Thursday, October 20, 2016

Konsep Dan Pembagian Kurikulum Student Center Design

1. Learner center design.

Pada ulasan yang tedahulu saya telah mengulas sedit gambaran tentang kurikulum Subject Center, disini saya juga akan bahas lagi mengenai Kurikulum Laerner Center. Kita tahu Learner adalah bermakna peserta didik, sedangkan center adalah pusat, jadi dari segi bahasa dapat kita artikan jika kurikulum Learner Center adalah kurikulum yang berazaskan pada peserta didik. Mengapa dikatakan berpusat pada peserta didik, karena kurikulum ini lebih mengnakan kemauan dan minat anak dalam penyusunanan konten pembelajaran di sebuah sekolah.

Konsep Kurikulum Studen Center
Student Center Curriculum
(Baca Konsep dan Pambagian Kurikulum Subject Center)

Jenis rancangan kurikulum ini banyak ditemukan disekolah dasar, secara lebih spesifik, kurkulum learner center design dapat di definisikan merupakan sebuah rancangan kurikulum yang bertujuan untuk memandu guru (pendidik) dalam mengajar menurut minat, tuntutan, dan kemauan yang dikendaki oleh anak pesertadidik. Tenik mengajar dalam rancangan kurikulum ini guru (pendidik) hanya menjelaskan materi tertentu yang sesuai dengan minat peserta didik sehingga peserta didik bisa mebuat kesimpulan dengan sendirinya terhadap materi yang diajarkan oleh guru (pendidik). Biasanya guru (pendidik) mengikuti keinginan peserta didik sebelum proses belejar mengajar berlangsung. Dimana guru (pendidik) disini akan bernegosiasi dengan peserta didik tentang hal apa saja yang disukai oleh peserta didik, guru (pendidik) dan peserta didik juga akan berpartipasi dalam menetukan tujuan, isi, materi dan termasuk aktivitas yang akan dilajankan. Jenis. Jenis ranncangan kurikulum ini juga dibagi dalam beberapa bagian diantaranya:

a. Child Center Design
Jenis rangcang kurikulum ini banyak menitik beratkan pada peserta didik, dimana materi yang disampaikan oleh pendidik harus sesuai dengan keinginan, kemauan dan interes peserta didik, sebab jenis rancangan kurikulum ini berazaskan pada aliran Philosofi Progresivisme. Dalam rancangan ini peserta didik mempunyai peran yang sangat besar dalam menentukan sebuah materi yang akan dibahas, karena perancang kurikulum ini beranggapan peserta didik harus diajarkan materi yang sesuai dengan alam lingkungan mereka sendiri, walaupun demikian peserta didik tidak diberikan kebebasan yang sebebas-bebasnya, dalam artian guru (pendidik) membantu membimbing mereka dan menstimulasi rasa ingin tau mereka sesuai dengan tingakat pengembangan peserta didik.

  
b. Experience center.
Experience center design hampir sama dengan child center design yang mengunakan pertimbangan terhadap anak sebagai dasar uatama, dan juga berazaskan pada Philosophy Progresivisme, tetapi rancangan kurikulum ini tidak bisa di terapkan untuk semua peserta didik. Disini guru (pendidik) harus menganalisa pengalam peserta didik dan mengembangkannya dalam ilmu pengetahuan. Jadi guru (pendidik) harus menyadari bahwa pengalaman peserta didik merupaka aspek yang penting yang harus dipertimbangakan dalam memnetukan dan membuat sebuah meteri ajar. Jenis kurikulum ini jaga bisa berubah-ubah menurut keninginan peserta didik. 

c. Radical design. 
Radical design berazaskan pada Philosophy Reconstrutionisme. Kurikulum ini muncul dikarenakan keadaan masyarakat pada waktu itu yang rusak, dan tidak bisa mencegah diri mereka dari keadaan tersebut. Janis kurikulum ini dibuat untuk mengontrol peserta didik supaya tercegah dari prilaku demikian untuk dapat mendidik dan membebaskan mereka dari hal tersebut. Dalam jenis rancangan kurikulum ini emansipasi kebeasan merupakan tujuan utama, kebebasan ini ditujukan kepada individu untuk memperoleh kesadaran, competensi, dan tingkah laku supaya mereka dapat mengontrol kehidupan mereka. Dalam radical design, belajar itu bukan merupakan bagian dari silabus saja, tetapi belajar juga merupakan bagian pengalaman yang dihasilkan dari hasil interaksi antara manusia ramai. Penekanan peserta didik pada materi pembelajaran saja bisa menyebabkan peserta didik tidak mampu melihat bagian yang dinamik dan tidak mampu menerapkan ilmu mereka. Adapun object dari kurikulum ini adalah untuk memperbaikai tingkah laku peserta didik.

d. Humanistic design. 
Rancangan kurikulum ini berazaskan Philosofi Reconstrutionisme, dan Existentialisme, yang mana rancangan kurikulum ini bayak menitik bratkan pada perkembangan anak (psychology anak), sehingga pendidik harus benar-benar bisa memahami individu peserta didik, sebab peserta didik dapat memperolah pengalam belajar dengan perasaan mereka, imaginasi, dan keinginan mereka. Rancangan kurikulum pendidikan ini mengabungkan effective domain (perasaan, tingkah laku dan nilai) dan cognitive domain (ilmu dan pemecahan masalah). Rancangan ini juga memahami bahwa cognitive, affective dam psychomotor saling berhubungan, sehingga kurikulum yang dorancang harus mencakupi ketiga aspek diatas.

terimakasih telah berkomentar
EmoticonEmoticon