Friday, March 3, 2017

Syarat-Syarat Menulis Sebuah Paragraf

Syarat-syarat Menulis Sebuah Paragraf
Untuk menhasilkan Sebuah paragraf yang baik. kita harus menyajikakanya dengan memenuhi syarat-syarat tertentu. Adapun Syarat-syarat paragraf yang baik tersebut adalah sebagai berikut:
Syarat-Syarat Menulis Sebuah Paragraf
Syarat-Syarat Menulis Sebuah Paragraf

1. Kesatuan
Yang dimaksud dengan kesatuan dalam paragraf adalah bahwa semua kalimat yang membina paragraf tersebut secara bersama-sama menyatakan satu hal atau satu topik. Karena tiap paragraf hanya mengandung satu pikiran utama atau satu topik. Fungsi paragraf adalah mengembangkan pikiran utama atau topik tersebut. Oleh sebab itu, dalam mengembangkannya tidak boleh terdapat unsur-unsur yang sama sekali tidak berhubungan dengan topik atau pikiran utama tersebut. Dengan kata lain, semua kalimat yang ada dalam sebuah paragraf harus mendukung topik.
2. Koherensi
Yang dimaksud dengan koherensi adalah kekompakan hubungan atau kepaduan antara satu kalimat dengan kalimat yang lainnya. Paragraf bukanlah kumpulan atau kalimat yang masing-masing berdiri sendiri atau terlepas, tetapi dibangun oleh sebuah kalimat yang memiliki hubungan timbal balik antar mereka. hal ini membuat para Pembaca dapat dengan mudah memahami dan mengikuti jalan pikiran penulis tanpa hambatan sama sekali karena adanya loncatan pikiran yang lain. Kepaduan atau koherensi dalam sebuah paragraf dapat dibangun dengan memperhatikan (1) masalah kebahasaan yang digambarkan dengan repetisi (perulangan), kata ganti, kata transisi; (2) pemerincian dan urutan isi paragraf; (3) Pemerincian dan urutan pikiran.
Kepaduan sebuah paragraf dapat ditandai dengan mengulang kata kunci yaitu kata yang dianggap penting dalam sebuah paragraf. Kata kunci yang mula-mula muncul/timbul pada awal paragraf, kemudian terus diulang-ulang pada kalimat berikutnya. Pengulangan ini dimaksudkan untuk memelihara kepaduan semua kalimat yang ada.

Kepaduan paragraf dapat juga dibuat dengan menggunakan kata ganti. Yaitu kata yang mengacu kepada ganti manusia, benda, ini dimaksdukan untuk menghindari terjadinya kebosanan, maka diganti dengan kata ganti tersebut. Pemakaian kata ganti dalam paragraf berfungsi menjaga kepaduan antara kalimat-kalimat yang membina paragraf.

Gorys Keraf (dalam Ibrahim, 1988:74) mengatakan untuk menyatakan kepaduan dari sebuah paragraf, ada bentuk lain yang sering digunakan yaitu penggunaan kata atau frase transisi dalam bermacam hubungan. Kata atau frase transisi itu biasanya digunakan dalam tulisan ilmiah dalam bermacam hubungan, misalnya: (1) hubungan yang menyatakan tambahan kepada sesuatu hal yang telah dijabarkan/disebut pada bagian sebelumnya. Bentuk jenis transisi yang digunakan biasanya: lebih-lebih lagi, tambahan, selanjutnya, di samping itu, lalu, seperti halnya, juga, lagi pula, berikutnya, ke-dua, ke-tiga, dan akhirnya, tambahan pula, dan demikian juga; (2) hubungan yang menyatakan pertentangan dengan sesuatu yang sudah disebut sebelumnya, digunakan: tetapi, namun, bagaimanapun, walaupun dengan demikian, sebaliknya, sama sekali tidak, biarpun, dan meskipun; (3) hubungan yang menyatakan menggunakan, perbandingan,: lain seperti, halnya, dalam hal yang sama, dalam hal yang demikian, dan sebagaimana; (4) hubungan yang menyatakan akibat atau hasil, dengan kata transisi: sebab itu, oleh sebab itu, karena itu, jadi, maka, akibatnya; (5) hubungan yang menyatakan tujuan, dengan kata penghubung: untuk maksud itu, untuk maksud tersebut, dan supaya; (6) hubungan yang menyatakan singkatan, menggunakan: ringkasnya, pendeknya, pada umumnya, secara singkat, seperti sudah dikatakan, dengan kata lain, misalnya, yakni, yaitu, sesungguhnya; (7) hubungan yang menyatakan waktu, misalnya: segera, sementara itu, beberapa saat kemudian, kemudian, sesudah itu,; (8) hubungan yang menyatakan tempat, misalnya: di sana, di sini, di seberang, dekat, berdampingan, berdekatan,.

3. Perincian dan Urutan Pikiran
Bagaimana cara mengembangkan pikiran utama menjadi sebuah paragraf, dan bagaimana menentukan hubungan antara pikiran utama dengan pikiran-pikiran penjelas, dilihat dari tahapan dan urutan perinciannya. Perincian ini dapat diurut secara kronologis (menurut urutan waktu), secara logis (akibat-sebab, sebab-akibat, umum-khusus, khusus-umum), menurut proses, menurut urutan ruang, dan dapat juga dari sudut pandangan yang satu ke sudut pandangan yang lain.

Pengembangan Paragraf
Mengembangkan paragraf bukanlah proses permainan kata-kata. Tujuan utamanya adalah membuat sebuah topik menjadi sebuah diskusi yang menarik. Untuk itu memang diperlukan kata-kata yang tepat. Tapi prosesnya jangan sampai berubah menjadi permainan kata-kata, sehingga tujuan utama terkesampingkan. Di samping itu, mengembangkan paragraf juga bukanlah mengulang-ulang kalimat topik dengan cara menukar-nukar cara menyatakannya. Cara yang demikian hanya membosankan pembaca saja. Cara ini hanya menunjukkan kepada pembaca, bahwa penulis sendiri tidak menyadari apa yang dimaksudkan.

Mengembangkan paragraf adalah menerangi sisi-sisi gelap yang ada pada kalimat topik. Oleh sebab itu, hal-hal yang kurang jelas perlu dipaparkan sehingga apa yang kita maksud sepenuhnya dapat dihayati oleh pembaca. Untuk mencapai hal tersebut, hindarilah motif memainkan kata-kata, jangan mengulang-ulang kalimat topik dan jangan biarkan pikiran melantur ke soal-soal lain, tetapi pusatkanlah perhatian pada kalimat topik yang sedang dihadapi.
Pada hakikatnya mengarang adalah mengembangkan paragraf demi paragraf. Tiap pengembangan paragraf memerlukan sebuah topik. Kebutuhan itu mutlak. Oleh sebab itu, dalam sebuah paragraf jangan sampai terdapat dua atau lebih kalimat topik. Bila dalam sebuah paragraf terdapat lebih dari satu kalimat topik, maka paragraf yang disusun tidak hemat. Sebaiknya kalimat topik yang kelebihan itu ditarik saja dan dikembangkan menjadi paragraf yang lain. 

terimakasih telah berkomentar
EmoticonEmoticon