Showing posts with label METHODE PEMBELAJARAN. Show all posts
Showing posts with label METHODE PEMBELAJARAN. Show all posts

Friday, April 21, 2017

Pengertian dan Konsep Pembelajaran E-Learning

Pengertian dan Konsep Pembelajaran E-Learning
Istilah E-Learning memiliki pengertian yang sangat luas, sehingga banyak pakar yang menguraikan tentang definisi E-Learning dari berbagai sudut pandang masing-masing.  Salah satu definisi yang sangat populer dan diterima secara umum adalah dari definisi dari E.Hartley yang menyatakan:
 
Pengertian dan Konsep Pembelajaran E-Learning
Pengertian dan Konsep Pembelajaran E-Learning
“e-Learning merupakan sebuah proses belajar mengajar yang yang disampaikan kepada pelajar dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain”.
Learn Frame.Com dalam Glossary of e-Learning Terms menyatakan suatu definisi yang lebih luas bahwa:e-Learning adalah suatu sistem pendidikan yang menggunakan media elektronik untuk mendukung proses belajar mengajar dengan sarana/media Internet, jaringan komputer,ataupun komputer standalone.
Dari berbagai definisi yang muncul dapat kita simpulkan bahwa sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan sarana teknologi dan informasi dalam proses belajar mengajar dapat disebut sebagai  Learning atau sering disebut distance learning ( David Hawkridge). Jadi jelas sekali jika sistem pembelajaran e-leraning tersebut sudah banyak digunakan dalam pembelajaran disekolah dewasa ini, meskipun belum mencakupi semua seklah dan semua tingkatan pendidikan. Untuk tingkatan sekolah, sistem pembeljaran yang mengunakan konsep e-leraning sudah mulai memasuki sekolah sekolah tertentu meskipun masih pada tahap yang paling dasar, dalam artian masih sangat terbatas dan masih sangat sederhananya baik dalam segi perlengkapan saran e-leraning maupaun dalam segi penggunaannya (penerapan) di sekolah. Sebenarnya, dalam masa era globalisasi ini sebaiknya pola penerapan pembelajran dengan menggunkan e-leraning ini harus sudah berjalan secara keseluruhan di semua unit pendidikan (dengan menyesuaikan penggunaanya menurut tingkatan pendidikan tersebut). Untuk tingkatan pendidikan menegah dasar dan atas sebaiknya penerapan ini harus sudah cukup maksimal mengingat di berbagai negara maju pola pendidikan yang mengunakan konsep pembelajaran e-elarning i i sudah bukan hal yang baru lagi.

ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi pihak penyeleggaraan pendidikan karena disamping masih terbatasnay sarana dan prasaran pendukung penerapan model pembelajaran e-leraning ini, juga masih sangat minimnya kecakapan ataupun kemampuan guru dalam menggunakan fasilitas pembelajaran yang mengusung konsep pembelajaran e-learning ini. Jujur saja masih sangat banyak sekali sekolah khususnya di pedesaan yang jauh dari perkotaan yang tidak memiliki saran pembelajaran e-learning ini. Bahkan kita masih menemukan sekolah-sekolah yang belum memilki ases internet di tempat ,mereka. padahal kita tahu dan sadar jika konsep pembelajaran e-learning ini sangat memudahan guru dan siswa dalam mengakses berbagai ilmu pengetahuan disamping juga sangat menyenangkan bagi para siswa dalam mengikuti proses pembelajaran tersebut. Jadi untuk mengatasi hal tersebut sudah saatnya pihak pemeritah dalam hal ini baik pemerintah pusat ataupun pemerintah derah untuk mencari jaln yang terbaik supaya permasalahan tersebut terselesaikan hendaknya sehingga mutu pendidikan akan lebih bagus kedepan nantinya.
 
e pada e-Learning tidak hanya singkatan dari electronic, tetapi bisa juga dikatakan sebagai experience (pengalaman), extended (perpanjangan), expended (perluasan).

Ciri-ciri utama dari e-Learning adalah:
a) e-Learning adalah Jaringan(network), yang menggunakan materi ajar (bahan belajar) untuk dipelajari, disimpan dan disebarkan secara terbuka kepada pengguna melalui teknologi terkini.

Keuntungan menggunakan e-Learning diantaranya adalah sebagai berikut
Mempercepat waktu proses belajar mengajar Menghemat biaya dalam bentuk perjalanan. Menghemat biaya pendidikan secara keseluruhan (infrastruktur, peralatan, buku-buku) dismaping juga dapat menjangkau wilayah geografi yang lebih luas. Menggalakkan pembelajaran sendiri dan lebih mandiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan disamping juga mendoronga siswa untuk dapat Mengikuti perkembangan– perkembangan terakhir baik dunia pendidikan maupaun di bidang lainnya. Siswa dapat belajarn secara mandiri tidak hanya tergantung pada meteri ajar yang di djarkan oleh tenaga pendidik di sekolah, tetapi mereka dapat mengakses semua bahan atau materi ajar tersebut sendiri, sehingga memudahkan mereka untuk dalam menyelesaikan segala persoalan yang ada dalam materi ajar bersama dengan guru mereka disekolah. Jadi konsep ini sangat bertentangan dengan konsep jika seorang pendidik tersebut lebih tahu dan paham dari perseta didik. Dengan adanya konsep pembelajaran ini seorang tenaga oendidik juga akan mengambil bagian dalam mengakses semua sumber ajar sehingga tidak salah dalam menanggapi semua pertanyaan yang di tanyakan oleh peserta didik di sekolah.

Sejarah singkat tentang perkembangan e-Learning dari masa ke masa adalah seperti di bawah:

Pada tahun 1990: CBT (Computer Based Training) Era dimana mulai kemunculan aplikasi e-Learning yang berjalan dalam PC standalone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM.

Pada tahun 1994: Paket-Paket CBT : Seiring dengan mulai diterimanya CBT oleh masyarakat, sejak tahun 1994 muncul CBT dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal.

Pada tahun 1997: LMS (Learning Management System) : Seiring dengan perkembangan teknologi internet di dunia, masyarakat dunia mulai berhubung dengan Internet. Adapun Perkembangan LMS yang semakin pesat tersebut jelas ini membuat pemikiran baru dalam mengatasi masalah interoperability antara LMS yang ada dengan suatu standar terrtentuAdapun Standard yang muncul misalnya adalah standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Committee), IMS, IEEE LOM, ARIADNE,
dsb.

1999: Aplikasi e-Learning Bebasis Web : Perkembangan LMS menuju ke aplikasi e-Learning berbasis Web secara keseluruhan, baik untuk pelajar (learner) maupun pengajar. LMS mulai digabungkan dengan portal yang menhubungkannya keseluruh dunia.

Beberapa media yang digunakan dalam e-learning:
Adapun jenis media (fasilatas) yang digunakan dalam mendukung proses pembelajaran dengan mengunakan konsep pembelajran E-Learning ini adalah sebagi berikut:

Internet
Intranet
Ekstranet
CD ROM
Video Tape
DVD
TV e-du
Handphone
PDA

Sunday, March 19, 2017

Konsep Kurikulum dan Tujuan Pembelajaran Drama

Kurikulum Pembelajaran Drama
Kurikulum  yang masih berlaku saat ini adalah kurikulum 2004 atau yang disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi. (KTSP)Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (adalah ‘Suatu kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan tugas-tugas dengan standar performansi tertentu sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik’ (Mulyasa, 2002:12).
Konsep Kurikulum dan Tujuan Pembelajaran Drama
Konsep Kurikulum dan Tujuan Pembelajaran Drama
Konsep Kurikulum ini berisi tentang  kerangka standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang harus diketahui, dilakukan dan dimahirkan oleh siswa pada setiap tingkatan. Kerangka ini disajikan dalam komponen utama yaitu: (1) standar kompetensi, (2) kompetensi dasar, (3) indikator dan (4) materi pokok. Standar kompetensi tersebut mencakup aspek kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra. Aspek-aspek tersebut perlu mendapat ukuran yang seimbang dan dilaksanakan secara terpadu. Kemampuan dasar, indikator dan materi pokok  yang tercantum dalam standar kompetensi merupakan bahan minimal yang harus dikuasai siswa. Oleh karena itu, daerah, sekolah dan guru dapat mengembangkan, menggabungkan dan menyesuaikan bahan yang disajikan dengan mengikuti situasi dan kondisi setempat.

Tujuan Pembelajaran Drama
Pengajaran merupakan alat pendidikan untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, setiap pengajaran harus mempunyai tujuan yang  jelas dan terencana dengan baik dan sempurna. Maka demikian pula dengan pembelajaran drama, pelaksanaannya harus mempunyai rumusan tujuan yang jelas. Hal ini sangat penting karena akan menjadi pegangan bagi guru dalam melaksanakan tugasnya. Sedangkan, pembelajaran drama merupakan aktivitas guru dan murid untuk menciptakan kegiatan yang berisi kegiatan memahami, menghayati dan memberikan tanggapan terhadap drama baik sebagai naskah maupun karya pentas secara reseptif, produktif maupun kreatif.
Secara umum tujuan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA yang tercantum dalam kurikulum 2004 adalah sebagai berikut:

(1) Peserta didik memahami Bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna dan fungsi serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan dan keadaan;
(2) Peserta didik menghargai dan membanggakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara;
(3) Peserta didik mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa dan
(4) Peserta didik memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional dan kematangan sosial;
(5) Peserta didik menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
(6) Peserta didik memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis);  

Selanjutnya, dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)(2004:14-18)   pengajaran drama pada kelas II SMA  mempunyai tujuan yaitu: 
(1) Peserta didik mampu menentukan unsur-unsur pembangun drama, 
(2) Peserta didik mampu mengaitkan isi drama dengan kehidupan sehari-hari, 
(3) Peserta didik mampu membaca dan memahami teks drama yang diperankan,
(4) Peserta didik mampu menghayati watak tokoh yang diperankan,
(5) Peserta didik mampu memerankan drama dengan memperhatikan penggunaan lafal, intonasi, nada, tekanan, mimik yang sesuai dengan watak tokoh dan
(6) Peserta didik mampu menulis teks drama dengan menggunakan bahasa yang sesuai.

Sedangkan menurut Waluyo (2003:253) pengajaran drama akan memberikan manfaat tersendiri bagi peserta didik diantaranya sebagai berikut:
(1) Peserta didik akan mampu menjadi pemain atau tokoh yang disegani oleh audien. Melalui berlatih aktor dan casting pentas, peserta didik mampu melaksanakan drama berbagai lakon. Mereka mampu bermain peran pada drama yang gembira (komedi), sedih (tragedi), monolog dan sebagainya.
(2) Peserta didik mampu mendramatisasikan sebuah wacana bacaan, prosa, puisi dan sejumlah fragmen. Dari sinilah mereka akan memiliki keterampilan yang kelak dapat digunakan ketika terjun di masyarakat.
(3) Peserta didik mampu memimpin atau menyutradarai sebuah pementasan drama pendek di kelas atau ketika sekolah mengadakan pementasan di akhir tahun.
(4) Peserta didik mampu menata artistik pementasan drama menurut kondisi dan eksistensi yang diinginkan.

Materi Pembelajaran Drama
Guru harus berpedoman pada kurikulum dalam menyajikan materi pembelajaran. Guru seharusnya terlebih dahulu mempersiapkan bahan yang akan diajarkan kepada siswa dengan membuat silabus, program tahunan, program semester, satuan acuan pembelajaran dan rencana pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)2004 untuk SMA.
Pembelajaran drama yang berorientasi pada keluasan bahan terburu-buru menyelesaikan bahan atau teori sebanyak-banyaknya sehingga pengajaran drama hanya terkesan mengejar target kurikulum. Sebaliknya, subjek didik yang  diarahkan pada kesederhanaan bahan namun mampu mengapresiasikan sebanyak-banyaknya bearti pengajaran drama benar-benar mencapai pada sasarannya yaitu tidak hanya mampu mengembangkan kemampuan kognitif tetapi juga afektif.

Pemilihan materi (naskah) dilakukan agar tujuan pengajaran drama dapat tercapai. Oleh karena itu, diperlukan seleksi pemilihan materi dalam hal jenis, panjang, mutu, tingkat kesulitan dan jumlah pemain. Secara umum menurut Waluyo(2002:172) seleksi materi harus disesuaikan dengan:

(a) Tingkat perkembangan psikologis anak,
(b) Tujuan yang digariskan oleh kurikulum dan
(c) Tujuan pendidikan dan pengajaran pada umumnya,yang harus    mendukung dasar negara pancasila bahkan menyebabkan siswa menghayati nilai-nilai Pancasila secara lebih konkret baik secara langsung maupun setelah mendapatkan pengarahan dari guru.

Selanjutnya, Be Kim Nio (dalam Waluyo (2002:174)) menyebutkan syarat-syarat naskah drama yang akan diajarkan sebaiknya:
(1) Sesuai dan menarik bagi tingkat kematangan jiwa murid untuk remaja SMU, naskah jangan terlalu berat dan psilofis;
(2) Bahasanya dengan tingkat kesukaran yang sesuai dengan kemampuan bahasa siswa yang membaca (menonton);
(3) Bahasa yang digunakan sebaiknya bahasa standar kecuali dalam dagelan atau yang berhubungan dengan masalah dialeg;
(4) Isinya tidak bertentangan dengan haluan negara dan
(5) Memiliki hal-hal berikut ini:
(a) Masalah jelas;
(b) Tema atau tujuan jelas;
(c) Watak cukup meyakinkan;
(d) Ada kejutan yang tepat;
(e) Bertolak dari gagasan murni penulis dan
(f) Mempergunakan bahasa yang baik. Jika sumber telah ada kita dapat memilih hal-hal berikut:
  1. Teks yang sesuai;
  2. Jika kurang cocok disingkat atau disadur;
  3. Naskah dapat disadur dari cerpen atau novel dan
  4. Sinopsis cerita dapat juga dijadikan skenario drama.
Berdasarkan syarat-syarat tersebut seorang guru bahasa Indonesia dapat memilih drama yang sesuai untuk dipentaskan oleh siswa misalnya, naskah drama terjemahan seperti: Shakespeare, sophocles dan Becketh atau karya-karya Indonesia asli yang cukup terkenal seperti: Lutung kasarung, Malin kundang, Sangkuriang dan Sri Tanjung.

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)2004 SMA terdapat kompetensi dasar (butir) pembelajaran drama sebagai berikut: Kelas I, tidak ada pembelajaran drama. Kelas II, menonton dan menanggapi pementasan drama, memerankan drama dan menulis teks drama. Kelas III, membacakan pembacaan cerpen dan teks drama.

Friday, March 17, 2017

Penggunaan Media Gambar Dalam Mengajar Anak-Anak

Pengertian Media Gambar
Gambar adalah tiruan barang (orang, binatang, tumbuhan) yang dibuat dengan coretan pensil dan sebagainya pada kertas (Depdikbud, 2004: 2031). Selanjutnya Robertus Angkowo dan A. Kosasih (2007: 26) menyimpulkan bahwa media gambar adalah penyajian visual dua dimensi yang memanfaatkan rancangan gambar sebagai sarana pertimbangan mengenai kehidupan sehari-hari, misalnya yang menyangkut manusia, peristiwa, benda-benda, tempat, dan sebagainya.

Penggunaan Media Gambar Dalam Mengajar Anak-Anak
Penggunaan Media Gambar Dalam Mengajar Anak-Anak
Diantara media pembelajaran yang ada, media gambar adalah media yang paling umum dipakai. Ini disebabkan karenakan siswa lebih menyukai gambar daripada tulisan itu sendiri, apalagi jika gambar dibuat dan disajikan sesuai dengan persyaratan yang baik dan menari, pasti sudah tentu akan menambah semangat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di dalam kelas. Media gambar lebih mudah dimengerti dan dapat dinikmati, mudah didapatkan dan dijumpai, serta banyak memberikan penjelasan bila dibandingkan dengan bahasa verbal (kata -kata). Hujair AH Sanaky (2009: 69) mengem ukakan adanya perbedaan antara media gambar atau foto dengan verbal, antara lain sebagai berikut: (1) verbal (kata-kata), kelemahannya terletak pada keterbatasan daya ingat dalam bercerita dan menjelaskan (2) media gambar atau foto, memvisualkan apa adanya secara detail, , sehingga mungkin ada hal -hal yang tercecer atau terlupakan dalam menyampaikan pesan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa media gambar adalah penyajian visual dua dimensi biasa dijumpai dan biasa digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Kelebihan Media gambar adalah mudah dimengerti dan
dinikmati dalam pembelajaran, disamping juga mampu mengatasi kesulitan menampilkan benda aslinya ke dalam kelas ketika proses belajar berlangsung.

2) Fungsi Media Gambar
Pemakaian media dalam kegiatan belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat siswa, membangkitkan motivasi dan rangsangan dalam kegiatan belajar dan membawa pengaruh psikologis terhadap siswa. Selain itu, media dinilai mampu membangkitkan gairah belajar siswa, dan memungkinkan siswa belajar mandiri sesuai dengan minat dan kemampuannya.
Menurut Robertus Angkowo dan A. Kosasih (2007: 28) medai gambar berfungsi untuk membangkitkan motivasi dan minat belajar siswa dan sebagai alat komunikasi dalam menyampaikan pesan (materi pembelajaran) yang lebih konkret kepada siswa, sehingga lebih mudah dipahami dan dipelajari. Hamalik (dalam Dwi Octaria Mekarsari, 2009: 20) mengatakan secara garis besar fungsi utama penggunaan media gambar adalah sebagai berikut.
a) Fungsi sosial, artinya memberikan informasi yang autentik dan pengalaman berbagai bidang kehidupan dan memberikan konsep yang sama kepada setiap orang.
b) Fungsi edukatif, artinya mendidik dan memberikan pengaruh positif pada pendidikan.
c) Fungsi ekonomis, artinya memberikan produksi melalui pembinaan prestasi kerja secara maksimal.
d) Fungsi seni budaya dan telekomunikasi, yang mendorong dan menimbulkan ciptaan baru, termasuk pola usaha penciptaan teknologi kemediaan yang modern.
e) Fungsi politis, berpengaruh pada politik pembangunan.

Alfiah dan Yunarko Budi Santosa (2009: 19) mengatakan bahwa nilai atau fungsi media gambar secara umum adalah sebagai berikut.
a) Gambar membuat isi pelajaran mudah dipahami
b) Gambar dapat mengatasi batas ruang dan waktu
c) Gambar dapat mengatasi keterbatasan pandangan
d) Gambar bersifat konkret
e) Gambar harganya murah dan mudah di dapat
f) Gambar menumbuhkan motivasi belajar
g) Gambar dapat memperjelas masalah

Menurut Ansori (2004: 15) keberadaan gambar tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Namun lebih dari itu, gambar memiliki fungsi yang lebih besar. Salah satu fungsinya diantaranya bagaimana penyampaikan ide-ide lainnya. Oleh karena itu gambar patut mendapat perhatian dalam kondisi ini, dan diikuti penilaian bukan saja pada daya tariknya melainkan pada segi bahasanya.

3) Kriteria Pemilihan Gambar dan Prinsip-Prinsip Pemakaian Gambar dalam Pembelajaran
Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2009: 74) ada lima kriteria dalam memilih gambar-gambar yang memenuhi persyaratan bagi tujuan pengajaran, yaitu harus memadai untuk tujuan pengajaran, kualitas artistik, kejelasan dan ukuran yang cukup, validitas, serta menarik. Kriteria-kriteria tersebut dapat dijelaskan seperti berikut ini.
a) Gambar fotografi harus cukup memadai, artinya gambar yang disajikan pantas untuk tujuan pengajaran, yaitu harus menampilkan bagian informasi, gagasan, atau satu konsep jelas yang mendukung tujuan serta kebutuhan pengajaran di kelas.

b) Validitas gambar, artinya gambar-gambar yang representatif dari bidang studi tertentu yang menampilkan pesan yang faktual/benar menurut ilmu, merupakan gambar-gambar yang tepat untuk maksud pengajaran yang sahih dan tepat.

c) Gambar-gambar itu harus memenuhi persyaratan artistik yang bermutu. Gambar-gambar yang memenuhi persyaratan mutu seni hendaknya juga memenuhi faktor-faktor sebagai berikut:
(1) pewarnaan yang efesien, berarti penggunaan warna-warna secara
harmonis merupakan ciri kedua dari kualitas artistik dari gambar tersebut.
(2) komposisi yang baik, merupakan ciri-cir dari jenis fundamental efektivitas gambar yang baik atau pengorganisasian ke seluruh unsur-unsur gambar yang baik tersebut.
(3) teknik, artinya teknik pemotretan yang unggul bernilai lebih dari
komposisi dan pewarnaan.

d) Gambar fotografi untuk tujuan pengajaran harus cukup besar dan jelas. Jika ukuran gambar terlalu kecil, maka akan sulit diamati, pemahaman dan daya tarik terhadap gambar merosot dan perhatian siswa kepada gambar pun hilang.

e) Menarik atau memikat perhatian anak-anak, artinya gambar-gambar yang nyata dan hidup mempunyai pusat minat yang baik, dan hal-hal yang sangat akrab dengan kehidupan siswa merupakan gambar yang memikat. Hujair AH. Sanaky (2009: 71) menyatakan bahwa media gambar atau foto yang baik sebagai media pengajaran harus memenuhi lima syarat, yaitu:
  1. Harus autentik, artinya gambar haruslah secara jujur melukiskan situasi seperti apa adanya atau sesuai dengan benda aslinya.
  2. Sederhana, artinya komposisinya hendaklah cukup jelas menunjukkan poin-poin pokok dalam gambar.
  3. Ukurannya relatif, tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil, tetapi sesuai dengan kebutuhan.
  4. Gambar atau foto harus mengandung unsur gerak atau perbuatan, artinya gambar atau foto yang baik tidaklah menunjukkan suatu objek atau kejadian dalam keadaan diam, tetapi memperlihatkan suatu aktivitas, kegiatan, atau perbuatan tertentu.
  5. Gambar atau foto yang bagus belum tentu baik untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka gambar atau foto yang baik sebagai media pembelajaran, hendaknya bagus dari segi sudut seni dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.


Berkaitan dengan kriteria pemilihan gambar yang sesuai untuk tujuan pengajaran, maka Sri Anitah (2008: 9-10) menjelaskan beberapa ciri-ciri gambar yang baik sebagai berikut.

1) Cocok dengan tingkatan umur dan kemampuan pebelajar.
2) Bersahaja artinya tidak terlalu rumit/kompleks, karena dengan gambar itu pebelajar mendapat gambaran yang pokok dan sesuai dengan keadaan.
3) Realistis, adapun maksudnya adalah gambar itu seperti benda yang sesungguhnya atau sesuai dengan apa yang digambarkan (real), sudah tentu perbandingan ukuran juga harus diperhatikan dalam penyajiaan tersebut.

4) Gambar dapat diperlakukan dengan tangan kita. orang beranggapan bahwa gambar adalah sesuatu yang suci, tetapi sebagai media pembelajaran gambar harus dapat dipegang dengan tanggan, diraba oleh pebelajar di kelas.
Setelah mengetahui syarat dan kriteria pemilihan gambar yang baik sebagai media pengajaran, perlu juga diketahui beberapa prinsip untuk mempergunakan gambar-gambar fotografi tersebut sebagai media visual pada setiap kegiatan proses pembelajarn. Adapun Prinsip-prinsip tersebut antara lain sebagai berikut:
  1. Pergunakanlah gambar untuk tujuan-tujuan pelajaran yang spesifik (khususu), yaitu dengan cara menentukan/memilih gambar tertentu yang dapat mendukung penjelasaninti pelajaran atau pokok-pokok pelajaran yang disajikan.
  2. Gunakanlah gambar-gambar itu seperlunya saja, jika terlalu banyak gambar tersebut tidak efektif. Jumlah gambar yang sedikit tetapi selektif dan effektif, lebih baik daripada dua kali mempertunjukkan gambar-gambar yang serabutan tanpa melakukan proses pemilahan.
  3. Padukan gambar-gambar kepada pelajaran, sebab keefektifan pemakaian gambar-gambar fotografi di dalam proses belajar-mengajar memerlukan keterpaduan.
  4. Kurangilah pemakaian kata-kata pada gambar, oleh karena gambar-gambar itu justru sangat penting dalam mengembangkan kata-kata atau cerita, atau dalam menyajikan gagasan baru.
  5. Mendorong siswa untuk bertanya secara kreatif, melalui gambar-gambar para siswa akan didorong untuk mengembangkan keterampilan berbahasa lisan dan tulisan mereka, seni grafis dan bentuk-bentuk kegiatan lainnya selama proses belajar tersebut.
  6. melakukan evaluasi kemajuan pembeljaran di dalam kelas, ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan media gambar-gambar, baik secara umum maupun khusus (Sempit) (Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, 2009: 76).


Friday, March 10, 2017

Pengertian, Materi dan Metode Pembelajaran Aqidah Akhlaq

Pengertian, Materi dan Metode Pembelajaran Akidah Akhlak.
Pembelajaran dalam pendidikan berasal dari kata instruction yang berarti pengajaran. (Echols, 1992: 325). Gagne dan Briggs dalam Sudjana (2000: 13) memberi pengertian pembelajaran dengan instruction is a set of events which effort learners in such a way that warning fasilitated. Menurut Zayadi (2005: 8) pembelajaran adalah sebagai kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat peserta didik belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Selain itu menurut Mulyasa (2006: 100) bahwa proses pembelajaran pada hakekatnya merupakan interaksi para peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku yang baik. Interaksi tersebut umunya banyak diketahui oleh faktor internal seseorang yang dipengaruhi oleh diri mereka sendiri maupun faktor eksternal yang berasal dari lingkungan baik dalam lingkungan pembelajaran ataupun lingkungan peserta didik, ini adalah tugas seorang guru yang utama dalam pembelajaran, tugas seorang guru yang utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku peserta didik.
Pengertian, Materi dan Metode Pembelajaran Aqidah Akhlaq
Pengertian, Materi dan Metode Pembelajaran Aqidah Akhlaq

Berdasarkan konsep pembelajaran tersebut, kegiatan pembelajaran bermuara pada dua kegiatan pokok sebagai berikut:

a. Bagaimana orang melakukan tindakan perubahan tingkah laku melalui kegiatan belajar.
b. Bagaimana orang melakukan tindakan penyampaian ilmu pengetahuan melalui kegiatan pembelajaran.
Makna pembelajaran merupakan kondisi eksternal kegiatan belajar, yang antara lain dilakukan oleh guru dalam mengondisikan seseorang untuk belajar. Secara umum belajar merupakan kegiatan yang melibatkan terjadinya perubahan tingkah laku, maka dari itu makna/pengertian pembelajaran adalah merupakan suatu prose kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dengan sedemikian rupa sehingga tingkah laku peserta didik berubah kearah yang lebih baik/positif. (Darsono, 2001 : 24).

(Baca Pentingnya Memahami Konsep Aqidah Dalam Islam)
(Baca Iman Kepada Qada dan Qadar Allah)

Berdasarkan pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi. Interaksi tersebut yaitu antara peserta didik dengan lingkungan belajar, yang diatur oleh guru untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. 
Menurut Djamarah (2002: 38-35) bahwa aktivitas belajar peserta didik adalah 1) mendengarkan; 2) menulis atau mencatat; 3) meraba, membau dan mengecap; 4) memandang; 5) membaca; 6) mengamati tabel, 7) membuat ikhtisar atau ringkasan dan menggarisbawahi; diagram-diagram dan bagan-bagan; 8) mengingat;  9) menyusun paper atau kertas kerja; 10) berpikir; 11) latihan atau praktek.

Kegiatan peserta didik  yang dikemukakan oleh dua tokoh tersebut dalam proses pembelajaran bahasa, pada intinya meliputi kegiatan mendengarkan, membaca, menulis dan berbicara. Empat kegiatan tersebut dalam pelaksanaannya berupa kegiatan yang berhubungan dengan sikap, keterampilan, pemahaman dan pengetahuan yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Apabila dalam proses tersebut hanya mencakup satu atau dua aspek kegiatan, maka pembelajaran bahasa dapat dikatakan kurang berhasil, sebaliknya apabila empat aspek tersebut dikuasai, berarti peserta didik telah berhasil dalam kegiatan belajarnya. 

Kita pahami bahwa proses pembelajaran akan berlangsung efektif ketika peserta didik (siswa) diberi kesempatan untuk terlibat aktif dan mempraktekkan materi pembelajaran yang telah diterimanya di kelas. Belajar melakukan lebih efektif daripada dengan mendengar atau melihat. Guru hendaknya lebih memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar dengan melakukan (learning by doing).

1. Materi Pembelajaran 
Materi pembelajaran merupakan sesuatu yang disajikan guru untuk diolah dan kemudian dipaham, dalam rangka pencapaian tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan (Ibrahim, 2003: 100). Dalam pemilihan materi pembelajaran, ada beberapa kriteria yang dikembangkan dalam sistem pembelajaran dan yang mendasari strategi belajar mengajar, yaitu: 1) materi supaya sejalan dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, 2) materi pembelajaran supaya terjabar, 3) relevan dengan kebutuhan peserta didik, 4) kesesuaian dengan kondisi masyarakat, 5) materi pelajaran mengandung segi-segi etik, 6) materi pembelajaran tersusun dalam ruang lingkup dan urutas yang sistematis serta logis, 7) materi pembelajaran bersumber yang baku, pribadi guru, dan masyarakat (Harjanto, 2006 : 222-224).

2. Metode
Metode berasal dari bahasa Greek-Yunani, yaitu metha (melalui atau melewati), dan hodods (jalan atau cara). Pengertian kata tersebut secara sederhana merupakan jalan yang ditempuh oleh seorang pendidk/guru dalam menyampaikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. (Thoifuri, 2008 : 56). Metode dalam interaksi pembelajaran adalah cara yang tepat dan cepat melaksanakan sesuatu. Cara cepat dan tepat inilah, maka urutan kerja dalam suatu metode harus diperhitungkan benar-benar secara ilmiah.

Ketika dalam proses pembelajaran, Muhadjir (2000: 140) membedakan antara istilah metode, pendekatan, dan teknik. Dia menjalsakan bahwa Pendekatan berarti cara menganalisis, memperlakukan, dan mengevaluasi sesuatu oyek. Misalnya dalam proses pembelajaran, dimanan peserta didik dilihat dari sudut interaksi sosialnya, akan ada jenis pendekatan individual dan pendekatan kelompok. Namun/Sedangkan istilah metode dan teknik dapat dianalogikan sebagai sebiuah jalan atau kendaraan yang digunakan seseorang untuk mencapai tempat tujuan. Misalnya, seseorang akan pergi ke kota A, maka jalan yang dipilih untuk dilewati dianalogkan dengan metode, sedangkan kendaraan dianalogkan dengan teknik.

Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai, maka guru dalam memilih metode perlu memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut: 1) Tujuan yang hendak dicapai, 2) Kemapuan guru, 3) Peserta didik, 4) Situasi dan kondisi pembelajaran di mana berlangsung, 5) Fasilitas, 6) waktu yang tersedia, 7) kebaikan dan kekurangan meode. (Utsman, 2002:33). 

Menurut Mulyanto dalam Abdul Kholim (2005:37) metode-metode pembelajaran bahasa Arab adalah: 1) metode dwibahasa (dual-language method). 2) metode membaca (reading method), 3) metode psikologi (psichological method), 4) metode ponetik (phonetic), 5) metode alamiah (natural method), 6) Metode gramatika-terjemah (grammar-translation method), 7) metode terjemah (translation method), 8) metode gramatika (grammar method),  9) metode gabungan (electic method), 10) metode pembatasan bahasa 11) metode unit (unit method), (language control method), 12) metode mim-mem (mimiery –memorization method), 13) metode praktek-teori (practice-theory method), 14) metode cognate (cognate method), 15) metode langsung (direct method),

Kesemuaan Metode–metode tersebut berkumpul hanya pada dua kutub, yaitu:

a) Metode-metode yang melekat pada unsur metode langsung (dirrect method).
b) Metode-metode yang langkahnya berkisar pada prinsip metode tidak langsung (indirect method). (Malibary, 1976: 103).
Kegiatan pembelajaran bahasa Arab hendaknya menggunkan metode yang bervariasi dan tepat, karena pada dasarnya tidak ada metode yang paling ideal dan tepat, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri. Hal ini sangat bergantung pada tujuan yang hnedak dicapai, guru, ketersediaan fasilitas, dan kondisi peserta didik.

Thursday, March 9, 2017

Cara Yang Tepat Memerankan Drama Dalam Pembelajaran

Cara Yang Tepat Memerankan Drama Dalam Pembelajaran. Sebuah naskah drama sebaiknya dapat dipentaskan meskipun  ada juga naskah drama yang tidak dapat dipentaskan. Menurut Endaswara (2005:197-204) dalam mementaskan naskah drama ada tiga tahapan yang harus dilakukan yaitu:

(1) Tahapan Penyajian yang Diharapkan

Pada tahap ini yang terpenting adalah  tim yang akan mementaskan drama harus mengetahui terlebih dahulu tujuan dari pementasan tersebut baru kemudian menyusun draft kegiatan dari awal hingga pementasan. Menurut Hoa Nio (dalam Endaswara, 2005:199) mengemukakan bahwa ada dua tahapan besar yaitu:
Cara Yang Tepat Memerankan Drama Dalam Pembelajaran
Cara Yang Tepat Memerankan Drama Dalam Pembelajaran
(a) Persiapan, mengumpulkan naskah drama sesuai dengan minat, kemampuan, rangsangan dan tingkat kesukaran bahasa;
(b) Kegiatan dalam kelas yang meliputi: (1) penjelajahan (perkenalan) dengan drama dengan membuat pertanyaan sehari-hari yang terkait dengan drama yang akan diapresiasi, dan disertai diskusi kecil tentang “apa yang akan diharapkan” subjek didik dari kehidupan tokoh dalam drama tersebut, membaca dalam hati, menonton pertunjukan baik teman sendiri maupun pertunjukan profesional, (2) interpretasi pertanyaan diskusi dengan pertanyaan menggali (subjek didik diminta membandingkan pendapatnya sendiri dengan apa yang dibaca dalam drama, pertanyaan terkait dengan tema, plot, pelaku, watak dan menganalisis akhir cerita drama), 
(c) rekreasi (pembagian peran, pagelaran, evaluasi, latihan ulangan dan pagelaran), 
(d) teknik pembinaan apresiasi drama.
Selanjutnya, berbeda dengan Moody (dalam Endaswara, 2005:200) mengemukakan bahwa:

(1) pelacakan pendahuluan, mengemukakan pusaran kemenarikan drama yang akan disajikan, alasan-alasan drama itu disajikan; 
(2) penentuan sikap praktis, menjelaskan keistimewaan drama, kekuatan drama yang akan disajikan; 
(3) intoduksi, mengenalkan struktur drama, menanyakan bila subjek didik telah mengenalnya; 
(4) penyajian, berapa pementasan, membaca naskah, ekspresi drama; 
(5) diskusi, membicarakan pementasan, kenikmatan, kekurangan, kelebihan dan lain-lain; 
(6) pengukuhan, melaporkan pementasan, menulis dialog, membuat adegan, mencari cerpen atau novel yang dapat diubah dengan bentuk drama; 
(7) diskusi lanjutan, diskusi mendalam sampai ke tingkat sosio psikologis, filsafat, religius dan memperagakan; 
(8) praktek percobaan, bermain peran, menirukan adegan; 
(9) latihan pengucapan dialog, latihan dinamik suara, vokal berat-sedang-ringan; 
(10) akting dan 
(11) pementasan drama.

Susunan draft sebuah pementasan dapat disesuaikan berdasarkan kesepakatam tim yang terlibat dalam pementasan itu dan kebutuhan yang diperlukan oleh anggota tim. Jika ada hal-hal yang dianggap tidak perlu dapat dihilangkan. 

(2) Tahap  Memahami Anatomi Drama

Di samping naskah dan aktor drama sebuah pementasan akan terkait dengan sutradara. Dia adalah figur penentu dalam pementasan. Menurut Endraswara (2005:202) seorang sutradara seharusnya memiliki berbagai hal antara lain: 

(a) Daya imajinasi: kemampuan menghidupkan tokoh (manusia imajiner) menjadi berpribadi, berkarakter dan berpandangan hidup; 
(b) Kepekaan: menafsirkan secara wajar terhadap naskah;
(c) Vitalitas: memotivasi pelaku semaksimal mungkin;
(d) Kreativitas: memiliki trik-trik unik, menarik, spontanitas dan 
(e) Sutradara sebaiknya tidak menjadi pelaku agar semakin leluasa menggarap pementasan.

Tata panggung dalam pementasan drama yang digunakan baik di kelas maupun di luar kelas dapat berbentuk melingkar, setengah melingkar,  jembatan dan segi empat. Tata panggung tidak harus mewah dapat juga dengan memanfaatkan sesuatu  yang berada di sekitar subjek didik yang penting mampu mendukung pementasan secara keseluruhan.
Unsur lain yang penting dalam drama adalah kostum. Kostum sering dilupakan oleh subjek didik. Apalagi, drama tersebut merupakan pementasan kecil di kelas padahal  kostum baru menjadi sebuah instrumen penting yang dapat membantu penonton  supaya ada ciri pribadi dari sebuah peran dan  agar jelas hubungan antar pemain. Kostum seharusnya mampu mereter kisahan cerita yang melukiskan waktu dan ruang.
Selain yang disebutkkan di atas masih ada unsur lain dalam mementaskan sebuah drama secara utuh seperti: tata rias, pencahayaan dan musik. Kesemua unsur ini tidak dipakai dalam pementasan kelas namun dapat dipakai dalam pementasan sekolah  di akhir tahun. 

(3) Tahap Ekspresi Dalam Pengajaran Drama

Sebelum berlatih ekspresi drama yang akan dipentaskan di depan kelas, di sekolah atau di gedung pertemuan perlu memahami tentang sutradara, pemain (aktor), penonton, panggung dan cerita (naskah). Beberapa unsur ini akan sangat menentukan keberhasilan ekspresi drama tanpa memahami unsur-unsur pendukung ini  pengajaran drama secara ekspresif akan kesulitan.
Untuk melatih ekspresi  maka diperlukan seorang sutradara agar dapat mereter kemampuan aktor. Sutradara tidak harus seorang pengajar bahkan subjek didik pun ada baiknya dilatih menjadi sutradara.  Ia akan menentukan warna pementasan karena melalui tangannya naskah yang mentah akan diolah.  Dia juga yang akan menjadi  penentu (decission) dalam pementasan.  Setiap pemain harus tunduk kepada sutradara. Jika ada pemain yang merasa super (primadona) sering mengintervensi sutradara sehingga pementasan akan gaduh dengan sendirinya. Baru kemudian melakukan  latihan ekspresi. Latihan-latihan yang perlu dilakukan dalam pengajaran ekspresi drama menurut Endraswara (2005:204) adalah sebagai berikut: 

(a) Latihan fisik (ucapan, pernafasan, vokal);
(b) Latihan psikis (penjiwaan);
(c) Penyesuaian naskah (mempelajari naskah sesuai dengan tugasnya);
(d) Latihan pemanggungan: bloking, gerak, akting dan
(e) Latihan memberi pesan : agar drama tidak sekedar “cerita” pemain perlu memberi bobot lewat dialog, lewat kata-kata (monolog)

Metode Membaca Naskah Drama dalam Pembelajaran

Metode Membaca Naskah Drama dalam Pembelajaran. Seorang pemain terlebih dahulu harus mengetahui langkah-langkah dan cara agar dapat membaca naskah dengan baik karena setiap dialog yang dibaca mempengaruhi persepsi dari naskah yang ada. oleh karena itu, pemain harus benar-benar dapat menyampaikan pesan yang terkandung dari naskah yang akan dipentaskan. Menurut Endaswara (2003: 204-213) menyebutkan bahwa ada beberapa langkah dalam membaca naskah drama yaitu:
Metode Membaca Naskah Drama dalam Pembelajaran
Metode Membaca Naskah Drama dalam Pembelajaran

1. Teknik Pembacaan Sastra
Dalam kegiatan membaca diperlukan pelatihan-pelatihan dasar. Yuwono (2003:14) menggambarkan bahwa pelatihan  drama tersebut mencakupi: ‘Latihan penghayatan dan pemahaman teks puisi, prosa dan drama, latihan mimik dan gerak, latihan pernafasan dan vokal.’ 
Latihan pemahaman dan penghayatan teks drama dapat dimulai dari karya sastra yang mudah dipahami sampai karya sastra yang sukar. Dalam hal ini diperlukan ketajaman imajinasi, kepekaan dan kekritisan. Pelatihan dasar untuk mempertajam imajinasi dapat berupa penghayatan terhadap gemericik air pegunungan, gelombang air laut dan suara burung berkicau. Selain itu, diperlukan juga latihan pernafasan yang dapat dilakukan untuk mengatur keras lembutnya intonasi, tinggi rendah nada dan panjang pendeknya vokal atau konsonan yang dihasilkan. Dalam  hal ini dibedakan antara pernafasan dada dan pernafasan perut. Sedangkan, latihan vokal dilakukan agar pelafalan bunyi bahasa dapat dibaca tidak pecah ( falls). Latihan mimik dan gerak sebaiknya dilakukan secara konsisten setiap hari agar penampilan di depan audiens menjadi lentur, tidak kaku dan monoton. Oleh karena itu, latihan penghayatan, pernafasan, vokal serta mimik atau gerak sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan. 

(Baca Metode Menulis Sebuah NaskahDrama)
(Baca Pembelajaran Menulis CerpenDengan Motode 3M)

Ardiana (dalam Endaswara 2003: 206-207) mengemukakan bahwa ada beberapa tahapan dalam pembacaan teks sastra termasuk drama yaitu sebagai berikut:

(1) Menginterpretasi tanpa suara, menghayati, dan mengiterpretasi;
(2) Membaca;
(3) Diskusi, mendiskusikan hal-hal yang terkait dengan pembacaan; 
(4) Tanya jawab dan
(5) Pengajaran kooperatif. 

Lebih lanjut kegiatan dapat diteruskan ke dalam langkah-langkah praktis sebagai berikut: 
    a. Pembacaan dalam kelompok, 
    b. Perlombaan antar kelompok, 
    c. Pengenalan figur,
    d. Magang pembacaan,
    e. Wisata sastra dan
    f.  Penilaian.

2. Model Pembacaan Sastra
Endaswara, (2003:210-214) menyebutkan ada beberapa model pembacaan sastra sebagai berikut:

(1) Pembacaan individual
Kegiatan pembacaan seperti ini biasanya hanya dilakukan oleh penikmat yang ingin mencari terobosan emosional yaitu membaca sastra sebagai hiburan. Umumnya mereka masih menjadikan karya sastra sebatas pil mujarab atau obat kejiwaan.

(2) Pembacaan kreatif-estetis
Kegiatan ini dilakukan karena pembacaan sastra merupakan bagian dari kreativitas berolah sastra yang di dalamnya sarat dengan nilai seni.  Pembacaan seperti ini mau tidak mau menghendaki hembusan nurani kreativitas tersendiri dengan curahan kreativitas dan estetik serta artistik sehingga sastra akan lebih terpahami secara luas dan mendalam. Sastra akan menjadi kado yang menarik tidak hanya bagi pembacanya melainkan juga bagi audien (penikmat).
Menurut Endaswara, (2003:212) ada beberapa kompetensi yang perlu dimiliki oleh peserta didik dalam kaitannya dengan pembacaan kreatif estetis sebagai berikut: ”Kemampuan menjiwai teks sejalan dengan isinya, kemampuan bermain dengan tokoh lain sehingga mewujudkan pertunjukan menarik dan kemampuan menyelaraskan ingatan dengan pembacaan”.
Oleh karena pembacaan bersifat kolektif pengajar dapat memberikan penilaian secara menyeluruh. Pengajar harus mengikuti pembacaan dari awal sampai akhir sehingga penilaian tidak berdasarkan pada kedudukan peran utama dan tambahan yang terpenting peserta didik dapat memainkan peran masing-masing secara signifikan.

(3) Pembacaan sastra kolaboratif
Adapun Model kolaboratif ini biasanya dilakukan untuk pembacaan yang bersifat (bentuk) hiburan kendati tidak menghindari kemungkinan sebagai salah satu model sajian pembelajaran. Membaca sastra memang upaya untuk memahami teks agar lebih menarik dan komunikatif namun membaca sastra dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)sastra cenderung sebagai seni tampil (performance) dibanding memahami isi teks sebab melalui pembacaan yang estetis kemungkinan besar pemahaman teks menjadi semakin mudah dan tidak ada beban bagi pembaca.

Wednesday, March 8, 2017

Metode yang Tepat Dalam Menulis Sebuah Naskah Drama

Metode yang Tepat dalam Menulis Sebuah Naskah DramaSeorang penulis harus mengetahui tehnik-tehnik untuk menulis sebuah naskah drama sebelumnya agar naskah yang ditulis menjadi bagus untuk dipentaskan. Menulis naskah drama tidak jauh berbeda dengan menulis cerpen maupun novel tetapi lebih baik kita mengetahui terlebih dahulu pengertian naskah drama itu sendiri. Luxemburg (dalam Depdiknas, 2004:170) mendefinisikan ‘Teks drama adalah sebagai semua teks yang berbentuk dialog-dialog. Disamping itu, Ia juga menuturkan bahwa terdapat tiga pokok yang perlu ditinjau dalam sebuah drama yaitu: situasi penyajian, alur dan bahasa’. 
Metode yang Tepat Dalam Menulis Sebuah Naskah Drama
Metode Menulis Naskah Drama

Selanjutnya, penulis harus mengetahui teknik-teknik penulisan drama yaitu sebagai berikut: 

(1) Menciptakan setting (latar), (2) melakukan eksplorasi (pengamatan
dan pencatatan), (3) menulis latar, (4) menciptakan tokoh, (5) mendeskripsikan tokoh, (6) meletakkan tokoh dalam latar, (7) menciptakan tokoh berbicara, (8) penempatan semua elemen bersama-sama menjadi skenario dasar, (9) membuat skenario dasar (kasar): menyusun adegan, (10) menulis rangkaian adegan ke dalam draft dan (11) penulisan draf kedua: menulis kembali draft pertama. (Depdiknas, 2004:144) 
Oleh Waluyo (dalam Depdiknas, 2004:167-170) menyebutkan untuk menulis naskah secara lengkap dan rinci siswa harus memahami terlebih dahulu struktur drama yaitu:

(1) Plot atau kerangka cerita
Sebagaimana kita pahami, Plot merupakan jalinan cerita atau kerangka/konsep dari awal hingga akhir sebuah cerita yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh yang berlawanan (Antagonis). Konflik itu berkembang karena kontradiksi antara sifat dua tokoh yang berlawanan. Sifat dua tokoh utama yang bertentangan misalnya, kebaikan kontra kejahatan, tokoh sopan kontra tokoh yang brutal, tokoh pembela kebenaran kontra bandit, tokoh kesatria kontra penjahat dan sebagainya. Konflik itu semakin lama semakin meningkat kemudian mencapai titik klimaks. Setelah klimaks peristiwa tersebut akan menuju penyelesaian.

(2) Penokohan atau perwatakan
Penokohan erat hubungannya dengan perwatakan. Susunan tokoh adalah daftar tokoh-tokoh yang berperan dalam sebuah drama. Dalam susunan tokoh yang terlebih dahulu dijelaskan adalah nama, umur, jenis kelamin, tipe fisik, jabatan dan keadaan kejiwaannya. Penulis cerita harus menggambarkan perwatakan tokoh-tokohnya sehingga watak tokoh itu akan menjadi nyata terbaca dalam dialog dan catatan samping. Jenis dan warna dialog akan menggambarkan watak tokoh.  
Watak para tokoh tersebut harus konsisten dari awal sampai akhir.  Watak tokoh protagonis dan tokoh antagonis harus memungkinkan keduanya menjalin pertikaian sehingga pertikaian itu memungkinkan untuk berkembang menjadi klimaks. Kedua tokoh ini haruslah tokoh-tokoh yang memiliki watak  yang kuat (berkarakter) sehingga watak yang kuat itu kontradiktif antara keduanya. Dapat juga keduanya memiliki kepentingan yang sama saling berebut sesuatu atau saling bersaing.
Sifat watak para tokoh digambarkan dalam tiga dimensi (watak dimensional). Adapun Penggambaran tersebut berdasarkan keadaan psikis,  sisoal dan fisik. Keadaan fisik biasanya dilukiskan pada awal baru kemudian dilaanjutkan keadaan sosial.  Pelukisan watak pemain dapat langsung pada dialog yang mewujudkan watak dan perkembangan lakon tetapi banyak juga kita jumpai dalam catatan samping (catatan teknis).

(3) Dialog atau kosakata
Ciri khas suatu drama adalah naskah yang berbentuk percakapan atau dialog. Dalam menyusun dialog penulis harus benar-benar memperhatikan pembicaraan tokoh-tokoh dalam kehidupan sehari-hari mereka. adapun Pembicaraan yang ditulis oleh sipenulis naskah drama tersebut adalah pembicaraan yang akan diucapkan dan harus pantas untuk diucapkan di atas panggung wajtu pementasan. Bayangan pentas di atas panggung merupakan tiruan (mimetik) dari kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, dialog yang ditulis harus mencerminkan pembicaraan sehari-hari.

(4) Latar atau landasan tempat kejadian.
Penulisan sebuah cerita tidak dapat ditulis jika di dalam imajinasi saja/tidak ada gambaran latar dari cerita tersebut. Baik itu yang bersifat geografis, budaya atau yang sangat abstrak sekalipun. Penentuan latar harus secara cermat sebab naskah drama harus  memberikan kemungkinan untuk dipentaskan. Novakovich (dalam Depdiknas, 2004:118) menyebutkan bahwa: ‘Latar adalah sarana utama karena dari latarlah kemudian muncul tokoh dan dari tokoh kemudian munculah konflik sehingga tercipta alur cerita’.
Harus dipahami, bahwa latar seniah cerita biasanya meliputi tiga dimensi yaitu waktu, runag dan tempat. Latar tempat tidak akan dapat berdiri dengan sendirinya berhubungan dengan waktu dan ruang.  Misalnya tempat di Aceh, tahun berapa, di luar rumah atau di dalam rumah. Untuk cerita konflik antara RI dan GAM misalnya, tempatnya jelas di Aceh, pada tahun 1998-2005, tempatnya di desa, baik di dalam rumah maupun di medan gerilya. Dengan rumusan tersebut kita dapat membayangkan tempat kejadian secara nyata. Hal ini dapat diperkuat dengan kostum, tata pentas, make up dan perlengkapan lainnya jika drama ini dipentaskan.

(5) Tema atau nada dasar kejadian
Tema merupakan gagasan pokok yang terkandung dalam drama. Tema bersifat lugas, objektif dan khusus. Ada drama yang diantaranya bertema ketuhanan, peri kemanusiaan, cinta, patriotisme, kritik sosial, renungan hidup dan sebagainya.

(6) Amanat atau pesan pengarang
Kita paham jika Amanat yang hendak disampaikan oleh pengarang melalui dramanya harus dicari oleh pembaca atau penonton itu sendiri. Seorang pengarang drama baik secara sadar atau tidak sadar pasti menyampaikan amanat dalam karya mereka.  Pembaca yang cukup teliti akan dapat menangkap apa yang tersirat di balik yang tersurat. Amanat bersifat kias, subjektif dan umum. Untuk itu, Setiap pembaca dapat dengan berbeda-beda menafsirkan makna dari karya itu bagi dirinya, dan semuanya cenderung dibenarkan kerana tidak ada batasan salam menafsirkannya. Amanat yang hendak disampaikan oleh pengarang perlu diberikan beberapa alternatif dan di dalam menafsirkan amanat penikmat dapat bersifat akomodatif.

(7) Juknis (Petunjuk teknis)
Sebaiknya, dalam naskah drama diperlukan juga petunjuk-petunjuk teknis yang sering disebut dengan teks sampingan. Senagaimanan kita amiti dalam sebuah sandiwara radio, sandiwara televisi atau skenario film, keberadaan teks samping ini sangatlah penting dalam sebuah pementasan drama. Itu karena teks samping ini memberikan petunjuk teknis tentang suasana pentas, tokoh, waktu, musik, suara, keluar masuknya aktor atau aktris, warna suara dan perasaan, keras lemahnya dialog yang mendasari sebuah dialog dalam drama tersebut. Teks samping ini biasanya ditulis dengan tulisan berbeda dari dialog, misalnya dengan huruf miring atau huruf besar semua.

(8) Drama sebagai interpretasi kehidupan
Ulasan tentang drama sebagai interpretasi kehidupan sangat erat hubungannya dengan pandangan dasar dri si penulis drama itu sendri. Kita tahu bahwa nada dasar drama bukan nada dasar penafsir atau sutradaranya sendri. Jadi drama sebagai hasil dari tiruan kehidupan berusaha untuk memotret kehidupan secara nyata (real). Untuk itu, maka Setiap pengarang tidak sama dalam mengamati, melihat dan menginterpretasikan sisi kehidupan yang ada. Ada pengarang yang memfokuskan pada segi keadilan, segi cinta kasih, segi kebobrokan sosial, segi moral, segi didaktis, segi kepincangan dalam masyarakat, segi suka atau duka dan sebagainya. Tontonan atau naskah yang dihasilkan akan ditentukan oleh bagaimana sikap penulis dalam menginterpretasikan kehidupan ini.