Tuesday, March 7, 2017

Penerapan Model Pembelajaran Sanggar Sastra dalam Mengapresiasi Puisi

Contoh PTK (Penerapan Model Pembelajaran Sanggar Sastra dalam Mengapresiasi Puisi pada Siswa  kelas IX SMP Negeri 2 Pasie Raja)

Latar Belakang Masalah
Ruang lingkup pengajaran bahasa Indonesia pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sesuai dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) meliputi aspek penguasaan kebahasaan, kemampuan memahami, kemampuan mengapresiasi, dan kemampuan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bila ditinjau dari aspek pembelajaran tersebut, pengajaran bahasa Indonesia di SMP mencakup masalah kebahasaan dan sastra.
Penerapan Model Pembelajaran Sanggar Sastra dalam Mengapresiasi Puisi pada Siswa  kelas IX SMP Negeri 2 Pasie Raja
Contoh Penelitian Tindakan Kelas

Tujuan pengajaran bahasa Indonesia di SMP bukan hanya membekali para siswa dengan berbagai keterampilan berbahasa semata, melainkan juga dengan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman sastra. Dalam hal pengajaran sastra, siswa diharapkan mampu menikmati, menghayati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian dan memperluas wawasan kehidupan.
Pendidikan dan pengajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan haruslah menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dalam bidang tertentu sesuai dengan jenjang pendidikannya. Pengajaran bahasa Indonesia haruslah memperhatikan hakikat bahasa dan sastra sebagai sebuah sarana komunikasi dan pendekatan pembelajaran yang digunakan harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Pada satu sisi bahasa Indonesia merupakan sarana komunikasi dan sastra merupakan salah satu hasil budaya yang menggunakan bahasa sebagai sarana utama dalam berkreativitas. Kita tahu bahasa dan sastra Indonesia seharusnya diajarkan kepada siswa dengan menggunakan pendekatan tertentu yang sesuai dengan hakikat dan fungsi yang tepat.

Dasar pijakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dalam bidang sastra cukup tegas. Bidang sastra adalah bagian dari pendidikan humaniora yang berpedoman pada tujuan KTSP. Setiap langkah yang menyangkut metode pengajaran sastra akan diarahkan pada keberhasilan pengajaran KTSP sastra. Oleh sebab itu, pengajaran sastra pun dituntut sesuai dengan tujuan KTSP. Oleh karena sastra adalah seni yang banyak memainkan  aspek subyektif, tentu pemahaman setiap individu menjadi syarat penting dalam pengembangan KTSP sastra.

Sastra merupakan suatu bentuk sistem tanda karya seni yang menggunakan media bahasa. Sastra tersebut hadir untuk dibaca dan dinikmati serta selanjutnya dimanfaatkan, antara lain untuk mengembangkan wawasan kehidupan. Ini berarti bahwa pembelajaran sastra seharusnya ditekankan pada kenyataan bahwa sastra merupakan salah satu bentuk karya seni yang dapat diapresiasikan/dipentaskan kepada klayak ramai.

Pembelajaran sastra tidak dapat dipisahkan dari empat aspek yaitu; mendengar (menyimak), berbicara, membaca, dan menulis. Materi pembelajaran sastra dalam keempat aspek tersebut meliputi memahami dan mengapresiasikan ragam sastra, mendiskusikan ragam karya sastra, membaca, dan mengapresiasikan karya sastra yang diminati (puisi, prosa, dan drama) dalam bentuk sastra tulis yang kreatif serta dapat menulis kritik dan esai berdasarkan ragam sastra yang sudah dibaca. 

Salah satu ragam karya sastra adalah puisi. Puisi adalah ragam sastra yang unik dan mengandung nilai estetika yang tinggi. Melalui puisi, penyair dapat menuangkan semua perasaan dan keinginaannya melalui kata-kata puitis sehingga pembaca memperoleh gambaran tentang kehidupan penyairnya.

Pengajaran puisi pada siswa SMP terdiri atas lima kompetensi dasar yaitu, mendengarkan puisi yang disampaikan secara langsung ataupun melalui rekaman kemudian mengungkapkan unsur-unsur puisi, membacakan puisi, menulis puisi, membacakan dan menanggapi puisi, dan membacakan puisi karya sendiri. Kelima kompetensi dasar tersebut diajarkan dari kelas VII sampai kelas IX pada semester I dan sebagian lagi pada semester II.

Pembelajaran puisi tidak hanya terbatas pada teori tentang puisi, sekurang-kurangnya membutuhkan penghayatan dan kecintaan terhadap puisi. Selain itu dalam mempelajari dan mengapresiasi puisi dibutuhkan bakat dan pemahaman akan puisi. Oleh sebab itulah, pengajar harus menanamkan kecintaan dan pemahaman apresiasi puisi kepada siswa melalui berbagai metode dan model pembelajaran yang sesuai dengan KTSP.
Selama ini pengajaran puisi di sekolah masih belum maksimal. Kekurangan pengajaran tersebut sebagian besar menyangkut masalah strategi pembelajaran. Padahal pembelajaran sastra mutakhir dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai model pembelajaran. Endraswara (2003:85-195) mengatakan ada lima model yang mungkin digunakan dalam pembelajaran dan pengajaran sastra yang berbasis KTSP, yaitu: model sanggar sastra, model worksop sastra dan bengkel sastra, model laboratorium sastra, model pragmatik sastra, dan model Literature Based Thematic.
Pengajaran sastra yang diharapkan adalah terciptanya pengalaman sastra. Pengalaman bersastra lebih berharga dibanding pengetahuan bersastra. Untuk itu, pengajaran KTSP sastra berusaha menanamkan pengalaman nyata dan bukan sekedar memberi pengetahuan sastra semata. Sistem dan strategi pengajaran yang efektif dan efisien selalu diupayakan dan dilakukan oleh guru dengan beberapa model pengajaran yang sesuai dengan KTSP sastra. Model-model sebagaimana yang disebut oleh Endraswara di atas, lebih lanjut akan diuraikan dalam bab II skipsi ini.

Sehubungan dengan model-model tersebut, peneliti telah memilih dan menerapkan salah satu model pembelajaran dan pengajaran sastra yang dikemukakan oleh Endraswara. Model yang dimaksud adalah model sanggar sastra. Model sanggar sastra merupakan pilihan (model) pengajaran KTSP sastra yang cocok menjadi jalur alternatif pengajaran sastra di sekolah agar siswa mendapat pengalaman bersastra secara mendalam. Melalui sanggar sastra, siswa juga akan diajak mengelola organisasi bernama sanggar sastra.

Sanggar sastra merupakan sebuah wadah aktivitas sastra. Aktivitas  sastra yang dilakukan sangat beragam, seperti menciptakan karya sastra, menampilkan karya sastra, mengapresiasi karya sastra, dan lain-lain. Aktivitas sanggar sastra di sekolah lebih sebagai pendukung kegiatan ekstrakurikuler yang “manasuka” sifatnya. Produk atau karya sanggar sastra di sekolah dapat berupa buletin tidak rutin, majalah musiman, atau pun majalah dinding sederhana, dan pentas berskala kecil, tetapi tetap berisi sastra.
Penggunaan model sanggar sastra ini, disamping meningkatkan bakat dan kemampuan siswa dalam mengapresiasi puisi juga bertujuan sebagai uji-coba ketepatgunaan model sanggar sastra dalam pembelajaran puisi. Oleh karena itulah, penulis menerapkan model sanggar sastra ini di SMP Negeri 2 Pasie Raja. Pemilihan SMP Negeri 2 Pasie Rajasebagai tempat penelitian karena di SMP tersebut belum menerapkan model sanggar sastra dalam pengajaran KTSP sastra, selain itu penulis juga merupakan salah seorang guru pengajar bidang studi bahasa Indonesia di SMP tersebut. Adapun judul lengkap penelitian ini adalah “Penerapan Model Pembelajaran Sanggar Sastra dalam Mengapresiasi Puisi pada Siswa  kelas IX SMP Negeri 2 Pasie Raja”. 

1. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah, apakah dengan menerapkan model pembelajaran sanggar sastra dalam mengapresiasi puisi pada siswa kelas IX SMP Negeri 2 Pasie Raja, hasil pembelajarannya akan lebih meningkat.
Secara lebih rinci masalah tersebut adalah sebagai berikut.   

a. Bagaimana proses dan hasil pembelajaran apresiasi puisi pada siswa kelas IX SMP Negeri 2 Pasie Rajadengan model sanggar sastra?
b. Bagaimana proses dan hasil pembelajaran apresiasi puisi pada siswa kelas IX SMP Negeri 2 Pasie Rajayang tidak menggunakan model sanggar sastra?
c. Apakah terdapat perbedaan antara hasil belajar siswa yang menerapkan model sanggar sastra dengan hasil belajar siswa yang tidak menerapkan model sanggar sastra dalam mengapresiasi puisi pada siswa kelas IX SMP Negeri 2 Pasie Raja?

2. Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut.

a. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui proses dan hasil pembelajaran apresiasi puisi pada siswa kelas IX SMP Negeri 2 Pasie Raja dengan model sanggar sastra.
b. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui proses dan hasil pembelajaran apresiasi puisi pada siswa kelas IX SMP Negeri 2 Pasie Raja yang tidak menggunakan model sanggar sastra.
c. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan antara proses dan hasil belajar siswa yang menerapkan model sanggar sastra dengan hasil belajar siswa yang tidak menerapkan model sanggar sastra dalam mengapresiasi puisi pada siswa kelas XI SMP Negeri 2 Pasie Raja

3. Manfaat penelitian
Berpedoman pada latar belakang dan tujuan yang ingin dicapai, maka manfaat dari penelitian adalah sebagai berikut.

1) Karya ilmiah ini dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan penulis tentang penerapan model sanggar sastra dalam pembelajaran sastra khususnya puisi.
2) Laporan penelitian ini merupakan bahan masukan bagi sekolah dan guru mata pelajaran bahasa Indonesia dalam mengaplikasikan model sanggar sastra dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa dan pelaksanaan pembelajaran sastra yang lebih baik.
Siswa lebih termotivasi meningkatkan prestasi belajar khususnya di bidang puisi dengan menggunakan model sanggar sastra.

terimakasih telah berkomentar
EmoticonEmoticon