adapun nara Sumber/sumber yang digunakan dapat berupa buku bacaan, internet, saluran radio, TV, atau ahli lainya yang sesui dengan tuntutan materi pembelajaran. Peserta didik dapat memperluas pola pikir belajarnya sendiri, dalam artian artinya peserta didik akan termotivasi belajar karena adanya rasa ingin tahunya yang besar pada diri mereka sendiri.Yang menjadi kelebihan dari model pembelajaran networked ini adalah peserta didik dapat memperluas cakrawala berpikirnya yang meliputi aspek pengetahuan tertentu disamping jiga dapat meningkatkan rasa ingin tahunya terhadap objek yang disajikan dalam materi pembelajaran. Salah satu Kelemahan dari model ini adalah adanya kesulitan pendidik dalam menyediakan nara sumber sebagai objek peserta didik dalam menggali konsep pengetahuan yang disebabkan oleh karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki oleh sekolah ataupun para ahli pada bidang tertentu yang ada di sekitar lingkungan sekolah. 

Friday, October 06, 2017

Landasan Pembelajaran Tematik

Pada dasarnya Pembelajaran memiliki posisi yang sangat penting pada keseluruhan kegiatan pendidikan, dengan kata lain Pembelajaran berperan sebagai penentu terhadap keberhasilan dari tujuan pendidikan yang hendak dicapai. Maka Dengan posisi yang paling utama tersebut, proses pembelajaran tidak bisa dilaksanakan begitu saja tanpa adanya landasan dasar yang kuat dan perencanaan yang matang. Adapun landasan dan perencanaan secara umun pada dasarnya merupakan hal hal yang wajib dimiliki oleh seorang pendidik (sebagai syarat utama) ketika melaksanakan sebuah proses pembelajaran di dalam kelas. Adapun faktor-faktor yang harus dimiliki oleh pendidik tersebut meliputi banyak aspek baik aspek filosofis, aspek pengetahuan ilmu didik (pedagogik), aspek penguasaan materi ajar (content knowledge) aspek kemampuan komunikasi, dan aspek sosial kemasyarakatan. Sebagai seorang pendidik, mereka harus memformulasikan keseluruhan aspek aspek tersebut dalam setiap tahapan perencanaan pembelajaran, tahapan pelaksanaan pembelajaran dan tahapan penilaian proses dan hasil dari pembelajaran pembelajaran yang dilakukan.

Landasan Dasar Pembelajaran Tematik
Landasan Dasar Pembelajaran Tematik

Adapun landasan Pembelajaran Tematik yang yang harus dipahami oleh Pendidik  untuk mewujudkan pembelajarn sesuai dengan konsep tematik tersebut adalah meiputi landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan praktis. Penjabaran dari kesemuaan landasan Pembelajarn Tematik tersebut adalh sebagi berikut:

A. Landasan filosofis
Landasan filosofis merupakan landasan filsafat dalam melaksanakn proses pembelajaran tematik, landasan filosofi merupakan roh dasar yang harus dipahami karena mendasari/melandasi dari aspek-aspek lainnya, seperti aspek Perumusan tujuan, kompetensi, materi pembelajaran dan pendekatan ataupun model yang digunakan dalam pembelajaran tematik tersebut. untuk memahami kosep folosifi dari penbelajaran tematik ini sebaiknya kita pahami dulu aliran aliran filsafat yang yang melahirkan konsep pembelajaran tematik ini. Adapun aliran aliran filsafat yang menjadi pemicu kemunculun konsep ini adalah sebagai berikut: 
1. Aliran fisafat progresivisme.
progresivisme merupakan aliran filsafat yang merujuk pada pengalam pendidikan yang dikembangkan dari philosophy pragmatisme dan sebagi protes terhadap pandangan perenilisme di dalam pendidikan, filsafat ini ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini belum tentu benar pada masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak didik dengan diberikan kebebasan dalam menentukan pilihannya sendiri dengan kata lain meteri pembelajaran bukalah ditentukan oleh pendidik (Pendidik ). Jenis filsafat ini memberikan tekanan pada minat siswa (student’s interest). Dalam filasafat ini Pendidik  berperan sebagai problem solving dan science inquiry, kurikulum yang baik adalah kurikulum yang berasal dari hasil eksperimental, yaitu dimana kurikulum tersebut tidak bersifat statis sehingga kurikulum tersebut dapat berubah setiap waktu untuk dapat disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Tokoh yang terkenal pada aliran ini adalah Jhon DW, George Axtelle, William O, Ernest Bayle
seperti yang dijelaskan di atas, bahwa aliran filsafat progresivisme berpola students’ center sehingga proses pembelajaran pada perlu sekali ditekankan padaa spek berikut:

a. Pembentukan kreatifitas
b. Pemberian sejumlah kegiatan
c. Suasana yang alamiah(natural)
d. Memberikan perhatian pada pengalaman siswa

Dengan kata lain proses pembelajaran itu bersifat mekanistis(Ellis 1993). Jenia Aliran ini juga menitika beratkan bahwa dalam proses pembelajaran, peserta didik akan dihadapkan pada persoalan-persoalan tertentu yang harus dipecahkan /mencarai solusi untuk pemecahan masalh tersebut (problem solving).

2. Aliran rekontruktivisme 
Aliran filsafat ini adalah pengembangan (elaborasi) dari pada filsafat progresivisme, dengan penekanan pada pentingnya peradaban manusia dimasa depan. Fungsi pendidik dalam aliran filsafat ini adalah sebagai fasilitator untuk membantu siswa lebih peduli terhadap masalah kedepan dengan penekanan pada ilmu social, ekonomi, politik, dan methode peneliatian, dan berfokus pada trend dimasa mendatang bersamaan dengan isu-isu nasional. Disamping itu filsafat rekonstuktivisme juga lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan aktif membentuk pengetahuan berazaskan pengalaman yang sudah ada.
melihat pengalaman langsung siswa (directexperiences) merupakan kunci dalam prose pembelajaran. Dalam filsafat rekontruktivisme, pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang Pendidik  kepada siswa, tetapi harus diinterprestasikan sendiri oleh masing-masing peserta didik. Peserta didik harus mengkontruksi pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan sebuah proses yang berkembang secara terus menerus (sustanable). Pengetahuan tidak lepas dari subyek yang sedang belajar, penegtahuan lebih dianggap sebagai proses pembentukan (kontruksi) yang terus menerus, berkembang dan berubah sesuai dengan kondisi masa (tidak statis). Aliran filsafat ini mengelompokkan peserta didik dari:

a. Keunikan / kekhasanya
b. Potensinya
c. dan Motivasi yang dimilikinya

B. Landasan Psikologis
seperti yang sudah kita pahami bahwa Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia, oleh sebab itu dalam melaksanakan pembelajaran tematik harus dilandasi oleh psikologi sebagai acuan dalam menentukan apa dan bagaimana perilaku itu harus dikembangkan. Peserta didik adalah para individu yang sedang berada dalam tahapan proses perkembangan, perkembangan tersebut meliputi perkembangan fisik/jasmani, perkembangan intelektual, perkembangan social, perkembangan emosional, dan perkembangan moral. Jadi disilah peranpendidik untuk dapat mengoptimalkan proses/kematangan dari perkembangan tersebut kerah yang dikehendaki sehingga proses perkembangan tersebut dapat berkembangan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki oleh peserta didik.
Adapun jenis Pandangan-pandangan psikologis yang menjadi landasan pembelajaran tematik dapat adalah:

1. Pada dasarnya masing-masing siswa membangun realitas sendiri. Makna dari perrnyataan tersebut adalah pembelajaran yang dilakukan merupakan proses dari pengalaman peserta didik sendiri, bukan merupakan pengalaman yang dilakukan oleh orang lain, dan juga bukan merupakan pengalaman pendidik yang di transfer melalui berbagai bentuk media dalam melaksankan proses pembelajaran.

2. Pikiran seseorang pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk mencari pola dan hubungan antara gagasan-gagasan yang ada. Pembelajaran tematik memungkinkan siswa untuk menemukan pola dan hubungan tersebut dari berbagai disiplain ilmu.

3. Peserta didik merupakan individu yang memiliki berbagai kemampuan dan potensi dan memiliki kesempatan untuk berkembang. Peran Pendidik  bukanlah satu-satunyapihak yang paling menentukan, tetapi lebih bertindak sebagaii “tut wuri handayani”.

4. Keseluruhan perkembangan anak adalah tematik dan anak melihat sekitar dirinya dan sekitarnya secara utuh (holistic).

C. Landasan praktis
Landasan praktis diperlukan karena pada dasarnya Pendidik  harus melaksanakan pembelajaran tematik secara aplikatif dalam kelas. Maka untuk itu, pelaksanaa pembelajaran tematik juga dilandasi landasan praktis berikut ini :

1. Proses Perkembangan ilmu pengetahuan terus berlangsung dengan cepat seiring dengan kebutuhan peradaban manusia, akibatnya terlalu banyak informasi yang dimuat dalam kurikulum pembeljaran untuk memenuhi tuntunan zaman tersebut. 

2. pendidikan sekarang menjadikan hampir semua pelajaran di sekolah diberikan secara terpisah satu sama lain, padahal seharusnya saling terkait (intergrated)

3. Permasalahan yang muncul dalam pembelajaran sekarang ini cenderung lebih bersifat lintas mata pelajaran (interdisipliner) sehingga diperlukan usaha kolaboratif antara berbagai mata pelajaran untuk memecahkannya.

4. Adapun kesenjangan yang terjadi antara teori dan praktik dapat dipersempit dengan pembelajaran yang dirancang secara tematik sehingga siswa akan mampu berpikir teoritis dan pada saat yang sama mampu berpikir secara praktis.

Tuesday, October 03, 2017

Hakikat Anak Bagi Orang Tua Mereka

Anak merupakan salah satu anugrah disamping juga sabagai amanah dari sang pencipta (Allah Swt). Tentunya terutama bagi pasangan baru, anak akan menjadi sebuah anugerah yang sangat diimpikan bagi mereka berdua, akan terasa kebahagian semangkin sempurna dikala simungil yang diimpikan tersebut hadir ditengah tengah kehidupan mereka berdua.  Bagi sebagian pasangan yang belum memiliki momongan, mereka akan berusaha untuk memiliki momongan walaupun kadang harus mengorbankan tenaga dan materi yang tidak terkira hanya untuk memiliki anak sebagai salah satu pelengkap kebahagian mereka berdua sebagai pengharapan untuk menjadi penerus tali keluarga mereka kelak. Pada masa bayi dalam kandungan berbagai kebutuhan nutrisi dilengkapi oleh orang tuanya seperti susu dan berbagai makanan yang mengundung nilai potein, vitamin dan kandungan lainnya untuk meningkatkan proses pertumbuhan bayi selama dalam kandungan. 

Hakikat Anak Bagi Orang Tua Mereka
Hakikat Anak Bagi Orang Tua Mereka

Setelah bayi yang diimpikan tersebut lahir maka kedua orang tua dengan rasa suka cita menyambut kelahiran bayi mereka yang diawali dengan sambutan azan ataupun iqamat bagi bayi perempuan. Setelah itu berbagai macam kebutuhan bayi tersebut diusahkan oleh kedua orang tuanya dengan malakukan berbagai usaha yang dapat mendatangkan rejeki mereka untuk memenuhi kebutuhan anak mereka tersebut. Segela kebutuhan anak mereka tidak hanya berlangsung saat masa bayi saja tetapi akan terus berlanjut seiring dengan masa perteumbuhannya sampai masa mereka mengenyam pendidikan baik di tingkat sekolah dasar ataupun tingkat perguruan tinggi.  
Sebagai amanat Allah yang dititipkan kepada mereka, maka mereka akan terus berusaha memberikan yang terbaik kepada anaknya, tidak hanya kebutuhan jasmani akan juga kebutuhan rohani untuk menunjanag kehidupan anak mereka di masa depan. Maka untuk itu sebagai orang tua kita tidak harus jeli memberikan pendidikan anak, dimana pendidikannya tidak hanya terfokus mendidik anak dengan ilmu pengatahuan umum saja akan tetapi anak kita juga harus dibekli dengan dengan pengetahuan agama sehingga mereka akan selamat berada di dunia dan di akhirat kelak. Disinilah tutuntan peran orang tua kepada Allag Swt yang harus bisa mendidik anak mereka tidak hanya untuk pendidikan umum saja akan tetapi anak mereka juga harus dibekali dengan pengatahuan agama sebagai konsep dasar yang wajib diajarkan kepada anak kita, dengan harapan terlepas dari kewajiban Allah kepada kita sebagai orang tuan disamping juga akan menjadi manfaat buat kita para orang tua kelak nantinya ketika kita sudah menuju alam akirat. Anak yang mendapatkan pendidikan ilmu agama disamaping ilmu pengetahuan Umum mereka akan selalu mengirimkan doa sebagai penelong kedua orang tuanya ketika berada dialam akhirat. Maka untuk itu jika ingin anaknya bermanfaat buat orang taunya dan orang lain maka asuhlah anak tersebut dengan pendidikan agama dan pendidikan umum sebagai bekal kehidupannya baik selama di dunia ini ataupun di akhirat nanti.

Jika anak kita sudah dewasa, Sebagai orang tua kita harus bertanya pada diri kita sendiri apakah anak kita tersebut sudah bermanfaat pada diri kita sebagai orang tuanya ataupun bermanfaat buat orang lain. jika jawabannya sudah bermanfaat buat kita selaku oarang tuanya maka bersyukurlah karena anak kita masih mau peduli dengan kita disamping juga bermanfaat buat orang lain. namun jika manfaat tersebut tidak kita rasakan sama sekali malah yang ada ketika anak kita dewasa malah memberikan beban kepada kita yang seharusnya pada masa usia lanjut kita hanya beristirahat dan beribadah, ini jelas ada yang salah dengan kita dalam membimbing dan mengasuh anak tersebut. disamping juga pertanyakan bagaimana peran anda sendiri sebelumnya terhadap orang tua anda?

Manfaat Anak Bagi Orang Tua
Anak adalah aset bagi orang tua untuk dikemudian hari, dimana aset tersebut sangat berguna buat kita nantinya, klau kita ibaratkan anak seperti pengeloaan sebuah aset yang kita miliki, jika seandainya aset tersebut diekelola dengan baik maka akan memberikan banyak keuntungan buat kita nantinya. Disini akan saya gambarkan bagaimana manfaat anak buat orang tua mereka, adapaun manfaat anak tersebut buat orang tua mereka adalah:

a. Anak Sebagai penolong orang tua ketika berada di alam akirat
sebagai manusia yang bersifat baharu, maka kita semua pasti akan mati dan melanjutkan perjalanan ke alam Baqa. Banyak ulama mengambarkan jika alam dunia ini adalah tempat kita bercocok tanam untuk mendapatkan hasilnya di alam akhirat nantinya. salah satu amalan yang dapat menolong kita di alam akhirat adalah doa dari anak yang shaleh. Untuk mendapatkan anak yang mendoakan orang tua mereka itu boleh dikatakan bukan perkara yang mudah, karena dewasa ini kita melihat banyak sekali anak yang menelantarkan orang tuanya sewaktu mereka masih hidup di dunia apalagi jika orang tua mereka sudah tiada. Untuk mendapatkan anak yang mau mengirinkan doa buat kita di akhirat maka anak tersebut perlu untuk dididik ilmu pendidikan agama, karena bbagaimanapun materi ajar yang digunakan untuk meningkatkan karekater anak rasanya tidak ada yang lebih baik jika dibandingkan dengan konsep karakter yang ada dalam ilmu pendidikan agama islam, seperti tasawuf, akhidah, dan sebagian dari pada ilmu fiqih. Mengapa saya berasumsi demikian karena ilmu agama itu diikat oleh nilai iman dimana nilai iman ini merupakan pancaran dari Ilahi sang pencifta kita manusia dan segala isi alam semesta. jadi di sini saya bukan menafikan pentingnya akan ilmu Umum akan tetapi ada baiknya jika pendidikan ilmu agama islam ini juga dibekali pada anak kita bersamaan dengan ilmu pendidikan Umum lainnya, sehingga nantinya anak kita akan bermanfaat buat diri kita orang tua ketika berada di alam barzah ananti. Minimal hal yang paling medasar adalah anak kita masih bisa menuntun kita untuk mengucapkan kalimat tauhid dikala ajal datang menjemput kita untuk meninggalkan dunia yang fana ini.
  
b. Anak sebagai penolong orang tua dimasa senja. 
Masa senja alias masa lanjut adalah porses dimana seseorang yang dulu kuat gagah dan perkasa menjadi lemah dan kurang berdaya (masa tua). Semua manusia yang memiliki keberkatan usia pasti akan merasakan masa usia tua, dimana pada masa ini kita sudah tidak lagi bisa beraktifitas seperti masa muda karena berbagai keterbatasan yang kita miliki ketika kita memasuki masa tua tersebut. kebanyakan orang telah mempersiapkan masa tua mereka dengan beristirahat dan menikmati apa yang telah mereka usahakan dimasa tua disamping juga beribadah untuk mempersipkan diri mereka menghadap sang khaliq. Sebagai anak kita dituntut untuk membatu orang tua kita ketika mereka mengalami masa masa sulit di usia tua mereka. seperti mebantu memberikan nafkah untuk meringankan beban mereka jika mereka tidak memiliki bekal yang cukup. Menolong mereka untuk mendapatkan ases kesehatan jika kondisis mereka sakit sakitan. Karena pada masa ini rasanya tidak ada lagi pertolongan yang mereka dapatkan selain dari anak anak yang telah meraka besarkan dengan berbagai usaha yang mereka lakukan di waktu dulu. Jadi sebagai anak yang tahu berterimakasih kepada kedua orang tuanya rasanya sangat tidak wajar jika seorang anak mengabaikan kedua orang tuanya dimasa mereka sudah senja, apalagi bagi anak yang telah sukses mereka didik dengan mengobankan berbagai meteri yang mereka miliki untuk menunjang kesuksesan anaknya sekarang ini. Namun terkadang sebagai anak yang tidak tahu berterimakasih beranggapan jika apaun yang mereka dapatkan sekarang adalah hasil dari usahanya sendiri dan bukan karena usaha orang tuanya. Alangkah congkaknya anak yang bersikap demikian apakah mereka tidak berpikir bisakah mereka tulis baca seandainya mereka tidak disekolahkan oleh kedua orang tua mereka dulu?. Hanya anak yang tahu ilmu agamalah yang paling cepat tersentuh dengan kehidupan orang taunya sehingga mereka akan tetap berusaha untuk meringakan/membantu segala kebutuhan mereka dengan tidak mengharap balasan apapun selain semata mata karena Allah Swt. 

Demikianlah gambaran singkat tentang kewajiban anak terhadap orang tuanya sehingga menjadi sebuah renungan buat kita semua tentang seberapa bergunakah diri kita terhadap orang tua kita sendiri. Karena yakinlah jika anda berbuat baik kepada orang tua anda, insyaalh nantinya anak anak anda juga akan melakukan hal yang sama kepada anda dikala anda memasuki usia senja nanti, dan begitu juga sebaliknya jika anda mangabaikan kedua orang tua anda maka anak anak andapun juga akan melakukan yang sama terhadap anak diri anda kedapan nantinya. Janganlah beralasan untuk tidak membantu orang tua hanya karena keterbatasa ekonomi, apakah anda pernah berpikir jika sewaktu anda kecil dulu mereka tidak pernah mengabaikan anda dalam mememenuhi segala keperkuan anda dengan alasan keterbatasan ekonomi. Ingatlah Allah Swt maha kaya, semangkin banyak dan iklas anda membatu kedua orang tua anda maka semakin luas pintu rejeki yang diberikan kepada anda karena Allah Awt tidak pernah tidur dan Dia adalah pemilik apa yang ada di bumi dan di langit.   

Monday, October 02, 2017

Definisi dan Karakteristik Pembelajaran Tematik

A. Pengertian Pembelajaran Tematik
Kata Pembelajaran Tematik berasal dari Bahasa Inggis integrated teaching and learning/integrated curriculum yang dikemukakan oleh Jhon Dewey adalah sebagai usaha mengintegrasikan pertumbuhan/perkembangan phisik perserta didik dengan pertumbuhan kemampuan intelensinya (pengetahuan). Konsep Pembelajaran tematik merupakan suatu konsep pendekatan untuk mengaitkan dan memadukan materi ajar dalam suatu mata pelajaran atau antar mata pelajaran dengan semua aspek perkembangan anak, kebutuhan dunia usah disamping juga tuntutan lingkungan sosial masyarakat dan keluarga. Pada poin mengaitkan atau memadukan Materi ajar ini, sebenarnya kita bisa juga mengacu pada tahapan pengembangan silabus dimana salah satu poin dari pengembangan silabus adalah Artikulasi. Artikulasi berarti hubungan berbagai aspek kurikulum. Biasanya hubungan aspek ini terbagi menjadi dua kategori, vertikal dan horizontal. 

Definisi dan Karakteristik Pembelajaran Tematik
Definisi dan Karakteristik Pembelajaran Tematik 

Menurut Ornstein & Hunkins (2004: 244), Articulation means the relationship the various aspects of the curriculum. Normally the relationship of this aspect is divided into two categories, vertical and horizontal.  According to Ornstein & Hunkins (2004:244), vertical articulation shows the relationships of certain aspect in the curriculum sequences to lesson, topics, or courses appearing later in the program’s sequence. Horizontal articulation refers to association between or among elements occurring simultaneously. (Artikulasi vertikal menunjukkan hubungan aspek tertentu dalam rangkaian kurikulum pelajaran, topik, atau kursus yang muncul kemudian dalam urutan program. Artikulasi horisontal mengacu pada hubungan antara atau antar elemen yang terjadi secara bersamaan)

Disamping itu, pendekatan Pembelajaran Tematik ini dapat diartikan sebagai  pendekatan holistic, dimana pendekatan ini mengkombinasikan aspek aspek epistemology, aspek social, psikologi, dan aspek pendekatan pedagogic dalam menididk peserta didik. Kombinasi ini menghubungkan antara otak dan raga, antara pribadi dan pribadi, antara individu dan komunitas, dan antara aspek domain-domain pengetahuan (intelegensi). Menurut Wolfinger ( 1994:133 ) dia menyampaikan dua istilah yang secara teoritis memiliki hubungan yang sangat erat, yaitu integrated curriculum (kurikulum tematik) dan intregated learning (pembelajaran tematik). Kurikulum tematik adalah kurikulum yang menggabungkan sejumlah disiplin ilmu melalui pemaduan isi (content), ketrampilan (skill), dan sikap (Psikomotor).
Adapun perbedaan yang mendasar dari konsepsi kurikulum tematik dan pembelajaran tematik ini hanya terdapat pada aspek perencanaan dan pelaksanaannya saja. Pada keadaan Ideal, pembelajaran tematik seharusnya berasakan/terikat dengan kurikulum tematik, namun pada kenyataan pelaksanaanya menunjukan bahwa banyak kurikulum yang memisahkan mata pelajaran yang satu dengan lainnya (separated subject curriculum) padahal jika kita melihat pemisahan mata pelajaran tersebut sebenarnya masih bersifat Tematik (integrated learning).

Pembelajaran Tematik sebagai suatu konsep dapat diartikan sebagai pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaranuntuk memberikanpangalaman yang bermakna bagi siswa. Dikatakan bermakna karena jenis pendekatan pembelajaran tematik ini siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami sebelumnya.

Pembelajaran Tematik merupakan suatu pendekatan yang berorientasi pada praktik pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Dasar dari Pembelajaran tematik ini sebenarnya berangakat dari teori pembelajaran yang menolak proses latihan/hafalan (drill) yang dijadikan sebagai kerangka dasar dalam pembentukan pengetahuan dan struktur intelegensi peserta didik. Adapun tokoh tokoh yang berada dibalik konsep pendekatan pembelajaran ini adalah Gestalt, (termasuk teori Piaget) yang menekankan bahwa pembelajaran itu haruslah bermakna dan menekankan juga pentingnya program pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan perkembangan anak.

B. Karakteristik Pembelajaran Tematik
Dibawah ini adalah Beberapa jenis karakteristik Pmebelajaran Tematik yang harus a dipahami, dinatarnya adalah sebagi berikut:

1. Azas pembelajaran tematik ini merupakan jenis pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered). Jenis pendekatan student center ini sebemnarnya merujuk pada konsep curriculum student center, dan jenis ini sangat coco digunakan pada pola pendekatan belajar dijaman sekarang ini. Alsananya karena jenis pendektan ini lebih banyak memeposisikan peserta didik sebagai subjek belajar. Sedangkan pendidik lebih berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar mengajar. Namun harus dipahami jika posisi siswa disini bukanlah sebagai penentu objeck (materi) ajar, melaikan pembelajaran dikembangkan lebih kepada minat siswa sehingga kelebihan (talent) yang dimiliki oleh siswa tersebut dapat dikembangkan. 

2. (Direct experience) jenis Pembelajaran tematik ini dapat memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik ketika melakukan proses pembelajaran. Salah satu kelebihan dangan adanya direct experience ini peserta didik akan mendapatkan berbagai pengalaman ajar yang mereka pelajari karena peserta didik langsung dihadapkan pada konsidi pembelajarn yang real (konkrit) disamping itu pengalaman yang real ini juga dapat digunakan sebagai pokok utama dalam mamahami hal-hal yang bersifat abstrak baik berupa konsep atapun kerangka tertentu.

3. Dalam penyajiannya, konsep Pembelajaran tematik ini menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran (antar mata pelajaran). Ini bertujuan supaya peserta didik mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh, sehingga konsep ini dapat membenatu peserta didik untuk memecahkan berbagai permasalahan-permasalahan yang akan dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

4. Salah satu ciri khas dari konsep Pembelajaran tematik ini adalah bersifat fleksible. Anologi bersifat fleksible ini karena pendidik (guru) memiliki kebebasan dalam mengaitkan materi ajar anatr mata pelajaran (dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya), disampimng itu pendidik huga dapat mengaitkan materi ajar tersebut dengan kehidupan peserta didik baik dengan keadaan lingkungan sekilah ataupun lingkungan sekitar mereka..

5. Tujuan pembelajaran dengan kata lain hasil yang diperoleh oleh peserta didik  dapat dicapai sesuai dengan minat dan kebutuhan Peserta didik. Sehingga konsep ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memberdayakan segala jenis potensi yang mereka miliki (talent) sehingga tidak terjadi pembunuhan potensi yang dimiliki oleh peserta didik tersebut. 

6. Kalau kita amati lebih jauh, sistem pembelajaran tematik ini kelihatan jika pemisahan antar mata pelajaran tidak begitu jelas, terutama pada tahapan pembelajaran dasar, dimana pada tingkat pembelaran dasar ini (SD) fokus pembelajaran materi ajar banyak diarahkan pada tema-tema yang paling dekat dan berkaitan dengan kehidupan peserta baik baik lingkungan atapun kehidupan sosialnya.

Friday, September 29, 2017

Definisi dan Konsep penilaian Autentik Dalam kegiatan Pembelajaran

Konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.
Salah satu model penilaian yang diusung dalam Kurikulum K.13 adalah penilaian Autentik, adapun makna dari penilaian Authentik (Authentic Assessment) adalah penilaian/pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik dalam tiga ranah intelegensi yaitu ranah Afektif (sikap), Psikomotor (keterampilan), dan Kognitif (pengetahuan). Penilaian autentik terdiri dari kata: Authentic dan assessment. Autentik merupakan sinonim dari asli, nyata, valid, atau reliabel, sedangkan Assessment merupakan sinonim dari penilaian, pengukuran, pengujian, atau evaluasi. 

Definisi dan Konsep penilaian autentik Dalam kegiatan Pembelajar
Definisi dan Konsep penilaian Authentik Dalam kegiatan Pembelajar

Penilaian Autentik dilakukan untuk dapat mengukur pencapaian kompetensi secara holistik. Yang meliputi Aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan dan penilaiannya dinilai secara bersamaan sesuai dengan kondisi yang nyata (real). Tujuan Penilaian authentik dilaksanakan untuk mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik yang dikaitkan dengan situasi nyata bukan dunia sekolah. Oleh karena itu, dalam melakukan penilaian digunakan berbagai bentuk dan teknik penilaian. Penilaian Autentik tidak hanya mengukur apa yang diketahui oleh peserta didik, tetapi lebih menekankan mengukur apa yang dapat dilakukan oleh peserta didik.

Kita tahu bahwasanya proses belajar dapat dikategorikan dalam 2 kategori yaitu:

1. Belajar merupakan suatu proses perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang yang tidak baik.

2. Belajar juga merupakan suatu proses perubahan yang terjadi melalui latihan latihan dan pengalaman pengalaman yang dilalui. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu pada dasarnya adalah perubahan kecakapan baru baik berupa skill ataupun keahlian tertentu, yang berlaku dalam waktu yang relatif lama. Adapun tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar berkaitan dengan berbagai aspek kepribadian baik fisik maupun phisikis seseorang (peserta didik). Kita tahu bahwasanya untuk segala jenis teori belajar manapun yang digunakan pada prinsipnya tetap menekankan jika belajar meliputi segala perubahan yang terjadi pada diri peserta didik baik perubahan dari pola berpikir, pengetahuan, informasi, kebiasaan, sikap apresiasi maupun perubahan aspek lainnya.


Maka dari penjelasan konsep belajar di atas, Secara konseptual penilaian autentik akan lebih bermakna secara signifikan jika dibandingkan dengan tes pilihan ganda terstandar sekali pun, dengan alasan penilaian Authentik lebih merangkupi ketiga aspek ranah kompetensi yang disebutkan diatas. Dalam penerapannya, ketika seorang pendidik menerapkan penilaian yang autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didiknya, maka pendidik menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, sikap dan skill yang dimiliki siswa dengan melakukan aktivitas mengukur, mengamati dan mencoba baik dalam kegiatan didalam kelas maupun di luar kelas.

pada dasarnya Penilaian autentik dan tuntutan kurikulum 2013 memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah (Scientific approach) yang digunakan dalam pembelajaran Kurikulum 2013. Alasanya karena jenis Penilaian tersebut mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka melakukan proses observasi, bertanya, mencoba, Menalar dan mengkomunikasikan.

kita paham bahwasanya Penilaian autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih autentik. Di samping itu, Penilaian autentik sangat relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran, khususnya jenjang sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai. Secara umum jenis Penilaian autentik sering dikontradiksikan dengan penilaian yang menggunakan standar tes berbasis norma, pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan, atau membuat jawaban singkat. Maka dari itu, penggunaan pola penilaian seperti ini tetap dibolehkan dalam proses pembelajaran, dengan alasan karena memang lazim digunakan dan sudah memperoleh legitimasi secara akademik karena Penilaian autentik dapat dibuat oleh guru sendiri, baik guru secara tim atau dengan cara bekerja sama antara guru dengan peserta didik. Satu hal yang harus dipahami jika dlam penilaian autentik penglibatan siswa sangat penting diperlukan. Anologi ini didasarkan pada bahwasanya peserta didik dapat melakukan aktivitas belajar lebih baik ketika mereka tahu bagaimana akan dinilai, sedangkan Peserta didik diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam rangka meningkatkan kemampuan pemahaman mereka terhadap tujuan pembelajaran yang ingin dicapai disamping juga untuk menumbuhkan minat belajar mereka menjadi semakin tinggi untuk meningkatkan kemampuan belajar nya.

Jenis Jenis Penilaian Autentik
Adapun jenis jenis Jenis-jenis penilaian autentik dapat dikategorikan dalam 4 jenis yaitu:

1. Penilaian Kinerja
adapun makan dari Penilaian kinerja merupakan penilaian yang meminta peserta didik untuk melakukan suatu tugas pada situasi yang sesungguhnya dengan mengaplikasikan atau mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan. Pada penilaian kinerja, penekanan penilaiannya dapat dilakukan pada proses atau produk. Adapun jenis Penilaian kinerja yang menekankan pada produk disebut penilaian produk (product), sedangkan jenis penilaian kinerja yang menekankan pada proses disebut penilaian praktik (practise). Adapun contoh dari Penilaian praktik, misalnya; memainkan alat musik, melakukan pengamatan suatu obyek dengan menggunakan mikroskop, menyanyi, bermain peran, menari, dan sebagainya. Penilaian produk, misalnya: poster, kerajinan, puisi, dan sebagainya

2. Penilaian Proyek
Pengertian penilaian berbasis proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap tugasan tertentu yang harus diselesaikan dalam periode atau waktu tertentu (telah ditentukan). Adapun jenis dari tugas tersebut adalah berupa tugasan berbentuk investigasi yang meliputi dari tahapan perencanaan, pengumpulan, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. 

3. Penilaian Portofolio
Pengertian Penilaian Portofolio adalah merupakan kumpulan hasil karya seorang peserta didik, sebagai hasil pelaksanaan tugas kinerja yang ditentukan oleh guru atau oleh peserta didik bersama guru, sebagai bagian dari usaha mencapai tujuan belajar, atau mencapai kompetensi yang ditentukan dalam kurikulum

4. Penilaian Tertulis
Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Namun harus dipahami jika dalam menjawab setiap soal peserta didik tidak selalu dituntun untuk merespon dalam bentuk tulisan akan tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar dan lain sebagainya.

Monday, September 25, 2017

Definisi dan Jenis Jenis Teori Belajar

Pengertian Belajar Dan Macam-Macam Teori Belajar
Proses belajar mengajar merupakan salah satu proses interaksi di sekolah yang terjadi antara pendidik dengan peserta didik, peserta dengan peserta didik yang berlangsung baik didalam kelas maupun diluar kelas dalam wadah lingkungan belajar. Dengan adanya proses interaksi tersebut maka terjadilah sebuah proses kegiatan pembelajaran. Secara umum proses pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang menyatukan domain kognitif, domain emosional, dan lingkungan beserta pengalaman tertentu yang bertujuan untuk memperoleh, meningkatkan, atau membuat perubahan terhadap pengetahuan keterampilan (skill), nilai, dan pandangan seseorang (Illeris, 2000; Ormorod, 1995).

Pengertian Belajar Dan Macam-Macam Teori Belajar
Pengertian Belajar Dan Macam-Macam Teori Belajar

Secara sederhana belajar dapat diartikan sebagai suatu proses pengembangan baik berupa pengembangan aspek pengetahuan, perilaku, keahlian dan pemahaman terhadap nilai nilai yang ada, dengan bahasa lain belajar merupakan suatu proses memanusiakan manusia. Sedangkan teori belajar adalah usaha/upaya untuk menggambarkan bagaimana seseorang tersebut belajar, sehingga membantu kita memahami proses kompleks inheren pembelajaran. (Wikipedia). Berbeda dengan perubahan yang ditimbulkan oleh perbuatan belajar, para ahli teori belajar berusaha merumuskan tentang makna dasar dari pengertian belajar tersebut. berikut ini dikutip beberapa batasan belajar, agar dapat menjadi bahan pemikiran dan renungan mengenai pengertian belajar yang berlangsung dalam kelas/dalam lingkungan belajar.
Secara umum Belajar dapat diartikan sebagai sebuah proses perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau didasar pada kecendrungan respon pembawaan, pemaksaan, atau kondisi sementara seperti lelah, mabuk, perangsang dan sebagainya.

Sedangkan Menurut Morgan (Gino, 1988: 5) menyatakan bahwa belajar adalah merupakan salah satu yang relatif tetap dari tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa belajar adalah usaha sadar yang dilakukan manusia melalui pengalaman dan latihan untuk memperoleh kemampuan baru dan merupakan perubahan tingkah laku yang relatif tetap, sebagai akibat dari latihan. Namun menurut Hilgard (Suryabrata, 2001:232) dia menyatakan belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perbuatan yang ditimbulkan oleh perbuatan/aktivitas lainnya. Selanjutnya menurut Gerow (1989:168) dia mengemukakan bahwa “Learning is demonstrated by a relatively permanent change in behavior that occurs as the result of practice or experience”.

Proses Belajar terjadi dengan adanya ditunjukkan oleh perubahan yang relatif tetap dalam perilaku yang terjadi pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya latihan dan pengalaman-pengalaman tertentu. Disamping itu menurut Bower (1987: 150) “Learning is a cognitive process”. Belajar adalah suatu proses kognitif.Harus dipahami jika pengertian ini tidak berarti semua perubahan berarti belajar, tetapi dapat dimasukan dalam pengertian belajar yaitu, perubahan yang mengandung suatu usaha secara sadar, untuk mencapai tujuan tertentu.

Dari gambaran gambaran pengertian belajar yang telah dikemukakan di atas, maka dapat diidentifikasi beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian belajar tersebut, yaitu sebagai berikut:

1. Belajar merupakan suatu proses perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang yang tidak baik. akan tetapi, perubahan tersebut tidak akan harus segera nyata muncul pada diri seseorang setelah mengikuti proses belajar tetapi dapat nampak di kesempatan yang akan datang (kemudian hari).

2. Belajar merupakan suatu proses perubahan yang terjadi melalui latihan latihan dan pengalaman pengalaman yang dilalui. Maka untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru baik berupa skill ataupun keahlian tertentu, yang berlaku dalam waktu yang relatif lama. hal hal yang berhubungan dengan skil adalah seperti menciptakan keahlian tertentu seperti dibidang otomotif, perkebunan, dan media IT dan lain sebaginya. Adapun tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian baik fisik maupun psikis seseorang. Untuk jenis teori belajar manapun pada prinsifnya tetap menekankan jika belajar meliputi segala perubahan yang terjadi pada diri peserta didik baik perubahan dari pola berpikir, pengetahuan, informasi, kebiasaan, sikap apresiasi maupun lainnya. Ini berarti kegiatan belajar ditunjukan oleh adanya perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman yang dilalui oleh seseorang. Perubahan yang terjadi karena proses belajar adalah perubahan yang disebabkan oleh karena adanya usaha dari individu tersebut dan perubahan tersebut berlangsung dalam aktu yang relatif lama. Namun harus dipahami jika Belajar merupakan suatu kegiatan yang aktif, karena kegiatan belajar dilakukan dengan sengaja, sadar dan memiliki tujuan yang hendak di capai. Namun dalam usaha untuk mencapai hasil yang optimal dari kegiatan belajar tersebut, maka sangat perlu untuk diusahakan faktor penunjang dari belajar itu sendiri, seperti kondisi peserta didik yang baik, fasilitas dan lingkungan yang mendukung (memadai) serta proses belajar mengajar tersebut dilakukan dengan tepat tersruktur dan teroganisir dengan baik.

Macam-macam Teori Belajar
Secar umum ada tiga kategori utama atau kerangka filosofis mengenai teori-teori belajar, (1) teori belajar behaviorisme, (2) teori belajar kognitivisme, dan (3) teori belajar konstruktivisme. Teori belajar behaviorisme hanya berfokus pada aspek objektif yang dapat diamati secama pembelajaran berlangsung. Teori kognitif melihat melampaui perilaku untuk menjelaskan pembelajaran berbasis otak. Aliran Konstruktivisme memiliki  pandangan bahwa belajar sebagai sebuah proses di mana pelajar aktif membangun atau membangun ide-ide baru atau konsep konsep pemahaman baru.

1. Teori belajar Behaviorisme
Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang disampaikan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman seseorang. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan. Dalam ilmu  pembelajaran teori ini lebih dikenal sebagai aliran pendidikan behavioristik. Salah satu konsep aliran ini adalah lebih menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil dari belajar itu sendiri. Jenis teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, memposisikan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Untuk itu siperlukan respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan (enablement). Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

2. Teori Belajar kognitivisme
Aliran Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Adapun Model kognitif teori belajar ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran dengan cara mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini lebih menekankan pada proses atau dengan kata lain bagaimana informasi diproses.

Adapun Peneliti yang mengembangkan teori kognitif ini diantarnya ialah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel memberikan penekanan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar. Sedangkan Bruner lebih menekankan pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan yang ada.

3. Teori Belajar Konstruktivisme
Dari segi makna kita dapat mengartikan Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern.
Maka Konstruktivisme memeiliku hubungan dengan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan terkontrol.

Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata Maka dengan mengunakan teori konstruktivisme ini peserta didik dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari idea dan membuat keputusan sendiri. Disamping itu, Pendidik sebagai tenaga pengajar akan lebih paham karena mereka terlibat secara langsung dalam membangun konsep pengetahuan baru tersebut.