Wednesday, March 22, 2017

Tehnik Memperkenalkan Watak Pelaku Dalam Sebuah Cerpen

Ketika seorang Penulis memperkenalkan kepada kita bagaimana watak pelaku, secara garis besar ada dua cara seorang Penulis/pengarang memperkenalkan karakter dalam tokoh cerita mereka, yaitu:
Memperkenalkan Watak Pelaku dan Setting Dalam Sebuah Cerpen
Tehnik Memperkenalkan Watak Pelaku Dalam Sebuah Cerpen

A) Teknik Ekspositoris
Teknik ini disebut juga dengan teknik analitis, yaitu penggambaran karakter tokoh dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, penjelasan secara langsung. Tokoh cerita hadir dan dihadirkan oleh pengarang kehadapan pembaca secara tidak berbelit-belit, melainkan begitu saja dan langsung disertai deskripsi kediriannya, yang mungkin berupa sikap, sifat, watak, tingkah laku, atau bahkan secara fisik.

(Baca Pengertian Cerpen dan Struktur Penulisan)
(Baca Pengertian Jenis dan Tingkatan Tema Dalam Penulisan)

B) Teknik Dramatik
Teknik dramatik, artinya mirip dengan yang ditampilkan dalam drama, dilakukan secara tidak langsung. Artinya, pengarang tak mendeskripsikan secara eksplisit (gamblang) sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Pengarang melukiskan karakter pelakunya melalui aktivitas baik verbal  melalui kata maupun nonverbal lewat tindakan atau tingkah laku, dan juga melalui peristiwa yang terjadi.

Wujud penggambaran teknik dramatik dapat dilakukan dengan sejumlah teknik. Biasanya pengarang menggunakan teknik itu secara bergantian dan saling mengisi. Berbagai teknik tersebut yang dimaksud antara lain:

(1) Teknik Cakapan
Teknik cakapan ini dilakukan/diterapkan pada tokoh-tokoh cerita yang biasanya dimaksudkan untuk menggambarkan sifat-sifat tokoh yang bersangkutan.

(2) Teknik Tingkah Laku
Jika teknik cakapan dimaksudkan untuk menunjukan tingkah laku verbal yang berwujud kata-kata para tokoh, teknik tingkah laku menyarankan pada tindakan nonverbal, fisik. Apa yang dilakukan orang dalam wujud tingkah laku/tindakan, dalam banyak hal dapat dipandang sebagai reaksi, tangggapan, sifat, dan sikap yang mencerminkan sifat-sifat kediriannya.

(3) Teknik Pikiran dan Perasaan
Dalam teknik ini pengarang menggambarkan karakter pelaku melalui pengungkapanpikiran dan perasaan yang tercermin dalam kata-kata, tingkah laku, sikap, dan pandangan pelaku. Bahkan, pada hakikatnya, ”tingkah laku” pikiran dan perasaan yang kemudian diejawantahkan menjadi tingkah laku verbal dan nonverbal. Perbuatan dan kata-kata merupakan perwujudan konkret tingkah laku pikiran dan perasaan. Di samping itu, dalam tingkah laku secara fisik dan verbal, orang mungkin berlaku atau dapat berpura-pura, berlaku secara tidak sesuai dengan yang ada dalam pikiran dan hatinya. Namun, orang tak mungkin dapat berlaku pura-pura terhadap pikiran dan hatinya sendiri.
Dalam karya fiksi, keadaan tersebut akan lain. Karena, hanya itu merupakan sebuah bentuk yang sengaja dikreasikan dan disiasati oleh pengarang, maka jika terjadi kepura-puraan tingkah laku tokoh yang tidak sesuai dengan pikiran dan hatinya, hal itu akan diberitahukan kepada pembacanya. Dengan demikian, pembaca menjadi tahu. Lebih dari itu, pembaca justru akan dapat menafsirkan sifat-sifat kedirian itu berdasarkan jalan pikiran dan perasaannya.

(4) Teknik Arus Kesadaran
Teknik arus kesadaran (stream of consciousness) berkaitan dengan teknik pikiran dan perasaan. Keduanya tidak dapat dibedakan secara pilah, bahkan mungkin dianggap sama karena memang sama-sama menggambarkan tingkah laku tokoh. Dewasa ini dalam fiksi moder4n teknis arus kesadaran banyak digunakan untuk melukiskan sifat-sifat kedirian tokoh. Arus kesadaran merupakan sebuah teknik narasi yang berusaha menangkap pandangan dan aliran proses mental tokoh, di mana tanggapan panca indera akan bercampur dengan ketidak sadaran dan kesadaran dan pikiran, ingatan, perasaan, harapan, dan asosiasi-asosiasi acak. 
Aliran kesadaran berusaha menangkap dan mengungkapakan proses kehidupan batin, yang hanya memang terjadi di batin, baik yang berada diambang kesadaran maupun ketaksadaran, termasuk kehidupan bawah sadar, atau minimal yang berada di pikiran dan perasaan manusia, jauh lebih banyak dan kompleks daripada yang dimanifestasikan ke dalam perbuatan dan kata-kata. Dengan demikian, teknik ini banyak mengungkapakan dan memberikan informasi tentang kedirian tokoh. Arus kesadaran sering disamakan dengan interior monologue, monolog batin. Penggunaan arus kesadaran, monolog batin itu, dalam penokohan dapat dianggap sebagai usaha untuk mengungkapkan informasi yang sebenarnya tentang kedirian tokoh karena tak sekedar menunjukkan tingkah laku yang diindera saja.

(5) Teknik Reaksi Tokoh
Teknik reaksi tokoh dimaksudkan sebagai reaksi tokoh terhadap sesuatu kejadian, masalah, keadaan, kata, dan sikap tingkah laku orang, dan sebagainya yang berupa ”rangsangan” dari luar diri tokoh yang bersangkutan. Bagaimana reaksi tokoh terhadap hal-hal tersebut dapat dipahami sebagai sebuah bentuk penampilan yang mencerminkan sifat-sifat kedirian mereka.

(6) Teknik Reaksi Tokoh Lain
Reaksi tokoh-tokoh lain dimaksudkan sebagai reaksi yang diberikan oleh tokoh-tokoh lain terhadap tokoh utama, atau tokoh yang dipelajari kediriannya, yang berupa pandangan, pendapat, sikap, komentar, dan lain-lain. Pendek kata: penilaian kedirian tokohy (utama) cerita oleh tokoh-tokoh cerita yang lain dalam sebuah karya.

(7) Teknik Pelukisan Latar
Dalam teknik ini, pengarang mencoba menggambarkan penokohan tokoh dengan menampilkan latar (tempat) sekitar tokoh. Pelukisan suasana latar dapat lebih mengintensifkan sifat kedirian tokoh seperti yang telah diungkapkan dengan berbagai teknik yang lain. Keadaan tertentu, memang dapat menimbulkan kesan yang tertentu pula dipihak pembaca. Misalnya suasana rumah yang bersih, teratur, rapi, tak ada barang yang bersifat mengganggu pemandangan, dan akan mendatangkan kesan seolah-olah bahwa pemilik rumah itu sebagai orang yang sangat peduli dengan kebersihan, lingkungan, teratur, teliti, dan lain-lain.

(8) Teknik Pelukisan Fisik
Keadaan seseorang sering berkaitan dengan keadaan kejiwaannya, atau paling tidak, pengarang mencoba dengan sengaja mencari dan menghubungkan adanya keterkaitan. Pelukisan keadaan fisik tokoh, dalam kaitannya dengan penokohan, kadang-kadang memang terasa penting. Keadaan fisik tokoh perlu dilukiskan, terutama jika memiliki bentuk fisik khas sehingga pembaca dapat menggambarkan secara imajinatif. Di samping itu, ia juga dibutuhkan untuk mengefektifkan dan mengkonkretkan ciri-ciri kedirian tokoh yang telah dilukiskan dengan teknik yang lain.

C. Latar (setting)
Latar atau setting adalah segala keterangan mengenai tempat, waktu, ruang, dan suasana yang diceritakan dalam sebuah karya. Meskipun cerpen merupakan dunia kreasi imajinatif, penggunaan latar yang tepat juga memegang peranan agar peristiwa-peristiwa sebagai unsur berupa sarana penyampaian ide, gagasan, amanat, dan lain-lain terkesan wajar. Nurgiyantoro (2005:216) menyebutkan bahwa latar (setting) dan juga dinamakan landas tumpuan untuk menyarankan pada pengertian hubungan waktu, tempat, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan tersebut. Dengan demikian, setting tidak hanya diartikan sebagai tempat terjadinya peristiwa cerita, melainkan harus diartikan sebagai tempat terjadinya peristiwa cerita, melainkan harus diartikan sebagai unsur yang kompleks dan mempunyai jalinan yang sangat erat dengan tema, perwatakan,  dan unsur-unsur ceritanya. Bila sebuah setting fisik dapat diganti dengan tempat lain tanpa berpengaruh pada tema dan perwatakan tokoh, maka setting tersebut tidak integral (menyatu) dengan unsur ceritanya.

Latar dalam karya fiksi tidak terbatas pada penempatan tempat lokasi tertentu, atau sesuatu yang bersifat fisik saja, melainkan yang berwujud tata cara, adat istiadat, kepercayaan, dan nilai-nilai yang berlaku di tempat yang bersangkutan. Hal-hal yang disebut terakhir inilah sebagai latar spiritual ‘spiritual setting’. Llatar spiritual ini adalah latar yang mengandungi nilai-nilai yang melingkupi dan dimiliki oleh latar fisik. Latar sebuah karya fiksi kadang-kadang menawarkan berbagai kemungkinan yang justru dapat lebih menjangkau di luar makna cerita itu sendiri (Nurgiyantoro:220). Berbagai elemen latar dengan sifat-sifat kekhasannya menawarkan kemungkinan-kemungkinan lain, misalnya kemungkinan adanya temu budaya, baik budaya dalam lingkungan nasional, budaya antardaerah, maupun lingkup internasional, budaya antarbangsa.

Seterusnya, menurut sifat latar, Nurgiyantoro menyebutkan ada dua yaitu latar netral dan latar tipikal. Latar netral yaitu latar sebuah karya fiksi yang hanya berupa latar yang sekedar latar, berhubung sebuah cerita memang membutuhkan latar tumpu, pijakan. Sebuah nama tempat hanya sekedar sebagai tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan, tak lebih dari itu. Sedangkan latar tipikal yaitu latar yang memiliki dan menonjolkan sifat khas tertentu, baik yang menyangkut unsur tempat, waktu, maupun sosial. Oleh karena itu, latar tipikal digarap secara teliti dan hati-hati oleh pengarang, antara lain dimaksudkan untuk mengesani pembaca agar cerita tampak realistis, terlihat sungguh-sungguh diangkat dari latar faktual. Latar tipikal secara langsung akan berpengaruh terhadap pengaluran dan penokohan.
Kehadiran latar tipikal dalam sebuah karya fiksi, dibandingakan dengan latar netral, lebihmeyakinkan, memberikan kesan dan imajinasi secara konkret terhadap imajinasi pembaca. Namun, perlu ditegaskan, perbedaan antar latar netral dengan latar tipikal tidaklah bersifat pilah. Ia juga lebih bersifat gradasi, walau tak dapat dipungkiri bahwa ada karya fiksi tertentu yang benar-benar berlatar netral, atau sebaliknya berlatar tipikal.



terimakasih telah berkomentar
EmoticonEmoticon