Monday, February 22, 2010

Konsep Bhineka Tunggal Ika Dan Lakumdinukum Waliadin

Sebagaimana kita ketahui bahwa Dalam konsep agama islam sebenarnya banyak sekali konsep untuk saling menghormati/menghargai antara yang berlainan teruma dalam hal beragama, bukan hanya yang tercetus dalam ayat ‘lakukumdinukum waliadin’. Tetapi disini saya hanya sedikit mengomentari sedikit banyak kelemahan sebagian orang dalam memahami konsep kebhinekaan tungal ika seandainya kita memaknainya tanpa berpegang dengan tenguh dengan konsep keyakinan kita (agama). Sebab seandaain kita hanya sekedar melihat konsep ini secara sekilas saja maka secara tidak langsung itu akan menjadi kelemahan orang islam dalam mengaplikasi segala macam hukum islam dalam menjalani bahtera kehidupan mereka di negeri ini.

Konsep Bhineka Tunggal Ika Dan Lakumdinukum Waliadin
Konsep Bhineka Tunggal Ika Dan Lakumdinukum Waliadin

Mengapa disini saya beranggapan demikian? Ini semua didasarkan atas banyaknya konsep kebersamaan dalam ajaran agama islam yang kebanyakan salah dipahami oleh orang islam itu sendiri apalagi lagi non islam, dimana sebagian memandang seolah-olah kosep kebersamaan yang terdapat dalam ajaran islam itu tidak sangat bagus jika kita membandingkannya dengan konsep pemahaman bhineka tunggal ika. Maaf posisi disini saya bukan untuk bermaksud menyalahkan konsep bhineka tunggal ika, tetapi saya disini hanya ingin menekankan kepada para kaum muslimin untuk lebih memahami konsep keberagaman yang terkadung dalam ajaran islam itu sebagai fundamen dasar untuk memahami dan menerapkannya dalam konsep bhineka tunggal ika. Toh jika jika sebagian besar umat islam masih banyak yang mengabaikan konsep keberagaman dalam ajaran islam dan lebih mengutamakan konsep kebhinekaaan tanpa mendalami makna yang lebih dalam sebagaimana yang dikonsepkan oleh pendiri bangsa ini, maka keterbatasan pemahaman konsep bhineka tunggal ika tersebut akan menjadi batu lonjatan untuk menyalahkan berbagai tuntunan ajaran islam yang dianggap sebagai sebuah kebudayaan islam versi orang Arab yang ada di Indonesia.
begini logikanya, jika kita lihat keberagaman budaya dari sabang sampai meurauke, jadi hampir tidak ada konsep budaya bangsa kita yang mengunakan pakaian baju koko, dan berbusana muslimah seperti yang dianjurkan islam , sehingga boleh jadi suatu masa nanti orang-orang yang anti dengan konsep ajaran islam akan menghembuskan jika penggunaan pakaian koko bagi pria dan pakaian kebaya dan jilbab bagi muslimah yang merupakan budaya entitas arab dan harus kita berantas bersama, dengan alasan kalau kita masih menggunakan pakaian tersebut dalam kehidupan kita berarti itu menunjukkan jika kita masih di jajah oleh bangsa Arab (negara arab). Sungguh lucu memang mengapa bisa ada opini yang demikian untuk memudarkan panji-panji islam yang seharusnya kita terapkan sebagai bentuk kepatuhan kita selaku orang islam kepada rabbi. Kalau saja pemikiran yang demikian terus terjadi, apakah ini tidak akan menyebabkan jika suatu hari nanti generasi islam dikemudian hari akan beropini/berpikiran jika agama itu cuman sebatas budaya. Kalau memang pernyataan saya ini agak sedikit berlebihan menurut anda, maka coba buktikan sendiri berapa banyak pemuda-pemudi islam yang betul betul memahami dan menjalankan ajaran islam dengan benar sesuai dengan tuntunanya di zaman sekarang? Jawablah dengan jujur

Sekali lagi posisi saya disini bukan untuk menyalahkan konsep bhineka tunggal ika, tetapi ini semua diilhami dari gambaran kehidupan orang-orang islam sekarang yang terlalu bebas dalam memaknai konsep kebersamaan dan toleransi, sehingga menyebabkan sebagian orang islam yang kurang memiliki pemahaman/pengetahuan tentang islam akan mudah tejerumus dan tergelincir dengan sendirinya kadalam kosep kebersamaan dimana akan membenarkan semua agama untuk diikuti. Selain itu jika kita melihat banyak sekali orang sekarang dikalangan islam sendiri yang menentang tentang proses pelaksanaan syaraiat islam di Aceh dengan membawa isu HAM, gender dan juga membawa alasan jika indonesia bukan negara agama akan tetapi ini negara pancasila. padahal mereka sendiri tidak memahami bagaimana konsep HAM dan gender yang ada dalam ajaran agama islam. Bahkan yang lebih lucu lagi mereka sendiri menafikan tentang Aceh dengan apa yang pernah diraih oleh Kerajaan Aceh pada massa menerapkan konsep syariat islam sebagai undang-undang pemerintahan yang sah pada ketika itu, apakah mereka tidak tahu jika di Aceh pada masa tersebut pernah diperintah oleh beberapa sultanah, dan untuk dipahami saja salah seorang panglima angkatan lautnya yang berpangkat laksamana adalah seoarang perempuan. jadi alasan apa yang mendasari pemikiran mereka tersebut untuk menyudutkan islam dengan mengatakan jika penerapan syariat islam di Aceh akan menghambat gender, dan konsep gender yang bagaimana sih yang akan mereka maksudkan? Apakah gender yang membolehkan semua wanita digunakan sebagai alat untuk menjual produk [sebagai penarik iklan dari suatu product]? Mereka sebenarnya tidak sadar jika mereka sendirilah yang telah melanggar konsep-konsep kebhinekaan tunggal ika karena telah memprotes proses pelaksanaan syariat di Aceh, jadi apakah karena penerapan syariat islam di Aceh jadi Aceh dianggap bukan bagian dari indonesia [budaya orang arab] sehingga mereka bisa memprotesnya dengan anggapan menyalahi aturan bhineka tunggal ika? Hahaha

Inilah sebenarnya yang menjadi dasar dari penulisan saya ini, dengan mengajak semua orang islam untuk lebih memahami kosep islam dengan sempurna sebagai dasar fondasi untuk mengaplikasikan kosep kebhinekaan kita, sehingga kita tetap akan memaknai dan mengaplikasikan konsep bhineka tunggal ika tersebut sesuai seperti apa yang di inginkan oleh pendirinya yang hampir kesemuaannya dari mereka adalah orang islam dan sangat paham dengan hukum islam, disamping juga mereka adalah sosok nasionalis sejati namun berjiwa agamis.

terimakasih telah berkomentar
EmoticonEmoticon