Sunday, February 26, 2017

Pahlawan Hati yang Hilang untuk selamanya

Pahlawan hati yang Hilang untuk selamanyaSurya mulai menjingga, azan magrib berkumandang diseluruh mesjid, hati ibu mulai gelisah karena ayah tidak pulang sejak dua hari yang lalu. Sekumpulan orang yang entah dari mana datangnya berseragam loreng dengan muka garang menyeret ayah entah kemana. Aku dan ibu hanya bisa menangis di sudut rumah, semenjak itu kami tidak lagi mendengar kabarnya apalagi melihat ayah. Akhirnya ibuku bangkit dari tempat duduknya dan pergi kekamar mandi mengambil handuk untuk menunaikan shalat magrib, dari raut wajahnya terlihat jelas kecemasan akan keadaan ayah, namun dia tetap berusaha tetap tegar dan menyembunyikannya dari ku.     

Diluar rumah terdengar letusan-letusan senjata, ibu cepat-cepat membereskan mukenanya dan segera berrgegas menemuiku dikamar yang lagi sendirian. Ibu memelukku dengan erat disertai air mata yang mengalir membasahi kedua pipinya. Mulutnya tidak henti-hentinya beristughfar menyebut nama Allah sambilan menyelipkan doa untuk keselamatan ayah, sementara aku hanya terdiam membisu menyaksikan semua itu. 
Pahlawan hati yang Hilang untuk selamanya
Cerpen Pahlawan hati yang Hilang
Ayahku adalah seorang pedagang yang lumayan sukses dikampungku, ayah juga tergolong salah seorang yang terpandang dan disegani oleh semua orang di desaku karena kebaikan budinya. Ayahku juga dipercaya oleh semua masyarakat untuk menjual semua hasil bumi di desa kami untuk dijual ke pusat kota kecamatan di daerah kami. Namun tidak semua orang berpandangan positif atas kepercayaan yang diterima oleh ayahku dari masyarakat kampung tersebut. mungkin ada satu atau dua orang yang merasa iri dengan kepercayaan yang dimiliki oleh ayahku tersebut. Dimana pada akhirnya ada salah seorang yang merasa iri dengan ayahkau dan tega menfitnah beliau jika ayahku adalah salah satu orang yang memberikan makanan untuk Kombatan GAM kapada aparat kemananan yang sedang nge pos di desa tetangga.
Suara letusan senjata kini sudah mulai reda, tiba-tiba terdenbgar suara ketukan pintu di rumah kami, kami semua terdiam dan tidak berani membukan pintu. “ini aku adam, ani” terdengar suara di balik pintu. Wajah ibu seketika berubah menjadi berseri-seri, tanpa dikomando ibuku langsung bergegas membuka pintu, ibu menangis melihat kondisi ayah yang terluka, lemah dan tak berdaya, ibu memapah tubuh ayah untuk duduk dan menyuruhku untuk tidur. Setelah seminggu berlalu, kondisi ayahku kini sudah mulai membaik, ayah memutuskan untuk berdagang ke kota ibu melarang tetapi ayah tetap bersisikeras dengan keputusannya. 

Hari sudah mulai petang, ibu merasa cemas karena ayah belum juga pulang, ibu berusaha menpis hayalan yang tidak-tidak tentang ayah karena yah belum ke,bali, malam itu ibu menghabiskan malam dengan hati yang gelisah. Sayup-sayup sinar sang surya perlahan menjulurkan lidah kehidupanya untuk menerngi setiap lereng-lereng pegunungan menghidupkan semangat penduduk desa untuk menjalani pekerjaan dipagi hari yang cerah itu. Begitu juga dengan ibuku yang sedari tadi sibuk membersihkan perkarangan rumah dengan begitu bersemangat dan di iringin oleh riyuh-riang celotehan anak-anak yang bermain di halamn rumahku.  Akupun tak ketingggalan meluapkan kegembiraan dipagi itu dengan bermain diperkarangan rumahku, aku berlri kesan-kemari untuk mencari seteka tanah yang cocok untuk aku coret-coret dengan kayu kecil ditngganku. Kemudian aku mencot=ret-coret di atas tanah tersebut yang kemudian terbentuk gambar yang aku anggap sebagai gambar ayah dan diriku. Aku terpukau dan tak henti-hentinya memnadang mungkin bagi sebagian orang itu hanyalah sebuah coret moret yang tidak berbentuk apa-apa namun bagiku itu adalah sudah sangat luar biasa bagi ku. Tanpa  kusadari ternyata gambar ayah yang kugambarkan tadi terhapus oleh jejak kaki anak yang lewat, namun akau tetap memandang lukisan wajah ayah dengan lekat-lekat ternyata ada bagian gambar yang rusak, seketika itu akupun kesal dan hendak memarahi anak tersebut namun suaraku tertahan. Seketika itupun ibu datang meyurukuhku untuk segara masuk kedalam rumah. 

Kemudian ibu langsung mengunci pintu dan semua jendela dan memelukku dengan erat. Entah apa yang kurasa pagi itu, yang jelas hanya suara letusan senjata yang terdengar oleh ku. Ibu memelaukku semakin erat sambil memanjatkan doa, sementara aku hanya bungkam dan tak atu apa yang terjadi, kulihat mata ibuku yang berkaca-kaca dan tetesan bening itupun mengalir membasahi keuda pipinya. Kami sangat ketakutan, peristiwa itu berlangsung sekitar dua puluh lima menit. Selama itupula ibuk memelukku dengan erat. Tak lama kemudia keadaan kembali normal, semua kebisingan senjata itu sudah tudak terdengar lagi yang tertinggal hanyalah hanyalah ketakutan yang medalam, dengan tidak melepaskan puelukannya, iu berusa mengintip dari celah-celah dinding rumah untuk memastikan jika keadaan sudah benar-benar normal namun tuba-tiba seseorang mengetuk pitu rumah kami, dengan perasaan was-was ibu mencob berpikir sejenak membuka pintu atau tidak. Namun pintu itu terus diketuk yang harus mau tidak mau ibu harus membukanya. Ibu membuka pintu rumah kami dan dia melihat pak rahmat dan penduduk kampung yang datang kerunahnya. Kemudian ibu bertanya” ada perlu apa pak?”. Heran tak biasanya pak rahmat datang kerumah. Kemudian pak rahmat kenjelaskan segala sesuatu yang terjadi kepada ayahku, sontak ibu terhenyak dan membisu, ibu belum bisa menerima semua kenyataan bahwa ayah telah tiada menghilang dimabil sibaju lorenga ketika pulang dari berdngan di kota semalam.  
Karya Anak MA Darul Aitami  


terimakasih telah berkomentar
EmoticonEmoticon