Wednesday, March 8, 2017

Fungsi, Peranan dan aspek Bahasa Dalam Pendidikan Sekolah

Fungsi, Peranan dan aspek Bahasa Dalam Pendidikan Sekolah. Kita telah memahami bersama jika bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan emosional intelektual, dan sosial, para peserta didik dan juga merupakan sebagai sarana penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua pelajaran di sekolah. Untuk itu, pembelajaran bahasa diharapkan dapat membantu peserta didik untuk lebih mengenal budayanya ,dirinya, , dan budaya orang, untuk mengemukakan gagasan dan perasaan, ikut berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam diri peserta didik (potensi mereka).
Fungsi, Peranan dan aspek Bahasa Dalam Pendidikan Sekolah
Fungsi, Peranan dan aspek Bahasa Dalam Pendidikan Sekolah

Tujuan Pembelajaran bahasa Indonesia yaitu untuk mengarahkan peserta didik dalam meningkatkan kemampuan mereka untuk dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar (lisan maupun tulis), disamping untuk menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesusastraan di Indonesia.
Sebenarnya, kemampuan berbahasa sangat erat hubungannya dengan kemampuan berpikir peserta didik. Karena bahasa seseorang dapat mencerminkan pikirannya. Sebab semakin terampil seeseorang dalam berbahasa, maka semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya dalam berpikir. Untuk itu, Keterampilan berbahasa ini hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktik dan dengan melakukan banyak latihan baik sendiri ataupun berkelompok. Melatih keterampilan menulis berarti juga melatih keterampilan berpikir.
Bahasa merupakan alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Pikiran, gagasan, dan perasaan dapat disampaikan melalui bahasa lisan dan bahasa tulis. Penyampaian perasaan, pikiran, dan gagasan memerlukan seperangkat pengetahuan, sehingga apa yang disampaikan dapat dipahami oleh pembaca atau pendengar dengan baik. Pengetahuan itu juga membantu komunikator untuk menata bahasa secara logis dan sistematis.
Penataan perasaan, pikiran, dan gagasan secara logis dan sistematis secara kongkret dapat dimanifestasikan dalam bentuk bahasa tulis. Penyampaian bahasa secara tertulis selain melalui kalimat, juga dapat ditata dalam bentuk paragraf-paragraf. Mustakim (1994:113) menyatakan, ‘Secara kongkrit, isi paragraf hanya terdapat pada ragam bahasa tulis, karena jalinan kalimat yang membentuk sebuah paragraf hanya dapat diidentifikasi dalam bentuk tertulis.’
Disamping itu, menulis juga merupakan salah satu aspek bahasa yang bersifat produktif bafi perseta didik. Karena melalui melalui menulis, seseorang akan lebih kreatif. Seorang penulis selain harus mampu mengekspresikan ide, gagasan, dan pikirannya juga harus mengetahui bagaimana cara menghubungkan berbagai fakta, membandingkan, dan sebagainya. Dengan perkataan lain, seorang penulis harus mampu mengekspresikan ide, pengalaman, dan perasaannya dalam bentuk tulisan, sehingga apa yang diketahui, dialami, dan dirasakan dapat disampaikan dengan baik. Modal menulis selain pengetahuan tentang teori, membutuhkan pemikiran yang maksimal. Kesungguhan berpikir seorang penulis akan tercermin dalam tulisannya. Hal ini juga dikemukakan oleh Akhadiah (1994:143) sebagai berikut.

Kita tahu bahwa Kemampuan berbahasa sangat erat hubungannya dengan kemampuan berpikir seseorang. Bahasa seseorang mencerminkan pikiran dan pengetahuannya. Jika Semakin terampil seseorang dalam berpikir, maka semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Kemampuan ini dapat diperoleh dengan latihan intensif dan bimbingan yang sistematis.

Pengetahuan dan kemampuan berpikir yang dimiliki oleh seseorang juga belum menjamin untuk mampu menulis secara baik dan sistematis. Banyak orang yang mempunyai gagasan yang cemerlang, tetapi merasa susah menyampaikannya kepada orang lain. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuannya dalam mengurutkan ide-ide atau gagasan-gagasan secara logis dan sistematis dalam satu kesatuan bahasa.

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) jenjang SMP/MTs, pembelajaran bahasa Indonesia ditekankan pada aspek keterampilan. Penekanan ini dimaksudkan agar siswa mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Siswa diharapkan terampil berbahasa, baik reseptif maupun produktif. Keterampilan reseptif mencakup keterampilan menyimak dan membaca. Keterampilan produktif mencakup keterampilan menulis dengan berbicara.

Agar siswa terampil berbahasa secara reseptif dan produktif, dalam pembelajaran guru hendaknya dapat memberikan kesempatan lebih banyak kepada siswa berlatih menggunakan bahasa. Artinya pembelajaran tidak semata-mata diarahkan pada pembekalan pengetahuan tentang bahasa. Pengetahuan tentang bahasa tidak akan banyak manfaatnya jika tidak digunakan dalam kenyataan berbahasa baik kegiatan berbahasa yang bersifat reseptif maupun kegiatan berbahasa yang bersifat produktif.

Dalam pembelajaran menulis paragraf narasi, siswa diarahkan untuk dapat menceritakan suatu objek secara tepat. Tulisan yang dijalin dalam paragraf narasi dapat mengarahkan pembaca seakan-akan mengetahui objek yang digambarkan itu secara nyata. Jika pemahaman pembaca sudah sampai pada taraf yang demikian, ini berarti tulisan yang dijalin dalam paragraf narasi sudah mencapai tujuannya. Dengan kata lain sudah terjalin komunikasi yang baik antara penulis dan pembaca.

Pembelajaran menulis narasi sederhana sudah dimulai sejak Sekolah Dasar. Pembelajaran ini dipertajam lagi di SMP. Tentang menulis deskripsi di SD terlihat pada Kompetensi Dasar tentang penulisan sebuah paragraf dengan menceritakan sebuah benda berdasarkan gambar. Kompetensi Dasar di SMP tentang menulis sebuah paragraf narasi dengan gagasan utama terdapat di awal paragraf. Atas dasar inilah penelitian ini dilakukan. Dengan demikian, hasil penelitian ini akan dapat memberikan gambaran tentang proses dan hasil pembelajaran menulis paragraf narasi, khususnya pada jenjang SMP/MTs.

Terkait dengan keterangan menulis sebagai keterangan berbahasa yang bersifat produktif, dalam silabus pelajaran bahasa Indonesia jenjang SMP/MTs, terdapat sejumlah Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pembelajaran menulis, yaitu:

1. Menulis gagasan dengan menggunakan pola urutan waktu dan tempat dalam bentuk paragraf naratif.
2. Dapat Menulis hasil observasi dalam bentuk paragraf deskriptif
3. Dapat Menulis gagasan secara logis dan sistematis dalam bentuk ragam paragraf ekspositif
4. Menulis gagasan untuk mendukung suatu pendapat dalam bentuk paragraf argumentatif
5. Dapat Menulis gagasan untuk meyakinkan atau mengajak pembaca bersikap atau melakukan sesuatu dalam bentuk paragraf persuasi
6. Menulis hasil wawancara ke dalam beberapa paragraf dengan menggunakan ejaan yang tepat
7. Menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca intensif
8. Menentukan kalimat kesimpulan (ide pokok) dari berbagai pola paragraf induksi, deduksi dengan membaca intensif
9. Menulis karangan berdasarkan topik tertentu dengan pola pengembangan deduktif dan induktif

Mengingat salah satu tuntutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlaku dewasa ini, yaitu pembelajaran lebih mengarah pada hal-hal yang dekat dengan lingkungan anak, penulis mengarahkan penelitian ini pada pemahaman siswa terhadap budaya lokal.

terimakasih telah berkomentar
EmoticonEmoticon