Monday, April 3, 2017

Penggunaan Media dan Evaluasi Pembelajaran Drama

Tags
Penggunaan Media Pembelajaran Drama Pada Siswa
Adapun media pembelajaran adalah sarana pembelajaran yang digunakan siswa atau guru untuk proses belajar mengajar. Suatu hal yang jarang terpikirkan dalam pengajaran sastra adalah media dan pembinaannya. Kadang-kadang guru sastra begitu puas dengan bermediakan karya sastra saja. Guru sering mengabaikan masalah media dan pembinaan padahal  semenarik apapun karya sastra yang dipilih jika tanpa media pengajaran yang menunjang kesungguhannya kurang memberikan suasana yang menarik. 
Penggunaan Media dan Evaluasi Pembelajaran Drama Pada Siswa
Penggunaan Media dan Evaluasi Pembelajaran Drama Pada Siswa

Menurut Waluyo (2005:81-82) “Untuk memilih media pengajaran sastra yang baik ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan yaitu harus memehami betul usia yang akan mempergunakannya, lingkungan sosial budaya dan karakteristik subjek dididik. Kemudahan mendapatkan media akan membantu kelancaran pengajar. Menarik tidaknya sebuah media bergantung pada yang akan mempergunakannya“. 
Media pengajaran seharusnya dapat meningkatkan intensitas pengajaran sastra. Pengajaran sastra akan semakin bergairah, menarik dan mempermudah proses. Menurut Waluyo (2005:82) secara garis besar media pengajaran sastra dapat berupa: 
(a) Media elektronik yang meliputi: tape recorder, televisi dan VCD;
(b) Media cetak yang meliputi : buku, majalah, surat kabar dan tabloid;
(c) Media gambar yang meliputi: foto-foto berkaliber dunia;
(d) Media alamiah yang meliputi: batu-batuan dan dedaunan;
(e) Media orang yang meliputi aktor dan aktris.
Guru memegang peranan penting dalam memfungsikan media. Dalam hal ini Subyakto ( dalam skripsi Juariah 2000:19) menjelaskan sebagai berikut:
Berbagai media-media pengajaran sastra memberikan bantuan yang sangat penting/besar dalam proses belajar mengajar.  Namun, peran yang dimainkan oleh guru itu sendiri sangat menentukan terhadap aktivitas penggunaan media dalam pengajaran.  Peran guru tercermin dari kemampuan memilih aneka ragam media itu sesuai dengan situasi dan kondisi.

Dengan demikian, jelaslah media pengajaran sastra mempunyai fungsi dan peran yang sangat menentukan dalam usaha pencapaian tujuan pengajaran sastra di sekolah. Dalam pencapaian ini dituntut kemampuan guru yang mengajarkan sastra untuk menggunakan dan memilihnya sesuai dengan tujuan pembelajaran, situasi belajar dan kondisi siswa.

Pengajaran sastra juga perlu ditunjang dengan pengumpulan kliping sastra. Kegiatan ini dapat dilakukan dalam bentuk kelompok maupun perorangan. Di samping itu, dapat berupa majalah dinding, majalah sekolah dan perlombaan. Majalah ini seakan-akan sebagai “taman ria” subjek didik untuk mencurahkan ekspresinya dan perlombaan tidak harus berskala besar melainkan dapat di lingkup kelas maupun antar kelas dalam sekolah. 

Perlombaan ke luar sekolah  harus dibina oleh pengajar agar subjek didik tidak merasa minder. Jika mereka menjadi pemenang tentu saja perlu imbalan nilai tambah (istimewa) untuk merangsang subjek didik bersastra.

Jenis Evaluasi Pembelajaran Drama Pada Siswa 

Penilaian  merupakan suatu kegiatan yang tidak mungkin dipisahkan dari kegiatan pendidikan dan pengajaran secara umum. Adapun Semua jenis kegiatan pendidikan di aplikasikan di dlam keals harus selalu dibarenagi dengan program kegiatan penilaian pencapaian pembelajaran. Pada hakikatnya kegiatan penilaian yang dilakukan tidak semata-mata untuk menilai hasil belajar siswa melainkan juga berbagai faktor yang lain di antaranya adalah kegiatan yang dilakukan pengajaran itu sendiri. Artinya berdasarkan informasi yang diperoleh dari penilaian terhadap hasil belajar siswa itu dapat pula dipergunakan sebagai umpan balik terhadap kegiatan pengajaran yang dilakukan. 

Hasil penilaian yang diberikan guru kepada siswa yang berupa angka-angka atau simbol lainnya kadang-kadang dipandang sebagai “nasib” oleh peserta didik baik dari segi konotasi positif atau negatif, langsung atau tidak langsung.  Menyangkut masalah ini pihak guru harus bertindak dan berusaha dengan baik, jujur dan seobjektif mungkin terutama yang berkaitan dengan penyusunan dan penafsiran hasil penilaian. Umumnya kegiatan penilaian yang dilakukan oleh guru menggunakan alat penilaian yang disusun sendiri oleh guru yang bersangkutan. Oleh karena hasil penilaian itu sangat menentukan alat evaluasi yang dipergunakan harus dapat dipertanggungjawabkan dengan baik dari segi kelayakan, kesahihan, maupun kepercayaannya. 

Untuk itu, pihak guru haruslah menguasai teknik penyusunan dan penilaian alat evaluasi serta penafsiran terhadap hasil penilaian yang diperoleh baik berupa data kuantitatif maupun kualitatif.
Penilaian dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sangat penting karena Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menempatkan penguasaan berbagai kompetensi pada akhir kegiatan pembelajaran. Indikasi-indikasi bahwa seorang siswa telah menguasai kompetensi-kompetensi yang diajarkan hanya dapat diketahui lewat penilaian yang dibuat untuk tujuan itu. Oleh karena itu, pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) juga menempatkan penilaian dalam posisi yang penting dengan memberikan pedoman pengembangan penilaian yang bersifat umum yang berlaku untuk semua mata pelajaran dan bersifat khusus untuk tiap mata pelajaran.

Dalam pembelajaran drama ada tiga kompetensi yang akan diajarkan. Oleh karena itu ada tiga pula sistem penilaian yang harus disusun oleh guru yang bersangkutan. Yaitu sebagai berikut:

1. Penilaian menulis naskah drama
2. Penilaian memerankan drama
3. Penilaian menanggapi pementasan drama 


terimakasih telah berkomentar
EmoticonEmoticon