Saturday, September 2, 2017

Hukum Oral Seks Dalam Persepsi Hukum Islam

Tags
Umum dipahami jika Hubungan badan antara suami dan istri (antara pasangan suami istri yang sah) bukanlah hal yang dilarang untuk didikusikan dalam agama islam. Namun disamping bukan juga hal yang dibebaskan tanpa ada batasan batasan tertentu layaknya membicarakan politik di kedai kopi. Membicarakan atau mendiskusikan permasalahan hubungan suami isti dalam islam memiliki kaidah kaidah yang berkaitan dengan tata krama dan kosapan yang ada dalam islam itu sendiri.  

Pandangan islam tentang Oral dalam Hubungan Suami Istri
Pandangan islam tentang Oral dalam Hubungan Suami Istri

Adapun hubungan suami istri yang baik dan benar dan tidak melanggar aturan syari’at islam merupakan salah satu anjuran dalam islam. Karena hubungan suami istri yang benar ini merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk mencapai keharmonisan antara suami dengan istri didalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka berdua. Disamping itu hubungan suami istri ini juga bisa menjadi penguatan jalinan kasih dan cinta mereka berdua sehingga dipenuhi oleh perasaan rasa sayang yang kuat antara keduanya. Menjadikan keluarga yang sakinah dan mawaddah warrahmah juga merupakan salah satu ibadah di sisi Allah Swt. Seperti yang disampkan oleh Baginda rasulullah Muhammad Saw dalam Hadist nya:

‘..dan Bersetubuh dengan istri juga sedekah. Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah jika diantara kami menyalurkan hasrat biologisnya (bersetubuh) juga mendapat pahala?’ Beliau menjawab, ‘Bukankah jika ia menyalurkan pada yang haram itu berdosa ?, maka demikian pula ketika ia menyalurkan pada yang halal, maka ia juga akan mendapatkan pahala. "(HR. Muslim)
Dalam hukum islam, Islam memandang hubungan suami istri merupakan hal yang besifat moderat, namun hubungan suami istri ini tidaklah bersifat bebas sesuka hati alias memberikan kebebasan sebebas bebasnya. Namun ada aturan tersendiri yang dibuat dengan tujuan untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. 

Lalau bagaiman mana jika ada seseorang diantara kita yang bertanya bagaimana hukmnya melakukan jima’ dengan cara oaral s*ks? Apakah boleh atau sama sekali dilarang dalam islam?

Sebelum menjawab pertanyan tersebut, terlebih dahulu kita pahami terlebih jika islam sangat mengajurkan para suami dan istri untuk melakukan mula’abah (foreplay) alias dengan bahasa lain sidebut pemanasan sebelum melakukan jima’ tersebut. anjuran ini merupakan salah satu anjuran untuk tidak menyamakan (membedakaan) antara proses hubungan s*ks manusia dengan binatang, dimana kalau binatang melakukan hubungan s*ks tidak ada  sama sekali didahulu oleh proses pemansan terlebih dahulu.   

Seiring dengan kemajuan peradaban maka berbagai jenis tehnik foreplay tersebut hadir ditengah tengah masyarakat kita. Salah satu bentuk yang hadir ditengah masyarakat kita sekarang adalah foreplay berbentuk oral s*ks, dengan kata lain mencium farj (k3malua*) pasangan baik dilaukan oleh istri terhadap suaminya atau sebaliknya. Pada tingkatan yang lebih 'ekstrim lagi disebut dengan istilah pola/gaya posisi 69. 

Sebagai umat islam tentu saja kita ingin tahu bagaimana hukum jenis foreplay tersebut dalam pandangan hukum islam. 

untuk menjawab pertanyaan tersebut maka kita harus merujuk kepada berbagai pendapat ulama. Dan para ulama memiliki pola pandang yang berbeda dari ketetapan hukun jenis foreplay oral s*ks tersebut. Ada dua pendapat ulama menganai jenis foreply ini, diantarnya adalah sebagi berikut:

1. Pendapat pertama Dibolehkan dengan bersyarat
Alsan dibolehkan jenis foreplay ini karena pada dasarnya segala sesuatu itu boleh (mubah) kecuali ada dalil yang melarangnya. Atas landasan ini maka \hal ini tidak bisa dihukumi sebagai perbuatanperkara yang haram,sebab tidak adanya dalil yang jelas yang mengatur tentang hal tersebut atau ada dalil yang jelas jelas mengharamkanya. 

Layaknya hubungan badab antara suami istri sampai orgasme dibolehkan karena itu merupakan puncak kenikmatan, maka dibolehkan pula kenikmatan-kenikmatan yang didapat (meski tidak mencapai orgasme) yaitu cumbu rayu, berpelukan, berciuman sampai oral yang membuat suami-istri saling menikmati.

Allah Berfirman dalam Al Quran:
"Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. "(QS. Al Baqoroh: 223)

Masalah agama yang berkaitan dengan aktivitas s*ksual tidak perlu ditutup-tutupi. Untuk kepentingan hukum, Rasulullah SAW tidak segan-segan menerangkannya seperti hadits berikut ini.

إنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِ مِنْ الْحَقِّ لَا تَأْتُوا النِّسَاءَ فِي أَدْبَارِهِنَّ (رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ)

Artinya, “Sungguh Allah tidak malu dalam hal kebenaran. Jangan kalian mendatangi isteri-isteri melalui anus mereka,” (HR Imam Syafi’i).

Atas dasar ini kemudian dikatakan bahwa suami boleh menikmati semua kenikmatan dengan isteri kecuali lingkaran di sekitar anusnya atau melakukan hubungan s*ks melalui dubur.

يَجُوزُ لِلزَّوْجِ كُلُّ تَمَتُّعٍ مِنْهَابِمَا سِوَىَ حَلْقَةِ دُبُرِهَا وَلَوْ بِمَصِّ بَظْرِهَا 

Artinya, “Diperbolehkan bagi seorang suami untuk bersenang-senang dengan isteri dengan semua model kesenangan (melakukan semua jenis aktivitas s*ksual) kecuali lingkaran di sekitar anusnya, walaupun dengan menghisap klitorisnya,” (Lihat Zainudin Al-Malibari, Fathul Mu’in, Jakarta-Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cet ke-1, 1431 H/2010 M, halaman 217).

Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Asbagh, salah seorang ulama dari kalangan madzhab Maliki yang menyatakan bahwa suami boleh menjilati kemaluan isterinya. Hal ini sebagaimana dikemukakan al-Qurthubi dalam tafsirnya.

وَقَدْ قَالَ أَصْبَغُ مِنْ عُلَمَائِنَا: يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَلْحَسَهُ بِلِسَانِهِ

Artinya, “Ashbagh salah satu ulama dari kalangan kami (Madzhab Maliki) telah berpendapat, boleh bagi seorang suami untuk menjilati kemaluan isteri dengan lidahnya,” (Lihat al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, Kairo-Darul Hadits, 1431 H/2010 M, juz XII, halaman 512).

Namun menurut Qadli Abu Ya’la salah seorang ulama garda terdepan di kalangan madzhab Hanbali berpandangan bahwa aktivitas tersebut sebaiknya dilakukan sebelum melakukan hubungan badan (jima’). Demikian sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab Kasyful Mukhdirat war Riyadlul Muzhhirat li Syarhi Akhsaril Mukhtasharat yang ditulis oleh Abdurrahman bin Abdullah al-Ba’ali.

وَقَالَ ( القَاضِي ) : يَجُوزُ تَقْبِيلُ الْفَرْجِ قَبْلَ الْجِمَاعِ وَيُكْرَهُ بَعْدَهُ

Artinya, “Al-Qadli Abu Ya’la al-Kabir berkata, boleh mencium vagina isteri sebelum melakukan hubungan badan dan dimakruhkan setelahnya,” (Lihat Abdurrahman bin Abdullah al-Ba’li al-Hanbali, Kasyful Mukhdirat, Bairut-Dar al-Basya`ir al-Islamiyyah, 1423 H/2002 M, juz II, halaman 623).

Namun satu hal yang harus di ingat jika oral s*ks ternyata telah terbukti membawa dampak bahaya bagi pasangan, seperti contoh oral s*ks yang mengakibatkan pasangan sakit atau tertimpa bahaya (mungkin karena kotor karena adanya najis atau adanya cairan yang berbau keluar dari farj) maka hal tersebut masuk pada kategori larangan dan tidak dapat dilakukan alias tidak dibolehkan.

2. Pendapat yang kedua haram
Para ulama yang menetapkan ketantuan haram melakukan oral s*ks ini dengan alasan najisnya madzi yang ada pada kemaluan baik laki atau wanita ketika sedang syahwat, yang jika tertelan maka itu haram. Tentang najisnya madzi, para ulama kita semua sepakat, tidak berbeda pendapat.

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ رَجُلًا أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَسَأَلَ فَقَالَ تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَكَ

Dari ‘Ali, dia berkata, “Saya adalah laki-laki yang mudah keluar madzi, maka aku perintah seseorang untuk bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lantaran posisiku sebagai mantu beliau (maksudnya Ali malu bertanya sendiri), maka orang itu bertanya, lalu Rasulullah menjawab, “Wudhulah dan cuci kemaluanmu.” (HR. Bukhari No. 269)
Hadits ini menunjukkan kenajisan madzi, hanya saja tidaklah wajib mandi janabah, melainkan hanya wudhu sebagaimana teks hadits tersebut. Oleh karena madzi adalah najis maka ia haram tertelan, yang sangat mungkin terjadi ketika oral s*ks. Alasan lainnya, karena oral s*ks merupakan cara binatang, dan kita dilarang menyerupai binatang. Wallahu A’lam.
Imam Abul Walid Ahmad bin Rusyd Rahimahullah mengatakan, “Dalam kitab Ibnul Mawaz disebutkan menjilat dengan lidah adalah lebih jelek.” (Al Bayan wat Tahshil, 5/79)

Disamaping itu perpendapat tentang larangan oral s*ks haram ini juga termasuk didalam kategori posisi 69 (maaf, posisi dimana pasangan saling berhadapan namun berlawanan arah kepala) karena hal tersebut menyalahi kodrat dan fitrah manusia sebagai hamba yang diberi akal pikiran yang lebih tinggi derajatnya dari binatang. Sebab manusia diberi lisan untuk membaca al Quran dan bertutur kata yang baik, maka tidak tepat jika digunakan untuk mencium 'sesuatu' yang bisa mengeluarkan kotoran (kencing, haid, madzi dst)
Tentu kita tidak akan pernah menemukan sepasang hewan yang melakukan hal tersebut, namun ternyata manusia banyak yang melakukan bahkan gemar dan menjadi cara yang populer dikalangan masyarakat saat ini.
Hal tersebut bisa terjadi karena pengaruh kehidupan masyarakat barat. Masyarakat Barat adalah masyarakat liberal (serba bebas) termasuk s*ksual. Tujuan akhir yang mereka cari hanyalah kepuasan, dalam hal ini orgasme.

Jika dalam kehidupan sehari-hari saja kita dilarang untuk bersikap tasyabuh (ikut-ikutan), maka apalagi dalam masalah s*ksual yang mana didalamnya islam menjunjung tinggi fitrah manusia yang diberi akal pikiran, tentu dilarang pula untuk bertasyabuh dengan mereka. Wallahua'lam

Sebagai kesimpulan 
Di lain sisi jika s*ks oral membawa dampak bahaya bagi pasangan, maka sudah seharusnya dijauhi karena mengingat Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

لا ضرر ولا ضرار
"Tidak dapat memulai memberi dampak buruk (mudhorot) pada orang lain, begitu pula membalasnya." (HR. Ibnu Majah no. 2340, Ad Daruquthni 3: 77, Al Baihaqi 6: 69, Al Hakim 2: 66. Kata Syaikh Al Albani hadits ini shahih)

Referensi 
http://www.nu.or.id/

terimakasih telah berkomentar
EmoticonEmoticon