Sunday, August 13, 2017

Memahami Konsep Teori Belajar Vygotsky, Bruner dan Ausubel

Memahami Konsep Teori Belajar Vygotsky, Bruner dan Ausubel
1. Teori belajar Vygotsky 
Menurut pandangan konstruktivisme tentang belajar, individu akan menggunakan pengetahuan sikap dan pengalaman pribadi yang telah dimilikinya untuk membantu memahami masalah atau materi baru. King (1994) menyatakan bahwa individu dapat membuat inferensi tentang informasi baru itu, menarik perspektif dari beberapa aspek pada pengetahuan yang dimilikinya, mengelaborasi materi baru dengan menguraikannya secara rinci, dan menggeneralisasi hubungan antara materi baru dengan informasi yang telah ada dalam memori peserta didik. Aktivitas mental seperti inilah yang membantu peserta didik mereformulasi informasi baru atau merestrukturisasi pengetahuan yang telah dimilikinya menjadi suatu struktur kognitif yang lebih luas/lengkap sehingga mencapai pemahaman mendalam. 

Memahami Konsep Teori Belajar Vygotsky, Bruner dan Ausubel
Memahami Konsep Teori Belajar Vygotsky, Bruner dan Ausubel

Lev Semenovich Vygotsky merupakan tokoh penting dalam konstruktivisme sosial. Vygotsky menyatakan bahwa peserta didik dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial. Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky, yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding. 

Adapun yang dimaksudkan dengan konsep Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan aktual (yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri) dan tingkat perkembangan potensial (yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu). Yang dimaksud dengan orang dewasa adalah guru atau orang tua. 
Yang kedua adalah konsep Scaffolding. Adapun gambaran dari konsep Scaffolding dapat digambarkan sebagai sarana pemberian sejumlah bantuan kepada peserta didik selama mengikuti tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya sendiri. Adapun jenis bantuan yang dibetikan tersebut boleh jadi berbentuk petunjuk, dorongan, peringatan, menguraikan masalah ke dalam 14 langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh, dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan peserta didik itu belajar mandiri. Berdasarkan uraian di atas, Vygotsky menekankan bahwa pengkonstruksian pengetahuan seorang individu dicapai melalui interaksi sosial. Tahap perkembangan aktual (Tahap I) terjadi pada saat peserta didik berusaha sendiri menyudahi konflik kognitif yang dialami oleh mereka. sebenranya Perkembangan aktual ini dapat mencapai tahap maksimum jika saja kepada peserta dihadapkan masalah menantang sehingga terjadinya konflik kognitif pada diri mereka dimana hal tersebut akan memicu dan memacu mereka untuk menggunakan segenap pengetahuan dan pengalamannya dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Perkembangan potensial (Tahap II) terjadi pada saat peserta didik berinteraksi dengan pihak lain dalam komunitas kelas yang memiliki kemampuan lebih, seperti teman dan guru, atau dengan komunitas lain seperti orang tua. Pada Perkembangan potensial tahap II ini, peserta didik akan mencapai tahap maksimal jika pembelajaran disajikan kepada pesertadidik secara kooperatif (pendekatan cooperative learning) yang dibentuk dalam kelompok kelompok kecil dengan jumlah sekitar dua sampai empat orang dan guru melakukan intervensi secara proporsional, terarah dan terpola. Jadi dalam tahapan ini pendidik (guru) sangat fiharapkan untuk terampil dalam menerapkan teknik scaffolding yaitu membantu kelompok secara tidak langsung menggunakan teknik bertanya dan teknik probing yang efektif, atau memberikan petunjuk (hint) seperlunya. Pada tahapan Proses pengkonstruksian pengetahuan ini, maka proses rekonstruksi mental pada peserta didik akan timbul dengan sendirinya, yaitu berubahnya struktur kognitif dari skema yang telah ada menjadi skema baru yang lebih sempurna(perfect). Proses internalisasi (Tahap III) menurut Vygotsky merupakan aktivitas mental tingkat tinggi jika terjadi karena adanya interaksi sosial. Setelah memahami teori belajar Vygotsky yang menekankan bahwa pengkonstruksian pengetahuan seorang individu dicapai melalui interaksi sosial. Berikan satu contoh kegiatan inti pembelajaran dalam satu kompetensi dasar mata pelajaran IPS. 

2. Teori Belajar Ausubel 
Ausubel (dalam Dahar, 1988:137) mengemukakan bahwa belajar bermakna adalah suatu proses pengkaitan informasi informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur pola kognitif seseorang (peserta didik). 
Ausubel mengklarifikasi lebih lanjut menyampaikan bahwa proses belajar dapat diklasifikasikan berdasarkan cara pendidik dalam menyajikan materi kedalam dua aspek yaitu: 
(1) Penerimaan dan 
(2) Penemuan. 

Sedangkan berdasarkan cara peserta didik menerima pelajaran melingkupi 2 aspek juga yaitu: 
(1) belajar bermakna dan 
(2) belajar hafalan. 

Jadi Berdasarkan penjabaran dari konsep yang telah dipaparkan di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa suatu pembelajaran dapat dikatakan bermakna apabila melalui prasyarat belajar, yaitu sebagi berikut: 
a. Materi yang akan dipelajari bermakna secara potensial. Sebuah materi dapat dikatakan bermakna secara potensial apabila materi tersebut memiliki kebermaknaan secara logis dan gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif bagi peserta didik. 
b. Peserta didik yang akan belajar harus bertujuan melaksankan peoses belajar yang bermakna sehingga mempunyai kesiapan dan niat dalam belajar bermakna. 

Kondisi-kondisi ataupun ciri-ciri belajar bermakna sebagai berikut: 
a. Menjelaskan hubungan atau relevansi bahan-bahan baru dengan bahan-bahan lama. b. Lebih dulu diberikan ide yang paling umum dan kemudian hal-hal yang lebih terperinci c. Menunjukkan persamaan dan perbedaan antara bahan baru dengan bahan lama 
d. Mengusahakan agar ide yang telah ada dikuasai sepenuhnya sebelum ide yang baru disajikan

3. Teori Belajar Bruner 
Bruner (1966) mengemukakan bahwa terdapat tiga sistem keterampilan untuk menyatakan kemampuan-kemampuan secara sempurna. Ketiga sistem keterampilan itu adalah yang disebut tiga cara penyajian (modes of presents), yaitu:

a. Cara penyajian enaktif Cara penyajian efektif adalah melalui tindakan, peserta didik terlibat secara langsung dalam memanipulasi (mengotak-atik ) objek, sehingga bersifat manipulatif. Peserta didik belajar sesuatu pengetahuan secara aktif, dengan menggunakan benda-benda konkret atau situasi nyata. Dengan cara ini peserta didik mengetahui suatu aspek dari kenyataan tanpa menggunakan pikiran atau kata-kata. Adapun penyajian cara ini terdiri atas penyajian kejadian-kejadian yang lampau melalui respon-respon motorik. Dalam cara penyajian ini respon peserta didik terlihat secara langsung. 

b. Cara penyajian ikonik Cara penyajian ikonik didasarkan pada pikiran internal dimana pengetahuan disajikan melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik, yang dilakukan peserta didik berhubungan dengan mental, yang merupakan gambaran dari objek-objek yang dimanipulasinya. Peserta didik tidak langsung memanipulasi objek seperti yang dilakukan peserta didik dalam tahap enaktif. Bahasa menjadi lebih penting sebagai suatu media berpikir. 

c. Cara penyajian simbolik Cara penyajian simbolik didasarkan pada sistem berpikir abstrak, arbitrer, dan lebih fleksibel. Dalam tahap ini peserta didik memanipulasi simbol-simbol atau lambanglambang objek tertentu. Peserta didik tidak lagi terikat dengan objek-objek pada tahap sebelumnya. 
Peserta didik pada tahap ini sudah mampu menggunakan notasi tanpa ketergantungan terhadap objek lain. Salah satu contoh penerapan teori Bruner dalam pembelajaran IPA untuk konsep “Jenis hewan berdasarkan penggolongan makanan”, maka tahap pembelajarannya adalah: a. Tahap penyajian enaktif, dengan cara memberi tugas kepada peserta didik untuk melakukan kegiatan memberi makan pada hewan peliharaan di lingkungan rumahnya. b. Tahap penyajian ikonik, peserta didik melakukan pengamatan (gambar atau poster atau video animasi) tentang berbagai hewan dan jenis makanannya.  c. Tahap penyajian simbolik, peserta didik telah mampu mengelompokkan jenis hewan berdasarkan penggolongan makanan (kelompok hewan herbivora, karnivora, dan omnivora). Setelah memahami teori belajar Bruner dan contoh penerapan dalam pembelajaran, dapatkah Anda merancang langkah pembelajaran yang menerapkan teori Bruner tersebut pada mata pelajaran IPS?

terimakasih telah berkomentar
EmoticonEmoticon