Monday, October 17, 2016

Model Pembelajaran Problem-based Learning dalam Kurikulum Tiga Belas (K13)


Model Pembelajaran Berbasis Masalah [Problem-based Learning] dalam Kurikulum Tiga Belas (K13). Salah satu model pembelajaran yang digunakan dalam Kurikulum Tiga Belas K.13 adalah model pembelajaran yang mengunakan Masalah sebagai materi pembelajaran. Dimana model ini menggunakan masalah sebagai dasar proses pembelajaran/Berbasis Masalah [PBL]. Problem Based Learning atau lebih dikenal dengan Pembelajaran Berbasis Masalah adalah dimana model pembelajaran yang menggunakan masalah dalam kehidupan sehari-hari (otentik) dan masalah tersebut bersifat terbuka untuk diselesaikan oleh peserta didik dalam mengembangkan keterampilan mereka dalam berpikir, keterampilan menyelesaikan masalah, keterampilan bersosial, keterampilan untuk bisa belajar lebih mandiri, dan membangun/memperoleh pengetahuan baru. 


Model Pemebelajaran Berbasis Masalah
Problem Based Learning Model
Pembelajaran ini secara kontras berbeda dengan pola pembelajaran konvensional umumya yang jarang menggunakan masalah nyata atau hanya menggunakan masalah nyata di tahap akhir proses pembelajaran sebagai dasar penerapan dari pengetahuan yang telah dipelajari. Adapun bentuk Pemilihan masalah nyata tersebut dilakukan atas pertimbangan kesesuaian dengan pencapaian kompetensi dasar yang telah ditetapkan.

(Baca Model Pembelajaran Inkuiri Dalam K13)

Jika dikaji dari sudut  psikologi pembelajaran, dasar model pembelajaran ini didasarkan pada jenis psikologi kognitif yang berazas pada asumsi jika kegiatan pembelajaran itu adalah sebuah proses perubahan tingkah laku yang didasarkan pada pengalaman pembelajaran. Dengan menggunakan model pembelajaran ini, peserta didik dapat berkembang secara menyeluruh, boleh dikatakan jika perkembangan peserta didik tidak hanya didasari pada perkembangan kognitif saja, akan tetapi juga mencakupi perkembangan dalam bidang affektif dan psikomotor peserta didik. Perkembangan ini terjadi secara langsung (secara otomatis) melalu kegiatan pembelajaran siswa dalam menyelesaiakan permasalah yang disajikan oleh guru mereka sesuai dengan lingkungan sekolah dan masyarakat. 


pendekatan Model pembelajaran berbasis masalah ini menggunakan aspek psikologi kognitif sebagai sarana pendukung teoritisnya. Yang menjadi fokus dari pendekatan pembelajaran ini adalah keaktifan peserta didik dalam memikirkan segala alternatif penyelesaian permasalah yang telah disajikan, bukan pada kegiatan apa yang mereka kerjakan dalam proses belajaran.

Sama halnya dengan model pembelajaran lain  dalam Kurikulum tiga Belas (K.13) dimana setiap model pembelajaran menyajikan tahapan-tahapan pembelajaran yang digunakan sebagai acuan dasar dalam melakukan kegiatan pembelajaran didalam kelas. Adapun jenis tahapan dalam model pembelajaran berbasis masalah ini adalah: Pengenalan tehadap masalah/orientasi, penyusunan masalah/organisasi, penyelidikan terhadap masalah, Pengembangan dan penyelesaian masalah, Analisis dan evaluasi proses penyelesaian masalah.

Untuk lebih jelasnya dari tahapan pembelajaran Problem Based Learning yang disebutkan diatas (Arends :2012 dan Fogarty:1997) dapat digambarkan/dijabarkan berikut ini: 

1. Tahap Orientasi

Tahap orientasi juga boleh dikatakan sebagai tahap permuliaan, dimana peran guru ditahapan ini hanya menentukan dan menyajikan masalah kepada peserta didik [outentik] sebagai topik pembelajaran. 

2. Tahap organisasi/penyusunan pembelajaran

Pada tahap ini, Guru membimbing peserta didik untuk memahami permasalahan yang telah disajikan, yaitu dengan mengidentifikasi apa yang telah mereka ketahui, apa yang perlu untuk mereka ketahui, dan apa yang perlu mereka lakukan untuk menyelesaikan permasalah yang telah disajikan di tahap pertama. Dalam hal ini Peserta didik diberikan peran/tugas untuk menyelesaikan masalah tersebut secara bergantian.

3. Penyelidikan masalah

Pada tahap Penyelididkan ini, Guru membimbing peserta didik dalam proses mengumpulkan data/informasi (baik pengetahuan, konsep, teori) dengan menggunakan berbagai macam cara/pendekatan sebagai cara untuk menemukan berbagai solusi alternatif penyelesaian masalah yang telah disajikan. Dalam tahapan ini guru dituntut untuk membuka carawala berpikir peserta didik. 

4. Pengembangan dan penyajian hasil penyelesaian dari permasalahan

Pada tahapan ini, Guru mengarahkan peserta didik untuk menentukan solusi dari masalah yang paling tepat dari berbagai alternatuve solusi pemecahan masalah yang telah ditemukan oleh peserta didik. Kemudian peserta didik menyusun laporan sebagai hasil penyelesaian masalah, baik berupa gagasan, model, bagan, atau dengan cara presentasi menggunakan Power Point.

5. Analisis dan evaluasi proses penyelesaian masalah
Pada tahapn ini, Guru memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan refleksi atau evaluasi terhadap hasil proses penyelesaian masalah yang dilakukan mereka, disamping juga memebrikan penguatan terhadap hasil penyelesaain masalah tersebut.

Dalam menentukan permasalah yang digunakan dalam model pembelajaran ini, sebaiknya guru harus merujuk kepada KD yang akan dipelajari. Ini dimaksudkan supaya materi yang disajikan dalam model pembelajaran ini sesuai dengan materi pembelajaran dalam KD tersebut. Tiap-tiap mata pelajaran akan memiliki permasalah yang berbeda, karena itu guru dituntut untuk lebih peka terhadap permasalah yang ada di lingkungan sokolah ataupun lingkungan tempat tinggal peserta didik.
    
Berikut adalah contoh-contoh permasalah nyata yang dapat digunakan dalam penyampaian meteri Pembelajaran dengan menggunakan model Berbasis Masalah.

1. Mata Pelajaran IPA 
Air sungai yang ada ditempat siswa sangat keruh sehingga tidak aman dipakai untuk keperluan sehari-hari. Sementara itu, warga disekitar tempat tersebut tidak memiliki alternatif  lain, selain menggunakan air yang ada di sungai tersebut. Bagaimanakah menyelesaikan masalah tersebut?

2. Mata Pelajaran IPS

Pada Suatu keluarga yang terdiri atas tiga orang anak, dan ayah adalah karyawan dengan penghasilan 2.500.00 rupiah perbulan, dan Ibu tidak bekerja. Minggu depan ketiga anak mereka akan melanjutkan sekolah mereka masing-masing. Anak pertama malajutkan ke jenjang pendidikan SMA. Anak keduan ke jenjang pendidikan SMP, dan anak ketiga akan masuk sekolah SD. Ketiga-tiganya memerlukan biaya dengan rincian, anak SMA untuk pembelian seragam dan uang pendaftaran sekitar 1000.000, anak kedua untuk pembelian seragam dan uang pendaftaran 700.000, dan anak SD untuk pembelian seragam dan uang pendaftaran 600.000, dan ibu memerlukan sekitar 700 000 untuk biaya makan sehari-hari. Jumlah total kebutuhanya adalah 3000000, jadi jika dibadingakn dengan gaji pendapatan ayah maka akan mengalami minus sebanyak 500.000.   Apa yang perlu dipertimbangkan oleh keluarga tersebut dalam memenentukan kebetuhanan mereka sehingga kebutuhan-kebutuhan lainnya tetap terpenuhi? 

3. Mata Pelajaran Prakarya 

Seorang Ibu yang tinggal di kota ingin menanam berbagai macam sayuran yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. masalahnya, Ibu tersebut tidak memiliki lahan yang cukup luas untuk menanam. Ia juga tidak mengetahui jenis sayur-sayuran yang dapat ditanam di lahan terbatas tersebut. Bagaimanakah cara memilih dan juga menanam jenis sayuran yang sesuai di lahan yang terbatas untuk dapat dikosumsi seharai-hari dengan biaya yang minimal?

4. Mata Pelajaran Matematika 

Dalam keadaan darurat (kebakaran), seseorang yang terjebak di atas bangunan harus diselamatkan melalui jendela yang tingginya 6 m dengan menggunakan tangga. Dengan mempertimbangan keselamatan sebagai tujuan utama, tangga tersebut harus ditempatkan minimum 2 m dari dasar bangunan. Berapa panjang tangga yang mungkin untuk dapat memcapai bangunana tersebut?


terimakasih telah berkomentar
EmoticonEmoticon